Wednesday, May 1, 2013

Tentang Tajarrud



Sepenggal kisah tentang proklamator Indonesia tertulis di sebuah buku “Bung Karno Penyambung Lidah rakyat Indonesia“.   Berikut kutipannya :



Dalam perjalanan ke Solo dengan salah seorang wakil dari PNI,Gatot Mangkupraja, aku menyinggung soal ini.



Bung, setiap agitator dalam setiap revolusi tentu  mengalami nasib masuk penjara," aku menegaskan.

“Disuatu tempat, entah dengan cara bagaimana, suatu waktu tangan besi dari hukum tentu akan jatuh pula diatas pundakku. Aku mempersiapkanmu sebelumnya."



“Apakah Bung Karno takut ?" tanya Gatot.



Tidak, aku tidak takut!" jawabku dengan jujur. Aku sudah tahu akibatnya pada waktu memulai

pekerjaan ini. Akupun tahu, bahwa pada satu saat aku akan ditangkap. Hanya soal waktu saja lagi. Kita

harus siap secara mental".



Kalau Bung, sebagai pemimpin kami, sudah siap, kamipun siap!" katanya.



“Seseorang hendaknya jangan melibatkan dirinya kedalam perjuangan mati-matian, jika ia sebelumnya

tidak insyaf akan akibatnya. Musuh akan mengerahkan segala alat-alatnya berulang-ulang kali supaya dapat terus-menerus memegang cengkeramannya yang mematikan. Tapi, sekalipun berabad-abad mereka menyerumuskan puluhan ribu rakyat masuk bui dan masih saja melemparkan kita kedalam pembuangan  di tempat-tempat yang tidak berpenduduk, jauh dari masyarakat manusia, saatnya akan tiba pada waktu mana mereka akan musnah dan kita memperoleh kemenangan. Kemenangan kita adalah suatu keharusan sejarah—tidak bisa dielakkan."



“Kata-kata itu memberikan keberanian padaku, Bung Karno." kata Gatot.



“Dalam perjalanan diatas gerobak-sampah menuju ketiang-gantungan, Pemimpin Revolusi Perancis berkata kepada dirinya sendiri: Aurlace, Danton Toujours de l'audace. Ia terus-menerus mengulangi katakata  itu: Beranikan dirimu, Danton. Jangan kau takut ! Karena ia jakin, bahwa perbuatan-perbuatannya akan dilukis dalam sejarah dan tantangan terhadapnyapun merupakan saat yang bersejarah.  Dia tidak pernah meragukan akan datangnya kemenangan yang terachir dan gilang-gemilang. Jadi, akupun  begitu."



“Ada diantara pejuang kita yang selalu keluar masuk bui secara tetap," kata Gatot menerangkan. “Seorang pemimpin yang di Garut. Dia sudah masuk 14 kali. Pembesar disana menamakannya sebagai pengacau. Dalam jangka waktu enam tahun dia meringkuk selama enam bulan didalam penjara, setelah  itu bebas selama dua bulan, lalu masuk selama enam bulan dan keluar lagi tiga bulan, kemudian delapan bulan dibelakang jerajak besi. Setelah itu dia bebas lagi selama satu setengah tahun dan hukumannya yang  terachir adalah dua tahun



Itulah sepenggal kutipan dari buku yang menuturkan biografi Sukarno. Kalau kita mengingat pelajaran sejarah saat sekolah dulu, maka yang kita terima barulah kronolgi peristiwa masa lalu. Tentang Siapa, Apa, Kapan dan Di mana. Tetapi tentang Mengapa dan Bagaimana kita cenderung tidak diajak menyelaminya. Maka pelajaran sejarah kemudian menjadi kering tanpa ruh. Kosong tanpa jiwa yang menghidupkan semangat dan kebanggaan. Tanpa daya hidup yang menggerakkan. Tetapi membaca buku di atas memang menjadi lain. Di sana ada semangat, ada ruh, ada kebanggaan, ada kepedulian, ada kegeraman, juga cinta.

Sejarah memang menunjukan kepada kita tentang totalitas dalam perjuangan menggapai cita-cita besar. Salah satunya tentang bagaimana perjuangan para pemimpin pergerakan di atas. Juga perjuangan apa saja. Entah itu belajar. mencari nafkah. Apalagi berjihad dan berdakwah. Karena dakwah akan meminta semuanya. Totalitas. Begitulah ustadz Rahmat Abdullah menuturkan dengan amat mengena :

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai fikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di saat lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah menyedut kekuatan pada diri. Hingga tulang belulangmu, daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Baginda memang akan tua juga. Namun kepalanya beruban kerana beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Beliau memimpin hanya sebentar. Namun kaum muslimin sangat terkesan dengannya. Tidak ada lagi orang miskin yang boleh diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sukar membayangkan sekeras apa seorang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai gugur. Hanya dalam 2 tahun beliau sakit parah kemudian meninggal. Dan memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin al-Khattab juga terlihat terkoyak-koyak hingga kepalanya menjadi botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelaskan dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang soleh, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya ketika solat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak! Justeru kelelahan. Apalagi rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih "tragis". Justeru kerana rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani kerana rasa sakit itu selalu mengintai ke mana-mana mereka pergi yang akhirnya menjadi adaptasi biasa.

Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak dirasa lagi sebagai luka. Hingga "hasrat untuk mengeluh" tidak lagi terlalu menggoda berbanding jihad yang begitu aman, selesa apalagi berkecukupan.

Begitupun Umar. Apabila Rasulullah wafat, beliau histeria. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada Abu Bakar. Namun beliau seringnya "ditinggalkan", hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam suntikan bagi iman.

Dakwah itu tiada henti melainkan mati!

Janganlah keselesaan yang dimiliki melupakan diri hingga membiarkan mereka yang lainnya bersendirian bergelumang dalam lumpur kumuh membaiki moral ummat hingga dirimu berada di dalam lingkungan kelompok empukmu sahaja.

Sedarlah wahai para kader-kader di Jalan Allah!!

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.

Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.

Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.

Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

-Sungguh kalau iman dan syaitan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya harus mengalah


Maka totalitas adalah salah satu kata kunci dalam dakwah. Bila kita memang benar-benar berada di jalannya. Karenanya mari kita selami lebih jauh makna tajarrud ini.



Lafal “Al Juradah” artinya sesuatu yang dikelupas dari sesuatu yang lain.

Lafal “At-Tajrid” artinya melepaskan pakaian.

Lafal “At-Tajarrud” artinya bertelanjang. Sedang Lafal “Tajarrud lil Amri” artinya bersungguh-sungguh pada suatu urusan.


     
      Menurut Syariat


Menurut Imam Hasan Al Banna : “Engkau harus tulus pada fikrahmu dan membersihkannya dari prinsip-prinsip lain serta pengaruh orang lain. Sebab ia adalah setinggi-tinggi dan selengkap-lengkap fikrah”.


Tajarrud, menurut Al-Fadhil Ustaz Fathi Yakan di dalam karangannya “Ma Za Ya’ni Intima’ Lil Islam” : “Tajarrud bermakna saudara mestilah ikhlas terhadap fikrah yang saudara dukung”.


Menurut Ust. Mahfuz Sidik : “Adalah totalitas dan kesinambungan amal jihadi yang kita lakukan sehingga Allah meringankan dakwah ini, dan hingga kita berjumpa dengan Nya kelak.


KH.Hilmy Aminudin memaknai tajarrud sebagai ketulusan pengabdian kader dakwah bukanlah meninggalkan semuanya untuk dakwah tetapi membawa semuanya demi kejayaan dakwah.

Jadi secara umum Tajarrud adalah : “ Mengkhususkan diri untuk Allah swt dan berlepas diri dari segala sesuatu selain Allah. Yakni menjadikan gerak dan diam serta yang rahasia dan yang terang-terangan untuk Allah swt semata, tidak tercampuri oleh keinginan jiwa, hawa nafsu, undang-undang, kedudukan, dan kekuasaan”. 

Tajarrud berarti memfokuskan diri hanya karena Allah, meniadakan orientasi kepada siapapun dan apapun selain-Nya. Hendaknya gerak dan diam dalam sembunyi dan terang hanya dilakukan karena Allah, tidak ada intervensi nafsu, keinginan pribadi, tidak ada motivasi duniawi, kedudukan dan kekuasaan. Hal ini tidak berarti melepaskan diri dari kehidupan dunia dan keperluannya, bahkan menjadikan dunia sebagai sarana memperoleh balasan di sisi Allah.



No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...