Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

PANGAN, SAMPAH dan PENDIDIKAN KITA

Sejak akhir Maret 2020 di lingkungan RT sudah berlangsung kegiatan jimpitan. Menabung beras dan uang untuk membantu keluarga terdampak Covid-19. Terutama yang rentan secara ekonomi. Karena beberapa keluarga mengandalkan mata pencaharian harian.  Seperti ada tetangga yang ditinggal suami meninggal, lalu jadi ngojek online. Langsung drop saat sosial distancing mulai berjalan. Tetangga yang biasa jualan makanan, minuman, dan aneka kebutuhan sehari-hari di jalan raya perumnas Karawang saat akhir pekan sudah tak bisa lagi. Ada juga yang satu-satunya sumber penghasilan dari gaji di perusahaan sementara terhenti karena dirumahkan. Sebagian ada yang mulai menjual aset. Kejatuhan ekonomi keluarga yang dialami beberapa keluarga sahabat dan tetangga akibat terjangan wabah Covid-19 membuat alarm di otak saya berbunyi keras. Tanda ada kegentingan untuk berfikir. Mencari tahu apa sih permasalahannya?  Jangan-jangan keluarga saya juga "hanya" beruntung saja. Karena tempat bekerja tidak sera...

MANA CONTOHNYA?

Sehebat apapun sebuah gagasan, kalau tanpa real project jadi tidak terlihat hebat. "Ah, teori?!" Ungkapan ini sepertinya mewakili. Begitupun dengan pendidikan.  Gagasan pendidikan fitrah, aqil baligh, sekolah karakter, sekolah juara, strenght based education, pendidikan berbasis keluarga, sekolah "manusia", sekolah ramah bakat, pendidikan yang memerdekakan dll akan tidak dilirik kalau tak ada bukti yang terlihat. Buktinya pun harus masif. Tidak satu dua orang saja. Alias bukan kasuistik. Sebaliknya, salah satu sebab kenapa Rumah Hafalan cepat diterima karena output -nya jelas. Padahal gagasannya sederhana, hanya menghafal. karena sederhana itu, jadinya mudah difahami. Jadinya mudah diterima. Hasilnya langsung ketahuan. Jumlah yang dihafal anak, bisa Anda cek di tempat. Maka, inilah tantangan terbesarnya. Memberi bukti, bukan sekedar janji. Kalau bicara WHY, saya kira semua setuju. Tentang filosofi dari gagasan hebat ini.Apalagi syiarnya sudah tersebar ke empat penju...

MENJAGA IDEALISME

"Ingin sekali anak saya bersekolah di sekolah agama terpadu, boarding school atau pondok menghafal. Tapi biayanya itu, berat sekali. Mimpi rasanya," ungkap seorang tua yang galau. Mendirikan sekolah atau aktif di pendidikan itu memang bersentuhan dengan kebutuhan dasar manusia. Selain sandang, pangan, dan papan, ada pendidikan. Karena itu seyogyanya mendapat back-up dari negara. Tidak diserahkan ke mekanisme pasar. Dimana berlaku rumus : ada uang ada barang. Bukan sekedar kebutuhan utama, bahkan pendidikan semakin diyakini sebagai jaminan masa depan. Semakin baik pendidikan maka diyakini semakin cerahlah masa depan.  Sekarang ketika pendidikan identik dengan sekolah, maka persepsi orangpun menjadi : sekolah terbaik adalah pendidikan terbaik. Sekolah terbaik adalah jaminan masa depan terbaik. Zaman lalu berkembang. Sekolah terbaik itu kemudian semakin identik dengan bangunan terbaik. Guru terbaik. Fasilitas terbaik. Lalu karena prestasi identik dengan menang kompetisi, maka se...

MANFAAT URBAN FARMING

Gambar
Sepekan lalu pohon mangga di samping rumah panen. Cukup lebat kali ini. Seratusan biji berhasil saya petik. Sendiri. Masih cukup kuat kaki ini ternyata. Anak saya malah tidak berani. Walah, kalah nih milenial lawan kolotnial, hehe. Awalnya sekedar ingin sedekah oksigen. Lewat fotosintesis di klorofil daun yang membuat warna hijau itu. Itu 12 tahun lalu. Saat menanam mangga hasil cangkokan. Jenis mangganya saya juga tak pedulikan. Pokoknya tanam. Ternyata bukan Manalagi atau Gedong. Nggak jelas. Alhamdulillah rajin berbuah juga ternyata. Setelah disimpan sepekan barulah matang si mangga. Nah, saatnya action! Mangga matang itu dibagikan ke tetangga. Tahap awal sepuluh kantong masing-masing tujuh buah. Tinggal kupas dan santap. Walaupun sambil agak cemberut, pasukan millenial saya kebagian tugas door to door ke tetangga. Saya beri sedikit sentuhan kultum a la ayah tega, "Kalian tidak disuruh jadi sales mangga agar dibeli orang. Ini gampang tinggal kasih doang . Apa susahnya?"...