Sunday, May 5, 2013

Moral Force Dalam Aktivitas Mahasiswa Kuningan



Oleh : Ust. Uri Mashuri

“Orang yang menghancurkan bangsanya adalah mereka yang tidak pernah menanam,
menenun dan menjala, tapi menjadikan politik sebagai mata pencahariannya”
(Kahlil Gibran)

* Judul aslinya adalah " TELAAH KRITIS TERHADAP IMPLEMENTASI MORAL FORCEDALAM AKTIVITAS MAHASISWA KUNINGAN*



Sosok mahasiswa sebagai calon intelektual di belahan bumi manapun perannya sangatlah menentukan setiap agenda perubahaan sosial, termasuk di dalamnya perubahan pemerintahan.
Apalagi seperti Indonesia yang telah berganti presiden lima kali, dengan “ritual pemaksaan”, mahasiswa senantiasa menjadi penentunya.
Mahasiswa, dalam tahap usia adolecentia (antara 16-26 tahun) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1         semangat kepemudaan dengan energi melimpah
2         cita-cita tinggi (idealis)
3         hasrat untuk dihargai dan identitas diri, serta
4         usaha coba-coba untuk mencapai prestasi
Mahasiswa sangat peduli terhadap perkembangan yang ada di sekelilingnya. Inilah alasan mahasiswa menjadi aktivis di tengah-tengah masyarakat.

NEGERIKU SAYANG NEGERIKU MALANG

Sejak menjelang runtuhnya Orde Baru sampai Orde Reformasi sekarang ini, hubungan antar insan di Indonesia mengalami penurunan keakraban. Berbagai konflik melanda negeri yang terkenal berkarakter ramah dan penuh toleran. Negeri ini coreng-moreng terlanda krisis, yang bukan hanya krisis ekonomi, tetapi juga krisis seluruh segi kehidupan.
Kepercayaan sebagai landasan setiap relasi antarinsan menjadi hancur. Inilah yang sangat merisihkan masyarakat termasuk mahasiswa.
Hilangnya landasan kepercayaan dalam interaksi antarinsan memunculkan bahasa-bahasa kekerasan untuk menyelesaikan masalah, termasuk di dalamnya barbagai unjuk rasa sebagai bentuk tekanan untuk mencapai yang diinginkan.
Wajah-wajah segar, serem dengan satuan berseragam, banyak menghiasi negeri tercinta. Mereka siap membela yang bayar.
Demokrasi tidak lagi sebagai ajang musyawarah yang luhur dan terhormat, tetapi menjadi ajang laksana gelanggang adu panco untuk menentukan siapa yang kuat. Takheran, sering tercium bau busuk saat menentukan pimpinan-pimpinan di negeri ini lantaran politik uang yang senantiasa ikut mengiringi. Setiap partai, setiap kelompok, setiap golongan kiranya senantiasa mewiridkan kata-kata “harus menang” bagimana pun caranya walaupun jagonya jauh dari kepantasan.
Negeri dengan masalah berjibun, konon dengan 40 juta penganggur, 11 juta anak usia SD drop out, jutaan pengungsi yang belum terselesaikan, hutang yang takterbayarkan 1600 trilyun rupiah, dengan beban bunga per tahun 80,9 trilyun, kerusakan lingkungan yang sangat parah, penegakan hukum yang sangat memprihatinkan, runtuhnya disiplin ditambah dengan keserakahan dan arogansi para elit, membuat negeri ini benar-benar malang. Simpati ada jika kita masih memiliki hati nurani yang penuh keprihatinan sebagai anak bangsa.

AKTIVIS MAHASISWA
Mahasiswa yang kritis tentu tergerak hatinya untuk menyaksikan keadaan carut-marut yang melanda lingkungannya. Dengan modal idealisme yang tinggi dan  semangat yang menggelegak, mereka tidak tinggal diam. Mereka berbuat untuk mengubah keadaan ini menjadi keadaan yang lebih baik.
Dengan gayanya yang khas, mereka meneriakan aspirasinya. Mereka mengkritik kebijakan-kebijakan, baik dari pimpinan nasional maupun regional yang dirasakan melenceng dari semangat reformasi yang mereka usung dan mereka kawal dengan sepenuh hati.
Idealisme mereka takluput pula dari godaan-godaan yang menggiurkan. Materi serta fasilitas dari pihak yang dikritik taksedikit membuat mereka gamang. Kepentingan sesaat takmembuat mereka tergelincir. Miskinnya keteladanan dari para seniornya yang sudah jadi dan mapan serta hasrat ingin segera menikmati kemapanan membuat moral force mereka kurang bertaji.
Mahasiswa yang tanpa kekuatan materi, tanpa kekuatan senjata, tanpa memiliki kewenangan, moral force-lah satu-satunya modal untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Moral force atau kekuatan moral adalah himpunan dari simpul-simpul kebaikan daan keutamaan karakter yang membentuk citra bersih, baik, indah, dan benar, yang berdampak bukan ditakuti dan dibenci melainkan disegani dan dirindukan.
Robins salah seorang pakar organisasi menyatakan bahwa untuk mencapai citra seperti itu diperlukan berbagai faktor yaitu:
4         Integritas yaitu ketulusan, kejujuran, dan jauh dari arogan
5         Kompetensi, yaitu memiliki kemampuan teknis pada bidangnya yang mendapat dukungan lingkungannya
6         Konsistensi, yaitu memiliki komitmen yang kuat, dapat diandalkan, dan menyatu antara kata dan perbuatan
7         Loyalitas, yaitu memiliki kesetiaan pada janji, menjaga amanat, dan pantang berkhianat
8         Keterbukaan, yaitu mampu berbagi informasi yang benar dan tepat tanpa menimbulkan prasangka

         Sebagian orang mengira bahwa aktivis itu hanya tukang demo dan tukang protes terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah atau pada pejabat dan instansi yang dianggap tidak benar. Padahal, aktivis mahasiswa takterbatas ruang lingkupnya, seperti diskusi ilmiah, pelestarian alam, bakti sosial, penyuluhan pada masyarakat, kegiatan keagamaan, sanggar kesenian, kegiatan keolahragaan dan kegiatan apa pun yang menunjang proses pendewasaan intelektual sesuai kapasitasnya sebagai seorang atau kelompok mahasiswa.
Kuningan dengan segala kesederhanaan kota kecil yang minim aktivitas keintelektualan karena minim fasilitas memunculkan aktivitas mahasiswa yang tidak mendapatkan kondisi yang memungkinkan untuk berkembang maksimal. Tambahan pula, dengan terbatasnya kualitas sumber daya manusianya, aktivis-aktivis mahasiswa – saur kang kabayan tea mah, “padu ulah kakantun wae.”
Sulit bagi penyaji untuk menelaah kritis implementasi moral force aktivitas mahasiswa karena kedua unsur tersebut, yaitu aktivitas dan moral force, belum banyak terlihat muncul di permukaan.
                                                                   

                                                                           Wallahu a’lam

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...