Postingan

MUROBY HEBAT

Bismillah.... Sekedar utk menemani secangkir teh hangat sore hari. Semoga berkenan... MUROBY HEBAT Pada satu kesempatan liqo, seorang Muroby coba menguji pemahaman a’dhonya. Saat  memberikan keynote speaking, ia tidak memanfaatkannya dengan memberi kultum atau tausiyah singkat. Tapi memberi pertanyaan singkat “Menurut Antum, apa kriteria seorang muroby dikatakan hebat dan teruji?” Maka mulailah percakapan nan bermakna itu... Seorang a’dho yang kerap menjadi motivator dan sudah melanglang buana ke berbagai tempat menjawab dengan ringkas: “Ketika mutaroby-mutaroby kita sudah bisa menjadi muroby. Ketika binaan kita bisa membina. Ini berarti proses regenerasi dakwah berjalan dengan baik” Seorang a’dho yang auditor kemudian menjawab secara to the point: “Ketika mutaroby kita menghasilkan manfaat bagi dakwah dan kemanusiaan. Kita bisa melihat kualitas hasil pembinaan kita dari output-nya yaitu sejauh mana menghasilkan manfaat” Seorang a’dho yang guru di sebuah sekolah Islam Terpadu menyu...

Qowiy dan Amiin

Qowiyyun Amin adalah karakter Nabi Musa ‘Alaihissalaam yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surat ke-28 :26, saat beliau masih belum diangkat menjadi Nabi dan Rosul ketika itu. Lari dari negeri Mesir dalam sesal dan takut. Lelah yang belum lagi luruh, letih yang belum juga pergi. Syahdan, hingga tiba di negeri Madyan,   saat ia melihat ada orang yang kesusahan ia pun masih saja rela tanpa pamrih membantu dan menolong, padahal dirinya sendiri sangat membutuhkan pertolongan. Merekalah anak-anak dari Nabi Syu’aib ‘ Alaihissalaam . Atas karakter inilah Nabi Musa kemudian diangkat menjadi karyawan oleh Nabi Syu’aib, membantu bekerja mengembala ternak dan segala macam urusan dalam beberapa tahun lamanya. Qowiy artinya kuat yang dalam dunia usaha bisa mencakup kompetensi, professionalism dan sejenisnya. Amin artinya amanah; dapat dipercaya. Dunia usaha, dunia bisnis, kata para pakar entrepreneur, modal utama bukanlah uang, melainkan kepercayaan. Integritas! Begitu pula yang me...

Agar Pewarisan Dakwah Tidak Terputus

Gambar
"Kalau sudah besar kami tidak mau menjadi seperti abi dan ummi, kami ingin menjadi muslim yang biasa-biasa saja" Suara hati anak-anak aktivis dakwah di atas tertuang bagian pengantar buku "Ingatlah untuk Bercermin". Ditulis seorang yang juga aktivis dakwah Salim A Fillah. Hasil dari sebuah jajak pendapat sederhana pada suatu ketika, pada anak-anak kader pegiat dakwah. Suatu waktu mereka sempat suarakan secara berjamaah. Mereka komplain, kenapa abi-umminya bisa berlapang dada pada orang lain, pada mad'u, pada masyarakat, tetapi kenapa sulit berlapang dada pada anak-anak sendiri. Abi-ummi mereka cenderung reaktif, juga gampang marah. Gampang memotong pembicaraan. Otoriter. Maka anak-anak itu  cemburu. Mereka heran. Mereka menderita. Tetapi mereka hanya bisa diam.  Terakhir, adalah puisi seorang anak aktivis yang baitnya berbunyi : ..... Teruntuk umi tersayang.., abi tercinta terasa amat jauh, antara ketaatanku dibandingkan dengan segal...

MENYESALI KETERLAMBATAN

  Selama perjalanan hidup, saya yakin kita pernah menyesal karena kesalahan langkah yang berakibat tidak baik pada kehidupan kita. Bagi saya, salah satu penyesalan terbesar adalah saat baru belajar jadi ayah setelah diamanahi anak lima! Ya lima anak! Setelah Si Bungsu lahir pada 26 Juni 2012 barulah saya mulai intensif belajar otodidak lewat buku dan googling. Plus menghadiri berberapa kajian parenting. Bertemu beberapa nama popular di dunia parenting, homeschooling dan sekolah alam. Semisal Bu Elly Risman, Adriano Rusfi, Ust. Bahtiar Nashir, Lendo Novo, Emmy Soekresno, Irwan Rinaldi, Bendri Jaisyurohman, Ihsan Baihaqi, Pak Mego, Septi Peni, Harry Santosa, Septriana Murdiani, hingga Dick Doank. Lalu apa yang selama ini saya lakukan terhadap anak-anak saya tanpa bekalan ilmu yang memadai itu? Jadilah saya ayah "trial and error" dengan diiringi hasrat kalau hidup itu mengalir saja seperti air. Tapi ternyata tidak seperti itu. Ada banyak hal ditemui di perjalanan. Sesu...

MEMANGNYA MEREKA ANAK SIAPA?

Judul yang berupa pertanyaan di atas sejatinya ditujukan bukan ke siapa-siapa. Tapi ditujukan kepada saya sendiri. Kenapa? Ceritanya berawal saat hendak mengambil buku rapor anak. Baik yang SD, SMP, maupun SMA. Karena satu dan lain hal semua anak saya bersekolah di swasta. Dimana salah satu ritual wajibnya adalah orang tua yang mengambil buku raport saat Akhir semester atau akhir tahun. Berbeda dengan zaman dulu saya sekolah, orang tua amat jarang ke sekolah. Ada satu hal yang membuat saya berfikir ketika akan menerima buku raport itu. Saat orang tua antri terlebih dahulu kemudian ada wawancara singkat. Saya amati pola pertanyaannya ternyata sama :” Bu Guru, anak saya bagaimana selama ini perkembangan belajarnya?” Awalnya saya rasa itu bagus untuk menunjukkan adanya komunikasi ortu dan guru. Karena di sekolah lain pada umumnya guru yang dominan. Tidak ada komunikasi terkait pelajaran dengan orang tua. Ada komunikasi biasanya kalau ada masalah dengan guru BP at...

Fitrah – The Primordial Nature of Man

Gambar
Fitrah – The Primordial Nature of Man by Dr. M. Nazir Khan | Jan 1, 2015 Apakah pikiran seorang bayi itu merupakan “batu tulis kosong” ataukah di sana terdapat konsep-konsep tertentu yang tertanam dalam pikiran manusia? Dapatkah sifat manusia ditunjukkan pada bayi sejak lahir? Apakah pikiran tentang Tuhan dan nilai-nilai moral tumbuh secara alami terjadi pada manusia atau merupakan ide-fabrikasi yang diciptakan oleh budaya sebelumnya? Mengapa ide-ide dan nilai-nilai tertentu meluas di kalangan orang-orang? Orang-orang telah lama bertanya-tanya dan berdebat tentang sifat manusia. Bayi-bayi memang tampak sangat mirip, namun ada sesuatu yang harus diperhitungkan tentang variasi yang luas dalam ide-ide, nilai-nilai, tujuan, dan gaya hidup individu dan masyarakat yang berbeda. Apakah ada   perilaku-perilaku yang muncul secara alami dari manusia dan perilaku yang lain timbul semata-mata karena pengaruh budaya sekitarnya? Beberapa berpendapat bahwa banyak dari sifat-s...