KETAHUAN ASLINYA, KETAHUAN HASILNYA




Dua bulan lebih berada di rumah bersama keluarga memunculkan hal unik sekaligus menggelitik.


Bahwa di dalam kebersamaan dalam jangka waktu yang lama, ternyata kita tidak bisa lagi berpura-pura. Tak lagi bisa jaga image atau sok berwibawa. Semakin lama kita jadi semakin natural. Apa adanya.


Biasanya ketika kita berjarak dalam jangka waktu yang lama, maka ketika bertemu, yang dominan adalah suasana kangen. Suasana kegembiraan. Suasana euforia. Kita hanya melihat kehebatan, kebaikan, kelebihan, keunggulan, atau keistimewaan. Kita tidak sempat berpikir tentang kekurangan, kelemahan, atau keburukan.


Ketika bertemu dalam jangka waktu yang lama. Terlihatlah semua kekurangan, kesalahan, kejelekan, keburukan, atau aib itu semuanya terlihat. 


Saya yang suka slenge'an menjadikan anak-anak menganggap saya seperti teman sahaja. Pun anak-anak yang terlihat hebat dari luar, lama-lama kelihatan bolong-bolongnya.


Semuanya jadi terlihat terang benderang.


Termasuk ketika bicara konflik antar generasi. Sampai-sampai saya punya persepsi yang subjektif pada generasi millenial. Saya melihat ini generasi yang melangit. Tidak membumi.  Sepertinya ada yang tak nyambung antara pikiran generasi ini dengan dunia nyata. Apa karena terbiasa segala sesuatu selesai dengan usap-usap gadget? Sehingga aktivitas manual jadi nggak menarik sepertinya di mata mereka.


Aktivitas manual seperti cuci baju, cuci piring, nyapu lantai, ngepel, beres-beres rumah lainnya, baca buku, pertukangan sederhana, bercocok tanam, memberi makan ikan, nganter makanan ke tetangga, manjat pohon, masak, seperti bukan pilihan menarik bagi mereka.


Di mata mereka, bisa jadi saya adalah sisa peninggalan zaman old yang masih berkuasa. Yang masih membanggakan era manual. Yang suka membanggakan kalau dulu suka main ke sawah cari ikan di sungai. Jago nangkap capung.

Tapi baramgkali inilah hikmahnya. Setelah kita mendapat gambaran yang sesungguhnya dari anak-anak kita. Maka ini bisa kita jadikan sebagai pijakan bagi upaya mendidik mereka selanjutnya. Yang selama ini kita tahu beres itu. 

Sekarang ini adalah momentum yang sangat berharga bagi para orang tua mengaktifkan fitrah keayahbundaan. Fitrah untuk mendidik anak.


Bahwa kita sebenarnya dibekali naluri, insting, atau fitrah untuk mendidik anak-anak kita sendiri. Maka aktifkanlah naluri itu. Ekspresikan! Lalu coba dan coba lagi. Maka kita akan menemukan pola yang tepat dan indah ketika fitrah keayahbundaan berinteraksi dengan fitrah anak-anak kita.


Bahwa inilah pendidikan yang sesungguhnya, sebagaimana defininisinya. Yaitu cara ideal berinteraksi dengan fitrah manusia baik langsung dengan nasehat atau kata-kata maupun dengan sistem yang diyakini untuk merubah ke arah yang lebih baik (Dr.  Ali Abdul Halim Mahmud)


Pun dengan interaksi yang dekat ini setiap anak akan terlihat unik dengan keadaan maupun bakat masing-masingnya. Maka bakat ini juga yang akan kita tumbuhkan dengan pendidikan.


Maka, rancangan kurikulum individual bisa kita susun. Bisa kita bicarakan.  Bisa kita coba implementasikan. 


Kemudian, jangan takut untuk mencoba! 

Maka kalimat populer, "Buat anak kok coba coba?" hendaknya disingkirkan. 


Hilangkan statement yang membuat kita mundur melangkah, karena pada dasarnya mencoba itulah yang harus kita lakukan. Sampai menemukan pola yang pas untuk setiap anak kita. Sampai menemukan cara mendidik yang benar. Sampai menemukan arah pendidikan yang benar. Sampai menemukan mitra mendidik yang sesuai. 


Semuanya harus dicoba dulu karena kalau tidak dicoba, bagaimana kita tahu apa yang terbaik?


Kalau hanya mengandalkan kepada sarana yang tersedia semisal sekolah, apalagi memilihnya hanya karena faktor favorit atau selera. Bisa jadi sebenarnya kurang cocok dengan anak-anak kita.


Karena itu proses mencoba ini, ya harus dicoba...


Kebersamaan yang memunculkan keaslian kita itu menjadikan tak bisa hanya mengandalkan kata-kata.

Sebaliknya, ketulusan dan niat baik, kesungguhan serta tauladan, juga  harapan-harapan yang terungkap, pujian pujian dan penghargaan yang tulus akan lebih kuat dan lebih relevan dalam membangun karakter, membangun budaya belajar, maupun menemukan bakat dan potensi.


Kadang, diam itu lebih baik daripada berkata-kata.  


Kadang air mata seorang bapak lebih tajam dari argumentasi ilmiah.


Sayapun menyadari dengan sangat, bahwa sarana terbaik adalah doa. Disamping aspek lahiriah di atas. Juga ilmu yang kita pelajari. Komunikasi yang dijalin. Serta niat tulus kita canangkan. Maka doa di awal dan akhir proses pendidikan adalah hal terbaik yang kita upayakan.


Jangan lupa, berilmu tentang pendidikan anak adalah wajibul kudu. Alias urgent banget. Jangan langsung balik kanan saat mengalami kebingungan. Atau menganggap hanya teori. 


Semua keterampilan awalnya canggung bagi pemula. Maka mencoba dan mencoba lagi akan menghasilkan kepiawaian.


Jadi, itulah salah satu hikmah yang bisa kita ambil dari pandemik Corona ini.




Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Hari Pertama Di Sekolah Alam

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah