Wednesday, May 1, 2013

Kepribadian Shahibudda'wah



#Pengantar 
 
Materi Kepribadian Shahibudda'wah ini adalah pembuka kesadaran yang utuh tentang dakwah. Bahwa dakwah tidak sekedar ceramah. Tapi ia adalah misi dan jalan hidup seorang muslim. Dakwah sendiri hanya layak diemban oleh manusia-manusia unggul. Disinilah indahnya dakwah. Di situ ada kewajiban dan di situ ada syarat. Artinya kita wajib untuk membina diri kita sehingga memenuhi kualifikasi sebagai seorang da'i. Berkepribadian da'i.

Berbicara dakwah berarti berbicara kita untuk orang lain. Adanya kita adalah untuk membawa kebaikan bagi orang lain. Sekaligus mempupus egoisme kita, bahwa adanya kita hanya untuk kepentingan diri sendiri. Bahkan cenderung kepentingan orang banyak dikalahkan oleh kepentingan diri sendiri. Kesadaran ini adalah awal dari jiwa kepedulian, jiwa relawan, jiwa proaksi, berjuang, dan berkorban. Dari sini kecemerlangan pribadi muslim akan memancar ke sekelilingnya.



KEPRIBADIAN SHAHIBUDDA’WAH
SEBUAH TELAAH TENTANG ETIKA DA’WAH

Oleh : Ust Drs. Uri Mashuri


Mukadimah

   “ Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata : “ Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri “. Fushshilat 33.
  
Dalam Al Qur’an banyak terdapat penuturan tentang kepribadian yang perlu dimiliki oleh setiap muslim dan mukmin. Seorang penyeru – dai – sebaiknya memahami terlebih dahulu sebelum ia menyeru kepada orang lain, sebab salah satu petunjuk dari Nabi saw adalah  Ibda binafsik – mulailah dari dirimu sendiri.  Dan itu pula salah satu kuci kesuksesan usaha menyeru ke jalan Allah. 


Cermin Kehalusan Budi

Kutipan ayat Qur’an di atas, merupakan penghargaan dari Allah betapa indahnya dan betapa bernilainya mereka yang menggunakan lisannya untuk da’wah - menyeru ke jalan Allah -. Sebuah kehormatan  bagi mereka yang memilih jalan  menjadi penyampai risalah.

Orang yang berserah diri kepada Allah adalah orang yang halus budi pekertinya, orang yang telah menundukkan serta mengalahkan dirinya untuk taat dan patuh kepada ketentuan dari Allah dan RasulNya. Sabda Nabi : “ Mujahid itu adalah orang yang berjuang terhadap nafsunya dalam mentaati Allah “.                              

Sosok seorang mubaligh, seorang dai adalah sosok yang selayaknya sosok yang memiliki kehalusan budi serta keluhuran pribadi, karena ia telah mencelup dirinya dengan celupan warna dan corak dari Allah. Ia cinta karena Allah, ia benci karena Allah, ia memberi karena Allah dan ia menolak karena Allah. Seperti yang disabdakan Nabi.

Sipat-sipatnya tercermin dalam ungkapan hadits yang berbunyi : “ Tuhanku telah memerintahkan kepadaku tujuh perkara :
-          Selalu takut kepada Allah di tengah keramaian ataupun di tengah kesunyian.
-          Berkata yang adil baik dalam keadaan marah atau dalam keadaan tenang
-          Sederhana senantiasa  dalam keadaan papa maupun berkecukupan
-          Menyambung kembali silaturahmi yang telah terputus
-          Memaafkan yang mendhalimi
-          Diamku merupakan tafakur , dan selanjutnya Nabi menerangkan
-          Aku diperintahkan agar menyeru orang berbuat baik dan mencegah orang berbuat munkar .   

Dari  hadits tersebut dapat dipahami, betapa tugas da’wah adalah tugas yang mulia, tugas yang tidak pernah akan selesai selama hayat dikandung badan, tugas da’wah adalah komitmen kita kepada keluhuran ajaran Ilahi. Tugas yang memerlukan ketulusan, kesabaran dan keluasan ilmu dan wawasan, agar tampak bahwa Islam yang kita sebarkan itu adalah  rahmatan lil a’lamin
 
Kekuatan da’wah seorang muballigh tergantung pada kekuatan hujjahnya – yang diterima akal sehat – dan daya panggilnya – yang dapat menawan jiwa dan rasa –
Keduanya tergantung pada pribadi yang jauh hari telah mempersiapkan  mentalnya, ilmunya serta kaifiat dan etika da’wahnya. Karena da’wah  merupakan seni, missi serta persepsi.


Akhlak dan Etika  Berda’wah   

Begitu seseorang mulai berda’wah, mulailah ia menaggalkan hidup pribadinya, ia akan menjadi sorotan, ucapan, perbuatan serta gerak apapun akan menjadi tolok ukur orang banyak dan sosoknya akan dijadikan perbandingan. 

      KH M. Isa Anshori dalam bukunya Mujahid Da’wah menjelaskan : “ Berda’wah dan bertabligh bukan hanya dengan lisan dan tulisan, tidak hanya dengan lidah dan pena. Tapi dengan teladan – lisanul ‘amal lisanul akhlak. Sebagai juru da’wah saudara senantiasa dalam sorotan. Diri saudara adalah cermin, kaca terang dan jernih. Akhlak saudara dijadikan alat pengukur dan penilai. Langkah saudara dibayangi selalu, saudara menjadi titik perhatian. Sukses tidaknya da’wah saudara terletak di situ. “

Betapa besarnya  tanggungjawab seorang dai atau muballigh, perkataannya akan dijadikan pegangan dan pedoman , perbuatannya akan menjadi rujukan sikapnya akan dijadikan tolok ukur dalam menghadapi setiap masalah. Ia akan menjadi tokoh di masyarakat serta pemimpin ummat di sekitarnya, karakternya akan senantiasa diuji oleh keadaan. Itulah yang akan menempa pribadi seorang dai atau mubaligh . Mubaligh harus senantiasa belajar, mengasah diri agar tidak tumpul dalam menghadapi menghadapi masalah ummat.

Kepemimpinan yang baik  dan berkwalitas minimal harus memiliki :
-        Pengetahuan yang luas dalam bidangnya – unsur tehnis – ,
-         Memiliki kepribadian yang kuat sehingga mengesankan pengaruh pada yang dipimpinnya
-         Memiliki akhlak yang terpuji.

Pengetahuan yang luas disertai memiliki pengaruh yang kuat  kepada yang dipimpin akan sulit tergapai tujuan yang baik dan benar bila tidak dikawal oleh akhlak yang mulia.

Akhlak yang mulia dalam Islam minimal ada 4  unsur yang harus dimiliki :
-      Mental spiritual yaitu karakter dasar manusia yang berbentuk nilai-nilai kemanusiaan sejati, yang mempertalikan semua kegiatan manusia dengan penciptanya, misalnya : ketulusan, keikhlasan kesederhanaan, integritas pribadi dan kerendahan hati.

-        Keterampilan mental – Mental skill – yaitu sipat-sipat kejiwaan yang diperlukan manusia dalam menjalankan tugas-tugas professionalnya sehari-hari seperti : kecakapan berkomunikasi, keterampilan mempengaruhi orang lain, kepandaian mengambil keputusan yang tepat dan cepat, berwawasan ke depan, pandai mengevaluasi  serta memprediksi situasi dan kondisi secara akurat, berorientasi pada waktu, kemampuan bekerja secara efektif dan efissien.

-        Keterampilan keahlian – labour skill - ,  disebut juga mental ahli , yaitu kecakapan-kecakapan khusus yang harus dimiliki oleh seseorang sesuai dengan professi atau karier yang digelutinya , Nabi bersabda : “ Bila suatu perkara diserahkan  bukan pada ahlinya tunggulah saat kehancurannya “

-         Etika atau adab sopan santun, yaitu istilah teknis ilmiyyah. Sering pula disebut etika praktis, ia merupakan sipat-sipat lahiriyyah yang harus dimiliki sesuai dengan kedudukannya. Etika praktis ini mencakup penampilan fisik seperti ; cara berbicara, cara berpakaian, cara berjalan, cara memandang dan cara berhubungan dengan orang lain

Untuk  memenuhi kriteria seperti  disebut di atas shahibudda’wah melengkapi diri dengan  Ilmu Agama , Ilmu Perbandingan Agama, Pengetahuan Umum, Sejarah – Islam, Nasional, Internasional -, falsafat, Kebudayaan dan Kesenian, Politik, Ekonomi, Sosiologi, Psikologi, Psikologi Massa. Perbandingan Ideologi, Pengetahuan Bahasa. Caranya adalah baca, dengarkan, ikuti perkembangan, luaskan pergaulan dan milikilah keberanian.


Petunjuk Syar’i  tentang  Pribadi Unggul

Betapa Al Qur’an dan Sunnah membina pribadi-pribadi muslim yang tangguh dan istiqamah terutama untuk mereka yang mencintai  Risalah Nabi,  beberapa petunjuk dapat dikutip sebagai berikut :
     
-          Pribadi yang tumbuh dalam suasana ibadah kepada Allah.
       “…………..pemuda yang tumbuh berkembang dalam suasana ibadah kepada 
       Allah. “  Al Hadits 

-          Beriman kepada Allah dan Hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak ada yang ditakuti selain Allah., mereka mendapat petunjuk.
Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, mendirikan shalat menunaikan zakat dantidak takut – pada siapapun – selain kepada Allah, mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk “ At Taubah  18

-          Senantiasa menjaga kesucian lahir batin.
“ …………..di dalamnya ada orang-orang yang membersihkan diri dan Allah senantiasa menyukai orang yang menjaga kesucian “ At Taubah 108

-          Tidak silau dan terpedaya oleh kilauan dunia ..
“ Laki-laki yang tidak dilalikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah…..   An Nur 37 

-          Memiliki watak yang cerdas.
“ ……………….Mereka itu adalah oramg-orang yang mendapat petunjuk  - cerdas – Al Hujurat  17 

-     Memiliki harga diri
 Dan mereka yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya “ Al Furqon 72

-     Teguh pada pendirian/istiqamah.
Katakanlah ; “ Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, berdiri tegak  menghadap Allah – dengan ikhlas – berdua-dua atau sendiri-sendiri ………. “ Saba 46.

-     Senantiasa menegakkan agama Allah.
   Yaitu kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya “ Ash Shaf 11 

-     Bangga dengan identitas Islam.
  ………….. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri – Islam – “ Fushshilat 33.

-     Percaya diri
Katakanlah : “ Inilah jalanku – agamaku -, aku dan orang-orang  yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik . “ Yusuf 108
Bagi kalian agama kalian,  dan bagiku agamaku “ Al Kaafirun  6.
  Katakanlah : Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, akupun berbuat – pula -. Kelak kamu akan mengetahui, siapakah – di antara kita – yang akan memperolah hasil yang baik dari dunia ini, sesungguhnya orang-orang yang dhalim tidak akan mendapat keberuntungan. “ Al An’am 135
Janganlah engkau sekali-kali terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir  bergerak di dalam negeri “ Ali Imran 196
Dan mereka berkata : “ Mengapa tidak diturunkan kepadanya – Muhammad,suatu keterangan – mukjizat – dari TuhanNya ?, Maka katakanlah : “ Sesungguhnya yang gaib  itu kepunyaan Allah, sebab itu tunggu sajalah olehmu,sesungguhnya  bersama kamu termasuk orang-orang yang menunggu . “ Yunus 20

-          Julukan mereka dalam Al Qur’an
“ Itulah orang-orang  yang beriman dengan sebenar-benarnya, Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian  di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki – nikmat – yang mulia . “ Al Anfal 4.
“ ……………dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa “ Al A’raf 128

-     Akhlak dan mentalitasnya tergambar .
“ Paling sempurna iman seseorang adalah yang paling baik  budi pekertinya “ Al Hadits
“ …………….Allah menjadikan kamu cinta pada keimanan dan menjadikan iman itu indah di hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah yang mengikuti jalan yang lurus. “ Al Hujurat 7.

-     Solidaritasnya terlukis
“ …………..  dan tolong-menolonglah kamu di dalam kebaikan dan tetakwaan, dan jangan  tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran …. “ Al Maidah  2.

-     Dinamisnya  terlihat .
“………….. dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya sendiri yang ia menghadap kepadaNya maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian – pada hari kiamat  sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala seuatu “ Al Baqarah 148.

-          Dalam beragama senantiasa bersikap    
“………. Tegakanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…..” Al AsySyuura 13  
        

Etika Mengemukakan Kritik

Dalam melaksanakan dakwah yang berarti memperbaiki keadaan, tak terhindarkan kita bertemu dengan kondisi yang harus kita kritik,  karena kritik termasuk sebahagian nahi munkar.

Kritik yang baik adalah kritik yang membuahkan perbaikan sesuai dengan tujuan dakwah, bukan semata-mata melontarkan apalagi menumpahkan uneg-uneg.
Untuk sampai pada sasaran kritik yang baik hendaknya disampaikan dengan cara :
-          Jangan dikemukakan kritik terus-menerus, pilihlah waktu dan tempat yang tepat.
-         Sebelum menyampaikan krtik, kita harus terlebih dahulu  menyadari bahwa Allah melihat dan mendengarkan kritik yang kita sampaikan agar kita tidak terjerumus pada subyektivisme karena sentimen pribadi.
-        Bahasa yang digunakan hendaknya bahasa yang tepat dan sopan, yang jelas menunjukan bahwa memang kita ingin memperbaiki keadaan.
-         Hendaknya difikirkan terlebih dahulu, hindari mengemukakan dengan emosi. usahakan seobyek mungkin agar kita tidak jatuh pada dosa.
-        Bila kita yang dikritik, hendaknya kita dengarkan dengan seksama tenang, sabar dan diam. Fikirkan kritik itu.  Kalau salah kritiknya, kita bisa membela diri dengan argumen tanpa emosi. Kalau kita hadapi dengan marah, ciri kita punya sifat sombong yang harus kita jauhi. Bila kritiknya benar, terimalah dengan lapang dada.
-        Baik kritik maupun jawaban hendaknya disampaikan jangan bertele-tele agar tidak menimbulkan kebencian.

Bila terjadi perbedaan pendapat kiranya pimpinan dapat mengatai kalau perlu ditangguhkan mengambil saat yang lebih tepat. Bila tidak diselesaikan jadikanlah sebagai “ketegangan kreatif”


Wallahu a’lam.


                                                                            Kuningan, 12  Jumadil Ula  1427 H

2 comments:

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...