Monday, January 21, 2013

Caper 12-13 # 3 : HEROISME



Saat mudik akhir tahun 2012 ke Probolinggo, Jawa Timur, alhamdulillah bisa silaturahim kembali dengan beberapa kawan dan mendengar kisah-kisah yang luar biasa. Di mana-mana kisah aktivis dakwah memang luar biasa. Sungguh beruntung saya bisa kenal dan bersahabat dengan mereka. Minimal dapat semangatnya. Ibarat dekat dengan penjual parfum, kita ikut dapat wanginya. Beberapa profil di bawah ini adalah profil kawan saya yang di Lumajang, sebuah kota tetangga dengan Probolinggo. Tempat saya pernah tinggal 1,5 tahun lamanya.


Relawan berputra 11 (insya Allah akan 12)

Ia masih muda, mungkin hanya dua tahun di atas saya, 42 tahunan. Tapi kiprah sosialnya luar biasa. Ia tenaga kesehatan yang jadi andalan kawan-kawan Lumajang kalau ada bencana dan baksos. Dalam darahnya seperti sudah mengalir jiwa relawan kemanusiaan. Ia memang relawan andalan PKPU Lumajang. Jiwa kemanusiaannya, saya yakin itu berangkat dari keyakinan, tawakal dan optimismenya. Ini terasa kalau kita melihat wajahnya. Saya kadang menyebutnya dengan easy going.  Tapi bukan bermakna seenaknya. Tapi menganggap apapun masalah duniawi dengan ringan. Wajahnya selalu tenang dan tersenyum. Hanif dan sedikitpun tidak terlihat ambisi tertentu. Bahasanya santun dan dikenal dermawan. 

Saat saya ke Lumajang yang berselang 1 jam perjalanan dari Probolinggo itu, sayangnya tidak sempat bertemu karena momen tidak pas. Ke Lumajang sudah malam dan keadaan hujan lebat. Hanya bertemu beberapa gelintir kawan yang akan pengajian di Islamic Center Tukum, Lumajang. Pada malam sebelumnya ada yang ceritakan tentang perkembangan terbaru Mas Karim, begitu namanya biasa disebut, oleh Mas Sumitro waktu silaturahim ke rumah di Paiton, Probolinggo.Jadi saya hanya dengar ceritanya saja. Tapi, insya Allah shahih.  

Isteri Mas Karim sedang hamil ke 12. Saya kaget koq bisa cepat begitu? Ternyata saat hamil ke delapan Allah karuniakan bayi kembar tiga. Sehingga langsung berjumlah sepuluh. Kemudian lahir lagi satu. Dan sekarang sedang hamil yang ke 12. Jadi, kalau di Jakarta ada Mas Tamim, Ustadzah Yoyoh (almarhumah). Dr Mardani yang berputra banyak. Di Karawang ada Ustadz Iman Santoso, Bu Maryanah dan Ustadz Ara. Nah, di Lumajang ada Mas Karim . Ternyata benar bukan? heroisme itu benar-benar ada, dan ada dimana-mana.


Yang Sepuh Yang Super Semangat

Usia 65 tahunan biasanya waktunya istirahat. Tapi Pak Slamet lain. Semangatnya telah membuat kawan-kawan aktivis dakwah yang masih muda pada keder. Bagaimana tidak? Di Usia sepuh iu, ia masih sempat kuliah S1 jurusan Bahasa Inggris. Masih sanggup ikut longmarsch 30 km. Tiap hari olah raga jogging. Kalau muhkoyam (camping kepanduan PKS) pasti yang terdepan dan paling bersemangat. Kini ia bahkan jadi standar kedispilinan dalam hal menghadiri  acara. Hampir pasti, lima menit sebelum waktu mulai acara sebagaimana yang diinformasikan, ia sudah hadir di tempat.

Kalau saya nekad nyopir sendiri Karawang Probolinggo seperti touring terakhir ini, salah satunya terinspirasi dari Pak Slamet ini. Ia suka touring berdua bareng istrinya yang asal Bogor. PP Lumajang-Bogor naik sedan tua Peugeot. Saya pikir beliau yang sudah sepuh saja begitu berani menempuh jarak jauh, kenapa saya tidak?

Terakhir, yang paling fenomenal adalah saat ia mewakafkan separuh hartanya untuk dakwah. Tanah dua hektar di dua lokasi amat strategis. Masing-masing satu hektar.  Saat akan menandatangi akte wakaf, saudaranya yang jadi saksi sempat mengingatkan “apa nggak dipikirkan lagi, Mas? Anak-anak kan ada yang masih kuliah, nanti biayanya dari mana?”. Malah dijawab” Kamu nggak usah ikut mikir, justru ini harta saya nanti di akhirat. Kalau yg lain mah belum tentu jadi milik saya di sana!”. Rencananya, di lokasi wakaf akan dibangun markaz dakwah dan sekolah.


Pengusaha Yang always Silaturahim

Sebelum jadi anggota legislatif dari PKS periode 2009-2014, kerjaan Mas Husnul Khuluq ini “hanya” silaturahim. Setiap hari ia hampir bisa dipastikan keliling. Nyambangi orang-orang. Memang ia sengajakan. Bukan sambil lalu. Kalau sudah niat mengunjungi seseorang, ia akan upayakan betul. Seperti ke rumah saya yang di Karawang, bahkan ia sudah pernah dua kali sengaja mampir. Saya baru membalasnya satu kali doang. 

Kang Husnul memang enterpreneur  sejak muda. Begitu lulus dari Universitas Ibnu Khaldun, Bogor , ia dimodali taksi oleh orang tuanya. Taksi itu kemudian ia jual buat berangkat haji. Berangkat hajinya karena “terpaksa” setelah mendapat tausiyah singkat dari Ustadz Didin Hafidhuddin yang kebetulan jadi penumpang dan sempat ngobrol sebentar. Saat ngobrol itulah ia diberi motivasi untuk segera ke tanah suci. Iapun berangkat bermodal hasil menjual mobilnya.

Pulang dari Haji, ia pulang kampung ke Lumajang. Mencoba berbagai jenis usaha. Usaha awalnya adalah membuat daging bakso. Kemudian jual beli mobil dan motor bekas. Usahanya makin berkembang ke mana-mana. Sekarang ia buka usaha ternak ayam dengan pola kemitraan, setelah sebelumnya buka usaha bengkel dan angkutan barang. Ia memang sudah punya truk.  Ia dikenal hampir semua orang di daerah pasar Klakah, Lumajang. Ia biasa dipanggil Haji Husnul. 

Semangat silaturahim bila dibarengi  enterpreneurnship memang berefek amat dahsyat. Saat pemilu legislatif 2009, walaupun kader PKS masih sedikit di dapilnya, namun ketokohannya menutupi kekurangan itu, dan (bi-idznillah) menjadikan ia terpilih jadi aleg dari dapilnya. Begitu ia terpilih, sebuah mobil tangki air bersih berlogo “PKS Pasti Pas!” ia sumbangkan khusus untuk kebutuhan suplai air saat musim kering. Maka, saat kemarau mobil tanki itu hilir mudik ke berbagai pelosok yang kering untuk menyuplai air bersih.

Waktu saya silaturahim ke rumahnya, ia sudah ditunggu  dua tamu dari pelosok desa lereng gunung. Ternyata mereka petani binaan. Petani Alpukat jenis mentega yang difasilitasi hingga pemasaran ke Jakarta. Saat itu ia baru pulang dari DPD PKS Lumajang menghadiri raker awal tahun. Saat ngobrol saya ditunjukan foto-foto beberapa masjid yang sumbangan dari Hilal Ahmar. Rupanya ia diamanahi koordinator Hilal Ahmar untuk wilayah Lumajang. Tahun 2012 lalu Lumajang kebagian empat lokal masjid.  Tak ketinggalan, di masjid Jami’ yang dekat pasar Klakah itu ia juga dipercaya untuk mengimami shalat. Bacaan qur’annya memang bagus. Benar-benar hidup yang berkah buah silaturahim.


Nah, luar biasa bukan? Dan ini cerita bukan di negeri dongeng, lho. Ini sungguhan!  Kalau tak percaya, silakan saja silaturahim ke yang bersangkutan, he he. 

*bersambung ...

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...