Tuesday, June 11, 2013

Satu atau Banyak Sama Saja



Punya anak satu  atau banyak ternyata sama saja rasanya. Terutama dalam hal menyayangi. Punya anak lima tidak berarti cinta kita terbagi lima. Tidak sama sekali. Justru cinta kita menjadi lima secara utuh. Hati kita memang tidak seperti kotak yang kaku dan rigid dmana volumenya tidak bisa bertambah. Hati kita lebih seperti balon yang mampu memuat udara ynag ditiupkan. Hati kita akan mampu menampung berapapun isinya. Berapapun yang harus disayangi dan dicintai. Tidak heran karena Sang Utusan, Nabi Mulia Muhammad SAW terasa cintanya ke seluruh ummat, karena memang cintanya Beliau tak terbatas.

Wujud cinta tak terbatas itu, adalah tatkala seseorang mampu menyediakan dirinya untuk yang dicintai. Menyediakan waktu, perhatian, dan pengorbanan. Walau kita memang akan terbentur dengan materi. Walau kita memang hanya punya waktu yg terbatas, materi yang terbatas, tangan cuma dua, kaku hanya dua, mulut cuma satu, telinga hanya sepasang.

Inilah seninya menyayangi. Itulah luar biasanya Allah. Disamping rasa sayang yang bagaikan balon itu, Allah juga ciptakan rasa rindu. Inilah sisi lain dari cinta. Mencintai seseorang kadang akan terasa kalau hidup berjauhan. Ada keinginan kuat ingin bersama. Ada ledakan perasaan yang membana di seisi relung hati. Bahwa kita merasa kehilangan.

Tapi ya di situlah seninya. Kadang jarak tak memisahkan. Justru menyatukan. Maka jangan heran kalau ada yang bertahan dalam LDR (Long Distance Relationship). Maka jangan kaget kalau ada yang puluhan tahun tak bertemu, tapi rasa sayang itu tak hilang. Bahkan menggelegak saat bertemu lagi.

Tapi dimana ada energi tak tersalur. Biasanya di situ ada bencana. Begitupun energi cinta.  Untuk itulah Khalifah Umar sampai harus bertanya kepada putrinya, Hafshah : Wahai putriku, berapa lamakah seorang perempuan tahan berpisah dengan suaminya?.  Ini agar rasa sayang ada labuhannya. Di samping urusan biologis yang fitri juga menyertai. Klop antara rasa sayang dan kebutuhan biologis. Menyatu dalam ritual cinta yang indah itu.

Pun saat anak harus pergi mondok. Sekedar berwisata atau backpacking misalnya. Ternyata terasa benar ada bagian jiwa yang hilang itu. Benar-benar terasa. Membuncah. Seperti tak rela berjauhan.Ya ternyata punya anak satu atau lima sama sayangnya. Hanya waktu memang jadi terbagi. Perhatian terpecah. Maka perlu managemen cinta. Salah satunya saya harus menyediakan waktu khusus untuk masing-masing penghini rumah untuk berdua. Ngobrol atau jalan berdua. Menunjukan bahwa saya mencintai mereka. Saya ada untuk mereka.

Walau ada kadang marah dan bertengkar. Tapi itu justru menjadi variasi yang indah. Bumbu penyedap yang semakin membuat cinta terasa lezat. Kehidupan berkeluarga menjadi bak surga. Oh itukah  yang dimaksud rumahku surgaku? karena di situ ada cinta? Itulah cinta yang konon alam semesta tercipta karena cinta? Di mana sifat Allah yang pertama disebut adalam Kitab Suci adalah Ar Rahman  Rahiim?

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...