Dari Soekarno ke Anis Matta

 
Bagi Anda yang lahir belakangan, pernahkah merasakan bagaimana kehebatan seorang Soekarno? 
Saya pernah! Yaitu saat membaca salah satu bukunya : Di Bawah Bendera Revolusi. Waktu itu buku-buku Bung Karno masih sulit ditemukan karena rezim orde baru memang masih represif untuk segala hal yang berbau Soekarno. Itupun saya menemukan secara tak sengaja di sebuah rumah kontrakan teman Bapak di Pulogadung, jakarta. Saat liburan sekolah SMA tahun 90an.

Setelah membaca buku itulah saya punya persepsi baru tentang tentang sosok Sang Proklamator itu. Tentang kehebatan seorang pemimpin dilihat dari gagasannya. Buku tebal itu saya baca hingga akhir. Nalar seusia SMA sebenarnya sudah bisa mencerna gagasan-gagasan yang rumit.

Dari buku itu juga saya jadi tahu kalau Bung Karno terinspirasi gagasan Karl Marx, juga Mustafa Kamal Ataturk. Maka jangan heran kalau ia mengakomodir Komunisme. Tentang Islam, ia memang cenderung sekuler, mengikuti pola pikir Ataturk.
Waktu itu memang belum bisa mendengar rekaman pidatonya.Namun kini, merasakan  kehebatan Sukarno akan semakin lengkap dengan menyimak pidatonya. Orasinya memang penuh tenaga dan menghinpotis. Beberapa rekaman video bisa dicari di Youtube. Dari buku itu, saya tahu juga kalau gaya pidatonya ternyata terinspirasi oleh Adolf Hitler. Kalau disimak di Youtube, Hitler dan Bung Karno memang sama-sama orator ulung. Menggelegar.

Tapi itu dulu, yang tinggal sejarah. Kita hanya bisa membaca, mempelajari dan mengambil inspirasi. Apakah para pemimpin sekarang ada yang sekaliber Soekarno? 
Dari pemimpin paska Bung Karno, memang saya belum menemukan paduan ideal antara gagasan yang brilian dan komunikasi yang memikat. Pak Harto amat cool. Habibie cenderung ke tipe otak kiri dan mengutamakan konten. Tanpa seni komunikasi. Gusdur juga cenderung komunikasi gaya angkringan. Megawati malah sunyi. SBY terlalu hemat dan hati-hati. Terlalu jaim demi pencitraan tanpa cela.
Namun kini, saya dan Anda semua beruntung  mendapat kesempatan untuk menyaksikan sendiri lahirnya seorang pemimpin hebat itu. Dari gagasannya yang ia tulis. Juga dari komunikasi verbalnya yang menggelegar. Yang membedakan adalah referensinya. Kalau Sukarno menimbanya dari Hitler, Ataturk, Karl Marx dan yang semacamnya. Maka Seokarno muda ini, lebih fasih menyitir ayat suci, hadits, sejarah, tokoh harokah, sastra Arab, sastra Indonesia. Ia adalah.... Anis Matta!
Simak saja penuturan seorang Muhammad Elvandi, Lc.di situs Islamedia.com
“Pahlawan Muda…ditangan merekalah, Indonesia akan mengambil gilirannya, bukan hanya dalam mensejahterakan negerinya, tapi juga dalam memimpin dunia yang mulai terseok-seok!”, kalimat itu ia teriakan ditengah ribuan pendengar. Semua sepi, semua hening, dan nafas-nafas tertahankan di dada hanya untuk mendengarkan setiap butir kata, yang ia ucapkan penuh makna. Kata-katanya menjadi inspirasi, menyentuh pribadi, bagi trainer, bagi guru, bagi penceramah, dan bagi seluruh pemuda di penjuru negeri dengan semangat berapi-api.
Ialah H. Muhammad Anis Matta, Lc. Masa mudanya tak ia habiskan berhura-hura, namun penuh gelora berjuang dan membaca. Prestasi SD nya jelek tak seberapa, tapi di Pesantren (Darul Arqam) Gombara, posisinya kukuh tak bergeser dari kursi juara, dari tahun 80 hingga 86.
Organisasi dikenalnya sejak kecil, dan kelas satu SMA sudah bukan lagi anggota biasa, tapi sudah mampu menjadi instruktur IPM lalu kelas dua menjadi sekretaris cabang Muhammadiyyah. Namun tumpukan prestasi masa muda tak membuat ia berbangga. Ia rasakan kepedihan batin, keresahan membuncah-buncah, juga panggilan nurani untuk tak henti mengasah diri. LIPIA Jakartalah jamuan sejarah baginya walau kesempatan kuliah di Fikom UNHAS juga terbuka.

Ia lahap dua belas jam sehari buku-bukunya saat liburan, dan lima jam di luar diktat saat masa kuliahan. Bahkan dosen LIPIA nya berkata “jika saja ada nilai lebih dari mumtaz, Anis Matta pasti kan mampu melibas“, maka dari itu tak pernah sekalipun ia terkalahkan sebagai orang tercerdas juga tergigih, dalam nilai kuliah akhir ataupun ratusan buku mutakhir, dari Psikologi terapan, teori-teori belajar, pengembangan diri, konsep-konsep Politik, negara, pergerakan, bisnis, dan sastra-sastra tingkat dunia.

Setuntasnya dari kuliah, ia menumpahkan semangat mudanya dalam pergerakan. Membina dan berorganisasi, berceramah dan menulis, hingga tahun 1998 dipercaya menjadi Sekretaris Jendral Partai Keadilan (PK), dan usianya barulah 30 tahun. Kinerja dan karya nyatanya ia sempurnakan dengan gilang-gemilang, sampai-sampai tahun 2000 ia berkesempatan mengikuti program American Young Council for Young Politician Leader (ACYPL) di Amerika. Tak kurang bergengsinya, setelah ia menamatkan Kursus Singkat Angkatan (KSA) Lemhanas, ia kemudian menjadi instukturnya, tak kepalang tanggung, jendral-jendral ia latih disana.

Sekarang ia berjuang dalam posisinya sebagai wakil ketua DPR RI. Dan tetap dipercaya sebagai sekretaris jenderal PKS, sehingga ada anekdot ‘siapapun presiden PKS, sekjennya Anis Matta’. Bakat masa kecilnya sebetulnya cerpen dan puisi. Keduanya lalu tenggelam dan terkubur beberapa lama, tapi kembali menyeruak di masa-masa kini, membuat tulisan-tulisan ilmiahnya kuat, berisi, dan sastrawi. “cerdas bermetafora, puitis disini sana” Taufiq Ismail Sang Penyair mengomentari, juga fasihun, balighun, muatsirun finnafs sesuai balaghoh sejati. Semua keindahan tulisan, dan kejelian analisis itu terkumpul dalam ‘Konsep Seni dalam Islam‘ (1995), ‘Wawasan Islam dan Ekonomi’ (1997), ‘Sepanjang Hari Bersama Allah: Seni Berdo’a’ (1997), ‘Biar kuncupnya mekar menjadi bunga’ (2000), ‘Membangun karakter muslim’ (2002), ‘Model Manusia Muslim Abad 21′ (2002), ‘Menikmati Demokrasi’ (2003), ‘Dari Gerakan ke Negara’ (2006), ‘Serial Cinta’  (2006). Dan gaya tulisannya bisa dikatakan bermuatan berat seberat Malik bin Nabi namun indah seindah Mustafa Sadek Arrafi’i.

Ia pernah beberapa kali menjadi penerjemah khusus jika Syaikh Yusuf Qardawi berkunjung ke Indonesia. Dan ketika Yusuf Qardawi, dalam sebuah ceramah, mempersilakan Anis Matta untuk menterjemahkan kata-katanya setiap sepuluh menit, dengan percaya diri Anis Matta mempersilakan Yusuf Qardawi melanjutkan ceramahnya, dan ia terjemahkan setelahnya ke dalam bahasa Indonesia sepanjang aslinya, hebatnya lagi dengan terjemahan tekstual, bukan tafsiran.

Anis sering didaulat mengisi bermacam ceramah, seminar, taushiah, di berbagai komunitas: komunitas remaja, orang kantoran, pejabat, aktivis, mahasiswa, ibu-ibu, juga kalangan jet set yang jika ditawari ‘amplop’ ceramah puluhan juta, ditolaknya dengan halus, karena selain ia ingin menyebar nilai Islam di berbagai lapisan masyarakat, ia ingin pula membangun persahabatan dengan beragam lapisan itu tanpa imbalan. Ia tak hanya berda’wah di dalam negeri, suaranya melengking hingga menembus negara-negara asing, benua Amerika, puluhan negara Eropa, jepang, Australia, dan negera-negara Timur Tengah tentunya. Sehingga ia mengokohkan dirinya sebagai seorang da’i, pemikir muslim, ilmuan, berlevel internasional, ini dari satu sisi.

Sedang dari sisi lain, ia sedang tumbuh menjadi negarawan baru bangsa. Ceramahnya yang dulu bertempo lambat, sering terbata-bata dan salah kata, telah ditambal dan di sulam. Ia sekarang mampu beretorika dalam debat-debat nasional, dengan argumen logis, sistematis, puitis, dan berbekal data-data empiris. Sehingga misalnya dalam dialog-dialog besar yang menghadirkan para doktor politik dan sosial, aura mereka tenggelam dalam bangunan keilmuan Anis yang tinggi menjulang, luas membentang, hanya bermodalkan Lc pula. Ia adalah satu-satunya debator yang ditakuti Ulil Abshar Abdalla Sang Kordinator JIL yang kesohor itu, sehingga ia ciut tidak berani menghadapi Anis dalam debat publik.

Lebih jauh lagi, Anis telah mengembangkan kemampuan baru retorikanya: orasi. Walau belum lagi sempurna, namun ia sedang berjalan memenuhi kualifikasi seorang negarawan yang dibutuhkan Indonesia sebagaimana dalam tulisannya, ‘bukan karena kita menang pemilu saja maka kita memimpin’ , ia melihat bahwa basic competent seorang pemimpin negara adalah Narrative Intelligent, yang terwujud dalam orasi dan tulisan yang tajam. Sehingga Anis berkukuh bahwa seorang pemimpin besar haruslah orator ulung dan penulis yang memukau, mutlak, jika tidak, ia tidak akan abadi. Dan ketika ditanyakan bangunan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang negarawan, ia mengurutkan “…sejarah, sastra, dan kebudayaan, baru ke Psikologi, Sosiologi, Ekonomi, Hukum, dan ilmu politik. Selain itu basis bahasa dan ilmu komunikasi, negarawan adalah pemikir strategis dan pelaku kepemimpinan, designing and leading“. Dan Anis dalam perjalanan mencapainya, di usianya yang baru akan mencapai 44 tahun pada 7 Desember nanti.

Gagasan-gagasan iklan PKS Anis, dikenal kontroversial, namun seorang pakar hipnotis asal Bandung, Muhammad Isman Richmarch Hakim, mengatakan bahwa iklan-iklan itu justru iklan Politik tercerdas yang pernah ada karena selain muatannya berisi pesan bijak kepahlawanan, juga karena sekali-dua kali beriklan saja namun meraup simpati massa meruah-ruah tak terkira, sebuah tambahan lagi bagi prestasinya, karena ialah sang panglima TPPN (Tim Pemenangan Pemilu Nasional) PKS saat pemilu 2009.

Bagi Anis, “..kerja belum selesai, belum apa-apa” sebagaimana syair Chairil yang dikutipnya di tulisan ‘O, Pahlawan Negeriku ‘, ia berkeyakinan bahwa orang besar adalah orang yang berorientasi pada kerja-kerja besar, cita-cita besar dan melupakan semua kerja-kerja kecil yang pernah diraih. Orang besar diukur oleh kontribusi pada kemanusiaan, sehingga ia pernah berseru-seru dalam puisinya agungnya, Nyanyian Pahlawan, “Katakan padaku wahai hari, apa yang dapat kuberikan pada sejarah hari ini, katakan padaku wahai malam, berapa bintang kau perlukan untuk menerangi langitmu“. Sehingga wajar saja bagi PKS yang meyakini kesepakatan tak tertulis bahwa jika ada agenda-agenda raksasa partai yang mustahil, serahkan saja pada Anis Matta.

Dan standar cita-cita bagi Anis, ketika saatnya PKS memimpin dan membangun negara Indonesia, semua itu bukanlah akhir, tapi awal sebuah peradaban dunia. Sehingga yang tersisa adalah ungkapan pemikir Syiria, Syakib Arslan ‘Ma a’dzama hadza diin lau kana lahu rijal ‘ [alangkah besar agama ini kalau saja ia memiliki tokoh-tokoh besar]. Lelaki itu telah ada, dan telah lahir. Sudah meraup bermacam ilmu serta berkeras tekad sejak dahulu. Indonesia sedang menunggunya naik gelanggang. Indonesia sedang menyaksikan seorang anak kampung Bone Sulawesi Selatan tumbuh untuk mengguncang bangsa. Dimana dia berada? Anak kampung itu melantangkan lagi puisinya “Wahai Umat wahai bangsa, Aku selalu ada disini, saat darah saat air mata, Aku datang mengantar umat, pada gerbang sejarah baru”.

Kini, perkembangan teknologi informasi menjadikan kita bisa dengan mudah mengakses informasi yang kita inginkan. Pidato Anis Matta yang menggelegar itu bisa kita dapatkan rekamannya di situs Youtube. Kitapun bisa menyandingkannya dengan rekaman pidato Bung Karno. Merasakan energinya yang sama-sama dahsyat. Kalau dulu para orang tua kita amat antusias mendengar Bung Karno berpidato, walau hanya dari RRI. Kini kitapun bisa menikmati orasi seorang (calon) pemimpin besar itu, saat ia masih hidup dan tumbuh kepemimpinannya.

 

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah