MEMANGNYA MEREKA ANAK SIAPA?


Judul yang berupa pertanyaan di atas sejatinya ditujukan bukan ke siapa-siapa. Tapi ditujukan kepada saya sendiri. Kenapa?

Ceritanya berawal saat hendak mengambil buku rapor anak. Baik yang SD, SMP, maupun SMA. Karena satu dan lain hal semua anak saya bersekolah di swasta. Dimana salah satu ritual wajibnya adalah orang tua yang mengambil buku raport saat Akhir semester atau akhir tahun. Berbeda dengan zaman dulu saya sekolah, orang tua amat jarang ke sekolah.

Ada satu hal yang membuat saya berfikir ketika akan menerima buku raport itu. Saat orang tua antri terlebih dahulu kemudian ada wawancara singkat. Saya amati pola pertanyaannya ternyata sama :” Bu Guru, anak saya bagaimana selama ini perkembangan belajarnya?”

Awalnya saya rasa itu bagus untuk menunjukkan adanya komunikasi ortu dan guru. Karena di sekolah lain pada umumnya guru yang dominan. Tidak ada komunikasi terkait pelajaran dengan orang tua. Ada komunikasi biasanya kalau ada masalah dengan guru BP atau saat ada rapat komite untuk menetukan besaran bantuan financial ke sekolah. Secara umum memang orang tua sepenuhnya mempercayakan pada guru dan sekolah.

Tanya jawab di atas kali ini menyentil hati saya. “Memangnya yang punya anak siapa? saya atau gurunya? Kenapa guru yang lebih tahu dibanding saya orang tuanya?”. Dialog itu berhasil memicu otak kanan untuk terbang ke mana-mana. Memunculkan gambaran yang lebih luas. Bahwa dialog di atas bukan sekadar sebuah sebuah tanya jawab. Tapi kesadaran massal yang selama ini memang telah terbangun sangat lama. Bahwa sekolah sudah terlalu percaya diri atau over confident, sedangkan orang tua semakin merasa tidak mampu. Ya, kalau berbicara pendidikan, maka otomastis kita bicara sekolah.

Lihatlah, semakin banyak sekolah yang memberi garansi mampu mencetak ”anak juara”, “generasi unggul”. Bukankah itu sebuah pernyataan penuh keyakinan dan percaya diri?. Seolah berkata “Serahkan saja pada kami, dijamin beres!”. Sekolah merasa mempunyai segala hal yang dibutuhkan dalam proses mendidik anak. Dan rupanya kalimat-kalimat marketing yang menghypnotis itu berhasil membuat orang tua semakin yakin kalau anak-anaknya dijamin sukses dengan memasukkan ke sekolah yang ditawarkan.

Di sisi lain, kenapa semakin pintar dan terdidik para orang tua justru semakin merasa tidak mampu mendidik anak? Semakin lepas tangan. Semakin cepat mereka memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan. Mulai dari day care, PAUD, dan TK. Semakin banyak yang mengandalkan sekolah full day dan asrama. Bukankah logikanya, semakin pintar kita maka akan semakin mampu memintarkan orang lain? Kenapa justru para orang tua pintar itu semakin bergantung kepada sekolah? Padahal sekolah hanyalah mitra, bukan pengganti orang tua.

Bahkan sampai saat liburpun semangat untuk menyerahkan anak ke pihak lain tak juga surut. Pada bersemangat membuat program pengisi liburan. Seakan apa yang diterima sekolah masih tidak mencukupi.
Sepertinya memang para orang tua itu bingung mau melakukan apa dengan anak-anaknya ketika ada di rumah. Karena saat bersama di rumahpun sepertinya setiap individu penghuninya nafsi-nafsi saja. Lihatlah, anak-anak saat liburan, seharian bisa non stop main facebook. Mata tak lepas dari layar laptop dan smartphone. Tak ada lagi cengkerama hangat. Tak ada lagi obrolan canda tawa bersama. Bahkan untuk mengakrabkan ortu anak, harus diadakan family gathering. Lalu di mana surga rumah itu? Bukankah keadaan di surga itu penghuninya duduk-duduk bercengkerama di atas dipan, dan tertawa gembira?

Padahal, ada satu energy dahsyat yang melimpah sebagai bahan bakar pendidikan anak. Itulah CINTA para orang tua. Sayangnya, cinta para ortu tidak diaktifkan. Tidak diekspresikan dengan baik dengan bahasa cinta yang sampai dan dirasakan anak. Saat bersama, seringkali bukan bahasa cinta yang dirasakan. Tapi hanya perintah dan larangan yang mereka terima. Betapa tak nyaman kalau di rumah hanya ada perintah dan larangan.

Padahal sebagaimana do’a favorit para orang tua: “Rabbighfirlii wa liwalidayya warhamhuma kamaa rabbayaanii shagiraa”(Rabbi, ampunilah aku dan orangtuaku, KASIHIlah mereka sebagaimana mereka telah MENDIDIK-ku di waktu kecil) bahwa ekpresi dari kasih sayang orang tua itu adalah dalam bentuk mendidik anak. Sehingga, ketika kita lalai dari aktivitas mendidik anak, maka kadar “KEORANGTUAAN” kita memang layak dipertanyakan.

Jadi, sudahkah kita jadi orang tua yang sebenarnya bagi anak-anak kita?

Karawang, 25062015
‪#‎introspeksi‬

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah