Sunday, April 21, 2013

The People Who Shaped My Life #3 : KH Drs. URI MASHURI



Ust Uri Mashuri saat tahun 1986


Perjalanan hidup seseorang hingga menjadi kondisi sekarang takkan pernah lepas dari sosok-sosok yang ditemui dalam perjalanannya. Bahkan diantaranya amat berpengaruh sehingga menentukan arah hidup ke depannya. Bila menengok ke belakang, masa SMA bagi saya adalah masa pencarian makna hidup. Seperti terminal yang mana arah hidup setelahnya amat ditentukan oleh dinamika dan pencarian itu. Beruntunglah kita yang menemukan lingkungan yang bagus saat proses pencarian itu. Karena betapa banyak yang MADESU (masa depannya suram) karena ketidakberuntungan berada di lingkungan yang negatif. Sehingga terpengaruh dan larut dalam arus pusarannya.

Alhamdulillah saat  masa pencarian itulah saya bertemu lingkungan yang kondusif : SMANDA Kuningan. Sekolah yang bermarkas di Jalan Aruji Kartawinata 16 Kuningan adalah tempat terbaik menurut saya untuk pencarian makna hidup, waktu itu di Kuningan. Betapa tidak, saya bertemu dengan kawan-kawan yang lolos seleksi NEM terbaik. Input terbaik. Walaupun kemudian saya jadi tenggelam di antara gemerlap kepintaran anak-anak pilihan itu, tapi setidaknya tetap mendapat atmosfir kebaikannya. Terbawa arus gelombang kebaikannya.

Di SMANDA saya mengenal budaya Sholat Dhuha yang sebelumnya hanya tahu teorinya. Saat jam istirahat mushola penuh dengan siswa yang shalat Dhuha. Ruku dan sujud yang bergiliran terlihat seperti gelombang. Benar-benar potret ideal paduan antara kepintaran dan keshalehan. Aktivitas akademis dan kerohanian berjalan seiring seirama dengan indahnya. Saling menguatkan. Antara mengejar prestasi akademik dengan keistiqomahan ibadah menemukan gambaran terbaiknya di sini. Menjadikannya sekolah impian. Maka  saya tak terlalu terkejut saat tahun 2012 lalu, peraih nilai UN terbaik se-Indonesia lahir dari sini. 

Salah satu momen berkesan itu adalah saat ada sanlat Ramadhan. Waktu itu GEMMA SI (Generasi Muda Masjid Syiarul Islam) mengadakan Sanlat (pesantren Kilat) selama dua pekan di Masjid Agung Syi'arul Islam, Kuningan. Pesertanya adalah siswa-siswi SMA sederajat dari seluruh Kabupaten Kuningan. Dikoordinir di sekolah, saya jadi salah satu pesertanya.  Tahun itu ada libur pekan pertama Ramadhan. Pekan berikutnya Sanlat dilakukan setengah hari sepulang sekolah. Setelah sanlat usai ada pemilihan pengurus baru GEMMA SI. Jadilah saya anggota GEMMA SI Angkatan XIV yang saat itu ketua terpilih adalah Kang Budiyatna Ginarsa alias Boeggy.

Saat sanlat itulah saya sertemu sosok seorang ustadz rendah hati dan menyenangkan lawan bicara. Ceramah agamanya amat memikat. Baik mendengar langsung maupun via siaran radio. Mudah difahami oleh anak muda seperti saya saat itu.  Sosok kharismatik itu membuka wawasan tentang Islam yang berperadaban modern. Islam yang tak sekedar agama, tapi way of life. Jalan hidup untuk semua zaman. Maka Islam senantiasa aktual dan aplikatif. Komprehensif dan integral. Juga indah. Saya masih teringat kritikan beliau tentang seni Islam yang hanya berkutat di Qasidah.

Ia berhasil memberikan saya dan kawan-kawan yang aktif di Rohis dan Remaja Masjid  sebuah gambaran  Islam yang utuh. Tak sekedar kumpulan aturan yang isinya halal dan haram,  antara yang boleh dan tidak boleh. Serta panduan ibadah.  Ia membawa kita pada  makna Islam dan kepribadian muslim yang sebenarnya. Mengikuti ceramah-ceramahnya semakin menguatkan cakarawala pemahaman waktu itu yang sudah bersentuhan dengan pemikiran Sayid Quthb, Muhammad Quthb dan Yusuf Qardhawi melaui buku-buku yang diterbitkan Penerbit Salman, Bandung. Buku-buku tua itu sampai sekarang masih saya koleksi.

Beliau juga memberi contoh tentang konsistensi. Hingga akhir hayatnya ia tetaplah seorang Ustadz yang bersahaja. Wawasannya juga aktual. Terakhir melihatnya langsung dan mendengar ceramahnya adalah saat memberi khutbah nikah pada pernikahan salah seorang saudara sepupu saya di Cigadung, Kuningan. Itulah terakhir saya melihat wajahnya. Sorot matanya tetap tajam dan fokus. Bicaranya kaya makna dan efisien. Pilihan katanya sangat intelektual. 

Beliau juga mengajarkan tentang kedekatan antara seorang da’i dan mad’u-nya (yang didakwahi). Ia yang seorang tokoh level Kabupaten yang masih mau memberikan ta’lim pekanan kepada anak-anak SMA. Dengan audien yang jumlahnya antara 10-20 saja. Tidak banyak. Kepribadiannya juga egaliter, tidak bergaya kebanyakan orang tua yang sukanya menyuruh-nyuruh. Ia lebih banyak memberi wawasan dan inspirasi. Berbagi pengalaman hidup. 

Kesediaannya untuk mau akrab dengan anak-anak muda,  memberi saya pelajaran berharga tentang penghargaan terhadap potensi generasi muda. Bahwa pengorbanan waktunya itu akan memberi dampak jangka panjang. Saya adalah salah satunya. Interaksi saya dengan beliau menimbulkan kesan yang terus melekat. Walau jarak dan waktu memisahkan. Tapi sosoknya yang tegas, menyenangkan namun disiplin dalam ibadah menjadi inspirasi sepanjang hayat.  Saya teringat bagaimana beliau memarahi kami yang masih santai saat adzan berkumandang “Jangan mengaku remaja masjid kalau dengar adzan masih malas!”. Kemarahan yang efektif. Sorot matanya yang tajam membuat saya tak berkutik. Lantas menuruti titahnya. Saya sendiri kalau sedang dilanda "galau" hingga malas shalat berjamaah suka terbayang marahnya beliau dengan sorot matanya dan suara yang khas itu.

Saya jadi teringat kisah Yusuf a.s yang selamat dari fitnah wanita bernama Zulaikha. Saat itu adalah saat yang kritis karena segala sesuatunya mendukung untuk terjadinya perbuatan hina. Namun ada “al burhan” dari Sang Pencipta. Ia diberi peringatan oleh Sang Penjaga. Dalam bentuk apa? Itulah saat "hadir"nya sosok Ayahanda Ya'qub a.s. Ia “hadir” disaat genting itu dan memunculkan ketakutan Yusuf pada Allah. Selamatlah Yusuf dari fitnah (ada di kitab tafsir Ibnu Katsir dan juga tafsir Adhwaul-Bayan) . Dan sesungguhnya kita kadang memerlukan sosok-sosok yang dengannya Allah peringatkan kita di saat-saat lalai.

Kabar duka itu saya dengar dari Wa Agun, uwa saya yang di Cigadung, Kuningan saat beliau bertemu di Karawang. Beliau sampaikan kabar duka wafatnya KH Uri Mashuri. Menurut penuturan putrinya, beliau mengalami sesak nafas selepas mengimami sholat subuh di mushola dekat rumah. Kemudian dibawa ke ICU RSU 45 Kuningan dengan dugaan serangan jantung. Walaupun tidak ada riwayat jantung sebelumnya. karena tidak ada eprkembangan lantas dirujuk ke RS Harapan Kita. Diagnosa menunjukan ada cairan di paru-paru. Rupanya Allah lebih mencintai beliau, setelah seminggu dirawat, tepatnya tanggal 15 Juli 2007 beliaupun menghadap Sang Khalik. Innalillahi wainna ilaihi roji'un.

Untuk almarhum Al Ustadz KH Uri Mashuri, saya hanya bisa melantunkan do’a “Allahummaghfirlahu warhamu wa’afihi wa’fu’anhu... semoga Allah ampuni  dosanya, semoga Allah membalas segala kebaikannya dan menjadikannya pembuka kunci rahmat-Nya. Dengannya mudah-mudahan Allah balaskan surga nan tak terbayangkan keindahannya....aamiin.

Bersama Ibu Eha (kedua dari kiri), isteri almarhum. Saat silaturahim ke kediaman beliau di Cigadung, Kuningan.

5 comments:

  1. Pembina generasi muda...hatur nuhun. Kang Solihudin ngemutkeun saya ke beliau..smoga Alloh lapangkan kuburnya...inget dulu.di GEMMA SI..berbagai corak ajaran masuk ke jiwa muda sayah..yg keras, yg logik, dan berbagai macam corak yang saya ikuti terang- terangan atau sembunyi..walau ujungnya saya jadi fans metalika, spultura dll sareng kang nana emon, ana, ijul, goci, dll..saat itu...Beliaulah yg jadi penengah benturan yg terjadi saat itu..semoga amal baiknya diterima....Amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kang Adang. kebetulan sy sdg ingin mengulas sosok-sosok yg telah mewarnai perjalanan hidup hingga sekarang. Dari bbrp sosok yg pernah bertemu dan beriteraski ada yg begitu berkesan dan mempengaruhi. Salah satunya beliau, almarhum Ustd Uri Mashuri. Mudah2an rerencangan yg bca tulisan ini ikut berdo'a untuk beliau. Krn itu mungkkin yg bisa kita lakukan sbg ungkapan terima kasih dan rasa syukur...

      Delete
  2. Dia juga yang telah memberikan pencerahan bagi hidup saya

    ReplyDelete
  3. Ya Allah kang Solihudin.....damang? akhirnya ketemu di dumay...saya jadi ingat terakhir bertemu Pak Uri saat memberi tausiyah sebelum saya nikah tahun 2001 lalu.....itu saat saya terakhir bertemu...beliau sangat berpengaruh dalam hidup saya....ada banyak sekali kenangan bersamanya...kadang saya sering nangis jika ingat beliau...bahkan sat saya nulis ini,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, damang Kang Nanang....
      mudah-mudahan semangat dan keikhlasan beliau bisa ditauladani...aamiin

      Delete

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...