Sunday, May 5, 2013

Etika Kerja Dalam Islam

Oleh : Ust. Uri Mashuri



            Demi masa. Sesungguhnya manusia itu senantiasa dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan beramal shaleh serta  saling berpesan dalam kebenaran dan kesabaran “ Al Ashr.



Doktrin Keseimbangan

Kita sangat prihatin dengan kondisi bangsa ini. Menurut penelitian etos kerja bangsa kita di bawah rata-rata ASEAN, padahal kita tahu di kawasan ASEAN ada Kamboja dan ada Vietnam yang kebangkitannya lebih dahulu negeri ini, Mayoritas muslim lagi !

Falsafat dan agama di luar Islam berpendapat bahwa rohani – jiwa dan jasmani – raga merupakan dua hal yang bertentangan dan tidak dapat berjalan secara paralel dalam kehidupan manusia. Menurut mereka perkembangan yang satu menuntut pengorbanan yang lain. Rohani dan jasmani merupakan dua kutub yang saling bertentangan serta tidak dapat dipersatukan. Akibatnya di satu pihak memburu kehidupan dunia semata – sekuler, meterialis dan hedonis – di pihak lain menyampingkan dunia, semata memburu kelezatan rohani dengan cara menyiksa diri, menjauhi pergaulan hidup. Mereka laksana bangsawan-bangsawan  paria.

Golongan pertama beranggapan bahwa tuntutan rohani mustahil dapat dipenuhi. Mereka hidup di dunia hanya dengan satu pandangan yaitu pandangan keindraan. Kegiatan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan laian-lain mereka lucuti dari cahaya kerohanian. Akibatnya dunia disiksa dengan kedzaliman dan ketidakadilan. Mereka bebas nilai mereka menganggap agama suatu kemunduran. Mereka sangat mengagungkan kebebasan dalam semua aktivitasnya.

Golongan kedua beranggapan, bahwa jasmani merupakan penjara bagi rohani. Kegiatan-kegiatan keduniawian merupakan rintangan-rintangan yang memperbudak jiwa dan menghambat pertumbuhannya. Mereka meyakini bahwa mereka mustahil menemukan suatu proses apapun buat perkembangan dan pertumbuhan kerohanian yang dapat dipersatukan dengan suatu kehidupan normal di  dunia.

Oleh karena itu mereka memilih tempat-tempat yang sunyi, seperti gua dan hutan serta tempat-tempat sunyi lainnya yang dianggap ideal untuk perkembangan rohaninya. Perasaan-perasaan serta dorongan-dorongan yang ada pada dirinya ditekan sekuat tenaga, sedangkan kekuatan-kekuatan batin luar biasa – supra sensory powers – malah dibangkitkan dan pembatasan-pembatasan dunia rasa dilenyapkan sama sekali.

Pandangan Islam berbeda secara radikal dari ide-ide seperti tersebut di atas. Islam menggariskan bahwa manusia adalah kesatuan dari jasmani dan rohani – jiwa dan raga – sebagai psycho-physical entity, dan mengangkatnya sebagai khalifah di muka bumi. Raga adalah adalah alat jiwa untuk mengembangkan kemanusiaan menuju insan kamil.

Dalam Islam dunia ini bukan tempat penyiksaan, melainkan tempat menguji manusia., sipapa di antara mereka yang paling baikamalnya dan atsarnya dari amalnya. Orang Budha memandang hidup ini adalah dukha – kesedihan - , Hindu menganggap hidup ini adalah samsara – sengsara - , Kristen menganggap hidup ini adalah dosa karena warisan dari Adam.

Setiap sisi  kehidupan bagi muslim, tak lain hanyalah “ qustion papers “ tentang berbagai persoalan yang semuanya mesti terpanggil untuk menjawabnya. Seluruh segi kehidupannya merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya baik jasmani maupun rohani., Ibadat –ibadat khusus dalam Islam merupakan alat yang digariskan oleh Allah untuk membina dan mengembangkan potensi kemanusiaan, agar manusia menjadi yang seharusnya bukan manusia apa adanya, Shalat untuk membina karakter agar mampu mancegah  fakhsya dan munkar. Zakat mendidik manusia  agar jangan menjadi serakah dan bertuhankan harta. Shaum agar manusia mampu mengendalikan diri serta hajji agar manusia hidup berdasarkan tauhid dan menyadari  seluruh kehidupannya mesti berlandaskan petunjuk dari Allah kalau ingin tergapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Perkembangan kerohania dalam Islam sama artinya dekat dengan Allah. Seorang pemalas, pengacau, perusuh, penipu, pembohong, dzalim, tidak adil berjiwa korup adalah ciri-ciri jauh dari Allah. Jauh dari Allah adalah kehancuran dan kejatuhan manusia,
 
Konsep Islam seperti di atas akan berdampak positif bagi para pemeluknya andai umat Islam menyadari, ia akan lebih antosias dari pengikut sekuler dalam menghadapi hidup keduniawian. Perbedaan keduanya terletak pada niat, tujuan dan tanggungjawab. Manusia muslim niat dan tanggungjawabnya kepada Allah dan tujuannya adalah mencari keridlaan Allah. Sedang penganut sekuler dan meterialis hanya terdorong oleh nafsunya serta tanggungjawab pada diri dan manusia sekitarnya,

Etika kerja seorang Muslim

Jelas sudah perbedaan pandangan antara Muslim dan manusia sekuler dalam mengisi kehidupan di dunia ini. Di manapun berada dan siapapun dia seorang muslim akan terikat erat dengan ketentuan  Allah dalam Al Qur’an yang ayatnya sangat pendek yaitu penggalan ayat pertama dari surat Al Maidah “ Wahai orang-orang yang beriman penuhilah janji-janjimu ….. “ Janji atau u’qud, menurut ahli tafsir, mencakup seluruh hubungan manusia dengan Allah, dirinya sendiri, sesamanya dan juga dengan alam sekitarnya. Dan merupakan suatu “ tafsir tentang peningkatan moral “ untuk suatu penilaian atas moral seluruh kehidupan manusia.

Penunaian janji ini,  merupakan tanggungjawab bila seorang muslim bekerja, mereka merasa dirinya bekerja di hadapan Allah yang Maha Mengetahui segala tindak-tanduknya. Artinya yang ia kerjakan akan jauh melampai kuburnya dan ia sadar akan mempengaruhi nasibnya di alam baka nanti,

Menurut ketentuan Islam, kerja itu sendiri harus dilakukan menurut perjanjian – dilihat dari aspek ekonomis – yang dibuat atas dasar keadilan dan tanggungjawab, baik dari pihak pekerja maupun majikan. Ia harus bertanggungjawab pada Allah dan juga pada majikannya untuk untuk melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan ketentuan yang disepakai kedua belah pihak sejauh kemampuannya. Hanya dengan cara itu upah atau gaji yang dia peroleh menjadi halal.

Ketentuan-ketentuan itu tercakup di dalamnya perjanjian kerja, baik masalah jam kerja, gaji atau upah yang harus dibayar, kuantitas serta kwalitas yang harus dihasilkan, Penunaian janji oleh majikan merupakan kebajikan, pengingkaran janji merupakan kedzaliman.

Beriman dan beramal shaleh adalah dua doktrin yang senantiasa disebut bergandengan, dua kata ini merupakan kunci bagi seorang muslim untuk menggapai sorga. Kerugian senantiasa mengiringi mereka mereka yang tidak beriman dan beramal shaleh, serta tidak mau menerima kritik serta memberi koreksi dalam kebaikan bekerja dan bermasyarakat.

Kerja untuk kerja bukan tradisi  dari Islam, kerja dalam Islam harus senantiasa dijaga  dan dijauhkan dari akibat menjadi berlebih-lebihan, bahaya kerakusan dan iri hati karena mengingat kesementaraan hidup di dunia.

Tuntunan dari Nabi kita Muhammad saw mengharuskan kita pandai-pandai mengalokasikan waktu, dengan membagi menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk bekerja, sepertiga lainnya untuk istirahat dan sepertiganya lagi untuk shalat dan bersenang-sengan dengan keluarga dan aktivitas di tengah-tengah masyarakat.

Itulah etika kerja dalam Islam yang bila disingkat cukup dengan tiga ungkapan kata indah, benar dan baik . Tentunya bila kita mampu melaksanakannya kita akan mulia di sisi Allah dan terhormat di mata manusia.


Wallahu a’lam
Kuningan,2006




No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...