MENYESALI KETERLAMBATAN


 
Selama perjalanan hidup, saya yakin kita pernah menyesal karena kesalahan langkah yang berakibat tidak baik pada kehidupan kita. Bagi saya, salah satu penyesalan terbesar adalah saat baru belajar jadi ayah setelah diamanahi anak lima! Ya lima anak! Setelah Si Bungsu lahir pada 26 Juni 2012 barulah saya mulai intensif belajar otodidak lewat buku dan googling. Plus menghadiri berberapa kajian parenting. Bertemu beberapa nama popular di dunia parenting, homeschooling dan sekolah alam. Semisal Bu Elly Risman, Adriano Rusfi, Ust. Bahtiar Nashir, Lendo Novo, Emmy Soekresno, Irwan Rinaldi, Bendri Jaisyurohman, Ihsan Baihaqi, Pak Mego, Septi Peni, Harry Santosa, Septriana Murdiani, hingga Dick Doank.

Lalu apa yang selama ini saya lakukan terhadap anak-anak saya tanpa bekalan ilmu yang memadai itu? Jadilah saya ayah "trial and error" dengan diiringi hasrat kalau hidup itu mengalir saja seperti air. Tapi ternyata tidak seperti itu. Ada banyak hal ditemui di perjalanan. Sesuatu yang harus disikapi dengan benar berbekal ilmu yang memadai. Alhasil karena bekal minimalis dan hanya bermodal semangat seringkali  saya mengalami mal praktek dalam memperlakukan anak. Ada marah. Ada panik. Ada pukulan. Ada teriakan. Ada pemaksaan. 

Maka saat belajar jadi orang tua itulah, sungguh saya berkali-kali mengalami “gegar otak”.  Misalnya saat Ust. Adriano Rusfi yang psikolog itu memaparkan bagaimana menanamkan aqidah pada anak. Di situ saya merasa sedih. Karena masa emasnya ternyata sudah pada lewat. Terutama untuk empat anak pertama saya. Tinggal tersisa Si Bungsu yang masih usia tiga tahun.  Masih ada sisa waktu memanfaatkan masa emas penanaman aqidah.

Kenapa saya merasa gegar otak? Dan kenapa masa emas?

Karena pada lima sampai tujuh tahun pertama usia anak adalah masa emas memasukkan input bermuatan aqidah ke alam bawah sadar ank kita. Dimana daya lekatnya akan permanen. Aqidah sendiri adalah ikatan, ia ibarat urwatul wustho. Buhul tali yang kokoh. Memunculkan supporting system internal yang akan mengawal prilaku selama masa hidupnya ke depan. Inilah kunci kesadaran mandiri untuk beribadah saat baligh. Saat aqidah sudah tertanam di alam bawah sadar, insya Allah saat sholat tak perlu disuruh-suruh lagi.

Dan, saya bersama banyak sekali  orang tua muslim melewatkan masa emas ini. Bahkan justru mengangap enteng upaya penanaman aqidah di usia ini. Dengan berbagai sebab yang intinya memang awam ilmu tentang hal ini. Maka akibatnya, kemampuan memikul syariat saat baligh masih lemah. Untuk shalat masih harus disuruh-suruh. Menutup aurat masih berat. Padahal aqidah yang kuat dan ibadah yang istiqomah adalah pondasi dan pilar bagi terbangunnya akhlak mulia dan budi pekerti yang baik.

Belum lagi ketika bicara bakat anak, sungguh para orang tua, guru dan sekolah kebanyakan malpraktek. Akibatnya berjuta potensi anak yang unik dan istimewa terkubur begitu saja. Dikubur oleh kurikulum yang seragam, penilaian yang berbasis angka ujian dan nilai raport, korban obsesi orang tua, juga hasil dari ketidaktahuan anak akan potensi bakatnya. Mereka  korban salah memilih jurusan saat kuliah, hingga waktu yang banyak terbuang mempelajari pelajaran yang tidak relevan dengan bakatnya. Anak-anak kita kebanyakan adalah korban dari salah asah potensi. 

Sebenarnya menerapkan pengasuhan yang selayaknya pada anak, akan berdampak multiplier effect. Dimana kita akan memperoleh buah nan berkah sebagai berikut:

Pertama, kembali merasakan keberadaan dan kedudukan sebagai seorang ayah.

Kedua, ada dorongan untuk memperbaiki diri secara terus menerus.

Ketiga, kembali menjalin komunikasi yang lekat dengan pasangan sebagai prasyarat mutlak sebelum melakukan pengasuhan yang baik dan benar. Bila komunikasi dengan pasangan masih berantarakan, sulit sekali rasanya menjalankan pengasuhan yang benar ke anak-anak. Maka di situ saya bertemu kosakata “Bahasa Cinta” yang amat bermanfaat untuk membangun komunikasi dengan pasangan secara indah.

Keempat, menciptakan kedekatan sekaligus memunculkan rasa bahagia tak terhingga. Bahwa alasan keberadaan kita berkeluarga salah satunya adalah karena anak-anak itu.

Kelima, fungsi tarbiyah (pendidikan) anak akan lebih terarah. Kondisi kebanyakan sekarang para ortu justru menyerahkan sepenuhnya pendidikan ke guru dan s ekolah, maka dengan pemahaman yang benar hal akan ditarik pada posisi yang semestinya. Dimana peran aktif orang tua kembali berjalan. Sekolah serta guru kembali menjadi partner.

Keenam, energy potensial pendidikan anak yang selama ini menganggur menjadi actual.  Itulah energi cinta ortu ke anak. Rasa sayang, keikhlasan serta kesabaran.  Sifat yang akan sulit dipenuhi oleh seorang guru teladan sekalipun.

Ketujuh,membuat anak kembali mengakar di keluarga dan masyarakatnya setelah tercerabut karena peran dominan sekolah dan abainya ortu dalam pengasuhan anak.

Kedelapan, berdampak luas. Karena ketika berhasil mendidik orang tua, maka anak-anaknya insya Allah akan ikut terbawa baik. Sebaliknya, kalau kita hanya mendidik anak, belum tentu orang tuanya terbawa. Justru dalam banyak kasus, anaknya sudah baik saat di sekolah Islam, pulang ke rumah kembali rusak karena factor keluarga yang belum Islami.

Kesembilan, potensi anak bisa melejit saat usia masih belia. Saat usia baligh adalah standar dalam Islam agar orang tua mampu mengantarkan anaknya pada kondisi matang secara mental, terpuji secara akhlaq dan mandiri secara ekonomi. Inilah kondisi aqil baligh yang ideal.

Inilah harapan terbesar dari kembalinya peran orang tua dalam keterlibatnnya mendidik anak. Semoga saya masih bisa mengejar ketertinggalan itu. Semoga para aktivis dakwah juga menyadari hal ini, untuk kemudian membuat agenda mendidik orang tua sebagai salah satu program prioritas.

Terakhir, bagi Anda, pembaca blog ini, yang merasa belum terlambat, bersegeralah membuka buku dan googling tentang tema parenting. Berdisukusi dengan sesama orang tua. Berdialoglah dengan pasangan . Buatlah recana.  Jalin kedekatan dengan anak. Rasakan desiran perasaan bahagia saat menjalankannya. Rasakan sensasi kejutan dari Allah saat menjalaninya. Karena itulah saat Allah membalas rasa syujkur hambanya dengan tambahan nikmat-Nya, yng kadang datang dalam bentuk kejutan-kejutan khas yang kita tak pernah menyangkanya.

Semoga...
Karawang, Jum'at, 24 Juli 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MUTASI PONTI

PANGAN, SAMPAH dan PENDIDIKAN KITA

KAWANKU PAHLAWAN