Sekolah Untuk Anakku

Sekolah Alam Amani Karawang


Sekitar bulan Maret setiap tahun adalah bulan-bulan sibuk orang tua yang putra-putrinya kelas 6 SD, 3 SMP atau kelas 3 SMA. Mereka punya agenda penting: mencari sekolah. Sebagiannya ditingkahi jantung yang deg-degan. Berlabuh di sekolah mana akhirnya ananda tercinta ? atau di perguruan tinggi mana menimba ilmu. Update status di Facebook banyak diwanai laporan singkat aktivitas ortu mengantar putra-putrinya ke kawah candradimuka yang dicita. Pun saat tahun 2011 yang lalu. Kejadian itu berulang terus. Sepertinya memang akan selalu begitu.

Namun diantara jutaan ortu itu terselip diantaranya orang tua yang adem-ayem saja. Seolah tanpa beban. Tidak wira wiri kesana kemari mencari info sekolah favorit impian. Tidak dipusingkan dengan passing grade sakolah favorit yang terus bergerak naik. Anaknyapun seolah tidak dipersiapkan untuk kompetisi masuk. Tidak ada bimbel, tidak ada les atau try out di sana sini. Hanya try out di sekolah sendiri. Pokoknya santai sekali. Saat UN-pun tidak memberi taget yang muluk-muluk. Saat sang anak sedang belajar mengerjakan soal ujian kelas 6 SD, malah dibilang : "Sekarang mah waktunya nyantai, Teh. Belajar itu dari kemarin-kemarin. Malah nggak bagus buat hafalan".

Siapa ya orang tua itu? koq bisa nyantai begitu? Apakah ia orang tua tak punya obsesi buat anak sendiri? Di zaman kompetisi begini sepertinya agak aneh kalau ada orang tua yang tidak ikut bersaing. Termasuk saat berebut sekolah impian.

Hmm...penasaran ingin tahu? orang tua itu ya saya sendiri. Saya memang sudah menentukan pilihan pada sebuah sekolah bahkan sebelum sekolah itu berdiri. Ini karena proses pencarian sekolah buat anak saya itu sudah jauh-jauh hari. Inilah yang hendak saya bagi kisahnya.


Sekitar tahun 1993...

Saya mulai saat masih kuliah di STAN. Pernah membaca artikel di sebuah koran (tapi lupa koran apa). Tentang sebuah sekolah. Namun itu bukan sekolah biasa. Pendirinya memberi nama yang unik : Sekolah Alam. Lokasinya di Ciganjur, Jakarta Selatan. Sekolah yang anak-anaknya belajar di saung dan rumah pohon. Setiap hari anak-anak di sana bisa jalan-jalan di sungai. Menanam kacang tanah atau memerhatikan kolam ikan lele. Mereka juga dikenalkan dengan bisnis: menjual hasil karya sendiri, bisa handy craft, sayuran atau ikan hasil panen yang ditanam sendiri. Ya, anak-anak beruntung itu belajar tentang kehidupan dari alam.

Waktu itu yang muncul baru perasaan tertarik. Asyik juga ya belajar di tengah kebun. Belum berfikir lebih jauh tentang pendidikan. Lagipula masih bujangan. Ketemu lawan jenis saja, jalan masih minggir-minggir. Masih diliputi H2C, harap-harap cepat dapat, he he. Tapi belum berfikir nikah, apalagi tentang sekolah buat anak-anak. Walaupun ketertarikan dengan dunia pendidikan sebenarnya ada jejaknya. Pernah mengajar a-ba-ta-sa anak-anak madrasah diniyah. Waktu itu masih berseragam putih biru, SMP. Saat SMA pernah sempat coba memebri tentir adik kelas ekskul fisika. Waktu kuliah sempat sebentar mengajar anak-anak TPA belajar Iqro di masjid kampus. Ternyata saya termasuk nggak sabaran dan akhirnya menyerah dan mundur teratur dari dunia per TPA-an. Itulah sebabnya saya selalu menaruh rasa hormat yang tinggi kepada ustadz-ustadzah TPA, karena bagi saya mengajar balita membaca adalah pekerjaan paling sulit di dunia.

Sekitar tahun itu juga, dikenalkan oleh seorang kakak kelas satu almamater SMA, tentang Husnul Khotimah Boarding School yang terletak di Kuningan, kota kelahiran saya yang hijau dan sejuk itu. Karena yang merekomendasikan orang yang saya percaya, saya menindaklajuti rekomendasinya. Kebetulan waktu itu sedang mencari sekolah buat adik saya ke empat yang akan lulus SD.

Setelah mengajak adik untuk survey, dan ia bersedia, daftarlah ia kesana. Jadilah ia santri Husnul Khotimah (kalau tidak salah angkatan ke empat). Waktu itu saya terpesona dengan masjidnya yang begitu indah.Untuk sebuah sekolah, masjid itu amatlah megah. Masjid itu seperti mewakili visi pengelola. Waktu itu kampus masih tahap pengembangan. Asrama masih baru berdiri. Tapi, tanda-tanda kemegahan itu sudah tampak. Aura bakal jadi pesantren unggulan sudah terasa.

Berkenalan dengan Toto Chan
Tahun1995 adalah tahun penempatan kerja pasca lulus kuliah STAN. Saya ditempatkan di Probolinggo, Jawa Timur. Di samping sehari-hari bergelut dengan dunia kerja, interaksi dengan dunia pendidikan terus berlanjut. Apalagi sudah menikah. Naluri orang tua mulai tumbuh. Termasuk tentang pendidikan anak.

WAktu itu pernah dipinjami sebundel fotokopian oleh seorang teman. Tidak tanggung-tanggung, itu fotocopi-an utuh sebuah buku. Judulnya "Toto Chan, gadis kecil di jendela" karangan Tetsuko Kuroyanagi. Walaupun ada perasaan bersalah karena baca buku fotokopian, ternyata isinya sangat bagus, saya "terpaksa" menikmatinya.

Buku itu bertutur tentang sekolah yang berhasil memunculkan rasa keterhanyutan dalam belajar. Tentang sekolah yang kelasnya dari bekas gerbong kereta. Tentang pak Kobayashi, kepala sekolah Tomoe Gakuen yang mampu berlama-lama mendengarkan celoteh cerita seorang bocah dengan sikap takzim dan antusias. Luar biasa! Buku itu begitu menginspirasi. Tentang sekolah yang memanusiakan manusia. Spirit pendidikan yang membuat bangsa Jepang modern dikenal tangguh, kreatif dan menaklukkan. Sekarang dunia terpaksa mengagumi ketangguhan karakter bangsa Jepang itu, saat mengalami tiga musibah sekaligus : gempa 9 SR, tsunami, dan kebocoran nuklir.

Saya akhirnya baru bisa melunasi "hutang" kepada Toto Chan itu tahun 2007, saat beli buku aslinya di Toko buku Utama Mall Lippo Cikarang. Sekarang buku Toto Chan lainnya sudah ada di rak buku, berjudul Toto Chan's Children: "a goodwill journey to the children on the world".

Berkunjung ke Gontor Putri

Tahun 2000 sempat berkunjung ke ponpes Gontor Putri yang di Mantingan, Ngawi, kali ini karena mengantar adik ipar untuk mondok di sana. Saya jadi tahu tentang dunia pondok ala Gontor. Kalau pembaca ingin tahu jeroen Gontor, bisa dibaca novel "negeri 5 Menara" karya A. Fuadi. Disitu detail sekali mengilustrasikan Gontor. Saya terkagum dengan kedisiplinan yang diterapkan. Juga karena di sana santrinya dari seluruh Indonesia. Saya jadi punya referensi tambahan untuk tempat anak saya bersekolah kelak.

Survey ke Semut-Semut

Tahun 2001, saya membaca sebuah artikel di Tabloid Nova, tentang sebuah Play Grup. Namnya playgroup Semut-Semut yang menerapkan metode kreatif mendidik anak balita. Namanya metode hand on learning. Anak-anak diberi kesempatan luas untuk berinteraksi langsung dengan benda-benda di sekitarnya. Main pasir dan air malah dianjurkan. Lokasinya di Cimanggis Bogor.

Saat itu ibu-ibu aktivis pengajian di Probolinggo sedang sangat bergairah ingin mendirikan Play Group. Karena di sana baru ada satu, yaitu Play Grup Mater Dei, milik sebuha yayasan Nasrani. Kebetulan ada jadwal pulang nengok ortu di Jakarta, maka bareng isteri dan putri sulung kami menyempatkan diri untuk survey ke Play Group Semut-Semut. Disana bertemu bu Emy Soekresno, sang pengasuh yang super energik. Pertemuan yang berlanjut menjadi persahabatan. Tak lama kemudian berdirilah play Grup Islam pertama di Probolinggo, tahun 2001 juga. Si Teteh, begitu saya panggil anak saya, jadi anak angkatan kedua yang bermain di Play Grup yang diberi nama Permata itu. Bu Emmy pun sempat bertandang ke Probolinggo mengisi seminar pendidikan, dan melakukan supervisi ke Play Grup baru itu.

Dinamika di Jember

Singgah tinggal di kota Jember, Jawa Timur. Ini efek mutasi kerja. Pandangan tentang sekolah masih seperti pada umumnya, menyukai gedung yang bagus dan status favorit. Maka saya masukan Si Teteh di TKIT Ad-Duha. Sebuah TK Islam favorit yang dikelola Pesantren Hidayatullah. Di Jember ini juga, lahir anak ketiga. Sebenarnya ada TK rintisan waktu itu, masih sederhana. Kelasnya di rumah pengelola. Jumlah anak didik hanya 6 kalau tidak salah. Sempat bingung pilih yang mana. Akhirnya selera membawa pilihan ke Ad Dhuha. Tapi, kalau ditanya alasannya, biasanya akan dijawab : Karena lokasi lebih dekat.

Tahun kedua, baru terlihat bedanya, rupanya anak TK rintisan itu lebih banyak hafalan Qurannya, juga lebih fasih bacaannya. Setelah direnungkan ternyata sedikit murid lebih tertangani dan teperhatikan daripada yang banyak murid. Sederhana saja ternyata.

Tahun 2005...

Adalah saat bermukim di Lumajang, Jawa Timur. Juga efek mutasi kantor. Saat itu Si Teteh pindah ke SDIT di Tukum-Lumajang. Adiknya masuk TKIT di kompleks yang sama. Rupanya konsep Sekolah Islam terpadu sudah menyebar kemana-mana. Artinya diterima luas oleh para orang tua.

Tahun 2005 itu adalah tahun saat harian Kompas memuat liputan tentang Sekolah Komunitas Qoryah Thoyyibah. Sekolah setingkat SMP yang dirintis oleh Burhanudin, seorang ketua kelompok tani di Desa Kalibening, Salatiga. Sekolah itu begitu menggugah rasa iri. Sekolah itu berhasil memerdekaan anak dari "penjara" sekolah. Sekaligus meledakkan potensi. Dengan internet, dunia menjadi ruang kelasnya. Lingkungan nyata menjadi laboratoriumnya.

Dipacu semangat pengembangan diri yang meluap-luap, dari tangan anak-anak petani itu lahir karya-karya berwawasan global. Karya tulis, buku, film, lagu, teater, susu kedelai, pupuk organik, hanya beberapa saja hasil karya mereka. Di Toko Buku Utama, Mall Lippo Cikarang, saya menemukan salah satu karya anak QT: Lebih Asyik tanpa UAN. Fikiran mulai berandai-andai bagaimana gambaran sekolah anak saat kelak ketika SMP.

Tahun 2006...

Saat hijrah kerja ke Karawang, Jawa Barat. Terbawa dinamika modernisasi DJP, institusi tempat bekerja. Dua anak saya masuk SDIT Harapan Ummat, Karawang. Walaupun agak berat karena harus kembali membayar uang pangkal, yach pasrah saja. SAmbil berdoa mudah-mudahan Allah melapangkan rizki.
Seiring lingkungan baru, suasana juga baru, wawasanpun ikut bertambah. Termasuk pencarian tema pendidikan anak terus berlanjut. Karena dekat dengan Jakarta, pusat peradaban Indonesia, tempat mencari referensi sekarang jauh lebih mudah. Apalagi tahun 2006 itu adalah saat ketika akses ke internet tiba-tiba menjadi begitu mudah. Bertemulah dengan kosakata yang begitu menggoda: homeschooling (HS). Tentang belajar yang costumized, disesuaikan dengan si anak. Di sini anak menjadi subjek pendidikan. Ketika di luar sana anak-anak menjadi objek kurikulum, aturan sekolah dan kebijakan politik penguasa. Dimana penanaman disiplin, mencetak generasi unggul, dan standarisasi biasanya menjadi alasan utama.

Selanjutnya bertemu Komunitas HS, homeschooling Kak Seto dan Mbak Neno Warisman, dan Keluarga Sumardiono, walaupun hanya di dunia maya. Sempat juga mengikuti seminar HS di Aula Deptan, Jakarta. Disana bisa bertemu Bu Yayah Komariah, seorang pioneer HS di Indonesia. Bu Emmy Soekresno, yang saya sekeluarga pernah ke rumahnya di Cimanggis dan pernah bertemu di Probolinggo, hadir juga disana. Ternyata anak-anaknya semua homeschoolers. Surprise!

Perjalanan selanjutnya adalah menyelami praktek HS di luar negeri melalui buku-nya Marty Layne yang sudah diterjemahkan menjadi Ibuku Guruku". Juga mencoba menyerap beberapa kata kunci dari semangat ber-HS, misalnya : belajar merdeka dan menyenangkan, kecerdasan majemuk, subjek belajar, belajar organik, borderless, flexible, portofolio, belajar tematik, komunitas HS, pendidikan kesetaraan dll.
Untuk gagasan yang satu ini, Si Teteh, pernah merasakan bagaimana merdekanya berhomeschooling ria. Hanya, karena sang Bunda sedang hamil yang ke empat, maka proyek homeschooling-nya tidak berjalan maksimal. Akhirnya berubah haluan, kembali ke sekolah. Tetapi, minimal ia sudah berani membuat keputusan besar: berani keluar sekolah! Berani berbeda.

Setelah 3 bulan ber HS itu, Si Teteh ia berani mengambil lagi satu keputusan besar: bersekolah jauh dari orang tua, di Kuningan, tanah air saya yang pedesaan di lereng Gunung Ciremai dengan pemandangan eksotik itu. Sedangkan adiknya, kelihatan betah di SDIT Harapan Umat. Terutama karena banyak pilihan ekskul olah raga. Di Klub Karatenya, ia sudah sabuk biru. Sekarang ia sedang bersemangat kursus renang di bawah asuhan Mang Dadan, saya menyebutnya Pendekar Berbadan Bugar dari Pakuncen.

Satu setengah tahun di Kuningan berhasil merubah Si Teteh, ABG kelahiran Probolinggo yang ber-half-blood Madura ini menjadi Mojang Priangan dengan aksen Sundanya yang kental. Bisa cas-sis-cus pidato bahasa Sunda. Saat kembali ke Karawang, rupanya ia lebih memilih SD negeri. Sebuah pilihan yang kembali kami hargai. Sekarang ia bahkan sudah PeDe ikut lomba pidato bahasa Sunda, dan sukses mewakili sekolah barunya di ajang lomba tingkat Kabupaten. Dapat juara II. Ada peran tambahan, ia jadi penabuh gong di Gamelan Degung Sunda sekolah barunya itu, SDN Wadas IV Karawang.

Tahun 2008...

Ini adalah tahun yang menggairahkan. Banyak menemukan aha!. Apalagi ketika sekelompok brothers muda dan idealis di yayasan Amani membuat keputusan bersejarah untuk merintis sekolah SD dan SMP dengan metode sekolah alam. Tempatnya di sekitar perumnas Bumi Telukjambe. Lokasinya jelas dekat dengan rumah tempat tinggal saya. Hati ini jelas melonjak kegirangan! Ini adalah sebuah keberuntungan! Ini seperti the law of attraction ala The Secret-nya Ronda Byrne. Hukum ketertarikan. Seakan dipertemukan dengan "keinginan" dan mimpi saya. Sekolah Tomue Kaguen-nya Toto Chan dan Sekolah Alam Ciganjur, seolah berpindah ke Karawang. Aqidah saya menyatakan, ini adalah doa yang terkabul.

Maka saya menawarkan diri untuk membantu yang bisa saya bantu. Pernah saya sharing-kan file tentang Qoryah Thoyyibah, juga koleksi e-book dan aplikasi edukatif. Saya ikuti dari jauh bagaimana Brother Ridwan sang kepala sekolah mengawal 8 anak Laskar Amani angkatan pertama. Kadang datang ke "kampus"nya di Perumnas Blok A. Sering mampir di blognya. Sesekali menyapa salah satu anak Amani ketika berpapasan di jalan "bagaimana sekolahnya, betah ya?" dan selalu mendapat jawaban "alhamdulillah, betah". Hampir setiap berbicara tentang pendidikan, hampir selalu menyampaikan kalau SMP Amani adalah prototype sekolah masa depan di Karawang. Semua itu dilakukan disela-sela kesibukan kerja dan berbagai peran dan amanah. Khas waktu seorang bapak beranak banyak.

Karenanya, tidak menyia-nyiakan kesempatan mengikuti presentasi karya tulis anak-anak itu pasca penelitian, Juni 2010 lalu. Merekam moment itu serta menuangkan kedalam tulisan yang ternyata disukai pembaca FB : "Ilmuwan Muda Dari Saung Amani". Juga ketika awal tahun ke 3 mengadakan openhouse dan menghadirkan Bang Lendo Novo, tidak sia-siakan kesempatan bertemu sang maestro dan pelopor sekolah alam itu. Agar mendapat penjelasan langsung apa sebenarnya yang berlangsung di sebuah sekolah alam. Ternyata paparan beliau sangat mencerahkan. Terakhir, pada openhouse edisi 2011 beberapa waktu lalu, saya malah didapuk panitia mendampingi sang Maestro: jadi moderator.

Di lain waktu, sempat mengikuti salah satu sesi pelatihan untuk para guru-guru dan pengelola sekolah Amani, tentang bagaimana komunikasi dengan anak. Namanya metode komunikasi Bahasa Ibu. Sungguh memesona konsep komunikasi yang dipaparkan Bu Septriana Murdiani itu. Jadi semakin jatuh cinta dengan sekolah alam.

Tahun 2011...

Ini adalah tahun ke-3 SMP Amani, ketika berencana memasukkan Si Teteh ke sana. Dengan kemantapan hati. Masalahnya memang, sekolah Amani ini masih baru, masih merintis. Sarana masih apa adanya. Darurat. Maka, bagi sebagian orang tua, ini adalah seperti sebuah perjudian. Mengandung resiko. Memang begitulah, rupanya masih terlalu banyak yang memuja kemegahan bangunan sekolah, kemapanan dan status favorit.
Simak saja komentar yang sampai ke telinga. "Buat anak koq coba-coba?!" begitu yang sering terdengar. Bahkan dari brother-brother teman seperjuangan sekalipun. Suara yang lain mempertanyakan tentang formalitas, karena ujiannya koq jauh-jauh ke Subang. Komentar miring itu disambung dengan yang satunya, tentang bangunan yang hanya berupa saung, bukan sebuah gedung. Lokasinya kebanjiran kalau sedang musim hujan. Bahkan sampai terendam separo-nya saat banjir besar April 2010 lalu.

Juga ada yang menanyakan fasilitas, mana perpustakaannya? Mana labnya? Lapangan olah raga? Mana lapangan upacara? Komentar miring itu tambah parah lagi ketika menggugat jumlah anak yang sekolah disana hanya sedikit: 8 anak kelas IX, 7 anak kelas VIII, dan "hanya" dua anak kelas VII. Sempurna sudah alasan yang bisa menghalangi seorang anak masuk ke SMP Amani.

Makanya akan banyak yang heran kalau saya begitu bersemangat? Bahkan merasa beruntung pula? Aneh. Memang, kalau bukan karena yakin, pastinya saya ortu yang kurang waras. Apalagi kalau melihat nilai UN si Teteh, cukup untuk masuk SMPN 1 Karawang. Di sekolahnya masuk 3 besar. Secara ekonomi insya Allah sangguplah kalau sekolah di Boarding School favorit. Sebaliknya, bagi saya sekolah alam Amani adalah sebuah anugerah. Seperti dibawakan durian runtuh.

Okelah kalau begitu, saya akan coba uraikan semampunya ya, kenapa mantap dengan pilihan itu.

Formalitas itu...
Tentang status formal, SMP Alam Amani masih menginduk ke SMPIT Al Wusto di Subang, Jawa Barat. Pertimbangannya, disamping nihil manipulasi nilai alias menjunjung tinggi kejujuran, juga tidak ribet dengan administratif. Ada juga nuansa pesantren yang dirasakan anak-anak ketika menjalani ujian-ujian formal, termasuk ujian nasional. Statusnya juga sudah akreditasi A. Walaupun begitu, sekarang sedang diupayakan untuk mendapat ijin operasional. Agar tak lagi jauh-jauh ke Subang untuk sekedar ujian.

Bangunannya...
Tentang bangunan sekolah yang hanya saung. Saya justru merasa nyaman berada di saung. Seperti di kampung saja. Saya yakin anak-anak juga begitu. Sambil belajar, mata masih bisa melihat pemandangan di luar. Pepohonan dan gemerisik suara daun masih bisa dinikmati. Juga semilir angin. Saya kira di gedung kelas yang ber AC sekalipun tidak akan didapat kemewahan ala sekolah alam ini. Walaupun, pengertian alam sendiri bisa didiskusikan. Konsep alam bisa berbeda antara alam Ciganjur, alam Balikpapan, atau alam Bogor. Untuk Karawang, luas lahan kebun yang minimalis mungkin sudah memadai, sisanya adalah alam Karawang yang sudah perkotaan dan industri. Tentu lengkap dengan hawanya yang hangat.

Sekolah Alam Amani dibanding Husnul Khotimah Kuningan , As Syifa di Subang, SA Ciganjur, SoU Parung, SA Bogor atau SA yang lainnya mungkin nggak ada apa-apanya. Luas lahan baru ada sekitar 1.400 meter persegi. Hanya seluas lapangan olah raga di Husnul Khotimah. Di SA Amani rerimbunan pohon hanya diwakili sebuah pohon mangga dan pohon cerry. Yang lain masih baru menanam. Masih pendek-pendek. Kalau ada banjir besar seperti April 2010 kemarin, pohon-pohon itu terancam punah, senasib dengan "mendiang" pohon duren yang ditanam Bang Lendo Novo, saat openhouse Amani 2008 lalu.
Suhu lingkungan Amani juga tidak sejuk. Sebagaimana iklim di Karawang, di Amani terasa "hangat". Cukup membuat keringat berderas kalau ada sedikit gerakan saja. Pasang AC juga tidak mungkin. Bangunannya saung. Namanya juga sekolah alam. Koq pake AC?

Tapi saya memahami kata alam tidak berarti harus dingin dan sejuk. Kalau sekolah alamnya di Afrika masa harus sejuk, he he. Intinya anak dekat dengan alam di manapun berada. Kedekatan itu pintu untuk memahami dan mencintai. Kemudian mengelolanya dengan pemahaman dan cinta itu. Bukankah itu jalan yang logis untuk menjadi khalifah yang menebarkan rahmatan lil alamiin?

Fasilitas itu...
Tentang perpustakaan? dengan internet sebenarnya hampir semua bahan ajar ada disana. Laboratorium? lab anak Amani adalah alam itu sendiri. Sawah, kebun, sungai, alam yang jauh lebih luas dibanding ruangan laboratorium. Lebih nyata.

Jumlah Siswanya...?

Tentang jumlah murid yang sedikit? Saya berfikir, justru semakin sedikit murid, semakin efektif guru mendidik. Asal nggak main catur saja, atau halma. Tahun ajaran 2011 memang jadi semacam pertaruhan, karena tren menurun di atas. Tetapi tahun ini kelihatannya akan ada yang lain. Akan ada anak-anak dhuafa yang masuk melalui skema beasiswa. Teman-teman Si Teteh mungkin akan banyak anak yatimnya. Justru ini yang bikin menarik. Jadi lebih berwarna.

Siapakah Gurunya?

Tentang guru, saya menaruh harapan ke guru yang sabar, penyayang, dekat, pembelajar dan tauladan. Dibanding ia seorang maestro matematika tapi pemarah. Asal ia lulusan S1, dengan sifat yang tadi, dan ditambah dengan sistem ala sekolah alam, insya Allah anak-anak akan menikmati proses belajar itu.
Lainnya....apa?

Itu baru beberapa, ada masih banyak alasan yang agak serius dan sedikit filosofis akan saya uraikan di bawah ini.

(Boleh jeda dulu ya bacanya, enaknya sambil nge-teh, soalnya agak serius, gitu)

Pertama, alasan moral. Ceritanya, tiga tahun lalu sayalah yang meyakinkan seorang Wulan dan orang tuanya agar memasukkan anaknya ke SMP Amani. Provokasi berhasil, mungkin terlalu berlebihan, sampai Wulan nangis-nangis ingin ke SMP Amani itu. Lha, kalau sekarang anak saya sendiri tidak dimasukkan kesana, apa kata dunia? Saya bisa kena delik ayat "kaburo maktan". Mengatakan, bahkan mengajak sesuatu yang saya sendiri tidak melakukannya. Bisa dimurkai Tuhan.

Kedua, alasan konsep, bahwa sekolah alam Amani harus dan sangat layak dipertahankan. Bukan karena nama dan bentuknya yang ada kata "alam". Tapi karena gagasannya itu: pendidikan karakter, pendidikan yang memanusiakan, pendidikan yang membebaskan, dan menghargai semua kecerdasan anak. Ya, gagasan bagus yang sudah susah payah dirintis dan sudah dibuktikan oleh kedelapan anak-anak Amani angkatan pertama itu.

Ketiga, adalah idealisme tentang gagasan pendidikan berkualitas yang terjangkau. Saya memang penasaran dengan mitos bahwa "sekolah berkualitas itu harus mahal". Saya punya secuil keinginan ikut mencoba mendobrak mitos itu. Bahwa pendidikan berkwalitas bisa terjangkau. Dan ini sedikit banyak sudah dibuktikan di Amani karena beberapa anak SMP Amani angkatan pertama, secara ekonomi masih bersahaja. SMP Amani ternyata bisa berjalan. Bang Lendo Novo-pun bilang, kalau di Karawang sekolah alam ternyata bisa murah.

Keempat, ada spirit Quran di Amani. Ada kesungguhan menjadikan Quran sebagai basis pembelajaran. Bahkan lebih dari sekedar menghafal. SDM gurunya sudah menunjukkan komitmen yang sangat kuat. Ada bu Rayhanah dari LIPIA yang siap mengawalnya. Konsep ini membuat sekolah alam kelihatan semakin menawan. Sangat futuristik.

Kelima, walaupun saat itu belum resmi jadi keluarga besar SMP Amani, saya dan para guru sudah merasa menjadi partner. Bukan lagi sekedar hubungan muamalah, dimana mereka jual dan saya beli. Dimana setelah itu saya tinggal terima hasil. Di SMP Amani saya bisa bilang apa saja. Memberi masukan kapan saja. Saya juga bisa sangat terbuka tentang anak saya. Ini yang tidak bisa saya maksimalkan kalau di sekolah negeri atau di boarding-school, dimana orangtua akan pasrah sepenuhnya. Baik atau buruk. Cocok atau tidak cocok. Kalaupun melakukan itu, hanya akan jadi beban buat guru yang sudah diamanahi jumlah anak yang banyak per kelasnya. Apalagi saya termasuk ortu yang cerewet kalau sedang kumat. Suka menelusuri sampai detail. Sampai ujung.

Keenam, anak saya memang termasuk yang tidak ingin jauh dari ortu. Walaupun pernah berjauhan. Sebaliknya saya juga termasuk ortu yang inginnya ketika anak menjelang dewasa, ia tumbuh di depan mata. Didampingi. Walaupun kadang ada saja acara memarahi anak dan riak-riak konflik keluarga.

Ketujuh, bagi bro n sist yang mengenal dunia tarbiyah, halaqoh atau mentoring, sebenarnya konsep sekolah alam tidak jauh dari itu. Bahkan boleh dikatakan halaqoh-halaqoh itu, kalau digabung adalah sekolah alam terbesar di dunia. Karena kelasnya adalah seluruh permukaan bumi. Tempat belajarnya bisa dimana saja. Waktu belajar bisa kapan saja. Menjadi mentor-nya tidak disyaratkan gelar akademik. Hanya keikhlasan dan semangat belajar. Di sekolah alam juga begitu, orang tua bisa jadi guru. Semua profesi bisa jadi referensi. Mereka belajar dari pelakunya langsung. Mereka belajar bercocok tanam dari pak tani. Belajar pertukangan dari pengrajin kayu. Mereka juga ada waktu untuk menanam pohon dan beternak ikan, hingga marketing dan punya bisnis sendiri..

SMP Alam Amani memang masih merintis. Masih apa adanya. Kekurangannya masih sangat banyak. Tapi di sini ada harapan besar dan visi yang menjangkau masa depan. Apalagi benchmark sudah tersedia. Tinggal dukungan orang tua, masyarakat dan pemilik sumberdaya. Agar pilihan sekolah yang berkualitas semakin banyak. Agar daya jangkau pendidikan berbasis nilai Rabbany (Ketuhanan) semakin luas. Tak hanya di Jakarta, Bogor, Bandung, Subang, atau Kuningan. Agar tak hanya Sekolah Terpadu untuk kalangan the have, tapi ada yang untuk the have not.

Bisa juga untuk memicu kualitas sekolah yang lain. Terutama yang sudah didukung dana 20% APBN itu, agar lebih terpacu meningkatkan kualitasnya. Adanya sekolah swasta dengan berbagai model dan inovasi adalah kritik tersendiri bagi pengelola sekolah negeri.

Sebagai orang tua, saya hanya ingin memastikan bahwa sekolah untuk anak-anak bisa menjadi lahan subur bagi tumbuh kembangnya potensi. Menggapai prestasi tertinggi. Hanya saja, saya memilih untuk tidak sekedar jadi konsumen lembaga pendidikan yang bernama sekolah. Ingin mencoba jadi mitra yang sesungguhnya bagi para guru. Semampu mungkin. Konsekuensinya, pilihan itu memang membutuhkan komitmen lebih besar dan persiapan yang harus dilakukan jauh-jauh hari.

Gagasan yang bagus tentang sekolah alam, sekolah terpadu, full day school, sekolah komunitas, sekolah karakter, sekolah inklusif, atau sekolah holistik sangat layak untuk didukung. Tentu dengan daya kritis yang tinggi. Tidak asal percaya. Asal ikut. Karena proses pencarian memang belum berakhir. Tetapi hanya menjadi masyarakat konsumtif terbukti tidak membuat kita semakin berdaya. Tidak kreatif. Tidak membuat peradaban semakin maju. Bahkan terjajah.

Saya juga menyadari, setiap pribadi anak adalah laksana sumur tak bertepi. Misteri. Kita hanya diwajibkan untuk mengenalinya dengan segenap indera. Menyayangi dengan seisi hati. Mendampinginya dengan segenap raga. Mendengarnya. Mengupayakan kedekatan. Memercayai. Menyalakan api. Karena setiap anak adalah anak zamannya. Mereka punya independensi. Entitas yang mandiri di hadapan Sang Pencipta. Karena itulah kita berdoa.

Pendidikan sebagai salah satu pilar peradaban memang sebuah ladang amal yang masih terbuka lebar. Di Karawang bahkan masih menjadi keprihatinan. Mangacu ke sebuah ungkapan dimana kita berpijak di sana langit dijunjung, maka ketika memajukan dunia pendidikan masih berupa rintisan-rintisan, di situlah dukungan kepercayaan orang tua saatnya diberikan.

Selain sekolah Amani, ada Al-Hasanat di Kecamatan Klari, el Tahfid di Kecamatan Jatisari dan semua rintisan sekolah lainnya sedang membutuhkan kepercayaan dari masyarakat. Terutama warga Karawang, siapa lagi? Toh, tanpa kehadiran anak-anak kita, Husnul Khotimah, AsSyifa, NF, Toriq bin Ziyad, Al Kahfi, Multazam apalagi Al Azhar, atau JIS akan tetap eksis. Kenapa kita tidak menjadi faktor pendukung kemajuan sekolah di daerah sendiri dengan menyekolahkan anak kita sendiri di sini? Ya di Karawang ini contohnya. Untuk kemudian kita kawal prosesnya hingga benar-benar berada di jalur mutu pendidikan terbaik? Kenapa lebih memilih selera, gengsi dan rasa aman?

Ending

Saat tulisan ini dibuat, Si Teteh sudah bisa menikmati hidangan khas ala sekolah alam. Istilah tematik, outbond, outing class, bank sampah, marketing day bahkan Mabit sudah dialami. Itikaf Ramadhan kemarin dilaksanakan di Masjid Kawasan Industri Indotaisei, Cikampek. Asyik banget katanya. Ya, kata asyik ini menjadi pertaruhan. Saya bilang ke Kang Deni Darmayana, seorang guru Amani : Satu indikator keberhasilan sekolah adalah anak-anak merasa asyik di sekolah, jadi kalau anak saya masih malas belajar di Amani, berarti itu indikasi kegagalan. Dan karena terbukti asyik itu, saya mengucapkan selamat kepada guru-guru Amani :Anda berhasil pada ujian tahap pertama.

Tapi ada yang unik, komposisi siswa baru angkatan 2011 adalah 9:9. Artinya sembilan dari jalur non beasiswa, dan sembilan anak dari jalur beasiswa. Ada 9 anak dari panti asuhan dan yatim yang mendapat beasiswa dari PKPU dan Lazis Amani. Jadinya kombinasi sembilan anak dari keluarga berkecukupan dan sembilan anak yang tak berkecukupan. Di sana ada juga anak dengan kebutuhan khusus. Jadi selain sekolah alam, SMP Amani bisa sekaligus jadi sekolah inklusif.

Akhirnya

Selamat berjuang para pahlawan pendidikan ...semangat untuk semua!

Karawang, 9 September 2011

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah