Sunday, November 4, 2012

Catatan Ramadhan : Di Jatiluhur, Serasa Jadi ABG Lagi!

302ceae399aaed8cad94b2065669a8e6_05082012950
.
Ahad lalu, 5 Agustus 2012, adalah  hari yang mengasyikan. Itu karena saya seperti mengalami deja-vu. Waktu seperti berputar ke belakang. Mengulang sejarah. Kembali ke waktu abege usia belasan tahun. Itu karena saya harus mengawal acara Sanlat (Pesantren Kilat) anak remaja Karima (Keluarga Remaja Islam Masjid) Baitul Muttaqin Blok T Perumnas Karawang, masjid komplek tempat saya tinggal. Tempatnya di Wisma Jati, Komplek Waduk Jatiluhur, Purwakarta. Lokasinya persis di atas jalan arah menuju turbin.

Amanah sebagai pembina Karima itu mengharuskan kebersamaan sejak mulai bikin planning, organizing, actuating, hingga controlling dan terakhir evaluating. Impelementasi fungsi pembimbing Karima memang begitu. Ada juga sebab lain,  kalau ada pihak orang tua atau DKM bertanya tentang Karima, sayalah yang ditanya. Itulah kenapa saya harus dampingi anak-anak itu. Jadinya seperti kembali ke usia belasan tahun. Ternyata asyik juga ya,  rame-rame bareng abege, he he

Fungsi bimbingan  memang penting pada anak-anak yang sedang belajar berorganisasi.  Pada sanlat kemarin, contohnya, anak-anak itu belum siap kalau harus melobi orang tua yang punya mobil untuk dipinjam seharian, gratis dan sekalian sopir. Maka saya yang sudah jadi bapak yang harus turun tangan. Bisa jadi  contoh bagaimana seni melobi. Termasuk juga saat meyakinkan pengurus DKM agar dana subsidi bisa maksimal.

Dengan segala keterbatasan di sana sini, dan anak-anak itu sempat galau saat hari Sabtu pagi, 4 Agutus 2012  pendaftar masih 20 peserta. Akhirnya Ahad  pagi besoknya, dengan berhasil melibatkan 7 mobil plus sopirnya, ditambah rombongan dari Rengasdengklok di bawah ketua  Kang Maturidi, sebanyak 65 peserta berangkat ke Jatiluhur. Terakhir menyusul, ada empat anak peserta diantaranya yang berangkat naik motor Karawang-Purwakarta.  Memobilisasi 65 peserta dari blok T Perumnas ke Jatiluhur menurut saya sebuah capaian yang lumayan bagus untuk ukuran remas satu Blok di Perumnas.


Sedikit Kejutan Saat Acara

Saat acara dimulai, yang muncul jadi MC ternyata Wulan dan Lia. Dua akhwat yang dua tahun lalu masih malu-malu, sekarang sudah terlihat lebih dewasa. Sudah kayak mahasiwi banget. Sedangkan yang tilawah justru ketuanya sendiri, Fadli. Lantunan tilawahnya mengingatkan saya  pada negeri Palestina. Merdu.
Secara keseluruhan acara alhamdulillah lancar. Paparan pertama  tentang tauhid oleh Kang Ahadiat yang dikemas dalam tema "who Am I" disimak dengan sungguh-sungguh. Ini karena dikombinasikan dengan paparan yang detail dan kronologis tentang beberapa orang sosok sukses yang berangkat dari nol.

Tadinya saya ingin menampilkan Kang Dede Syamsudin yang lulusan S2 Jerman sebagai sosok nyata dan askar (asli Karawang). Namun  ayah dua anak asli Jayakerta, Karawang  ini kadung ada acara ke Bandung. Untungnya masih sempat saya todong untuk memaparkan pengalamannya di Jerman itu  secara terbatas ke Pengurus Karima, saat jadwal kajian pekanan yang sengaja saya barengkan dengan rapat panitia sanlat. Kebetulan tempatnya sama-sama di rumah,  Jum'at malam sebelum acara sanlat.

Saya memang memerlukan sosok yang bisa jadi contoh.  Kalau tentang akhlaq, insya Allah banyak sosok yang bisa dijadikan contoh. Tinggal aspek lain. Karena segmen remaja masjid masih pada sekolah, maka sosok anak kuliahan di luar negeri dan tetap sholeh adalah contoh ideal. Ini agar saat anak-anak itu cerita ke ortunya, respon yang diharapkan adalah dukungan. Tidak sekedar membiarkan anak ikut Remas.

PAda kesempatan itu juga, saya undang Kang Marano, Ketua BKPRMI (Badan Komunikasi Remaja Masjid Indonesia) Karawang. Agar anak-anak tahu bahwa organisasi remaja masjid punya lembaga yang jadi ajang komunikasi antar organisasi remaja masjid. Jadi bisa saling sharing pengalaman. Juga saling undang kalau ada acara.


Performa K-Voices

Aspek seni saat acara sanlat, menurut saya adalah menu wajib. Maka saya minta saat  rapat, harus ada permormance seni, entah nasyid atawa puisi.   Saat acara, yang tampil adalah nasyid pop ala Edcoustik dan Ungu. Diiringi gitar.

Mungkin ada  yang tidak sependapat dengan saya dan  cenderung hindari alat musik non perkusi. Di sini saya hanya mencukupkan pada pendapat Ust Yusuf Qardlawi pada buku Halal dan Haram Dalam Islam. Di situ ada penjelasan tentang seni dan musik sangatlah jelas dan gamblang. Tidak mengekang juga tidak liberal. Ada saatnya keindahan dan harmoni harus ditampilkan. Saat pernikahan, tasyakuran atau sanlat adalah saat yang pas untuk menampilkan seni Islami.


Dukungan Ortu 

Dukungan ortu memang penting. Sebagus apapun minat anak, kalau ortu  negatif akan susah. Alhamdulillah para ortu sudah pada menaruh trust. Setidaknya ini terlihat dari jumlah peserta. Hal yang menarik lagi adalah Bapak-bapak yang minjamkan mobil plus jadi sopir, hampir semua menunggu sampai selesai. Tidak pulang dulu. Haji Ali, salah seorang bapak yang memfasilitasi tempat serta Avanza-nya, malah ikut mendengar uraian Kang Ahad.

Malamnya salah seorang ortu yang ikut saya paksa tampil di panggung menyanyikan satu hit dari Band Wali yang syairnya religius. Seketika ruangan jadi kayak konser dadakan. Dua orang bapak terlihat ikut sesi muhasabah (sesi renungan) yang dibawakan Kang Iyon Syamsudin. Memang baiknya ortu  ikut acara. Biar jadi pembicaraan di kalangan orang tua kalau  acaranya memang bagus.
110999a55ad2473be9e2d882c3231b60_05082012965

      

Hal-Hal Yang  Luput

Adapun hal-hal yang luput dan tidak sesuai rencana misalnya kurangnya konsumsi. Juga air mineral yang minim. Anak-anaku memang tidak berfikir detail kalau air dari catering hanya satu untuk makan besar. Untuk takjilnya mana? Saya memang biarkan itu dan sengaja saya yang eksekusi sendiri. Biar  saat evaluasi jadi seru dan jadi kesan tersendiri, he he

Alhamdulillah, keseluruhan acara sanlat dituntaskan saat rapat evaluasi, Selasa malam. Berikutnya. Saya lihat dan rasakan kalau  anak-anak itu kini semakin merasa sudah punya identitas baru : remaja masjid.



.
Besoknya ketua remas, Fadli,  kirim sms : "pa, karima mau bikin baju seragam, gmna pa?"
Saya jawab : "ide yang bagus, biar punya ciri khas dan ada kebanggaan  jadi remaja masjid!"
Kamis tengah malamnya, saya jumpai anak-anak itu sedang i'tikaf di masjid. Alhamdulillah.
Terakhir, malam Ahad 25 Agustus 2012 kemarin, paska lebaran, berlangsung pemilihan pengurus Karima yang baru. Terpilih Aan sebagai ketua dan Rangga sebagai wakil.

Dari wajah  optimisme anak-anak Abege itu, sebagai orang tua saya tidak begitu khawatir dengan lingkungan kapilatalisme dan  konsumerisme yang semakin mengepung. Salah satunya, 500 meter dari masjid  itu ada Mall terbesar Karawang yang sudah mulai beroperasi sejak awal Ramadhan kemarin. Jadi simbol kapitalisme baru yang mulai jadi magnet anak muda Karawang.   Sebagai ortu saya hanya bisa berujar : untung ada Karima!

Karawang 28082012

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...