The Negotiator

sumber: Internet


Suatu waktu di tahun 2002, di suatu tempat di Jawa Timur

Jarum pendek di jam dinding Sabtu pagi itu masih di angka delapan saat Si Jon tiba-tiba tergopoh-gopoh. Dia terlihat sangat bingung dan panik. Wajah yang gelap dan coklat terlihat semakin muram. Setelah dipersilakan duduk di kursi depan, dan menarik nafas beberapa kali, mulailah sebuah dialog.


"Ada apa Mas Jon? Koq seperti ada yang gawat?" Saya tanya dulu. Penasaran soalnya.

"Mas minta tolong ya, maaf soalnya genting banget. Please..." suaranya pelan dan rada ngebass.
"Memang ada apa ?" saya balik bertanya.

Si Jon kemudian mulai cerita: " Bapaknya si Eneng marah, Mas. Sepertinya ia tersinggung. Sampe mau batalin pernikahan saya sama si Eneng. Padahal tinggal seminggu, undangan juga sudah disebar".

Kenapa jadi gawat begini? Memang beberapa hari ini rumah sebelah dikontrak si Jon. Buat ditinggali si Eneng, pacarnya itu, bersama Bapaknya, Pak Daeng dan Ibu. Sedang Si Jon sendiri kos-nya dekat kantor yang jaraknya kira-kira 2 km dari rumah saya. Rencananya minggu depan ia mau akad nikah sekalian walimahan. Makanya, jadi sesuatu yang gawat kalau tiba-tiba ada kekisruhan seperti itu.

"Memangnya kenapa koq sampai tersinggung begitu, Jon?" saya balik tanya.

"Sepertinya cuma salah persepsi Mas. Mungkin karena perbedaan budaya. Kebetulan saya Jawa beliau Makassar. Beliau merasa saya melangkah sendiri, padahal mau saya sih biar cepat dan nggak ngerepotin pihak keluarga Eneng".
"Terus alasan kenapa Bapak marah?" Tanya saya lanjut.
"Katanya, baru calon mantu saja sudah nggak sopan, bagaimana nanti kalau sudah jadi menantu?"

Hmm..mulai jelas duduk perkaranya. Rupanya benar, Si Bapak tersinggung dengan sikap sang calon menantu.

"Jon sendiri gimana?"
"Saya bingung sekali Mas, soalnya undangan sudah tersebar. Nggak mungkin diundur?"
"Maksudnya Jon sama Si Eneng-nya?"
"Waaah, kalau itu mah jangan ditanya Mas. Saya sudah mantap banget sama dia, terlanjur sayang, gitu" Si Jon kali ini rada tersipu.
"Terus apa yang bisa saya lakukan?" saya masih bingung.
"Nah, itu dia. Di sini yang beliau tahu hanya mas Udin. Dengan tetangga lain belum ada yang kenal sama sekali. Bapak khan baru datang ke sini dua hari lalu. Saya pikir hanya mas Udin yang bisa ngomong ke Bapak?"
Gedubrak! Astaghfirullah... Mimpi apa semalam? Dapat kasus kayak begini... :(

Sebagai tetangga baru memang Pak Daeng pernah ke rumah, kemarin. Dan saya juga sempat masuk ke rumah sebelah itu. Sempat ngobrol-ngobrol juga. Tapi ya cuma itu interaksi Pak Daeng dengan dunia luar.

"Terus kapan saya ngomong dengan Bapak?" saya minta kejeasan.
"Pagi ini, Mas. jam 10 an" Si Jon mengatakan dengan kepala dicondongkan ke depan dengan terlebih dahulu meliukan ke bawah. Seperti leher angsa.
"Pagi ini?! Saya harus ngomong apa??" tiba-tiba langit terasa seperti gelap. Kepanikan langsung menyergap. Deg-degan.
"Saya juga bingung Mas, tapi tolong Mas ya, please..." Si Jon tambah memelas.
"Mmm... bagaimana ya, saya juga bingung mau ngomong apa?"
"Mungkin di ajak ngobrol saja dulu Mas, atau gimana, biar hatinya cair dulu"
"Tapi saya nggak jamin lho.. Mas Jon jangan terlalu berharap ke saya" Saya menunjukan nada ragu.
"Iya, tapi harus berhasil, Mas. Soalnya ya cuma mas Udin yang bisa ngobrol sama Bapak. saya nggak ngebayang kalau sampe batal", matanya mulai berkaca-kaca.
"Mmm... gimana ya? Ya.... ya sudah kalau begitu, S..saya coba deh" saya jawab dengan tidak meyakinkan. Ragu dan bingung tepatnya. Belakangan saya baru sadar bahwa keputusan saya lebih tepat sebagai bentuk kebodohan yang tidak disadari. Saya memang terlalu berani mengambil resiko.

Beberapa saat kemudian, setelah ganti baju, segera saya menuju rumah sebelah. Di rumah itu, pagi jam 10, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul. Si Bapak sudah duduk di sofa ruang tengah. Sedangkan Si Eneng bareng Ibu posisinya di dapur. Terlihat dari kaca pembatas ruang tengah dan dapur sepertinya mereka tegang juga.

Saya tambah deg-degan. Khawatir salah ngomong. Bodohnya saya, lha koq ya bersedia? Kenapa nggak ngajak ustadz yang sudah pengalaman nangani kayak beginian, atau ngajak penghulu dari KUA, atau ngundang psikolog, gitu. Koq malah ditangani sendiri. Masalahnya ya waktunya juga koq mepet banget. Ini mungkin yang namanya ketiban sampur itu.

Setelah basa-basi ngobrol kesana ke mari. Mulai soal asal usul daerah, tentang genteng bocor, jalan depan rumah, sampai mobil tetangga, akhirnya Pak Daeng mulai ke pokok pembicaraan
"Sepertinya si Jon ini saya pertimbangkan lagi buat dia jadi menantu Mas Udin. Saya merasa dilangkahi. Masa yang mau kawin anak saya, dia yang kesana kemari sendiri. Ke KUA sendiri, ke kantor desa sendiri, bikin undangan sendiri. Saya nggak pernah diajak ngomong, nggak permisi. Main ambil keputusan sendiri. Saya sebagai orang tua merasa nggak dianggap. Jelas merasa tersinggung Mas Udin. Saya jauh-jauh datang dari Makassar, koq malah diperlakukan kayak gini. Lha kalau Mas Udin pada posisi orang tua dibegitukan, apa nggak marah, coba?" Tuturnya dengan logat bahasa Makassar yang kental dan emosional.
Hmmm...sepertinya masalah komunikasi, pikir saya.

"Maksud Bapak mempertimbangkan lagi itu bagaimana?" Tanya saya to the point.
"Saya berfikir mau batalkan saja pernikahan anak saya. Percuma punya mantu nggak sopan begini"
Deg!...bener juga kata si Jon. Memang gawat!
"Lha kalau si Enengnya tetep mau gimana, Pak?"
"Ya harus pilih, Si Jon apa Bapaknya! Kalau dia tetap mau sama si Jon berarti bukan anak saya lagi!"
Waaaduh... mulai kacau nih! 

Suasana rumah mulai terasa tegang. Saya lihat si Jon, wajahnya yang coklat kini jadi pucat. Tangannya saling menggenggam. Pandangannya menunduk. Badannya jadi mengkeret. Secara keseluruhan jadi mirip jeruk purut. Nasibnya benar-benar wajib dikasihani.

"Apa nggak kasihan Pak sama anak-anak Pak? Dua-duanya dah sama-sama seneng gitu?" Saya coba beri argumen. Mulai negosiasi
"Ya kalau ngotot, berarti bukan anak saya lagi!" Kali ini menambah penekanan pada tiga kata yang terakhir. Semakin jelas dan mengkawatirkan. Masa depan si Jon tiba-tiba terasa suram.
"Kalau anaknya nanti stress, gimana?" saya kejar dengan pertanyaan lanjutan.
"Terserah!" Si Bapak nggak bergeming.
"Kalau mau bunuh diri?" Pungkas saya.
"Silakan!"
Beeuu.... gawat surgawat...! nasibmu Jon.... dapat calon mertua koq antik begini. Gumam saya dalam hati.

Di belakang, si Eneng kelihatan memegang tangan Ibunya sambil nunduk. Sepertinya mau nangis. Keadaan koq tambah gawat! O maigat!... Saya jadi menyesal sudah ngambil resiko menerima permintaan si Jon. Sekarang nasib dua orang ini bener benar kayak telur di ujung tanduk. Salah ambil tindakan, bisa bubar!

"hhmm..saya coba memahami perasaan Bapak. Mungkin kalau berada pada posisi Bapak, saya juga tersinggung Pak. Sungguh!" kini saya coba menggunakan kata-kata empati nan bijak bestari. Negosiasi level dua.

"Tuh, betul kan! Mas Udin saja teringgung. Apalagi saya!" Kata si Bapak semakin jadi. Waduh... koq tambah parah?!

Kemudian saya tanya si Jon : "Mas Jon sendiri bagaimana...?"
"Saya kemarin itu biar nggak ngerepotin Bapak. Jadi biar saya saja yang jalan ngurus ke sana kemari. Gitu Mas. Nggak bermaksud melangkahi Bapak" kata si Jon sambil menunduk.
"Tapi kamu sudah tidak menganggap keberadaan saya, Jon!" Sergah Pak Daeng dengan nada emosi. Si Jon tambah mengkerut. Sekarang dia nggak berani ngomong lagi.

"Begini, Pak... saya coba menjembatani Masalahnya, saya melihat anak-anak ini sudah kadung seneng. Kasihan kalau tiba-tiba diputus begitu saja. Kita kan pernah muda, pernah merasakan seneng pada seseorang. Kalau tiba-tiba di putus apa nggak bunuh diri nih anak-anak?" Saya coba dari sisi lain. Negosiasi level tiga.
"ya silakan saja. Pokoknya saya nggak mau. Saya dah terlanjur tersinggung!"
Buntu. Semua hening.


Saya kemudian meminta si Eneng sama ibunya masuk ke ruangan.

"Kalau Eneng sendiri gimana?" tanya saya ke pacarnya si Jon.
"Saya sih maunya terus Pak" Kata Si Eneng sambil terisak.
"Kalau Ibu?" saya nengok ke Ibunya si Eneng. Barangkali ada second opinion. Pendapat seorang Ibu biasanya lebih berpihak ke anak.
"Saya sih ikut Bapak, Mas Udin". Ibunya si Eneng berkata sambil berkaca-kaca.  

Ini jelas di luar harapan saya. Sepertinya dia sendiri bingung dengan sikap suaminya, hanya nggak bisa membantah. Rupanya memang sudah gawat. Sebabnya mungkin seperti kata si Jon, karena memang si Eneng lama tinggal di Maluku sedangkan orang tuanya di Makasar. Si jon sendiri ketemu si Eneng ya di Maluku itu, sebelum pindah ke Jawa. Rupanya kurang terjalin komunikasi yang bagus antara anak dan bapak.

"Ohh begitu... masih nggak merestui nih ?" kini nada pertanyaan sedikit mengintimidasi si Bapak. "Saya koq merasa kasihan saja. Saya liat si Jon sudah habis biaya banyak. Sudah berupaya. Undangan sudah kesebar. Lha kan malu si Jon jadinya kalau batal". Saya coba tambah dengan argumen lain. Negosiasi level empat.

"Ya itu salah sendiri. Koq melangkah sendiri . Memangnya si Eneng anak siapa? Khan anak saya, suka-suka saya donk!"
Saya akhirnya menyerah. Pasrah. Negosiasi terancam gagal.

"ya terserah Bapak lah kalau begitu. Saya cuma berfikir sederhana, ibarat main bola. Itu bola sudah digiring kesana-kemari. Oper sana sini. Cape lari dan ngos-ngosan. Lha koq sudah tinggal ngegolin, malah ditendang ke belakang. Khan nggak asyik Pak main bola kayak gitu" saya koq tiba-tiba ngomong sepak bola, bukannya psikologi keq, ayat Quran atau hadits apa gitu.

#bunyi adzan dhuhur dari masjid kompleks

"Nah, kebetulah waktu sudah dzuhur...kita shalat saja dulu. Minta petunjuk sama Allah. Mudah2an diberikan keputusan terbaik. Bapak sebagai wali memang berhak tidak setuju. Nanti apapun keputusan Bapak, mudah-mudahan itulah yang terbaik. Mas Jon mungkin harus tawakkal dan sabar kalau memang si Eneng belum jodoh untuk saat sekarang" Saya benar-benar nyerah. Si Jon jadi tambah keriput saja jadinya. Kasihan sekali dia. Saya jadi tidak tega.

Saat jeda itu saya dan si Jon nggak bisa ngobrol apa-apa. Dia bingung, saya juga pusing. Deg-degan juga. Saat perjalanan ke masjid dan pulangnya, saya hanya diam. Bisu. Benar-benar situasi yang tidak enak. Saya sudah merasa gagal. 

Setelah semua kembali berkumpul di ruangan yang sama...
"Emmmm.....bagaimana Pak, kelanjutan pembicaraan kita?" saya langsung buka dialog.
"Oh, ya... tadi Mas Udin nyebut-nyebut maen bola, memang suka nonton bola ya? Nge-fans sama klub mana?" Tanya Pak Daeng. Hanya kali ini nadanya lain. Lebih datar. Tapi kenapa tiba-tiba nanya bola. Saya tidak mengerti.

"Oh, saya nggak begitu suka bola Pak. Nontonnya kalau pas final Piala dunia saja. Memangnya kenapa Pak?" saya balik nanya.
"Tadi itu saya kepikiran ucapan mas Udin tentang bola" Si Bapak dengan nada yang sudah tenang dan datar. Tidak emosional seperti tadi.
"Maksud Bapak?" Saya jadi penasaran.
"Iya...Saya khan suka main bola waktu muda. Jadi memang nggak enak ya kalau sudah oper sana-sini, sudah tinggal nge-golkan malah di tendang ke belakang. Iya ya, koq rasa-rasanya nggak enak" nadanya memang sudah beda. Lebih rileks.

"jadi bagaimana tentang si Jon?" Saya nanya penasaran. Ingin segera tahu keputusannya.
"ya begini saja deh.... gara-gara Mas Udin ngomongin bola, saya berubah pikiran. Jadi.....teruskan saja rencana si Jon. Tapi harus berjanji ya, lebih sopan sama orang tua!"  Pak Daeng mengatakan hal itu dengan penuh kebijaksanaan. Kini ia terlihat sangat simpatik.

"alhamdulillah........!"

Semua mengucap syukur. Langit tiba-tiba terasa cerah. Bumi kembali lega. Saya lihat si Jon di sebelah kanan, ia terlihat mengusap muka dengan dua tangan. Si Eneng langsung memeluk Ibunya. Dua-duanya nangis. Semua gembira. Sebuah negosiasi yang menegangkan berakhir happy ending. Itu gara-gara bola! Aya aya wae, he he...

Sepekan kemudian, pesta perkawinan digelar di samping rumah. Undangan kebanyakan teman kantor si Jon. Cukup sederhana saja. Saya sampai ingat, lagu yang di-stel dari pagi sampe malam adalah lagu yang lagi hits dari albumnya pedangdut Alam. Diantaranya adalah lagu Mbah Dhukun, he he. Sedangkan Nyonya saya kebagian seksi sibuk urus konsumsi bareng Bu Ninuk yang juragan Katering. Tetangga perumahan juga.


Saya yakin si Jon akan sangat mengingat kejadian hari itu. Apalagi kalau melihat bola...

Karawang, Medio Maret 2012 @unforgetable moment

#kisah di atas adalah kisah nyata yang penulis alami, sebagai the negosiator a la bonek. Nggak sanggup kalau harus mengulangi :)

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah