Sunday, February 24, 2013

Ustadz Koq Nyanyi?




Salah satu yang saya kagumi dari ustadz-ustadz di Jawa Barat ini adalah banyak ustadz yang “nyeni”. Grup Nasyid Shoutul Harokah adalah kumpulan Ustadz yang tidak lagi muda. Tetapi, jiwa seninya tidak luntur dimakan usia. Ustad Hilman Rosyad yang rambutnya sudah berubah banyak masih bisa jingkrak-jingkrak. Ustadz Taufik Ridho yang kini jadi Sekjen PKS menggantikan Anis Matta juga bisa tampil sebagai munsyid dengan energiknya.. 

Syair nasyidnya juga mengugah. Tanpa harus melenakan. Lihat saja nasyid terbaru Shoutul Harokah bertajuk “Hadapilah”. Lirik Nasyidnya begitu pas dengan suasana saat nasyid ini diluncurkan. Simak saja liriknya :


walau hujan badai kan terus melanda
walau amuk gelombang tak henti menerjang
walau terang mencegah, walau mentari kan membakar
jangan letih menapaki kehidupan

ujian bagaikan terik sinar sang surya
hadir kedunia bersama berjuta karunia
janganlah bertekuk lutut dalam pelukan putus asa
janganlah bersimpuh dihadapan duka

hadapilah segala tantangan
sambutlah harimu dengan suka cita
hadapilah segala ujian 
dalam kesulitan pasti ada kemudahan

Nasyid ini kalau tidak salah dengar adalah ciptaan ustadz Tate Komarudin, Lc ketua DPW PKS Jawa Barat. Saya bertanya-tanya, kapan ustadz-uztadz ini menciptakan lirik dan irama yang indah, dan berlatih nasyid? Padahal mereka orang-orang super sibuk.  Saya jadi punya kekaguman khusus terhadap beliau-beliau ini.

Karya seni adalah sebuah pencapaian. Akumulasi dari olah rasa, olah fikir, dan pengalaman amal nyata. Dalam Islam ada tiga pilar untuk bisa dikategorikan sebagai seni Islami : Benar, baik dan indah. Benar artinya tidak melanggar kaidah syar'i. Baik, artinya tidak melanggar nilai-nilai kemanusiaan, serta memberi dampak positif baik bagi pelaku maupun penikmat seninya. Sedangkan indah adalah memenuhi aspek estetika.

Seni selalu berjalan seiring dengan perjalanan hidup manusia. Tak bisa dipisahkan. Bahkan Allah sendiri menyukai keindahan. Allah sendiri memang Maha Indah. Lihat saja ciptaan-Nya yang begitu indah. Apalagi Sang Pencipta-nya!

Seni bila dijadikan sarana dakwah akan menjadikan dakwah menjadi indah. Karena terjadi keseimbangan pesan yang diterima otak penerima pesan dakwah. Jika terkait konten pesan yang berupa tauhid maupun kumpulan perintah dan larangan adalah konsumsi otak kiri. Maka seni dakwah akan diterima oleh otak kanan penerima.

Pengalaman saya dulu saat mulai mengenal dakwah saat di bangku SMA, merasakan ada gairah dan semangat berlipat saat menikmati keindahan seni dakwah dipentaskan diantara acara ceramah dan diskusi. Jadinya, saya merasa betah berada di acara pesantren kilat Ramadhan selama dua pekan full. Juga menikmati betul acara Maulid Nabi Muhammad saw waktu di SMA dulu.

Syiar dakwah seperti peringatan maulid memang akan terasa "lezat" kalau dimeriahkan dengan ekspresi seni. Baik dalam indahnya dekorasi tempat, pentas seni, iringan lagu maupun keteraturan acara. Bayangkan kalau acara Maulid nabi hanya ada acara tunggal : ceramah agama. Bisa dibayangkan keringnya suasana.

Para da'i pun selayaknya mengemas pesan yang disampaikan dengan sentuhan seni. Tapi bukan berarti seorang da'i harus bisa menyanyi. Tapi mengemas pesannya dengan indah.  Jangan kalah sama Bung Karno yang jadi legenda! Ia melegenda salah satunya tak lepas karena orasinya yang sangat bagus! enak di dengar dan menggugah. Seni pidato di atas panggungnya begitu indah memikat. Maka pesan pesan Bung Karno yang kaya makna itu semakin masuk ke benak audien dengan gaya orasinya yang memukau. 
Karena pesan biasa dan sudah kita hafal dan didengar berulang-ulang, akan nyaman kembali kita dengar kalau cara penyampaiannya memikat. Ceramah ustadz Zainudin MZ contohnya. Tak lekang dimakan zaman.

Tetapi memang ada porsinya. Mengedepankan kemasan tanpa isi, berarti dakwah sudah berubah jadi hiburan semata. Tetapi isi pesan dakwah tanpa kemasan yang  baik sulit diterima penerima pesan dakwah itu sendiri. Padahal dakwah adalah tentang komunikasi. Dan, komunikasi itu adalah "apa yang diterima", bukan "apa yang disampaikan". Saya kadang suka menjumpai tulisan yang sekedar menyampaikan pesan. Kemudian diakhir tulisan ditutup dengan "Yaa Allah, Saksikanlah, saya sudah menyampaikan!". Padahal ini disampaikan Sang Nabi pada penghujung hayatnya, saat segala upaya dakwah sudah dijalankan.



Kemudian, memberdayakan insan seni agar terlibat memaksimalkan dakwah adalah agenda penting disamping dakwah itu sendiri. Nah, kalau bicara konteks ke-Karawang-an, saya jadi ingat beberapa kawan yang punya bagus dibidang seni, namun mereka seperti daun-daun yg berserakan. Seperti puzzle yang terpisah-pisah. Padahal potensi dahsyat-nya bisa meledak dan getarannya terasa hingga ke seluruh pelosok Karawang (dramatis.com). Diantaranya :
 
- Dalang yg sudah diakui kedalangannya oleh sesepuh dalang Karawang :  Endang Mulyana
- Drummer handal : Eko Wahyudi
- Pianis handal : Dhika Oulson
- Gitaris : Ridwan visioner
- Grup perkusi : SAKA Band Sekolah Alam Amani , ada juga binannya Kang Sudiyoso, Tirtajaya
- Grup Nasyid Acapela : SMPIT Al-Hasanat
- Grup Angklung : SMPIT Mentari Ilmu
- Vokalis senior : Ridwan Visioner, Dede Arif Rahman cs
- Seniman komik : Putrinya pak Omo
- Seniman sastra : Dika Pratama Cs di Forum Lingkar Pena Karawang
- de el el

Sekian dulu ya, mari berkontribusi untuk dakwah, berkontribusi untuk kemanusiaan...!

Karawang, Pebruari 2013


No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...