KEMBALI KE NOL
“We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them.”
— Albert Einstein
***
“Kira-kira endingnya bagaimana, Pak Sol?” tanya Pak Kepala Kantor. Pada kesempatan bedah LHPt.
“Saya tidak bisa memastikan Pak. Apakah WP akan membayar sesuai hitungan kita, atau lanjut ke pemeriksaan. Tapi setidaknya saya sudah mewariskan LHPt komprehensif yang lebih ‘bercerita’. Sehingga AR berikutnya tidak memulai dari nol seperti saya, “jawab saya apa adanya.
“Bagaimana bisa memulai dari nol, Pak?” tanya beliau lagi.
“Karena file pengawasan masih berbentuk excel yang konstruk-nya belum terlihat. Analisis WP grup belum ada. Analisis transfer pricing belum ada juga. Baru ada selisih equalisasi. Makanya saya susun menjadi seperti skripsi. Agar gagasannya mengalir. Bentuk file-nya pdf. Bukan excel.” Saya coba jelaskan lebih lanjut.
“Kalau hasil mirroring dari Laporan Hasil Pemeriksaan kan sudah lengkap?” kali ini pertanyaan dari Kasie.
“Secara tabel dan angka iya, Pak. Plus sekilas proses bisnis WP. Tapi informasi yang kita baca lebih tentang perbandingan angka menurut WP dan Pemeriksa, dan penjelasan kenapa pos ini atau itu dikoreksi,“ pungkas saya.
***
Setiap kali terjadi pergantian Account Representative, proses pengawasan sering kali ikut ter-reset. Bukan karena kurangnya kompetensi, tetapi karena legacy pengawasan sebelumnya tidak cukup komprehensif untuk dilanjutkan. Catatan ada, tetapi narasi perilaku WP tidak utuh. Data tersedia, tetapi cerita kepatuhannya terputus.
Akibatnya, AR baru seperti arkeolog yang menggali situs tanpa peta. Ia harus membaca ulang, menafsir ulang, dan memulai kembali dari lapisan paling atas. Fungsi Pengawasan mungkin akan terbaca efisien secara administratif, tetapi efektivitasnya—dalam mengubah perilaku— masih tanda tanya.
Peter Drucker pernah berkata,
“Efficiency is doing things right; effectiveness is doing the right things.”
***
Sebelumnya, kita sepakat bahwa mata rantai terlemah dalam sistem perpajakan kita berada di wilayah pengawasan. Sesungguhnya itu bukan kabar buruk. Justru sebaliknya, itu adalah titik harapan. Dalam teori perubahan, kelemahan adalah pintu masuk transformasi. Adanya titik lemah bukan untuk disesali, melainkan untuk diperkuat.
Pengawasan adalah jantung yang memompa kepatuhan. Jika denyutnya teratur, aliran kepatuhan menyebar ke seluruh wajib pajak. Jika tidak, maka angka-angka hanya bergerak di atas kertas, sementara perilaku Wajib Pajak tetap di tempat yang sama.
Pengawasan bukan sekadar aktivitas administratif, tetapi proses pembentukan kesadaran fiskal.
Dan barangkali, inilah yang tanpa kita sadari selama ini: kita bekerja keras, bahkan berlari, tetapi lintasan larinya membentuk lingkaran. Seperti pelari di treadmill—keringat bercucuran, langkah tak terhitung, napas terengah—namun jarak tempuhnya nol.
Selain siklus kembali ke titik nol di atas, ada juga yang luput terbaca oleh sistem: arah.
Setiap tahun, Wajib Pajak yang masuk dalam Daftar Prioritas Pengawasan (DPP) cenderung itu-itu saja. Wajib Pajak yang relatif kooperatif—yang merespons SP2DK, yang bersedia membayar—justru menjadi “favorit” dalam penentuan DPP. Karena mereka mudah diajak bicara, mudah ditutup, dan cepat menghasilkan angka. Kuantitas, kualitas dan time manajemen, dapat semuanya.
Dalam jangka pendek, ini tampak efektif. Namun dalam jangka panjang, sistem seperti ini ibarat memanen buah dari pohon yang sama, tanpa pernah menanam pohon baru.
Jika aktivitas pengawasan hanya diarahkan pada objek yang sama, maka nilai rupiah dari kepatuhan juga tidak akan tumbuh.
WP Strategis yang diganti biasanya karena bangkrut, atau sudah tidak ada harapan muncul tambahan potensi.
Dalam keyakinan saya, tiga tahun di pengawasan strategis seharusnya cukup untuk membentuk perilaku patuh yang stabil. Setelah itu WP dapat “naik kelas”. Bisa dikembalikan ke pengawasan kewilayahan. Jadi lumbung informasi berharga bagi AR kewilayahan guna mempelajari WP yang diampu. Sekaligus mempelajari bagaimana AR strategis bekerja. AR strategis bisa ganti melakukan treatment ke WP potensial lainnya.
Peluang yang hilang
Ketika ban berjalan pengawasan berputar di tempat, WP yang belum patuh berpotensi tetap berada di zona abu-abu. Karena tidak tersentuh pengawasan yang tepat sasaran. Sementara WP yang berulang diawasi, tidak selalu mengalami peningkatan kualitas kepatuhan. Mereka patuh karena diminta, bukan karena paham. Patuh karena diawasi, bukan karena sadar.
Jika aturan main tidak mendorong perubahan perilaku, maka para pemain akan terus memainkan strategi lama—aman, dikenal, dan minim risiko. Persis apa yang dikatakan pakar ilmu ekonomi kelembagaan, Douglass North bahwa, “Institutions are the rules of the game, but organizations are the players.”
Sistem push rank, misalnya, pada dasarnya adalah instrumen manajerial. Ia lahir dari niat baik untuk mengukur kinerja. Namun, ketika ia lebih menekankan hasil jangka pendek daripada pembelajaran jangka panjang, ia berpotensi mendorong strategi pengawasan yang aman secara angka, tetapi miskin secara transformasi.
Beranikah Mengubah Arah?
Di sinilah optimisme menemukan pijakannya. Karena sistem yang membuat kita “mulai dari nol” setiap tahun, sejatinya juga memberi peluang untuk benar-benar memulai dari nol—dalam arti yang paling konstruktif.
Mulai dari nol berarti menata ulang cara pandang. Dari mengejar aktivitas menuju membangun dampak. Dari sekadar mencatat kepatuhan menuju menumbuhkan perilaku. Dari pengawasan yang reaktif menuju pengawasan yang konstruktif.
Dalam konteks perpajakan, pembangunan itu berarti membentuk Wajib Pajak yang sadar, bukan sekadar patuh sesaat. Sebagaimana Soedjatmoko, pemikir besar Indonesia, pernah menulis: “Pembangunan sejati adalah pembangunan manusia.”
Pengawasan yang ideal bukanlah jaring yang terus menangkap ikan yang sama, melainkan arus yang mengarahkan ikan untuk berenang ke jalur yang benar. Bukan memburu, tetapi membimbing. Bukan memaksa, tetapi menumbuhkan.
Dan ketika itu terjadi, secara agregat nasional tax ratio tidak perlu didorong dengan teriakan. Ia akan naik seperti air pasang—perlahan, konsisten, dan alami.
Karena pada akhirnya, sistem yang baik tidak sekedar membuat kita sibuk setiap tahun. Ia membuat kita melakukan perbaikan yang berkelanjutan. Jadinya ketika aktor pengawasan berganti, tidak perlu selalu kembali ke titik nol.
Comments
Post a Comment