Sunday, May 5, 2013

Retorika Dalam Dakwah


Oleh : Ust. Uri Mashuri.



Pendahuluan

            Salah satu karunia Allah yang sangat penting, yang dianugrahkan kepada manusia adalah kemampuan berbicara. Dengan kemampuan itu menusia mampu mengekspresikan siapa dirinya dan juga mengekspresikan apa-apa yang hidup dalam jiwanya baik perasaan, pikiran maupun kemauannya.

            Retorika adalah  ilmu dan seni berbicara untuk mengungkapkan isi jiwa. Adalah  Corax penduduk Syracuse sebuah koloni Yunani di  pulau Sicilia  yang disebut-sebut sebagai perintis peletak dasar retorika dengan makalahnya yang berjudul “  Techne Logon “ – seni kata-kata -  yang membantu rakyatnya untuk mendapatkan kembali tanahnya yang dikuasai  para tiran. Retorika itulah yang dipakai untuk meyakinkan para juri di pengadilan. Ini terjadi kira-kira pada tahun 465 sM. Sejak itu retorika berkembang dan merupakan satu ilmu yang sangat digandrungi dan disegani di zaman keemasa falsafat Yunani dan Romawi.

            Aristoteles menyatakan bahwa, retorika tidak lain dari pada “ kemampuan untuk menentukan, dalam kejadian tertentu dan siatuasi tertentu, metode persuasi yang ada “. Dalam hal ini pembicara merumuskan tujuan, mengumpulkan bahan yang sesuai dengan kebutuhan  khalayak. Aristoteles menyebut tiga faktor untuk mempengaruhi manusia :

-          Pertama ethos, yaitu kesanggupan untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa ia memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya serta status yang patut dihormati
-          Kedua pthos, yaitu kemampuan menyentuh hati khalayak, perasaan, harapan,kebencian serta kasih-sayang mereka.
-          Ketiga logos, yaitu kemampuan untuk meyakinkan khalayak dengan berbagai bukti atau kelihatan sebagai bukti yang menjadi sasaran adalah otak  khalayak yang dihadapi.

Meningkatkan  Kemampuan Berbicara

            Banyak orang menduga bahwa kepaandaian berbicara merupakan bakat yang dibawa sejak lahir. Padahal kemampuan berbicara adalah keterampilan yang dapat diperoleh dengan latihan-latihan, asal mampu melawan dirinya dari kecemasan berkomunikasi, setiap orang dapat berbicara dengan baik di hadapan khalayak.
            Pembicara yang baik bagaikan memperlihatkan panorama yang indah, orang akan merasa sayang  bila melewatkan begitu saja  panorama yang indah lewat di matanya. Demikian juga pembicara yang baik orang akan merasa sayang jika kata-katanya dilewatkan begitu saja. Retorika dapat disebut juga sebagai ilmu menundukkan orang dengan bahasa. Seseorang kelihatan lebih menonjol bila memiliki kemampuan beretorika.
           
            “ Cara berbicara yang baik mempertinggi kepribadian anda “ demikian kata Robert J. Lumsden. “ Suka atau tidak, orang akan menilai anda melalui suara dan kwalitas berbicara anda “ lanjutnya.

            Membaca sastra, mendengar musik yang bagusd, menghayati seni drama sangat membantu menolong meningkatkan kwalitas berbicara.   Sastra akan memperkaya hazanah bahasa dan kata-kata, musik menghantarkan kita pada penghayatan ritme dan harmoni, seni drama mempertajam penghayatan serta kefasihan gerak dan mimik, ditambah olah raga untuk memberi kesehatan, kekuatan serta memelihara kebugaran fisik. 

            Orang akan bosan mendengar pembicara yang monoton, suara tidak jelas, berbelit-belit, terlalu cepat karena gugup, ragu-ragu  dan sangat lambat karena tidak percaya diri. Sebaliknya orang akan senang mendengar  pembicara yang jelas, lugas, segar dengan sisipan-sisipan humor serta tidak keluar dari inti masalah yang dibicarakan. Ketulusan serta keramahan akan menambah pesona tersendiri pada setiap pembicaraan. Hindari sarkasme, sinisme, ketidaksabaran, kemarahan serta kesombongan, karena semua itu membuat suara menjadi kasar, getir kaku serta tak bernyawa.

Beberapa petunjuk Agama tentang Retorika

            Islam adalah agama dakwah, dimanapun berada dan siapapun dia , di pundaknya terpikul kewajiban untuk berdakwah, salah satunya adalah da’wah billisan – dengan ucapan dan kata-kata disamping dakwah bi hal – dakwah dengan perbuatan.

-          “ Siapakah yang paling baik tutur katanya, kecuali tutur kata yang mengajak ke jalan Allah, dan beramal shaleh dan ia menegaskan : “ Sesungguhnya aku termasuk yang sepenuhnya berserah diri kepada Allah. “ Fusilat  33
-          Tidaklah sama cara-cara yang baik dengan cara-cara yang buruk “ Fushilat 34
-          Pertahankanlah – kebenaran itu – dengan cara yang lebih baik – dari cara-cara yang digunakan orang lain -, dengan demikian seseorang yang – tadinya – bermusuhan denganmu, akan menjadi sahabatmu yang kareib. “ Fushilat 34
-          “ Berilah mereka nasihat dan berbicaralah kepada mereka dengan pembicaraan yang menyentuh hati – jiwa – mereka “ An Nisa 63
-          Sesungguhnya dalam kemampuan bicara yang baik itu – seperti – ada sihirnya “ H.R. Imam Bukkhari.

Begitu besar perhatian Islam terhadap penggunaan lisan, diakui sebagai alat komunikasi yang besar pengaruhnya.

            Nabi sendiri  adalah seorang seorang pembicara yang baik dan fasih, ucapannya pendek tapi dalam maknanya, menyentuh hati menggugah kalbu, serta mampu menghimbau akal fikiran pendengarnya.  Terkenal dalam Islam disiplin ilmu yang mengkaji tentang retorika yaitu Ilmu Balaghah,
Kata-kata dalam Al Qur’an yang berkaitan dengan dakwah bervariasi dengan penggunakan berbagai kata antara lain ;

-          qaulan qawiima  , perkataan yang lurus
-          qaulan haqqa , perkataan yang benar
-          qaulan baliigha, perkataan tepat – nyeni –
-          qaulan layyina, perkataan yang lembut
-          qaulan sadiida , perkataan tegas – lugas –
-          qaulan ma’ruufa, perkataan  yang baik
-          qaulan shawwaaba, perkataan yang tepat dan mantap
-          qaulan kariema , perkataan yang mulia

            Salah satu prisip akhlak dalam Islam menurut Dr Hamudah Abdalati adalah Allah Maha Pencipta, sumber kebanaran, sumber kebaikan dan sumber keindahan. Kita diperintahkan untuk berakhlak “ mendekati atau menghampiri “ akhlak Allah maka dalam berbicarapun kita berusaha menampilkan yang benar, yang baik dan yang indah seperti Allah telah menunjukkan kepada kita dalam semua ciptaanNya.


Cara Berpidato

            Pidato adalah melahirkan isi hati atau mengutarakan buah fikiran dalam bentuk kata di hadapan khalayak. Orang yang pandai bicara belum tentu pandai berpidato, sebab pidato merupakan ketrampilan tersendiri. Yang banyak ilmu dan luas pengetahuan belum tentu  mampu mengutarakan dalam pidato yang baik dan menarik, sebab pidato memerlukan penggorganisasian pesan dan informasi yang harus diutarakan. Kadang-kadang orang yang luas ilmu  pengetahuan serta luas wawasannya  sangat kacau pada saat mengutarakan buah fikirannya , karena ia tidak mampu mengutarakannya dalam sistematika yang baik dan teratur.

            Charles Henry Woolbert berpesan kepada orang yang akan berpidato hendaknya perlu memperhatikan hal-hal berikut ;
-          teliti lebih dahulu tujuan  dan niat berpidato
-          mengetahui khalayak dan situasinya
-          tentukan proposisi yang cocok bagi khalayak dan situasinya
-          memilih kalimat-kalimat yang dipertalikan secara logis

Untuk semua itu diperlukan mentalita dan material atau teknis.
           
            Yang dimaksud dengan mentalita adalah, seorang yang akan berpidato hendaklah memiliki syarat-syarat mentalita minimal :
-          berpengetahuan umum cukup luas
-          berkepribadian baik dan menarik
-          jujur serta ikhlas
-          memiliki keberanian moral
-          perbendaharaan kata yang cukup
-          kecerdasan  dalam berfikir
-          mendalami dan meyakini tema yang dibicarakan
-          mengenal ilmu jiwa massa
-          percaya diri dan
-          bersikap simpatik

            Sedang yang dimaksud dengan tehnis atau material mengandung arti memiliki persiapan yang memadai ;
-          banyak membaca dan berlatih
-          berfikir dan beranalisa
-          mempersiapkan bahan serta metodanya
-          mengolah vokal
-          mengenal situasi
-          mengekspresikan dengan tepat dan menarik
-          dilengkapi ilustrasi serta perbandingan yang akurat dan
-          diseling dengan humor yang tepat dan segar.



Wallahu a’lam

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...