B e r d u a


Hari Ahad, beberapa waktu lalu, gerimis malam itu memang mengundang. Biasanya mengundang kantuk. Terkadang malas. Apalagi yang ada jadwal pekanan tak terikat. Pengajian pekanan umpamanya. Gerimis malam juga kerap memberatkan kaki para pejuang untuk melangkah. Para penjual sekoteng, martabak atau bakso misalnya. Walau gerimis malam bisa juga mengundang romantisme. Waktu yang tepat membuat moment tak terlupa. Seperti Ahad itu.

Malam sebelumnya sang permaisuri sudah dibisiki.
"Hanya berdua?". Tanya Nyonya
"Ya, berdua saja!". Jawab saya setengah berbisik.
"Anak-anak bagaimana, Bi?" tanyanya lagi, pelan saja.
"Hmm sekali ini anak-anak terpaksa harus diamankan, ini gak boleh ada orang ketiga!" Tegas saya.
"Termasuk Umi?" rajuknya.
"Ya, termasuk Umi, nggak boleh ikut juga, hanya untuk berdua, afwan ya Miii, kali ini saja, pleeeease..." Final.

Siapa sih yang begitu istimewa sampai permaisuri sendiri gak boleh ikut?

Malam itu memang ada keinginan mengajak Bapak makan di luar. Berdua saja. Kebetulan lagi ada di rumah setelah mengunjungi keponakan di Jakarta. Setelah malam Sabtu sebelumnya saya jemput ke Jakarta. Sebenarnya bisa saja meminta Bapak naik kereta. Tapi saya ingin mengistimewakannya. Walau harus menembus macet di ruas tol Cikarang hingga pintu tol Cikunir. Menembus hujan lebat. Juga kesasar di sekitar Cawang karena salah ambil jalur keluar tol. Saya memang belum hafal jalanan Jakarta.

Di antara gerimis malam ba'da magrib itu, di kursi depan Si Macan, Bapak sudah duduk tenang. Dengan pelan Si Macan saya bawa menuju Rumah Makan Ampera. Dekat Mega M Karawang, samping BCA. Sepanjang jalan kami hanya ngobrol. Suka-suka. Tanpa tema, apalagi skenario. Ya, saya hanya ingin ngobrol. Itu saja. Biar ia mengalir apa adanya. tidak ada yang serius. Memang suasana itu yg saya inginkan. Sampai di Ampera, gerimis itu sudah berubah jadi hujan. Deras.

Diantara temaram lampu dan gemericik air hujan. Saya carikan tempat duduk itu. Tempat yang pernah saya tempati berdua, dua tahun lalu. Dengan seorang perempuan yang begitu istimewa : Ibu. Saya bilang ke Bapak : "Sebenarnya ini utang saya, Pak. Dulu pernah sama Mimih ke sini, sekarang giliran Bapak". Ia hanya tersenyum. Saya tahu kalau ia senang. Dari senyum itu.

Di deretan menu itu, saya pilihkan menu istimewa iga bakar dan sop buntut. Biasanya urang Sunda nggak jauh dari nasi timbel, lalapan, sambel dan ayam goreng atau ikan gurame. Tapi malam itu saya pilihkan yang lain. Walaupun agak ribet makannya. Biar terasa bedanya. Terasa spesialnya.

Hingga perjalanan pulang yang diiringi hujan yg makin deras itu, yang ada hanya obrolan. Suasananya membuat teringat kampung halaman di Kuningan nan eksotik itu. Jadi teringat rumah. Juga tetangga dan saudara. Teman-teman bermain juga.

Berdua saja. Ya hanya berdua. Kenapa ia menjadi spesial?

Bila Anda mulai jenuh dengan pasangan. Coba pergi berdua saja. "Amankan" anak-anak. Bicaralah dengan rileks. Tak perlu harus menginap di hotel. Bermotor saja berdua. Kunjungi tempat wisata lokal yang murah nggak masalah. Pesan es kelapa muda. Lanjutkan ngobrol. Binar bahagia akan Anda rasakan berdua.

Bila punya anak banyak dan merasa bingung mendekatinya. Coba buat jadwal berduaan. Bergiliran. Bisa sekedar ngombrol atau traveling berdua. Atau Anda mau coba ini: hujan-hujanan bareng! Maka rasakan keistimewaan masing-masing anak itu. Dengarkan ia bicara. Rasakan cinta dan harapannya. Begitu dekat, bukan? Pasti itu momenn yang tak akan mereka lupakan.

Anda seorang pemimpin, kepala kantor, kepala seksi, pembimbing, mentor, murobby? Sepertinya  perlu mencoba dan membudayakannya. Sayapun tertarik untuk mencobanya, karena selama ini belum kepikiran. Kepikirannya ya setelah ngajak Bapak itu. Dari kedekatan berdua itu peluang ta'aruf dan tafahum akan lebih terbuka. Kita yang suka mengedepankan komunitas, jama'ah dan kerja bareng, amal jamai kadang lupa aspek kedekatan ini. Dengan alasan sibuk dengan amanah, semua seakan dianggap beres dengan berjamaah.

Kerinduan dan romantisme akan "masa lalu" sebagian Brother aktivis tarbiyah yang kini bertrasnformasi menjadi partai politik bisa jadi lebih merupakan sebuah kehilangan akan kedekatan itu. Saya sendiri ingat kalau dulu murobby saya sering datang sendiri ke rumah. Ngobrol. Lain waktu boncengan motor. Kadang menyempatkan ngobrol berdua selesai shalat berjamaah. Akrab. Rupanya, itulah moment-moment perekat ukhuwah itu.

Anda seorang guru yang ingin dekat dengan murid? Coba saja resep ini. Tapi pilih-pilih murid ya. Hanya untuk sejenis! Soalnya kalau lawan jenis bisa repot wal berabe. Apalagi sudah SMU, waah bisa bikin gajah nelan kawat. Gawat! Ini mah namanya menyelesaikan masalah tapi mengundang segudang masalah.

Mungkin ada hikmah ketika Sang Rasul memerlukan berdua saja saat hijrah. Bersama Abu Bakar. Kelak sejarah mencatat begitu dekat dan cintanya Abu Bakar kepada Rasulullah. Kedekatan yang telah merubah dunia.

Bahkan untuk sang Khalik pun memerlukan berdua. Ternyata, Ia pun menyukai diistimewakan. Ia pun mencintai hamba-Nya yang bangun ketika yang lain masih terlelap. Bukan menonton Liga Champion! tapi mengambil air wudlu. Lantas tenggelam dalam rakaat panjang tahajud yang menakjubkan itu.

Berdua saja. Mungkin ini kompromi antara pengakuan individu dan keharusan hidup bersama. Bersosial. Berjamaah. Dengan berdua, maka ia sudah berjamaah, tapi tetap personal. Dalam beberapa moment di atas, berduaan adalah keindahan.

Tetapi memang tidak selamanya hidup ini berdua terus. Sebagaimana sabda Nabi : sa'atan....sa'atan...!. Ada waktunya berdua, tapi ada waktunya menyendiri. Juga ada kalanya wajib bareng banyak orang. Saat berjamaah shalat.  Saat mengurus kepanitiaan, perayaan, kerja bakti, atau ketika wukuf di arafah. Disitu adalah saat dimana kita merasa kecil. Saat dimana kita membutuhkan yang lain. Saat dimana ke-ego-an kita digerus sampai dasarnya.

 Karawang, 20 Mei 2011

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah

The People Who Shaped My Life #3 : KH Drs. URI MASHURI