Antara ENAK Dan UEENNAAAAAK!




Salah satu seni menikmati hidup adalah saat menghadapi makanan. Kita memang merespon makanan yang terhidang di meja makan dengan beragam bentuk. Ada yang selektif sekali dengan selera. Ada juga yang terpaksa selektif karena punya diabetes atau tekanan darah tinggi. BIsa juga karena faktor trauma. Jadi banyak pantangannya. Ada yang nggak mau sayur. Ayam juga nggak mau.  Ini itu nggak mau. Akhirnya yang dipusingkan adalah bagian logistik. Ibu-ibu jadi kebagian pusing pilih menu kalau bertemu yang banyak pantangannya.

Nah, saya mah termasuk beruntung. Itu karena masa lalu di pedesaan memang dibiasakan makan sayur. Anda tahu sendiri kan, kalau rasa sayur itu datar. Kadang tidak ada rasanya. Yang membedakan rasa itu sebenarnya bumbunya. Sepahit apapun sayur, kalau bumbunya enak, dia akan enak. Coba saja, daun Pepaya dan buah Pare, kurang pahit apa? Toh tetap bisa dimakan. Ya, karena bumbunya itu. Seperti kopi, kalau gulanya pas, kombinasi pahit dan manisnya, sungguh menghanyutkan. Seperti dibawa arus sungai yang bening dan tenang. Menghanyutkan perasaan dan suasana. Cieee...

Dulu memang saya yang termasuk harus nrimo dengan keadaan ekonomi keluarga. Sehingga menu makanan di meja makan ya itu-itu saja. Nah, saat Allah bukakan pintu rizki-Nya. Alhamdulillah, sedikit banyak selera kuliner menjadi terangkat. Saya jadi mengenal jenis-jenis makanan baru yang rata-rata mengundang selera. Memanjakan lidah. Walaupun harus ekstra waspada, karena isi kantong bisa jebol. Seperti APBN yang bisa mengalami bleeding.

Kalau dulu, namanya makanan itu semi gratis, apa-apa tinggal ngambil di kebon dan kolam, masak di dapur, dan tersedialah makanan ala bersahaja itu. Kalau sekarang mulai harus ada ritual jalan-jalannya. Walaupun ini kadang-kang saja. Tetapi selama rentang perjalanan waktu mulai 2006 hingga 2013 ini, referensi kuliner menjadi bertambah dan semakin lengkap. Kalau di Karawang, hamir semua rumah makan pernah singgahi. Menu-menu yang terdengar asing saya coba. Dan saya memang suka mencoba-coba. Di saat sebagian lain, yang dominan otak kiri masih cenderung konservatif. Jauh-jauh ke rumah makan pesannya nasi gorang dan bakso. Paling canggih, ya mie ayam.

Nah, saat-saat itulah saya bersyukur karena Allah memberikan saya kesempatan menikmati aneka kuliner tanpa terlalu khawatir darah naik. Saya masih kuat dua puluh tusuk sate klambing. Sepiring penuh kepiting rebus dan sepiring jeroan sapi.

Di saat kawan-kawan seusia mengambil jarak yang cukup jauh dengan makanan model begitu. Alasannya sih juga rasional. Sebuah tindakan preventif yang bagus. Karena resikonya memang bisa fatal. Mulai stroke, darah tinggi, hingga asam urat bisa kambuh.

Maka, kalau ada kesempatan makan bareng, saya dan seorang kawan saya yang juga nggak pantangan suka kebagian tim “sapu bersih”.  Sambil bersenang-senang karena bisa meledek yang punya koleterol tinggi, he he

Bagi saya makanan yang ada di restoran itu, asal halal, rasanya antara enak dan ueennaaaaaak....! Inilah salah satu kenikmatan hidup yang bisa saya rasakan hingga sekarang. Mudah-mudahan Allah masih beri kesempatan saya menikmati keindahan dunia ini lebih lama lagi. Agar bisa bersyukur lebih banyak lagi..amiiin.

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah