Wednesday, December 5, 2012

The People Who Shape My Life # 2 : Haji Udin




KH Udin Syaefudin

Suara lelaki itu terasa akrab benar di telinga. Logatnya Sunda. Guyonan dan  celetukan mengena dan  jenaka. Tapi sarat makna.  Walau sudah jarang sekali mendengar  pituturnya, tapi rasa dekatnya tak sirna. Tapi paling tidak  saat lebaran atau pulkam ke Kuningan, masih bisa menikmati sapa dan senyumnya. Sosoknya yang mungil itu kini  nampak sudah sepuh. Walau begitu semangatnya tidak berubah apalagi sirna. Juga rasa humornya. Tak heran kalau ia begitu lekat di hati santri dan warganya .

Ceramahnya pada pernikahan adik bungsu saya di Bogor siang itu membawa pikiran mengembara ke masa lalu. Ke saat duduk bersila mendengar bandungan di mushola Al Makmur. Sebuah mushola di tengah komplek pesantren Al Makmur. Di desa Cipondok yang indah nan sejuk. Ya, itu di Kuningan, kota kelahiranku.

Sosok itu memang istimewa. Ia salah satu orang yang mempengaruhi hidup saya. A man who shape my life, kata orang sononya. Namanya rada mirip nama saya. Ada “udin”nya. Tapi ia jauh dari sosok “udin sedunia” yang suka  narsis dan mengolok-olok nama. Udin yang ini begitu teduh dan bijaksana. Alim nan berwibawa.  KH Udin Syaefudin, itulah nama lengkapnya. Banyak panggilannya. Kadang “Mang Haji Udin”, ini panggilan para tetangga. Ada“Akang, ini sebutan para santri di lingkungan asrama. “Pak Haji Udin”, oleh  warga luar pondok, atau sebagai sapaan agak resminya.

Sejak  kelas 1 SMP saya mulai nyantri kalong bareng beberapa teman. Awalnya  ikut-ikutan. Kebetulan salah satu putra beliau adalah teman SD saya seangkatan.  Santri kalong ini  istilah untuk santri yang tidak nginap, atau hanya ikut beberapa kegiatan. Hanya ikut “sorogan” sama “bandungan”. 

Sorogan adalah istilah untuk membaca kitab kuning dan tarjamahnya yang  didiktekan. Satu per satu dibaca dan diikuti secara bergantian. Posisinya berhadap hadapan antara santri dan ajengan. Bagi saya justru inilah momen belajar paling berkesan.  Ada momen manusia dalam keintiman Ada yang pake bahasa jawa, ada yang pake bahasa pasundan. Saya pake yang bahasa Sunda, karena merasa lebih nyaman. Sedangkan bandungan adalah mendengar ulasan kitab kuning, semacam sema’an. “Faslun, ari ieu hiji pasal”, inilah kalimat yang pasti dikenal oleh alumnus santri kalong yang pernah ikut sorogan. 

Para santri kalong sendiri biasanya berasal dari anak-anak sekitar pesantren. Asal mau datang saja. Seingat saya tanpa ada biaya sepeserpun. Adapun santri yang mondok kebanyakan dari wilayah Ciamis dan wilayah Kuningan bagian selatan, seperti kecamatan Subang. Salah satu alumninya ada yang menikah dengan adik saya. Jadi adik ipar.

Saat-saat  nyantri kalong itulah saya berinteraksi dengan Haji Udin. Interaksi yang dekat dan berbekas. Berupa ilmu agama.   Saya jadi sedikit tahu fiqh ibadah dan kitab hadits. Pada sorogan pagi yang dibaca adalah kitab safinatun najah. Siangnya bandungan kitab sulamut-taufiq atau Tanbihul Ghafilin. Kalau hari Ahad pagi kadang ikut bandungan yang membahas kitab Riyadus Shalihin, kitab kumpulan hadits. Kadang taqribul ibaad atau ta’lim muta’alim. Kalau malam jum’at ada acara pemacaan kitab Barjanji secara  bersama-sama dan berirama.

Dari nyantri kalong itu saya jadi sedikit tahu dunia pesantren zaman itu. Yang masih tradisional. Selain mencicipi sorogan dan bandungan, saya jadi tahu budaya ngaliwet khas para santri itu. Mengenal hidup apa adanya di asrama pondok saat jauh dari orang tua. 

Salah satu yang membuat saya senang adalah gaya bertutur Haji Udin yang enak didengar. Saya sampai punya ukuran kalau ceramah yang bagus itu ya ceramahnya Haji Udin. Yang lain mah, lewaat... ^_^.  Dari situ saya menyadari betapa pentingnya kemampuan publik speaking yang bagus bagi para da’i. Itulah saat nasihat  sampai ke hati.  

Berbekal ilmu dari nyantri kalong itu, saya jadi pede saat SMA ada pesantren kilat. Saat diskusi mentoring adalah saat favorit. Di situ saya bisa sedikit berargumen. Walaupun kalau diukur dari standar keilmuwan, tentu pemahaman saya masih amat sangat jauh. Tapi setidaknya di situ saya jadi menemukan semangat. Ada konfiden saat ngomong keislaman. Saya mulai merasakan ada keasyikan di sana. Maka, kalau saya kemudian masuk rohis SMAN 2 Kuningan, sempat aktif di Remaja Masjid dan kemudian “kecebur”  di halaqah-halaqah tarbiyah, itu semua berawal dari interaksi dengan Haji Udin ini. Interaksi yang membawa hidayah. 

Maka, sudah seharusnya saya harus menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada beliau, dan umumnya kepada para kyai di berbagai pelosok tempat yang begitu sabar dan telaten membimbing santri dan ummatnya. Dengan ilmu dan tausiyah. Dengan pitutur yang membimbing langkah.  Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang semulia-mulianya, sebesar-besarnya. Aamiin...

Karawang, awal tahun 2012

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...