MANFAAT URBAN FARMING




Sepekan lalu pohon mangga di samping rumah panen. Cukup lebat kali ini. Seratusan biji berhasil saya petik. Sendiri. Masih cukup kuat kaki ini ternyata. Anak saya malah tidak berani. Walah, kalah nih milenial lawan kolotnial, hehe.


Awalnya sekedar ingin sedekah oksigen. Lewat fotosintesis di klorofil daun yang membuat warna hijau itu. Itu 12 tahun lalu. Saat menanam mangga hasil cangkokan. Jenis mangganya saya juga tak pedulikan. Pokoknya tanam. Ternyata bukan Manalagi atau Gedong. Nggak jelas. Alhamdulillah rajin berbuah juga ternyata.


Setelah disimpan sepekan barulah matang si mangga. Nah, saatnya action! Mangga matang itu dibagikan ke tetangga. Tahap awal sepuluh kantong masing-masing tujuh buah. Tinggal kupas dan santap.


Walaupun sambil agak cemberut, pasukan millenial saya kebagian tugas door to door ke tetangga. Saya beri sedikit sentuhan kultum a la ayah tega, "Kalian tidak disuruh jadi sales mangga agar dibeli orang. Ini gampang tinggal kasih doang. Apa susahnya?" Dan pasukanpun berangkat ke empat penjuru mata angin.


Baik, to the point saja ya. Bahwa membuat project bercocok tanam di rumah itu multi manfaat. Tak sekedar penghijauan.


Setelah membaca tulisan di bawah ini semoga semakin termotivasi. 


Keindahan


Tanaman melati, bougenville, pucuk merah, palem, puring, anggrek, anthurium dan aneka bunga warna-warni ini akan menjadikan halaman rumah kita menjadi segar dan indah. Kalau mau belajar lagi bisa membuat bonsai aneka rupa. Ini bisa menurunkan stress serta menaikkan imunitas. Apalagi kalau sambil pelihara burung kicau.


Ketahanan Pangan


Ini akan kita peroleh dari budidaya ikan di dalam ember, atau kolam terpal. Juga dari bertanam aneka sayur. Ada bayam, kangkung, sawi, pokcoy, tomat, juga cabai. Bisa juga umbi-umbian yang ditanam di polybag.  Buah-buahan yang ditanam di pot bisa dipanen dalam jangka panjang. Mangga di samping rumah saya sudah tahun ke-12. Lalu ada juga jambu air, jeruk purut dan pepaya.


Dengan lahan terbatas tetapi efektif, rencananya saya akan coba juga vertical gardening sederhana. 


Literasi Keuangan


Kita bisa menambah pundi kas keluarga dari ikan, sayur, bunga yang kita jual. Lalu anak-anak kita dikenalkan dengan budgeting atau penganggaran. Bagaimana  menghitung biaya pengadaan bahan-bahan seperti bibit ikan pakan, pupuk organik, pompa dan peralatan. Kemudian nanti berapa penghasilan yang masuk. Lalu dihitung berapa selisih antara penghasilan dan biaya. Itulah keuntungan atau kerugian. Inilah keuangan dasar dalam berbisnis. Ini penting dalam membangun enterpreneurship.


Tetapi saya dahulukan sedekah sebagai pembelajaran pertama literasi keuangan ini. Bahwa infak tak selalu berupa uang. Buah-buahan hasil bertanam sendiri bisa juga.


Pembelajaran Tematik


Di sini kerennya. Ketika aneka pembelajaran akan dialami oleh anak-anak kita di halaman rumah sendiri. Di Sekolah Alam ada istilah spiderweb. Di mana satu tema bisa menjaring banyak tema belajar.


Misalnya tentang klasifikasi makhluk hidup, antara jenis-jenis hewan dan tumbuhan.  Kemudian hewan pun beraneka ragam. Selain ikan nila, lele, juga patin.

Kita juga bisa mengenalkan kehidupan cacing tanah, belalang, kupu-kupu, ulat dan lainnya. Ini adalah pelajaran biologi.


Kemudian belajar pertukangan sederhana. Cara memotong kayu, bambu dengan gergaji. Membuat instalasi hidroponik. Membuat instalasi kolam ember dengan sirkulasi air yang baik.


Mengenalkan praktek elektronika sederhana, misal cara memakai solder listrik. Juga cara kerja pompa air dan aerator aquarium. Saya bisa  mengenalkan cara kerja hukum bejana berhubungan saat memasang instalasi kolam ember.


Sosial 


Bahwa ketika project urban farming ini terlihat hasilnya oleh tetangga kiri kanan, biasanya ini akan memunculkan minat. Biasanya akan menular. Biasanya ingin meniru. 


Ini kesempatan bagi anak-anak kita untuk bersosialisasi. Menerangkan bagaimana proses pembuatan urban farming. Lebih luas lagi ini bisa memunculkan budaya baru yang lebih hijau, produktif, indah, edukatif dan ekonomis.


Pemberdayaan 


Bahwa di sekitar kita ada banyak sumber daya manusia yang hebat dan berpengalaman yang selama ini tidak diberdayakan. Misalnya di depan rumah saya ada seorang yang pandai membuat bonsai, memelihara burung kicau serta menjahit. Beliau ternyata bersedia untuk ngajarin anak-anak. Kapanpun mau. 


Kemudian juga ada yang pandai outbond, camping, dan survival. Kemudian ada juga doktor ekonomi, ustadz dan guru ngaji. Ada juga pakar pertanahan, pakar dekorasi pernikahan. Pun ada yang yang pandai membudidayakan anggur.


Tentu para wirausahawan tak ketinggalan. Ada pengusaha percetakan, aqiqah, toko agen, kuliner, barber shop dll. Tinggal mau apa tidak, anak-anak kita?


Kelestarian Lingkungan


Udara bersih dari oksigen yang keluar dari dedaunan yang rimbun adalah sumber dari lingkungan yang sehat. Ketika tanah tanah semakin sempit untuk tumbuh tanaman, ruang terbuka hijau semakin menghilang maka upaya berbasis rumah ini akan menghasilkan lingkungan yang lebih berkualitas.


Membangun Teamwork


Walaupun sederhana karena skala rumah tangga, tetapi project urban farming ini tetap memerlukan penerapan prinsip-prinsip dan unsur managemen. Mulai dari perencanaan, pengorganisasian, penerapan, pengawasan dan evaluasi. 


Sejak awal, karena project ini berbasis keluarga. Maka  orang tua posisinya sebagai pengawas sekaligus project owner. 


Ortu yang mencanangkan visi, misi serta strategi, program dan anggaran saat membuat perencanaan. Lalu mendelegasikan habis tugas kepada anggota keluarga lainnya. Lalu memimpin eksekusinya. Memberi contoh dan tauladan. Mengawal proses dan mengawasinya. Serta melakukan evaluasi.


Maka, dari rumah pun anak-anak kita akan terbiasa bekerja berorganisasi.



Kesehatan


Selain kualitas udara lebih bersih, imunitas meningkat, tubuh bergerak terus saat merawat aneka makhluk hidup, kita bisa menanam aneka tanaman obat keluarga seperti jahe, kunyit, kencur, kumis kucing, katuk, bidara, sirih, dan lainnnya.


Jangan lupa obrolkan


Salah satu sarana agar anak-anak kita mendapat manfaat-manfaat edukatif dari project di atas lebih banyak dengan ngobrol. Ya, dengan ngobrol. Berbincang tentang tema-tema di atas sebenarnya sama saja dengan guru yang menerangkan pelajaran di kelas. Bedanya ini lebih rileks dan informal. Tetapi saling terkait. Tidak fokus di satu pelajaran. Siapa tahu, dari obrolan itu, ada yang berhasil memancing keluar bakat terpendamnya.








Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah

The People Who Shaped My Life #3 : KH Drs. URI MASHURI