MUTASI PONTI


"π‘€π‘œπ‘šπ‘’π‘› π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘–π‘›π‘‘π‘Žβ„Ž π‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘ π‘šπ‘Žπ‘›π‘’π‘ π‘–π‘Ž π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž π‘˜π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”π‘˜π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘› π‘˜π‘’ π‘›π‘’π‘”π‘’π‘Ÿπ‘– π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘‘π‘–π‘˜π‘’π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘–." - π‘†π‘–π‘Ÿ π‘…π‘–π‘β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘‘ π΅π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘œπ‘›

***

Tak ada hujan tak ada angin. Kabar itu memang datang tiba-tiba. Jum'at malam 1 Oktober 2021, bakda magrib pengumuman itu muncul. Lewat postingan di grup WA kantor. Aku buka file pdf, ada 2.793 nama yang muncul. Ini mah mutasi nasional atuh!?  
Langsung kuketik namaku di menu search, dan...Pontianak??!!
Perputaran bumi pun seakan berhenti sejenak. 

Itulah sebuah Surat Keputusan. Entah apa variabel untuk menempatkan Si A di Kota B atau Si C di kota D. Tapi itulah yang akan membuat perjalanan hidup para insan fiskus tiba-tiba berbelok. Rute hidup yang sejak awal memang harus siap tidak lempeng-lempeng saja. Sesuai kesanggupan di awal jadi Pe eN eS Kemenkeu. Kadang menikung tajam lalu langsung mendaki. Mirip Kelok 9 Payakumbuh atau tanjakan menuju Gunung Bromo di Probolinggo itu. 

Tantangannya, ganti kota adalah ganti warna kehidupan. Kehidupanku di Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Karawang adalah kehidupan dengan cita rasa yang berbeda. Selama ini pindah kota selalu pindah rumah. Selalu boyongan barang satu rumah. Dari pake pick-up hingga pake truk. Tentu akan berbeda lagi ketika berganti dengan Pontianak, terutama karena tak ada acara pindah rumah. 

Maka, malam itu tak kuberi tahu dulu ke nyonya. Memberitahukan hal besar yang akan membuat kehidupan berubah memang tidak mudah. Aku harus mencari cara paling soft. Sementara aku hanya bisa memutar obrolan:

"Mi, pak M pindah ke Kalimantan."
"Masya Allah, kasihan sekali ya Bu S." Tuh kan belum siap.
"Abi bagaimana?" Tanyanya.
"Ya harus siap atuh. Katanya posisi Abi juga akan berubah jadi fungsional. Pola mutasinya juga akan ngikut." Aku coba memberi jawaban transisi.
"Nggak ngebayang deh jauh dari Abi."
"Nggak usah dibayangin, malah pusing nanti."

Ya karena selama 23 tahun belum pernah LDR-an. Selama itu pula aku selalu berusaha bagaimana caranya bisa tetap kumpul keluarga. Alhamdulillah selama ini bisa. Tapi, akhirnya jebol juga. Bersama 2.792 kawan seperjuangan seperti diaduk-aduk di atas wajan raksasa seluas Nusantara. Arahnya tak beraturan. Dari Bekasi ada yang ke Aceh hingga Papua. Aku dan beberapa kawan ke Borneo. Lalu bertemu kawan yang dari Jombang dan Tulungagung. Juga jadi satu kota lagi dengan suhu Mukhlis Yusrianto yang pernah bertemu di Karawang.

Aku baru bisa memberi tahu istriku besok paginya bakda subuh. Dengan sedikit mengadopsi kisah klasik bagaimana cara Ummu Salamah saat memberitahu kepergian putra mereka ke suaminya yg baru datang dari bepergian. Diawali dengan momen kebahagiaan, barulah pesan disampaikan.

Mutasi begini memang harus disikapi positif. Karena kehidupanku di kantor juga sedang baik-baik saja. Maka aku merasakan ini adalah sebuah peluang. Walau masih misteri berupa apa peluang itu.

Aku juga harus banyak mengambil hikmah. Walaupun harus diawali dengan hectic. Salah satunya aku jadi harus beberes banyak hal yang sebelumnya tertunda terus. Sekarang mau tak mau harus beres. Juga aku harus menyengaja silaturahim ke beberapa titik.

Pertama aku harus meluncur ke Kuningan. Ahad malam berangkat, dan ambil cuti hari senin-selasa. Memberitahu orang tua secara langsung dan tidak lewat WA. Lalu pamit dan minta doa. Ini yang terpenting. Walaupun aku sudah beranak pinak tapi aku tetap saja anak mereka. Sampai sekarang pun aku tetap diperlakukan sebagai anak. Aku memang generasi sandwich. Punya ladang amal di bawah ke anak-anak. Dan ladang amal di atas ke orang tua. Semuanya adalah jalan surgaku.

Juga mesti ada ritual perpisahan. Ada perpisahan seksi. Juga perpisahan kantor. Sedangkan agenda-agenda lain tetap berjalan sebagaimana biasanya. Ada halaqah nasional komunitas parenting Aqil Baligh. Agenda rutin melingkar pekanan jadinya harus offline. Sekalian perpisahan juga.

Sabtu 9 Oktober, aku juga harus meluncur ke Sumedang mengantar Si Aa anak ketigaku ke pondoknya. Setelah seminggu libur PTS. Sekalian memberi kenangan positif. Karena setelah ini, jarak fisik akan semakin menjauh. Juga kesempatan antar jemput ke pondoknya jadi tak menentu.

Lalu lanjut ke UPI. Tepatnya ke tempat kos Si Teteh di Setiabudi, Bandung. Karena perkuliahan relatif sudah selesai. Tinggal skripsi. Hanya sesekali saja harus ke Bandung. Jadinya harus angkut-angkut barang. Ya bantal, buku, hingga meja lipat. Ini mah benar-benar boyongan. Seisi kamar diangkut lagi dibawa pulang. Tapi ini alhamdulillah, saat momen penting begini aku masih bisa hadir. 

Nah, berikut ini yang suka bikin baper. Kalau hendak berjauhan, yang selama ini dianggap biasa saja jadi terasa mahal.
 
Misalnya, saat memandang dari belakang anak keempatku si Abang Uki. Saat berjalan menuju masjid dengan gamis merah hati kesukaannya. Outfit yang membuat dia dikenal bapak2 jamaah masjid Baitul Muttaqin. Nanti aku kan jarang membersamainya saat berangkat ke masjid sambil mendengarkan teka-teki yang sering tak terduga dan absurd.
Tomat itu sayur apa buah?
Ban apa yg bisa dimakan?
Polisi apa yg bisa dimakan?

Untuk Uki ini padahal aku sudah borong tiga buku Abiku Memang Beda. Karena pas momennya utk menerapkan isi buku itu. Ini tantangan, bagaimana ketika harus dipisah jarak?

Nap, Si Bungsu gadis kecilku nanti tak lagi menunggu di depan pintu menyongsong abinya pulang kantor saat WFO. Lalu menghambur memelukku erat-erat. Sambil berceloteh tentang apa saja. Terutama Si Moi kucingnya. Lalu aku tanya tentang ikan koi-nya,"Ikannya sudah dikasih makan, belum?" Momen-momen kecil ini yang nanti akan dikenang indah. 

Imad, akan jadi wali yang mewakiliku. Aku akan banyak berkomunikasi dengan anak mbarepku ini. Sebagai pelindung lima anggota keluarga. Istriku nanti harus memintanya mengambil keputusan setiap ada persoalan. Ini memang akan perlu adaptasi. Selama ini akulah yg mengambil keputusan. 

Aku juga tak bisa membersamai Si Teteh di penghujung kuliahnya. Jadi teman diskusi. Walaupun kenyataannya lebih banyak saling lΓ©dΓ©knya ketimbang diskusinya. Terutama kalau tiba-tiba berbelok tema jadi ngomongin cowok masa depannya. Uminya mengidolakan cowok semodel Osman atau Miran karena terbawa alur cerita drama Turki yang mengaduk-aduk emosi itu. Sementara anaknya mengidolakan bentuk cowok putih terbawa emosi dari drama Korea. Aku jelas merasa tersisih. Kenapa dua orang perempuanku tidak mengidolakan cowok seperti abinya : Sunda, humoris dan sabarπŸ˜€. Cari yang bagaimana lagi? Kurang apa coba? Tapi aku yakin itu hanya hasrat sesaat. Maka kubiarkan saja segala imaginasi mereka itu. Aku harus seperti politisi. Tak perlu baperan.

Terberat sebenarnya ketika menghadapi kenyataan kalau permaisuriku juga seorang perempuan pada umumnya. Karena separuh jiwanya ada di diriku dan separuh jiwaku ada di dirinya. Selama ini kami terjembatani secara fisik. Bertemu setiap hari. Maka begitu harus berjauhan jadi melow berat. Semakin mendekati hari berangkat semakin melow, dan lengket. 

Maka aku puaskan hasrat bersamanya. Dengan keliling ke mana-mana. Makan di resto favoritnya. Belanja bareng. Ngobrol apa saja. Tentu termasuk rencana apa saat berjauhan nanti. Merasakan betapa berharganya saat-saat bersama itu.

Tentu ini memicu protes anak-anak. Karena mereka sudah hapal polanya.
"Tuh, kan jalan-jalan lagi. Kok, nggak ngajak-ngajak?!" Protes Si Teteh.
"Bukan begitu, tadi itu lagi nyopir tiba-tiba hilang kesadaran, tahu-tahu sudah di parkiran Ampera, hehe" jawabku ngawur.
"Heuu...bilang saja udah laper... pingin berdua saja, nggak ada yang ganggu, gituuu" protesnya lagi.
"Itu...udah faham," 
"Tapi, mana oleh-olehnya?" 
"Tuh ada di Umi. Abi kan tau maunya kalian,"
"Hehehe...makasih Abi...makasih Umi…."
Beres dah urusan, kalau ada oleh-oleh.

Tetapi hidup seorang lelaki adalah bertebaran di atas bumi. Mencari karunia dan keutamaan dari Tuhannya. Baik tentang mencari nafkah atau mewujudkan peran-peran peradabannya. Untuk itulah aku dikaruniai sifat maskulin, langkah-langkah panjang, perasan tega, juga rasionalitas.

Ekspresi anak-anakku ternyata tak sama. Dua gadisku merespon dengan menangis. Terasa kalau nggak rela akan ditinggal jauh. Rasanya tak tega juga meninggalkan mereka. Tidak sebentar masalahnya. Entah untuk berapa lama ke depan. Walau akan ada acara pulang entah sebulan sekali. Tapi respon anak lelakiku lain. Tak ada yang menangis. Semua seperti biasa saja. Tapi aku maklumi itu. Sebagai respon wajar dari maskulinitas mereka sebagai anak lelaki.

Terakhir, aku jadi teringat kalau selama ini aku belajar tentang remote fatherhood di majelis Luqmanul Hakim. Bagaimana seorang ayah bisa menjalankan fungsi pendidikan anak walau dari kejauhan. Rupanya aku harus praktek langsung. 

Jadi, setelah Lion Air JT724 membawaku mendarat di kota Katulistiwa, Ahad kemarin, bismillah... inilah awal dari serial Remote Fatherhood edisi Karawang-Pontianak.

Pontianak, 20 Oktober 2021

#RemoteFatherhood
#RemoteFatherhood_01

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah

The People Who Shaped My Life #3 : KH Drs. URI MASHURI