Thursday, November 22, 2012

Nasib Hafalan Quranku



Pekan kemarin saya menjumpainya lagi. Untuk ke sekian kalinya. Sebuah raka'at yang cukup panjang. Di shubuh itu Sang Imam membaca surah Ar Rahman di rakaat pertama. Dan itu seluruh surat, dengan jumlah ayat 78!

Hmm..sebuah keistimewaan tersendiri. Karena itu terjadi di masjid perumahan. Biasanya rakaat panjang begini adanya di pondok tahfidz atau yang ada ma'had dirosat. Yang ma'mumnya rata-rata anak mahasiswa atau santri. Saat dulu di Kampus STAN saja, imam masjid Baitul Maal (MBM) paling banter surat Ar-rahman itu selesai dalam dua rakaat.

Tak hanya surat Ar Rahman, Sang Imam yang ketua DKM itu kadang membaca surat Al Mulk (30 ayat). Pernah juga surat Al Hujuraat (18 ayat). Durasi pembacaan suratnya yang panjang berhasil membuat posisi beberapa ma'mum yang bergerak tanda pegal.

Respon ma'mum tentu beragam. Dari obrolan antar tokoh lokal di sana, cenderung kurang berkenan. "Terlalu panjang" katanya. "kasihan ma'mumnya yang ada keperluan" Sahut yang lain. "itu mah egois!" kata yang lain dengan nada sedikit kurang suka. Tapi saya belum pernah dengar keluhan dari jamaah yang bukan tokoh. Mereka iya saja. Tidak ada yang protes. Terbukti jumlah jamaah shubuhnya sendiri relatif stabil. Rata-rata empat shaff. Sekitar 60 orang. Kalau shalat maghrib malah meluber ke luar. Masjid Blok T memang relatif makmur.

Nasib Hafalan Quranku....

Saya jadi teringat hafalan Qur'an yang teramat sulit menjaganya. Bahkan cenderung berkurang (astaghfirullah). Saya cek sisa hafalan hasil kuliah dulu malah banyak yang terbang. Memanggilnya lagi ternyata teramat sulit. Kalau berpegang pada prinsip hari ini harus lebih baik dari kemarin, mestinya kan bertambah. Ternyata saya termasuk yang merugi.

Beruntung, sekitar dua pekan kemarin ada Ustadz Ubaidilah, pengasuh Yayasan Bina Ukhuwah Karawang yang sharing tentang kiat menghafal Qur'an. Beliau memang telah berkomitmen untuk mensyi'arkan tahfidz Qur'an di Karawang melalui ma'had Bina Ukhuwah-nya. Beliau menyampaikan tips sederhana untuk menghafal Qur'an. Tehnik paling dasar. Ternyata, kalau mau mempraktekan tehnik paling dasar menghafal Qur'an ini, sepertinya bukan Hil yang Mustahal bagi kita para orang tua untuk mulai menghafal Qur'an (lagi). Walau tak bisa secepat dan sebanyak santri pondok tahfidz, tapi setidaknya bisa kita coba.

Tips ini kemudian dicoba pada kajian kelompok pekanan yang saya kelola. Pesertanya para orang tua juga. Dipilih surat yang belum hafal, surat Al Waqi'ah. Sebanyak lima ayat atau dua baris saja. Durasi menghabiskan waktu 20 menit. Kemudian pada pertemuan pekan berikutnya dievaluasi. Kebetulan saya belum sempat melakukan pengulangan diantara hari-harinya . Hasilnya, hanya ayat ke-5 yang "hilang". Lainnya Alhamdulillah, bisa nempel.  Berikut teknisnya. Dilakukan berurut dari atas ke bawah:

- ayat 1 dibaca 10x. Dibaca bersama-sama.
- masing2 peserta diminta membaca tanpa teks ayat 1 tsb secara bergiliran
- ayat 2  dibaca 10x. Dibaca bersama-sama.
- masing2 peserta diminta membaca tanpa teks ayat 2 tsb secara bergiliran
- ayat 1-2  dibaca 10x. Dibaca bersama-sama.
- masing2 peserta diminta membaca tanpa teks ayat 1-2 tsb secara bergiliran
- ayat 3  dibaca 10 x. Dibaca bersama-sama.
- masing2 peserta diminta membaca tanpa teks ayat 3 tsb secara bergiliran
- ayat 1-3  dibaca 10 x. Dibaca bersama-sama.
- masing2 peserta diminta membaca tanpa teks ayat 1-3 tsb secara bergiliran
- ayat 4 dibaca 10 x. Dibaca bersama-sama.
- masing2 peserta diminta membaca tanpa teks ayat 4 tsb secara bergiliran
- ayat 1-4  dibaca 10 x. Dibaca bersama-sama.
- masing2 peserta diminta membaca tanpa teks ayat 1-4 tsb secara bergiliran
dst...

Mungkin ada yang punya rumus lebih canggih dibanding cara di atas. Cara yg saya coba memang cara paling manual. Paling primitif. Tapi barangkali ini yang kita lupa. Bahwa otak kita untuk bisa mengingat sesuatu mesti harus harus diulang-ulang terlebih dahulu stimulusnya ke otak kita. Kecuali satu kejadian luar biasa yang melibatkan emosi. Bisa jadi sekali kejadian bisa ingat seumur hidup. Tapi ketika deretan huruf yang harus dihafal, memang harus dikembalikan ke rumus dasar di atas; dengan pengulangan yang banyak.

sumber:internet
Sepertinya memang tidak ada jalan pintas untuk menghafal Qur'an. Semuanya butuh mata uang yang sama: kesabaran.Walaupun ada metode efektif seperti yang pake istilah "quantum-quantum" itu. Tapi tetap saja butuh fokus. Nah, bagi kita yang sudah terlanjur tidak fokus, memakai cara paling primitif di atas memag paling masuk akal. Setidaknya kita tidak meninggalkan sama-sekali upaya menghafal Qur'an ini. Ini ikhtiar kita agar terhindar dari umat yang meninggalkan Qur'an. ( baca surat Al Furqan ayat 30)

Kemudian, cara diatas  sepertinya memang pas bagi kita yang supersibuk (anggap saja begitu). Diasumsikan bahwa waktu demikian padat dengan agenda.Sehingga waktu untuk menghafal menjadi sulit. Adanya ya waktu pengajian pekanan itu yang memang sudah jadi agenda rutin. Jadi sifatnya meng-efektif-kan yang sudah ada dengan menyisipkan program hafalan Qur'an. Agar tidak ada lagi  alasan tidak punya waktu.


Bagaimana pendapat Anda?

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...