Sunday, May 5, 2013

Sehat Wal Afiat



Oleh : Ust. Uri Mashuri

Ada dua hal yang senantiasa dicari oleh manusia, kata Nabi, yang pertama adalah sehat dan yang kedua adalah ketenteraman batin. Berbagai upaya, daya, dan juga dana dikerahkan oleh manusia untuk dapat menggapai keduanya. Jika salah satunya hilang pada diri manusia, manusia itu akan mengalami gangguan yang sungguh tidak menyenangkan.

Sampai-sampai ada sebahagian orang menyatakan bahwa bila kehilangan harta maupun jabatan sebenarnya tidak kehilangan apa-apa bila sehat dan tentram batin masih ia miliki. Akan tetapi, bila ia kehilangan  kesehatan,  setengah yang ia miliki telah lenyap, sedangkan bila ia kehilangan ketenteraman batin, lenyaplah yang ia miliki seluruhnya. Betapa pentingnya sehat dan tentram bagi bagi manusia.

Syariat Islam diturunkan oleh Allah dengan tujuan utama untuk memelihara agama itu sendiri, akal, jiwa, jasmani, harta, serta keturunan. Setidaknya, ada tiga hal yang berkaitan dengan kesehatan, yaitu akal, jiwa, serta jasmani. Pantaslah agama Islam banyak memberi tuntunan dalam memelihara kesehatan.


S e h a t
Musyawarah Nasional  Majelis Ulama Indonesia tahun l983 menggariskan bahwa yang dimaksud dengan kesehetan adalah “Ketahanan jasmaniah, rohaniah, dan sosial yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan ( tuntunan-Nya ) dan memelihara serta mengembangkannya”.

Tergambar sudah betapa luas cakupan kesehatan, bahkan kini kata sehat pun banyak dinisbatkan  bukan hanya pada manusia, tetapi juga  pada bidang-bidang lain seperti kita sering mendengar dalam percakapan sehari-hari, “perusahaannya sehat”, “bank yang sehat”, “organisasinya sehat”, “manajemen yang sehat” dst. Bahkan WHO menetapkan  bahwa yang dikatakan sehat adalah sehat jasmani, sehat mental, dan sehat sosial. Tidak semata fisik atau jasmani.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sehat diartikan dengan keadaan baik segenap badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit). Rupanya KBBI mengkhususkan  sehat dalam artian fisik semata.

Konon,  orang Jepang menyebutkan  kriteria sehat jasmani dengan  ungkapan yang sederhana, bila tidur nyenyak, makan terasa enak, dan buang air besar lancar dan normal  itulah sehat. Tentunya untuk menggapai tiga  kriteria itu tidaklah mudah. Kita dituntut mengatur pola hidup yang baik, pola makan yang seimbang, terpenuhi  kebutuhan  tubuh, serta  kenyamanan hati untuk dapat istirahat dengan sempurna.


A f  i a t
Dalam percakapan sehari-hari sering kita menyebut kata sehat dan afiat dijadikan seperti satu kata. Padahal, sehat dan afiat punya  konotasi dan arti yang berbeda. Dua kata itu memiliki pengertian  masing-masing dan sangat berbeda.

Afiat dalam KBBI diartikan sehat dan kuat. Tentunya  pengertian  menurut bahasa berbeda  dengan pengertian berdasarkan tinjauan  para ulama. Ulama membedakan antara sehat dan afiat. Sehat dititikberatkan pada  sehat jasmani semata dengan pengertian berfungsinya semua organ tubuh dengan baik dan  bebas dari penyakit. Sedang afiat lebih menitik beratkan pada  kesehatan mental dan  sosial dengan mengikuti tuntunan dari Yang Maha Kuasa.

Bisa saja seorang yang sehat jasmaninya seperti seorang pelacur, pencuri, koruptor, penipu, pembohong, pengkhianat dikatakan sehat, tetapi tidak bisa dia dikatakan afiat. Afiat mensyaratkan menjalani kehidupan dengan mengindahkan norma-norma yang berlaku, baik norma agama, norma sosial, maupun norma negara.

Ulama juga menyebutkan ciri-ciri  afiat yang  menempel pada potensi manusia. Mereka menyebutkan  bahwa manuisa yang   sehat rohani adalah mereka yang mampu membedakan mana  yang baik dan mana yang buruk, manusia yang sehat jiwa adalah mereka yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dan manusia yang sehat sosial adalah mereka yang memiliki keterampilan bergaul di tengah masyarakat. Ia tidak canggung bergaul dengan siapa pun. Ia mampu berkomunikasi dengan baik dan menyenangkan.

Dari ciri-ciri sehat dan afiat tersebut, tentunya  jadi bahan renungan kita, betapa sehat dan afiat merupakan mahkota yang tidak kita sadari. Baru kita sadari setelah mahkota itu lenyap dari diri kita. Banyak kita saksikan di sekeliling kita, bahkan mungkin kita sendiri termasuk yang sakit bila dalam hidup kita tidak lagi bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Agama sudah bukan lagi menjadi rujukan dalam berperilaku. Salah dan benar tidak ada lagi garis pemisah. Yang ada adalah bagaimana memuaskan hasrat dan ambisi. Bermasyarakat bukan lagi mengembangkan masyarakat yang marhamah, tapi masyarakat yang senantiasa menggunakan kalkulasi untung rugi. Takada lagi kesetiaan sosial, kejujuran, serta ketulusan.


Masyarakat Yang Sakit

Dalam  sebuah seminar yang dilaksanakan  tanggal 23 Februari  2005 di Jakarta yang bertajuk “Menembus Batas Nalar“ terungkap bahwa kondisi masyarakat Indonesia kini tengah berproses menjauhi nalar dan menjauhi moral. Kita cukup khawatir dan tentunya sangat prihatin dengan sinyalemen ini sebab bagaimana jadinya sebuah bangsa  bila terjerumus dalam kondisi yang seperti itu.

Fatwa para seniman yang berkumpul di Taman Ismail Marzuki  Jakarta  menyatakan bahwa  yang sukses di negara ini  adalah mereka yang   pandai menipu, biasa menggertak, pandai ngomong, buaya darat, serta  memiliki keterampilan  untuk menunduk diiringi dengan menanduk bila  telah berhasil. Bila yang demikian sudah tidak terlalu sulit kita temukan di tengah-tengah masyarakat. Rasanya tepat sekali ramalan Nabi bila manusia telah menjauhi agama. Nabi tercinta bersabda: “Akan datang satu jaman kepada manusia yang mereka kejar hanyalah isi perut, kemuliaan mereka hanyalah barang-barang mewah, arah hidupnya adalah  wanita, dan agamanya adalah uang.”

Apa jadinya bila kita hidup di tengah-tengah masyarakat dengan kondisi seperti itu. Mudah-mudahan  Allah senantiasa membimbing kita  agar senantiasa berjalan di jalur yang diridai-Nya.

Tawazun

Salah satu keistimewaan ajaran Islam adalah ajaran Tawazun -keseimbangan. Kita yakin seyakin-yakinnya semua yang berjalan dengan baik dan teratur adalah  yang bertumpu pada keseimbangan. Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, jasmani dan rohani, iman dan ilmu, doa dan ikhtiar. Itulah salah satu resep untuk menggapai  tujuan beragama Islam, yaitu bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Salah besar seorang mukmin yang mengejar dunia, tapi meninggalkan akhirat. Juga sebaliknya, mengejar akhirat, tapi meninggalkan dunia.

“Carilah dunia seolah-olah engkau mau hidup selama-lamanya, carilah untuk akhiratmu seolah-olah engkau mau  meninggalkan dunia esok hari.“ Sebuah pesan yang sarat makna dan  puitis dalam bahasa aslinya, sebagai arahan yang mesti dipegang teguh oleh setiap muslim yang menjadikan  keridaan Allah sebagai tujuan hidup-Nya.

Agama Hindu mengajarkan bahwa hidup adalah Samsara, agama Budha menyatakan hidup adalah Dukha, agama  Kristen menyatakan hidup adalah dosa, sedang Islam menyatakan hidup adalah ujian untuk menguji manusia, siapa di antara mereka yang paling baik amalnya.

Kita semua tengah menghadapi ujian apa pun kondisi dan situasi kita serta siapa pun. Kita semuanya diuji oleh Yang Maha Kuasa, hasilnya … nanti di yaumil jaza.
                 
                                           Kuningan,  September 2005

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...