My First Touring




Ini kisah terjadi bulan Juli 2010 lalu. Tentang peristiwa yang berkesan dan tak akan terlupakan. Gagasan cerita sebenarnya sederhana saja: tentang mobilitas. Perpindahan secara georafis dari satu titik ke titik lain. Namun karena ini pertama berjarak sekitar 900 km, maka wajar kalau menjadi sebuah unforgettable experience. Bagi yang sudah berpengalaman touring mungkin gak istimewa jarak segitu, tapi bagi saya tetap luar biasa.


Kisah berawal dari memaksakan diri kursus nyetir mobil hingga punya SIM A, karena di garasi sudah terlanjur nongkrong sebuah mobil Phanter kapsul keluaran 2002. Nah, begitu memegang kartu SIM warna putih masih gress itu, tiba-tiba munculah sejenis virus tak dikenal di dunia kedokteran. Namanya virus bonek, alias bondho nekat. Gejalanya adalah munculnya hasrat diri ingin nyetir sendiri ke Kuningan , kota kelahiran nan hijau dan dingin itu. Gejala berikutnya adalah nggak kepikir buat bawa sopir cadangan, tapi berani bawa keluarga! Nah inilah kasus bonek yang pertama dengan kadar lumayan berat.

Walaupun akhirnya selamat sejahtera sampai di tujuan dan kembali ke homebase di Karawang, namun dari tur jarak 220 km itu, ada sesuatu yang bikin khawatir, yaitu serangan kantuk. Ini bisa membahayakan seisi kendaraan. Bisa bikin “gajah makan kawat”, alias gawat! Karena walau badan bugar pagi hari sehabis sarapan, namun rasa kantuk seringkali menyergap. Bisa jadi karena di dalam usus sedang mencerna ya. Si Kantuk biasanya datang perlahan dengan intensitas semakin meninggi. Pada titik tertentu, kadang hanya sedetik, hilang kesadaran itu. Itulah sedetik yang berbahaya.

Ujian terberat sebagai driver pemula adalah saat touring ke Probolinggo, Jawa Timur, tanah air kedua. Mudik. Probolinggo yang berjarak lk 900 km dari Karawang itu adalah tanah kelahiran nyonya. Sudah dua tahun tidak pulang kampung, jadinya sang permaisuri kangen berat dibuatnya.

Lalu, bagaimana kiatnya?

Karena praktis baru bisa mengendarai mobil selama 6 bulan. Jam terbang (emang pesawat?) yang belum begitu lama. Masih ada saja yang belum pas. Salah satunya belum begitu mahir dalam menangani tanjakan, apalagi macet di tanjakan. Masalahnya tidak ada penumpang lain yang bisa nyopir. Nyonya masih gemeteran kalau pegang setir, yang lain masih anak-anak.

Tapi, walaupun kembali ketularan virus bonek (apa karena sempat 11 tahun menetap di Jawa Timur ya?) tapi harus jadi bonek yang cerdas dan terukur, he he. Artinya tidak asal berangkat. Wah…. gawat kalau asal berangkat begitu, bagaimana dengan penumpang di belakang? Semuanya adalah masa depan, pelanjut generasi. Apalagi ada Sang Permaisuri. Saya ingin ia nyaman di jok depan, disamping sang pangeran, layaknya seorang nyonya besar atau permaisuri. Lagi pula ini kali pertama touring pulang kampung bawa mobil sendiri. Jangan sampai pengalaman pertama adalah pengalaman yang membuat trauma. Apa kata dunia?

Maka, langkah yang diambil adalah : pertama, bertanya pada ahlinya mesin. Banjir saja ada ahlinya, apalagi mesin, betul? Maka saya minta seorang teman yang faham mesin buat mengecek kondisi Si Macan. Hasil analisisnya: mobil oke, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya manfaatkan juga buat minta diajari pedoman umum penanganan mesin. Maklum, ganti ban saja belum pengalaman.

Kedua, memastikan kondisi mesin dan kelengkapan mobil dalam keadaan baik: segi tiga keamanan, dongkrak, toolkit, ban cadangan, kelistrikan dan lampu-lampu. Untuk kaki-kaki saya ganti Ball-Joint dan Tie-Rod, karena sudah rusak saat keluar dari genangan banjir besar Karawang, April 2010 lalu. Saat itu sekeluarga hendak evakuasi keluar komplek perumahan, pada saat mobil belok di tengah genangan banjir terdengar suara krek dari bagian roda depan. Sejak saat itu, bila membawa beban agak banyak, setir terasa berat saat belok. Sebelumnya dua ban depan diganti dengan yang gress, sekalian di spooring 3 dimensi. Untuk memastikan kondisi mesin dan olie, maka saya tune-up dulu sekalian ganti olie. Minyak rem dan power-steering semuanya dikuras.

Ketiga, Memahami rute dan panduan perjalanan. Ini wajib, karena saya singel-fighter selama pulang pergi menelusuri jalan lintas pulau Jawa sejauh lebih kurang 900 km itu. Walaupun pernah melewati rute yang sama, dua tahun lalu, tapi statusnya adalah penumpang, maka tetap saja ada perasaan cemas, dan agak gugup kalau bawa mobil sendiri.

Caranya, saya print peta jalur yang akan dilalui, kemudian diberi tanda. Sumbernya dari Google-Maps. Disamping itu, sebelumnya sudah lebih dahulu mencoba salah satu fitur terkini dari ponsel Nokia E71 yaitu fitur GPS yang berbasis OVI-maps. Saya up-date juga aplikasi GPS-nya sehingga bisa mengeluarkan suara pemandu digital dalam bahasa Indonesia. Uji cobanya saat pulang pergi berangkat kantor dari Jababeka, Bekasi ke Karawang, melalui Kalimalang dan Kota Delta Mas, sinyal GPS sangat stabil. Kemudian dicoba ke daerah Bantarjaya, Kecamatan Pebayuran, Bekasi, menyusuri pinggir tanggul Sungai Citarum, sinyal GPS tetap stabil. Walaupun sinyal dari operator GSM kadang melemah. Pengalaman, hanya perlu deposit pulsa saja. Setelah berlangganan internet dulu untuk sepekan, asal ada saldo pulsa, akses GPS tidak memakan saldo pulsa.

Keempat, untuk kenyamanan anak-anak, ruangan belakang mobil disetting menjadi tempat tidur yang cukup aman dan nyaman. Caranya dengan menyusun barang bawaan, jok belakang, dan bantal yang biasa dipake tidur sehingga berfungsi jadi tempat tidur dadakan. Saya tidak ingin anak-anak mengalami stress di perjalanan, menangis dan membuat keributan di dalam mobil, karena bisa mengganggu konsentrasi.

Hanya saja, karena banyak yang harus dibereskan dan disiapkan, ada satu hal krusial yang belum sempat dikonsultasikan, terutama bagaimana cara terbaik melawan rasa kantuk itu. Ini adalah musuh bebuyutan paling berat. Kasus kantuk saat menempuh rute Karawang Kuningan yang berjarak 220 km itu membuat saya agak cemas. Sayangnya, sampai hari H berangkat lupa konsultasi. Hanya mengupayakan fisik yang fit saat berangkat. Juga cukup istirahat. Setahu saya baru itu cara mengatasinya.


Saatnya touring

Akhirnya, dengan segala doa…bismillah, tanggal 1 Juli 2010 sekeluarga, ditambah satu keponakan mahasiswa IPB, Bogor, yang kebetulan pulang kampung, berangkat tepat pukul 13.00 menuju ke arah timur.
Rute pertama adalah Karawang- Ngawi. Kami bermaksud mampir di Mantingan karena ada adik ipar yang sedang menuntut ilmu di Pesantren Gontor Putri I.

Rute pertama Karawang Ngawi dapat ditempuh dengan selamat sejahtera. Berangkat 1 Juli jam 2 siang, sampai Ngawi jam 7 pagi hari berikutnya. Berarti total 19 jam. Normal sebenarnya sekitar 15 jam, karena terkendala macet di Ciasem dan Tegal karena jalan sedang diperbaiki menjelang lebaran, jadilah dapat bonus 4 jam. Lumayan sih, keselnya…

Syukurlah, rute pertama dapat dilalui dengan lancar. Ada 11 kota yang dilewati. Kami menempuh jalur pantura hingga Semarang, kemudian belok kanan melalui Ungaran, Boyolali, Salatiga, Solo, Sragen dan sampailah di Ngawi. Perasaan saya, alhamdulillah, tetap tenang dan tidak cemas, terutama karena tidak perlu bingung sedang berada di posisi mana sehingga harus turun bertanya kepada orang asing di pinggir jalan, atau memicingkan mata buat membaca kata-kata di papan nama untuk tahu sedang ada di kota mana. Hanya sedikit tegang saat melewati jalur Batang Kendal yang cukup panjang dan melewati hutan, waktunya juga sudah tengah malam. Itu semua karena sinyal GPS yang stabil sepanjang jalan. Dengan setting tempat tidur dadakan di belakang, anak-anak masih dapat menikmati waktu tidurnya. Tidak ada tangisan dan keributan berarti. Sopir tenang, penumpangpun nyaman.

Kendalanya kembali ke rasa kantuk itu, maka untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan saya sempatkan berhenti beberapa kali : di Indramayu, Brebes, Boyolali dan Sragen. Intervalnya rata-rata 4 jam. Rupanya itu batas kemampuan manusiawi saya berhadapan dengan rasa kantuk.

Rute kedua adalah Ngawi- Probolinggo. Jalanan yang mulus dan pemandangan hijau hutan Caruban cukup menghibur selama perjalanan. Sempat ada insiden kecil berserempetan kaca spion dengan motor di jalanan kota Ngawi. Beruntung pengendaranya tidak jatuh, hanya sedikit oleng. Sebabnya, saya berupa menjaga agar tidak melewati garis pembatas tengah yang tidak putus-putus, itu tanda tidak boleh dilewati, padahal jalan agak sempit. Di sebelah kiri rupanya ada motor agak terlalu tengah, dan terjadilah salaman spion itu. Selain karena berusaha untuk menjaga kedisiplinan di jalan raya, saya mendengar Pak Polisi di jalur itu terkenal disiplin, susah untuk diminta toleransi. Kalau ada yang tergoda atau tidak sengaja melewati garis tengah itu, dijamin di priit, ditilang.

Di sepanjang rute ini, saya sempatkan berhenti dua kali, di Nganjuk dan Pasuruan. Disamping karena rasa kantuk yang mulai datang, juga saatnya sembahyang. Aktivitas ini tidak boleh ditinggal, sekaligus memberi pelajaran kepada anak-anak, bahwa ibadah harus tetap dijaga dalam kondisi apapun. Di Pasuruan saya sempatkan berhenti lagi, di sana bahkan saya benar-benar bisa tertidur pulas, walau hanya setengah jam. Lumayan, mata jadi fresh lagi. Akhirnya jam 11 malam sampai juga di tanah air kedua, Probolinggo. Tepatnya di desa Jabung Sisir, Kec. Paiton, jaraknya kira-kira 40 km dari Kota Probolinggo arah ke timur, atau 10 km sebelum PLTU Paiton.


Menemukan Obat Manjur Penawar Kantuk

Rupanya Yang Kuasa begitu penyayang, rasa khawatir saya tentang rasa kantuk akut itu ternyata bisa terobati. Secara tak sengaja menemukan penawarnya saat pulang ber-snorkling- ria dari wisata pantai Pasir Putih Situbondo. Saat itu rasa kantuk segera menyergap begitu sampai di kota keresidenan Besuki, padahal jaraknya cuma 20 km saja dari lokasi pantai. Artinya perjalanan baru sekitar 20 menit. Kemungkinan sebabnya adalah lelah sehabis berenang yang dikombinasikan dengan perut kenyang setelah makan. Di sebuah minimarket pinggir jalan, saya hentikan mobil, istirahat dan beli camilan. Tanpa direncanakan, membeli permen karet, karena minuman energi dan kopi sudah tidak banyak pengaruhnya. Rupanya rasa kantuk kambuhan sudah pada stadium 4, alias parah.

Eureka! ternyata dengan mengunyah permen karet itu, sisa perjalanan pulang Besuki-Paiton sekitar 30 km dapat ditempuh tanpa gangguan kantuk sama sekali. Ini sebuah kejutan yang menyenangkan. Alhamdulillah
Karenanya, saat pulang kembali ke Karawang, Jum’at 8 Juli 2010, delapan hari kemudian, dicoba lagi resep sederhana ini. Hasilnya sungguh terasa. Mata jauh lebih segar. Bahkan rute Probolinggo-Ngawi yang 8 jam itu dijalani hampir tanpa istirahat. Sampai tulisan ini dibuat, rute tersebut masih rekor jarak terjauh sekali jalan atas nama sendiri, he he. Praktis, hanya berhenti sebentar di Pasuruan untuk mengisi BBM. Selebihnya ngacir tanpa henti.

Begitupun rute Ngawi Jogja Kebumen Banyumas- Purwokerto-Bumiayu-Brebes dapat ditempuh dengan tenang, walaupun melewati jalur Banyumas- Prupuk-Brebes yang gelap berkelok dan belum pernah melewati sebelumnya. Walaupun tentu harus berhenti untuk istirahat dan sembahyang, intervalnya juga sekitar empat jam. Tetapi yang penting hati sudah jauh lebih tenang karena kekhawatiran serangan kantuk mendadak yang bisa berakibat fatal sudah jauh berkurang. Kombinasi permen karet dan GPS benar-benar membuat rasa percaya diri driver pemula bisa naik berlipat-lipat.

Akhirnya, pak sopir baru menyerah ketika sudah melewati Bakrie Tol-Road di Pejagan, Brebes. Rupanya kombinasi perut penuh saat di istirahat di Wangon-Banyumas, konsentrasi penuh di jalur Prupuk dan disambung lurusnya jalan tol Pejagan, dan memang waktunya tidur saat jam normal, sukses membuat kantuk kembali menyergap. Di sana bisa istirahat dan tidur di jok, di area istirahat jalan tol arah Cirebon, sekitar 20 menit. Dari situ jadi maklum kenapa sering dijumpai truk bergelimpangan di pinggir jalan tol. Biasanya kalau tidak karena ban pecah, ya karena serangan kantuk. (Andai mereka tahu manfaat permen.. ) Biasanya pak sopir itu mengusir kantuknya dengan merokok. Padahal ini cara yang tidak sehat, bukan?

Setelah mampir bermalam di Kuningan, besoknya Sabtu, 9 Juli 2010 diputuskan untuk menempuh jalur alternatif Kuningan-Rajagaluh-Majalengka-Kadipaten-Subang-Cikampek-Karawang. Tujuannya menghindari kemacetan akibat perbaikan jalan di daerah pantura Subang itu. Selain itumemang ingin mencoba jalur itu. Sekaligus menambah fortofolio pengalaman nyopir, he he. Setelah menempuh jalanan berkelok melewati perkebunan dan disana sini masih dalam perbaikan, sampai juga di titik start awal, di Kota Karawang, Kota Pangkal Perjuangan. Tanah air ketiga.

Terima kasih ya Allah atas karunia dan penjagaan-Nya.

Comments

Popular posts from this blog

PANGGUNG SALMAN DI PENGHUJUNG TAHUN

HARU BIRU PUTIH BIRU

MUTASI PONTI