Postingan

DARI BANDUNG, KAMPANYE AQIL BALIGH BERGAUNG

Gambar
Gaung itu memang dari Bandung. Tepatnya dari ITB. Lebih tepat lagi dari kompleks Masjid Salman.  Masjid legendaris seniornya masjid kampus  di Indonesia. Salah satu masjid paling sibuk. Dimana pengelolanya adalah mahasiswa.  Dengan anggaran yang katanya 38 Miliar setahun. Ya, 38 Miliar! Penulis sendiri punya kesan khusus dengan masjid ini. Pertama, ketika membaca buku terbitan Pustaka-Salman ITB saat SMA dulu tahun 1990an. Karangan Muhammad Quthb. Judulnya “ Jahiliah Masa Kini ”. Ini buku agama yang beda. Biasanya tentang  fiqh ibadah. Buku yang berisi fakta tentang akumulasi kejahiliyahan sejak  zaman Nabi Adam. Semua berkumpul di abad ini. Buku itu membuat pembacanya menjadi tersadarkan dan bersemangat  untuk berubah. Spirit ini yang memang tidak diperoleh di buku fiqh. Kedua, Masjid Salman kembali menjadi latar dari sebuah kesadaran baru. Bila sebelumnya  disadarkan sebagai individu. Kali ini  disadarkan   sebagai seorang kepala ...

SI AYAH DAN HP ANAKNYA

Malam itu ia tak mampu memejamkan mata. Tampilan layar HP Si Kasep anaknya bergelayut terus di otaknya. Sulit dihilangkan dari pikiran. Rangkaian chat anaknya yg jadi sebab. Ia gundah. Masih tak percaya. Sesuatu yg ia khawatirkan ternyata kejadian. Ia merasa gagal jadi ortu. “Begitulah Ustadz, saya merasa gagal”. Ia pun tertunduk di hadapan Sang Ustadz. Guru dan panutannya selama ini. Masalah anaknya membuat Si Ayah memaksakan diri untuk konsul. Rasanya ia perlu pandangan dari yang lain. Kalau mengikuti nafsu, sudah ia sidang Si Kasep anaknya itu. “Sudah separah apa memangnya Si Kasep?” Sang Ustadz coba urai masalah. “Kalau melihat chat-nya sepertinya sudah pacaran Tadz. Sudah kelewat batas Ustadz obrolannya. Padahal selama ini. Saya sudah melarang keras. Nggak ada ceritanya anak saya pacaran” Si Ayah menambahkan. Agak emosi. “Bagaimana dengan anak-anak yang lain?” Sang Ustadz masih kalem. “Alhamdulillah, kalau adiknya, Si Eneng sih bagus. Mampu memegang prinsip. Ini kakaknya yang ma...

Dari BREAKING THE LIMIT Ke HUSNUL KHOTIMAH

Gambar
Di pelataran Masjid Agung Syiarul Islam, Kuningan Udara yang dingin, bacaan imam yang panjang saat sholat Subuh, dan jamaah yang khusyuk. Itulah suasana Jumat pagi di Masjid Agung Syiárul Islam Kuningan, tujuh Mei kemarin. Memang terasa spesia karena amat jarang saya berkesempatan sholat di situ. Apalagi sholat Subuh. Masjid Agung yang dulunya bernama Al Manar ini, menjadi transit sebelum ke lokasi tujuan. Saya bersama rombongan dari Insan Cendekia Madani BSD hendak menuju Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Manis Kidul, Kuningan. Rombongan terdiri dari Ustadzah Uli, Fathia dan Mas Yanto. Saya sendiri ikut nebeng saja sebenarnya. Ingin mendampingi Si Teteh tampil di hadapan santri HK yang terkenal alim dan pintar-pintar. Ponpes HK sendiri kini menjadi salah satu destinasi favorit para santri untuk menuntut ilmu agama dan umum secara terintergrasi. Mereka datang dari berbagai daerah. Seleksi masuknya juga semakin ketat saja.  Kedatangan kami memenuhi undangan dari OSHK (O...

TARBIYAH ITU BUKAN MENCETAK KADER, TAPI...

Gambar
Seorang kawan ditanya Murobinya : "Apa yang membuat Antum bertahan di majelis halaqah ini?". Jawaban kawan saya cukup mengejutkan: "Saya hanya ingin kumpul-kumpul saja, Tadz. Karena kalau sendirian kemungkinan saya akan terbawa pengaruh buruk teman-teman saya di luar" "Hanya sekedar kumpul-kumpul saja?" Sang Muroby bertanya ingin penegasan. "Ya, hanya untuk kumpul-kumpul saja" Jawaban kawan saya tetap pada redaksi awal. "Selain itu, apa yang Antum peroleh dari halaqah ini?"  "Tidak ada yang baru, Tadz.  Materi-materi yang dibahas sudah saya fahami semua. Apalagi ada internet, tinggal googling"  Ya, betapa banyak halaqah yang kehilangan gairah. Ada yang mengatasinya dengan sering-sering  rihlah ke luar kota. Ada juga yang dengan rutin jelajah tempat kuliner.  Para Murobi sudah lama kehabisan materi. Hanya mengulang-ngulang materi yang sudah lama. Membuat materi baru, merasa tidak kapasitas. Meman...