Salah Ente Bawa-Bawa Agama!




Menyimak polemik “do’a berbayar” yang berujung  polemik dan hujatan yang melimpah ruah. Karena dianggap komersialisasi ibadah. Maka Ahmad Ghozali-pun terkena getah. Namanya terjerembab saat umrah di Makkah.

Padahal kalau mau dilihat lebih jernih, itu hanya cara agar orang tergerak hatinya untuk bersedekah. Dirangsang semangatnya dengan didoakan di depan Kakbah. Tentu agar do’a mustajab dihadapan Sang Pemilik Makkah. Tapi karena “action” yang diminta mengandung rupiah. Terkesan jadi komersialisasi ibadah.

Padahal kalau mau sedikit selidik. Sedekah yang masuk, penyalurannya ke para mustahik. Bukan ke kantong pribadi, yang kadung dipersepsikan jadi delik.

Tapi saya melihatnya koq jadi seperti gejala yang lumrah. Mungkin sepertinya itulah tabiatnya kalau orang sudah bawa-bawa agama atau nyatakan diri sebagai pendakwah. Harus siap kena fitnah. Sepertinya gak boleh berbuat salah. Entahlah.

Mungkin ini memang sifat dunia yang lentur. Timbangan benar dan salah bisa saja menjadi kabur. Hukuman sosialpun bisa ngawur.  Kadang seperti ada yang ngatur.

Padahal yang bawa-bawa nama agama bukan tanpa sadar. Karena itu hasil dari belajar. Agar nilai-nilai agama tak sekedar jadi bahan ajar. Tetapi masuk ke alam sadar dan bawah sadar. Juga agar ajaran agama tak sekedar jadi ujar-ujar dan ular-ular. Agar keadilan tak sekedar utopia. Tapi bisa menyapa si kaya dan yang papa.

Ketika agama ingin masuk ke tataran realita. Maka ia berhadapan dengan sesuatu yang nyata. Alam yang bisa diraba. Maka nilai harus bisa ditangkap mata. Didengar telinga. Diraba oleh rasa. Maka agamapun jadi asasnya. Agar arah dan gerak langkah jelas panduannya. Visi dan misi ada cantolannya. Agar kalau menyimpang jelas ukurannya.

Tapi manusia memang tabiatnya begitu. Salah sedikit saja kalau bawa agama langsung dihujani batu. Dihukum tanpa diadili dulu. Maka, nasib para penyerunya sangatlah pilu.

Ada 'Aa yang langsung redup hanya karena polygami. Padahal itu sah secara syar’i. Tak ada yg didzolimi. Semua akur sebagai suami istri.

Ada Ustadz Sedekah yang langsung dikeroyok. Padahal hanya masalah legalitas usaha belum yang belum cocok

Ada Sang Perencana Keuangan di atas yang jadi namanya tiba-tiba ancur. Hanya karena salah redaksianal brosur . Yang kadung tersebar luas jadi omongan yang cenderung ngawur.

Ada juga pemimpin partai Islam divonis karena berteman makelar, san beristri gadis belia. Maka dituduhlah korupsi uang negara. Dituduhlah pencucian uang padanya. Maka 1000 persen hakim berpihak pada jaksa. 1000 persen pembelaan pengacara tiada guna.

Sebelumnya ada aleg partai Islam yang kena giliran. Gara-gara gambar tak senonoh di layar tabletnya yang tersorot kamera saat sidang Senayan. Maka beritanya gegap gempita tak tertahankan. Tsunami beritanya mampu hentikan karir jadi anggota dewan.

Ada aleg partai Islam di Sumatera kedapatan di panti pijat resmi. Diberitakan digerebek saat berbuat mesum. Padahal sehari-harinya ia amat shaleh. Bersahaja dan gampang menangis. Iapun harus rela mundur jadi jadi anggota dewan.

Semua tewas karakternya. Sebelum terbunuh jasadnya. Hanya karena kesalahan manusiawi belaka. Semua karena  bawa-bawa agama.

Tetapi, mungkin itulah hikmahnya. Kalau bawa-bawa agama, standar maksiat menjadi beda. Harus  lebih hati-hati dan waspada.  Halalpun bisa jadi salah karenanya. Kekurangpantasan mungkin itu alasannya. Apalagi haram, jangan ditanya. Langsung kena karma.

Mungkin itulah harganya kalau bawa-bawa agama. Salah kecil dilihat besar kayak raksasa. Salah manusiawi dibilang subversi.

Tapi memang risalah itu diaktual.  Karena terlalu lama idealisme langit hanya jadi khayal. Maka kalau para dainya mundur gara-gara hukuman sosial. Kapan nilai-nilai mulia itu jadi faktual?

Sebagaimana cita-cita. Ia harus melalui uji coba. Jatuh bangun adalah hal biasa. Karena itulah harganya.
Anak kecil belajar jalanpun harus jatuh bangun dulu agar ia bisa tegak berdiri. Apalagi ini cita-cita besar tuk tegakkan nilai Ilahi. Ujiannya tentu lebih hebat lagi. Harganya jauh lebih mahal lagi.

Karena  tegakkan  agama harus dicoba. Jatuh bangun adalah harga. Tak bisa berharap tegak agama, hanya dengan berpangku tangan saja.

Pembawa panji Tuhan memang tak andalkan keajaiban.  Seperti tongkat Musa membelah lautan. Karena mukjijat mutlak hak Tuhan.

Zaman sekarang zamannya akal dan teknologi. Semua proses kebangkitan Islam harus dilalui secara manusiawi.  Keringat ia syaratkan. Air mata nan tak terhindarkan. Bahkan darahpun kadang harus bercucuran.

Wajar kalau nilai Ilahi harus juga jalani trial and error.  Maka saat itulah harus siap fitnah dan teror. Dari mereka yang berhati kotor. Atau dari mereka yang tidak mau agama jadi terkesan kotor.  



Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah