Monday, April 29, 2013

Hijrah Qolbiyah


Oleh : Ust. Drs. Uri Mashuri




“Orang yang hijrah itu adalah mereka yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah” Al-Hadist.

Kenyataan yang kita hadapi

          Rasanya deraan musibah yang menimpa negri ini tak kunjung usai hampir setiap hari kita dijejali berita-berita yang menyesakkan dada kita, baik bencana alam atau bencana-bencana kemanusiaan Karena ulah manusia: longsor, banjir, banjir bandang, kecelakaan lalu lintas, kekerasan demo yang beringas, bentrok tawuran, pelanggaran hukum, keputusan hakim yang aneh, semua itu memunculkan pertanyaan ada apa dengan negeri tercinta ini.

Perhiasan Negeri

          Jauh dilubuk hati kita, setelah negeri ini merdeka lebih dari 60 tahun, ada impian negeri ini menjadi negeri ayem tengtrem loh jinawi. Rakyat menikmati kehidupan yang layak, subur, makmur, tentram lahir bathin.

          Nabi menggambarkan sebuah negeri bisa seindah taman bila didalamnya ada 5 perhiasan :

·      Berperannya para ulama dan cendekiawan, dengan ilmunya mereka membimbing dan mengarahkan rakyat disertai keteladanan untuk membangun manusia yang berkarakter agar mampu membangun dirinya, keluarganya dan masyarakatnya.

·    Adilnya para penguasa yang ditandai dengan kecintaan yang tulus dari para pemegang amanat, mereka akan melaksanakan tanggung jawabnya dengan senantiasa menggariskan kebijaksanaan yang tepat bekerja dengan baik dan benar.

·   Para pelaku bisnis yang jujur, yaitu para pengusaha atau pedagang yang senantiasa menjunjung tinggi kejujuran dan kebaikan, jauh dari kecurangan, kedhaliman serta manipulasi. Mereka menjaga keharmonisan hubungan dengan para karyawan.

·     Disiplin para karyawan. Ada jutaan diantara kita yang menjadi buruh atau karyawan yang mengabdikan dirinya baik ilmu, tenaga, dan keterampilannya pada perusahaan pada tempat dia bekerja. Ketidakdisiplinan karyawan akan membuat berantakan semua perencanaan, pemborosan serta risiko yang mesti ditanggung serta kerugian-kerugian yang tidak dapat dihitung dengan ukuran materi.

·    Sikap yang penuh pengabdian - ibadah – dari anggota masyarakat, dengan suasana marhamah jauh dari serakah, sombong dan iri dengki.

Bila itu terwujud tergapailah apa yang disebut  Baldatun thoyibatun wa robbun ghofur.

Langkah kongkrit

         Gamabaran negeri seperti diatas merupakan impian yang mesti kita wujudkan, kenyataan yang kita hadapi adalah para cendekiawan yang sombong, yang minteri, dan menjadi pelacur-pelacur intelektual yang cuma mengejar materi dengan berbagai cara. Penguasa yang jauh dari rasa adil karena politik yang dianut mereka bukan politik yang berpihak pada mensejahterakan rakyat. Tapi memegang prinsip bagaimana memperkaya diri dan keluarga. Para wakil rakyat tidak lagi memperjuangkan nasib para pemilihnya tapi berjuang untuk menambah penghasilan untuk dinikmati dirinya dan keluarganya.

Pantaslah kalau Kahlil Gibran pernah menyatakan :

“Yang merusak negara bukanlah mereka yang suka menanam, bukan mereka yang suka menenun, bukan pula mereka yang suka menjala yang merusak negara adalah mereka yang menjadikan politik sebagai mata pencaharian.” 

Pedagang atau pengusaha yang terlihat dimata mereka hanya keuntungan semata, mereka bersemboyan jujur membawa hancur, agama tidak perlu dibawa dalam urusan perdagangan, kita bisa membayangkan akan seperti apa jadinya bila mana pelaku bisnis jauh dari moral dan etika.

         Disiplin di negeri ini merupakan cerita kemewahan, karena disiplin merupakan barang langka di negeri yang terkorup didunia ini, pegawai negeri yang santai, peraturan yang tidak ditegakkan, undang-undang yang tidak dipatuhi, sikap karyawan dan karyawati yang ingin dilayani bukan melayani masyarakat sangat memperburuk krisis yang kita alami.

         Masyarakat yang diharapkan marhamah-yang penuh kasih sayang yang kita jumpai adalah masyarakat yang jauh sari santun mudah marah, kadang-kadang beringas. Kalau melanggar norma tak lagi merasa malu bersalah apalagi takut semua dianggap lumrah.

         Kita harus berubah, kita harus memperbaiki perilaku, jiwa dan rohani kita harus kita tata kembali agar yang muncul karakter yang mulia.

Ibadah shalat bukan hanya jungkal-jungkel tapi harus mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar,

shaum bukan hanya menahan lapar tapi membekas di jiwa agar nafsu dibawah kontrol akal dan iman, hati-hati setiap langkah yang diambil sebagai ekspresi dari ketakwaan kita.

Zakat diharapkan bukan demonstrative menyerahkan harta pada yang berhak menerima tapi menjadi sikap dan watak peduli serta solidaritas sosial sebagai kebangkitan kesadaran hidup bermasyarakat.



Adapun ibadah haji diharapkan mampu membawa perubahan radikal dalam diri, sehingga terwujud manusia robbani yaitu manusia yang senantiasa melandasi hidup dengan petunjuk Allah.

Qurban di idil adha yang baru kita lewati diharapkan kita mampu menyembelih sifat hewani yang melekat di diri kita sehingga mampu mengubah keakuan menjadi kekitaan. Langkah-langkah itu hanya bisa kita tempuh dengan kemauan dan kesadaran yang tinggi.

Hijrah Hati

         Kita yakin bahwa fitrah manusia asalnya baik dan menyukai kebaikan, termasuk masyarakat kita yang tengah carut-marut seperti yang sekarang ini. Hanya dengan kesadaran dan kemauan yang keras kita bisa keluar dari kondisi yang sangat memprihatinkan ini. Perubahan kearah yang baik atau lebih baik ini dalam bahasa agama di sebut hijrah. Merujuk pada perjalanan kehidupan Nabi yang berpindah dari negeri mekkah yang penuh kemusyrik menuju Yatsrib atau maddinah sebagai negeri harapan yang penuh cahaya peradaban.

         Tak adalagi hijrah (fisik) setelah tahun ini” itu sabda Nabi untuk memperluas cakrawala umat islam, hijrah bukan hijrah fisik, tapi yang utama adalah hijrah hati tertanam kecintaan dalam hati pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan, tertanam pula ketidaksenagan pada kefasikan  dan kemaksiatan itulah hijrah hakiki yang mesti kita tempuh.

Sikap dan perilaku itulah yang dipakai khalifah kedua Umar bin khatab dengan pernyataannya : “Hijrah itu pembeda antara yang hak dengan yang bathil”. Itu pula yang dijadikan alasan hijrah merupakan titik awal perhitungan tahun dalam Islam.

Memang masyarakat Indonesia mesti berhijrah apalagi sinyalemen yang ditulis Wempi Pangkahila (Kompas 5 April 2004) menulis 10 tanda kerusakan moral bangsa kita :

-          Mudah melakukan kecurangan.
-          Menganggap diri paling benar dan hebat.
-          Bertindak tidak rasional.
-          Emosional dan mudah menggunakan kekerasan.
-          Cenderung bertindak seenaknya.
-          Cenderung hidup berkelompok dan berwawasan sempit.
-          Berpenderian tidak konsisten.
-          Mengalami konflik identitas.
-          Munafik.
-          Ingin mendapatkan hasil tanpa kerja keras atau menempuh jalan pintas.


Merasakan itu semua kita berkesimpulan hijrah merupakan suatu keniscayaan.

Wallahu a’lam, Kuningan, Januari  2006.


                                                   

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...