Sunday, November 11, 2012

Ibuku dan Bu Gubernur



Ibuku dan Bu Netty Prasetyani



Dua sosok perempuan istimewa bertemu, Rabu 31 Oktober 2012. Bertempat di Pakuan, Bandung. Istimewa karena dua-duanya nomor satu. Ibu yang nomor satu bagiku (setelah Allah dan Rasulullah tentunya) dan Bu Netty Prasetyani, isteri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan  adalah the first lady bagi masyarakat Jawa Barat.

Benar, Pakuan itu maksudnya rumah dinas Gubernur Jawa Barat yang kini tidak lagi berjarak. Kini semua warga bisa berkunjung ke sana. Saat itu memang ada acara silaturahim ibu-ibu pegiat majelis taklim dari Karawang. Ibu hadir di sana karena diajak ikut oleh Sang Menantu, istriku. Ada kursi yang kosong karena seorang tokoh yang sedianya ikut tidak jadi datang dan tidak sempat mencari pengganti. Kebetulan Ibu sedang ada di Karawang, menjenguk cucu-cucunya.

Nyonya Permaisuri yang memang ingin ngajak Ibu jalan-jalan akhirnya tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekalian agar sedikit tahu apa saja sih "kerjaan" Nyonya selama ini. Ibu memang suka bertanya-tanya, “Nurul itu kan nggak bekerja, tapi koq suka pergi ke mana-mana?” Ibu memang tidak faham kalau posisi Ketua Bidpuan (Bidang Pemberdayaan Perempuan) PKS Karawang mengharuskan Nyonya sering keluar rumah.

Saat
acara sudah selesai dan sebagian besar peserta sudah naik ke bus masing-masing, istriku yang ikut di kepanitiaan jadinya keluar belakangan. Saat itulah ada kesempatan untuk sedikit bincang-bincang dengan Bu Netty. Nyonyapun berkesempatan mengenalkan Ibu ke Bu Netty dan Bu Dwi Septiawati (Pemred Majalah Ummi) yang hari itu memberi tausiyah. Saat itulah terjadi adegan cium tangan. Juga cipika cipiki. Hangat dan akrab benar.

Tahukah Engkau siapakah yang dicium tangannya? Isteri Gubernurkah yang sedang di "singgasana" atau Ibu yang datang dari desa di pelosok Kuningan?

Itulah akhlak Islam. Itulah teladan dari Bu Netty. Beliau raih dan cium tangan Ibu. Juga pipi kiri dan kanan per
empuan yang telah melahirkanku itu. Dirangkulnya dengan segala cinta. Betapa bahagianya Ibu mendapat kejutan seperti itu. Tak dinyana ia mendapati seorang yang begitu hormatnya pada orang tua. Walaupun ia sedang di posisi yang tinggi dan terhormat, ternyata tidak luntur sikap hormatnya pada orang tua.

Sebelum pulang, Ibu yang sepintas agak mirip Mamah Dedeh itu sempat-sempatnya berfoto berdua, he he. Special bareng Bu Gubernur. Saat kembali pulang dan tiba di rumah ia minta foto itu dicetak dan dibuatkan figura. "Buat kenang-kenangan", katanya.

Masyarakat Jawa Barat memang sedang beruntung dipimpin oleh gubernur yang
akhlak di keluarganya patut menjadi teladan. Menurut Ibu juga, walaupun seorang istri gubernur tampilannya Bu Netty sederhana saja. Tidak glamour seperti istri seorang pejabat sekelas gubernur. “Seperti bertemu temannya Nurul saja”, katanya. Tapi sayangnya, kata Ibu juga, profil gubernur Jawa Barat ini belum begitu dikenal warganya sendiri. "lebih kenal sama Dede Yusuf" kata Ibu. Rupanya kepemimpinan empat tahun tak cukup bagi seorang Kang Aher untuk dikenal seluruh warganya.

Saat mau pulang ke Kuningan, tidak lupa Ibu dititipi brosur Kang Aher (panggilan Gubernur Ahmad Heryawan) oleh Nyonya. Saya yakin, foto bareng Bu Netty dan brosur Kang Aher akan jadi bahan cas cis cus yang nggak ada habisnya dengan ibu-ibu pengajian di Kuningan sana. Kebetulan Ibu memang tipe-nya heboh dan suka ngobrol. Hmm... ide yang bagus buat mendekatkan Kang Aher dan warganya. 
Sumber : Cerita Ibu dan Istriku

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...