Sunday, May 5, 2013

Ternyata Sudah Dalam Genggaman



Oleh : Ust. Uri Mashuri


“Barang siapa bangun pagi hatinya tentram, tubuhnya sehat, tersedia makanan untuk dimakan di hari itu, seakan-akan   dunia dan isinya tergenggam ditangannya “
                                                       (H.R. Imam Turmudzi)



Keinginan dan Kebutuhan

Dulu sewaktu masih jadi mahasiswa di ibu kota, penulis membeli obat batuk  yang bebas dijual di  toko terdekat milik Encim yang rada-rada judes. Harga Rp22,50  Penulis sodorkan uang pecahan Rp 25,00 diiringi ucapan: “kembaliannya buat amplop dan permen Ci”.

“Jangan membeli sesuatu yang tidak engkau butuhkan, ada kembaliannya kok” jawab Encim dengan nada seperti seorang guru yang menegur muridnya yang salah, bukan gaya seorang tukang dagang seperti pada umumnya.

Butuh dan ingin merupakan dua kata yang tidak semua orang dapat membedakan. Kebanyakan menganggap semua yang kita inginkan adalah  yang kita butuhkan. Padahal, bedanya sangat jauh. Kebutuhan adalah sesuatu yang sangat diperlukan, sedangkan keinginan belum tentu kita butuhkan, hanya sesuatu yang kita berhasrat untuk memilikinya.

Kalau kita sedikit jujur pada diri, kita akan menyadari bahwa kebutuhan kita tidaklah banyak, sangat sedikit, dan Insya Allah semua kita akan mudah memperolehnya dengan adil dan merata. Seperti hutan belantara dengan tetumbuhan beraneka ragam jenis serta ukurannya, semua rata terbagi lantaran mereka hanya mengambil yang mereka butuhkan bukan yang mereka inginkan. Kalau kita makan  sesuai dengan nutrisi yang kita butuhkan, dipastikan tubuh kita akan sehat,, tapi bila kita makan  dengan asupan yang kita inginkan bukan yang kita butuhkan sudah  dapat dipastikan tubuh kita akan mengalami ketidakseimbangan yang akan menimbulkan gangguan kesehatan.

Pemenuhan kebutuhan biasanya diiringi kepuasan hati serta kita dapat mengapresiasinya dalam waktu yang cukup lama. Sedangkan pemenuhan yang kita inginkan  biasanya tingkat kepuasannya sangat rendah dan mudah tercampak begitu kita memperolehnya. Mengejar keinginan membuat kita  mesti terus berlari sebab setiap kita dapat meraihnya muncul lagi keinginan baru yang mesti kita kejar. Seperti mengejar bayang-bayang layaknya.  Keinginan manusia biasanya lebih banyak dari tarikan nafasnya, lebih panjang dari usianya, dan  lebih berat dari bobot badannya. Itulah keinginan yang identik dengan hawa nafsu. Tepatlah apa yang dikatakan oleh Al Mutanabi:
Orang yang kaya adalah orang yang sedikit keinginannya, orang yang  miskin adalah mereka yang terlalu banyak keinginannya. “


Realita Yang Kita Hadapi

Bekerja keras memenuhi kebutuhan maupun keinginan merupakan sebuah keniscayaan di zaman  seperti ini. Berbagai cara orang melakukan agar terpenuhi apa yang mereka harapkan. Suami-istri, semua keluar rumah untuk memenuhi hasrat tersebut. Karier, materi, dan citra diri mereka kejar tanpa menjaga keseimbangan dan  keharmonisan hidup. Sukses materi dan sukses karier itulah kiblatnya.

“Aku tak punya kehidupan. Tenagaku habis –capek   sekali! “
Aku prustasi dan  loyo, tak bersemangat!“
“Aku merasa tak diperlukan –di tempat kerja, tidak, oleh anak-anakku yang mulai remaja dan dewasa pun tidak, tak juga oleh tetangga dan masyarakat sekitarku; bahkan,  tak juga oleh pasangan hidupku –kecuali untuk membayar berbagai tagihan dan cicilan!“
“Penghasilanku tak pernah cukup. Rasanya aku tidak pernah bergerak maju!”
“Aku merasa hampa. Hidupku tidak bermakna; ada sesuatu yang hilang!”
“Aku merasa diburu terus, semuanya serba mendesak!”
“Dengan pasangan hidup yang tak bisa memahamiku, dan anak-anak yang tidak mendengar dan menaatiku, rumah tidak lebih baik daripada tempat kerjaku!”

Dan seterusnya, dan seterusnya. Itulah sebahagian keluhan yang penulis ambil dari buku terbaru Stephen R, Covey , The 8th HABIT.

Keluhan-keluhan itu mewakili keluhan kita. Karena itu, keluhan-keluhan itu merupakan derita kita yang larut dalam pengejaran keinginan yang tanpa batas. Itulah ciri kehidupan modern yang ditandai dengan  individualisme, persaingan yang tajam, serta peningkatan kebutuhan yang senantiasa mendesak. Sebuah kehidupan yang penuh tekanan, penuh ketegangan, serta kegersangan yang jauh dari fitrah kemanusiaan. Tak tergambar dalam kehidupan seperti itu nuansa keseimbangan, kedamaian, ketentraman, serta keharmonisan yang merupakan dambaan setiap insan yang memiliki hati nurani.


Tuntunan Agama nan Fitrah

Islam diturunkan oleh Allah untuk manusia sebagai pedoman hidup yang dapat menggapai kesejahteraan baik lahir maupun batin. Islam datang dengan prinsip hidup yang sederhana, seimbang dan praktis. Sederhana, karena ajarannya tidak berbelit-belit dan mudah dicerna  oleh siapa pun. Baik oleh mereka yang berpendidikan tinggi maupun oleh mereka yang tingkat pendidikannya rendah. Seimbang tidak berat sebelah antara dunia dan akhirat, rohani dan jasmani, hak dan kewajiban, doa dan ikhtiar, serta ilmu dan iman . Dilarang kita mengejar dunia semata dengan melupakan akhirat. Juga diharamkan kita mengejar akhirat dengan meninggalkan dunia. Praktis, semua perintah Allah dan larangan-Nya  mudah dilaksanakan. Siapa pun bisa menjadi muslim yang baik dan patuh. Bahkan, kalau direnungkan lebih dalam, semua larangan  bukanlah pengekangan, tetapi pembebasan manusia dari akibat buruk yang ditimbulkan. Sementara itu, perintah-Nya merupakan sarana pendidikan untuk menyempurnakan karakter manusia yang sering menjadi pelupa.

“ Ketahuilah wahai Ali, bahwa Ilmu pengetahuan adalah modalku, akal adalah dasar agamaku, cinta kasih adalah pahamku, dzikir  -ingat kepada Allah– adalah sahabatku, keprihatinan adalah temanku, kesabaran adalah busanaku, ilmu adalah senjataku, jihad –kerja keras– adalah perangaiku, dan shalat adalah penawar hatiku .”  

Itulah nasihat Nabi pada menantunya Ali bin Abi Thalib. Begitulah ajaran Islam dalam menghadapi kehidupan  di dunia dan di akhirat.


Ada di Hati Kita

Manusia bekerja keras mengejar apa yang dia inginkan.  Kadang melupakan norma sebagai aturan main dalam kehidupan. Semua dia abaikan. Yang nampak cuma satu, yaitu target keinginannya. Mereka bergerak seperti robot  yang tak bertimbang rasa dan  tak hirau lagi yang halal dan haram. Rasa malu, rasa bersalah, serta rasa berdosa tidak ada lagi dalam kamus hidupnya. Padahal, ketiga hal itu merupakan ciri manusia yang bermartabat. Mereka menginginkan kebahagiaan, tetapi yang diperoleh adalah kenestapaan, yaitu kehampaan serta ketidak-bermaknaan hidup yang dijalani. Arang habis besi binasa. Itulah gaya hidup yang membuat  kita kelelahan  menjalaninya.

Dunia dan isinya itulah target akhir yang diburu manusia. Sebuah ambisi yang mustahil dapat tergapai karena keterbatasan daya dan usia. Nabi tercinta memahami ambisi manusia itu  dengan susunan kalimat yang tepat dan penuh makna. Beliau hantarkan ummatnya menggapai dambaan hati, yaitu kebahagian  dengan cara yang sederhana. Diajarkan bagaimana menyusun bahagia harian dengan mengondisikan pikiran yang damai, badan yang sehat, serta kecukupan makanan setiap hari sebagai kunci bahagia.  Tentunya menjadi sebuah keniscayaan  bila hidup setiap hari dijalani dalam kebahagiaan. Seluruh rangkaian umur kita akan terbingkai bahagia. Bila itu terjadi ternyata bahagia sudah ada dalam genggaman.


                                                                      Wallahu ‘alam

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...