KAWANKU PAHLAWAN

 

Aku punya kawan. Account Representative di Kantor Fiskus di Cikarang, Bekasi. Sebelah Universitas Presiden. Santai saja dia saat mengatakan ke kasi-nya,"Pak, ada yang mau bayar dua belas miliar." Itu setelah ia himbau Si WP berbasis data informasi keuangan.  Berarti ini masih di tahap persuasi dan himbauan. Belum di tahap adu data dan argumen saat proses pemeriksaan.

Artinya Si WP bisa saja menyampaikan beragam alasan yang rasional untuk menurunkan jumlah yang harus dibayar. Tapi dengan komunikasi yang dijalin, Kawanku ini berhasil membuat Si WP rela menunaikan kewajibannya. Bayar cash langsung. Tanpa dicicil!

Tak ada kehebohan tak ada keriuhan. Hanya wajahnya saja yang menunjukkan ekspresi puas.

Pada satu kesempatan, aku sempatkan bilang ke kawanku ini sebagai bentuk penghargaan atas integritasnya. "You layak dapat bintang integrity award, Bro! Énté kerén banget dah!"

Kawan-kawan fiskus ada puluhan ribu di seantero Nusantara. Mayoritas berintegritas seperti kawanku ini. Integritas yang dijaga dengan ekosistem yang sudah terbangun lama. Selain internalisasi corporate values Kemenkeu, juga sistem pengawasan berlapis. Jangan abaikan juga masjid-masjid yang berdiri hampir di setiap kantor pajak. Masjid yang rata-rata menyelenggarakan jumatan itu secara spiritual ikut mengawal integritas para fiskus. Percayalah, setiap kali diadzani tiap hari syaitan-syaitan penggoda iman itu pasti pada lari tunggang langgang😀.

Karena kalau iman lagi lemah, mudah sekali  seseorang yang ada di posisi dan momen seperti kawanku untuk  mengambil "inisiatif". Hal yang biasa berlangsung saat kantor para fiskus masih ada di era jahiliyah dulu. Sebelum reformasi sistemik berjalan efektif. Biasanya dengan alasan agar ada "win-win solution": Negara dapat, fiskus dapat tambahan fresh money, WP juga hemat. Tapi kawanku ini tegak lurus dengan integritasnya. Tak serupiahpun ia ambil kesempatan. 

Aku yakin terlalu  banyak kawan-kawanku lainnya sama integritasnya. Hanya satu dari puluhan ribu fiskus yang masih nekad bermain mata.

Memang hanya integritas yang kokoh yang bisa mencegah praktek busuk tapi lezat seperti di atas. Maka, malulah kalian wahai para penyunat dana bansos atau penikmat gratifikasi fee proyek, juga yang mental jahiliahnya masih bersisa. Mental yang begitu kudis.

Kawanku yang lain tak kalah hebat. Walau masih staf biasa, tapi sudah bisa menembus barikade window dressing di balik angka-angka rumit berbahasa Inggris khas akuntansi di dokumen audit report. Mereka dengan telaten mempelajari proses bisnis WP, hingga sejarah perjalanan usaha, serta siapa partner bisnisnya. Menganalisa semua transaksinya. Lalu menelusuri dan membandingkan neraca dan income statement. Baik vertikal maupun horizontal.

Diantara mereka ada yang menemukan fakta bahwa di balik transaksi yang tercatat rapi, dan benar secara formal dan material itu ternyata ada yang tak wajar. Karena transaksi dalam satu grup perusahaan. Akhirnya, laporan keuangan yang bertahun-tahun menyatakan rugi miliaran secara komersial dan fiskal  itu bisa dikoreksi menjadi profit.

Ya, kawanku yang ini menemukan modus yang merugikan keuangan negara melalui permainan angka, dokumen dan pasal-pasal.

Kalau dilihat lebih dalam lagi kita akan menemukan fakta yang seharusnya bikin kita semakin erat menjaga NKRI.

Misalnya, ketika sumber investasi sebuah perusahaan itu dari modal asing, ternyata kadang kita hanya mendapat keuntungan berupa terbukanya lapangan pekerjaan saja. Sementara PPh 21 yang bayar si pekerja, warga kita juga. Kalau dibandingkan lagi salary pekerja lokal jauh sekali dari ekspatriat. Para fiskus memang kerap mendapatinya saat membaca laporan PPh Pasal 21. Ketika pekerja lokal hanya dapat lima juta, yang eksptariat bisa seratus juta.

Artinya, sebenarnya investor sudah  mendapat keuntungan berupa biaya buruh yang murah. Tapi apa daya kita butuh lapangan pekerjaan itu.

Sementara kewajiban PPN yang bayar konsumen. Sedangkan PPh perusahaannya nihil karena rugi.

Beberapa kawan akhirnya menemukan pola agar Si Investor segera mendapat aliran uang masuk walaupun perusahaan baru berjalan dan mencatat kerugian. Salah satunya dengan mencatatkan piutang dengan beban bunga yg harus dibayar perusahaan yg baru berdiri itu. Ini namanya deviden terselubung. Bisa juga dengan munculnya biaya manajemen fee yang nilainya fantastis. Tapi para fiskus sekarang sudah banyak yang berhasil membongkar transaksi yang tak wajar itu.

Ke depan diharapkan tidak ada lagi pihak  yang dieksploitasi atas nama investasi. Transaksi ekonomi menjadi wajar dan saling menguntungkan. Di tangan para fiskus berintegritas ini, NKRI terasa punya taji. Akupun yakin, para ekspatriat pun akan hormat dengan kemampuan audit para fiskus kita.

Inilah salah satu medan pertempuran era sekarang..

Aku yakin, andai Bung Tomo hidup sekarang, teriakan takbirnya akan makin menggelegar di-boost oleh integritas dan profesionalisme kalian!

Apalagi ketika kalian tetap loyal walaupun ada yang harus mengalami mutasi radikal. Selangit respek untuk kawan-kawan baikku para Account Representative yang hebat-hebat, yang tetap harus berjuang sambil jauh dari keluarga dipisah jarak nan jauh, laut atau selat. Sambil menggigit jari karena penghasilan riil terpaksa harus menyusut digerus ongkos pesawat, sewa kos dan dobel biaya dapur.

Ya, selamat hari pahlawan, spesial buat kawanku para fiskus, para pahlawan APBN!

....

Selat Sunda, Hari Pahlawan 10.11.2021


 


Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah

The People Who Shaped My Life #3 : KH Drs. URI MASHURI