Gadget Bisa Jadi Mitra Orang Tua, Mungkinkah?





"Teeeeeh, waktunya sholat. Berhenti dulu fesbukannya!"

"Teeeeeeh, sudahi dulu hape-nya! Itu kamar berantakan, segera bereskan atuh!"

"A'aaaaaaaaa, waktunya sholat maghrib, segera ke masjid ya! Jangan  nge-game terus atuuh!"

Itulah beberapa penggal dialog antara arang tua dan anak yang bersinggungan dengan teknologi kiwari. Sebagai orang tua zaman Android begini, gadget seperti hp, tablet, internet dan komputer telah menjadi Pekerjaan Rumah tersendiri yang tidak sedikit membuat stress. Karena ketertarikan anak-anak terhadap alat tersebut demikian besar. Bahkan bisa mengalahkan perhatian pada orang-tua. Lebih jauh bahkan suka dikaitkan dengan akibat jangka panjang dari penggunaan gadget terhadap karakter anak-anaknya.
Khawatir anak-anak menjadi asosial atau autis sosial, misalnya. Tidak peduli dengan lingkungan, hingga tidak peduli teman dan saudara. Lama-lama, anak -anak seperti terampas dari keluarga.

Korbannya memang sudah mulai muncul. Permainan tradisional sudah tidak dikenal anak-anak Android ini. Permainan fisik yang melibatkan banyak orang tidak diminati. Asing dengan main layangan, kelereng, petak umpet, egrang dan lain-lain. Mereka lebih akrab dengan PS1-3, WE, FM, PB, yang sekarang lebih "menggila" karena bisa main dengan temannya di belahan dunia lain secara online.

Kawan anak-anak Android juga unik. Mereka bisa saling akrab padahal tidak saling lihat. Belum pernah bertemu tapi bisa saling curhat dan berbagi. Anehnya dengan tetangga sebelah tidak kenal. Lalu kehidupan seperti apa yang sedang mereka jalani? Sungguh sebagai orang tua menjumpai hal ini membuat pusing tujuh keliling.

Menyikapi fenomena di atas, para orang tua pun berbeda. Ada yang permisif, yang membolehkan tanpa filter. " Sudah zamannya", katanya. Ada juga yang protektif, jadinya serba dibatasi. Ini tidak boleh, itu dilarang. Si Anak dijauhkan sama sekali dari gadget. Yang terakhir ini memang aman, namun si anak jadi kuper. Kurang pergaulan. Seperti Katak dalam tempurung.

Lalu seperti apa seharusnya?

Di sini saya tidak akan menulis tentang teori. Hanya ingin berbagi pengalaman saja, barangkali bisa diperbaiki di hari mendatang.

Agar gadget dan Internet jadi partner mendidik anak, pertama memang orang tua harus terlebih dahulu memahami trend perilaku anak-anak sekarang. Kalau tidak, bisa dianggap manusia jadul. Apalagi kecepatan anak mempelajari fitur yang ada di gadget begitu cepat. Kita belum tahu apa-apa, anak-anak mah sudah lincah memainkannya.

Kedua, pelajari apa itu Facebook, Twitter, game online dan hal lainnya yang diakrabi anak. Karena saya pernah mendengar ada anak yang sudah jauh sekali interaksinya dengan Internet tapi orang tua tidak tahu yang sedang terjadi. Banyak kasus orang tua akhirnya merasa kecolongan.

Ketiga, cari peluang untuk memanfaatkan teknologi itu untuk hal positif. Ini yang coba saya bagi di tulisan ini. Salah satu caranya adalah dengan menjadikannya tempat untuk melejitkan potensi baik. Contohnya adalah skill menulis.

Di internet ada yang namanya Blog. Sebuah ruang maya yang di sana kita bisa menyimpan tulisan kita dan memungkinkan untuk bisa dibaca semua orang di seluruh dunia. Alhamdulillah salah satu anak saya sudah pandai menulis dengan menggunakan cara ini. Sekarang ia bahkan lebih hebat dari ayahnya. Dengan menulis tema-tema yang positif di Blog, lama kelamaan kemudian menjadi dikenal sebagai penulis remaja yang positif, dan kritis.

Kemudian, untuk mengkondisikan spiritual yang bagus, ternyata gadget bisa kita manfaatkan. Dengan mendaftarkan anak ke program fenomenal bernama ODOJ (One Day One Juz) dan menggunakan aplikasi WhatApps di Hape, alhamdulillah Si Teteh bisa istiqomah tilawah satu juz setiap hari.

Sampai suatu hari ...

"Teeeh... Kamarnya berantakan sekali. Segera bereskan atuuuuuh, jangan pegang gadget terus!"

"Ih..Umi! Teteh kan lagi ODOJ, belum khatam. Kan nggak asyik kalau harus dilelang..."

Sang Bunda pun hanya bisa garo-garo teu ateul.... :D



Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah