Monday, May 26, 2014

Sebuah Buku Yang “Menembus Batas”





Alhamdulillah, akhirnya terbit juga!


Inilah buku yang cukup menguras emosi. Disamping karena lumayan lama penantiannya, juga karena buku ini adakah buku perdana, yang bahkan sebelumnya masih mimpi.  Kini ditakdirkan  jadi kenyataan setelah beberapa kali tertunda. Setelah tertunda karena  antri menunggu selesainya buku Meida Syafira yang bertitel Hujan Safir di-launching oleh penerbit. Hingga akhirnya penerbitnya sendiri yang "bubar jalan". Bendera penerbit akhirnya berganti menjadi Penerbit Kaffah. Kemudian, setelah mengalami penundaan karena  perubahan desain. Terakhir karena kesalahan cetak di pihak percetakan. Akhirnya sebuah buku cukup tebal ini hadir juga ke dunia perbukuan Indonesia. Plong rasanya. Seperti menanti kelahiran anak saja :D   Tetapi, ada masalah pada buku ini. Apa itu? Masalahnya karena penulisnya bukan saya. Penulisnya adalah seorang abege bernama Fathia Asyafiqah, putri pertama saya, he he.

Saya sendiri masih ingat bagaimana saat-saat Fathia yang masih abege unyu-unyu itu secara cepat berubah bentuk dari tipikal ababil, 4l4y, menjadi abege yang relatif stabil di usianya.  Itu karena pendewasaan berfikir melalui aktivitas menulisnya yang marathon selama kurun waktu setahun terakhir ini. Hingga Mei 2014 ini lebih dari 200 artikel sudah ditulisnya. Hingga berujung pada sebuah buku cantik yang hadir di penghunjung statusnya sebagai siswi SMP. Bukunya pun kemudian diberi judul  BREAKING THE LIMIT atau “menembus batas”.  Judul  yang memang dirasa paling mewakili isi, suasana dan proses  lahirnya buku ini.

Di mana letak menembus batasnya? Yap, mari kita mulai dari sampul buku.  Sekalian mengawali jalan-jalan menjelajahi buku ini. Siap?

Di sampul buku yang dominan berwarna abu-abu tertulis judul  “BREAKING THE LIMIT” dengan huruf yang pecah-pecah dan dilatarbelakangi tumpukan dadu berserakan bertulis huruf-huruf latin.  Seolah membawa pesan tertentu.   Ya buku ini adalah symbol dari sebuah upaya Fathia yang berhasil menembus batas kewajaran yang biasanya ada pada seorang anak SMP.  Biasanya, menulis artikel adalah sesuatu yang “mengerikan” bagi sebagian besar anak-anak kita, bukan? Saya sendiri merasakannya dulu waktu seusia SMP. Bahkan pelajaran mengarang adalah pelajaran paling sulit. Apalagi harus menulis tema politik. Perlu keberanian sendiri. Pun karena  isi tulisan bukankah harus berangkat dari pemikiran Si Penulis itu sendiri? Juga harus ada argumentasinya? Salah-salah dikira hanya copas dari artikel milik orang lain.

Di samping itu, buku ini adalah salah satu buah dari upaya Fathia untuk “menembus batas” lewat program yang dibuatnya sendiri. Yaitu proyek  #OneDayOneArticle selama lebih dari tiga bulan dengan jumlah artikel lebih kurang 100 buah.  Upaya yang telah menjadikannya menemukan “dunia baru”.  Membuatnya mulai berkenalan dengan dunia politik, pendidikan, humaniora dan dunia kepenulisan itu sendiri. Dunia yang masih berjarak dengan para abege kebanyakan.  Seperti ada batas yang menghalangi. 

Dengan teknologi  internet, Fathia  juga berhasil  menembus batas geografis. Membuatnya bisa terhubungkan dengan orang-orang hebat yang lebih senior. Kata pengantar dari tokoh majalah Islam, Bu Dwi Septiawati ( CEO Ummi Grup penerbit Majalah UMMI dan Annida) adalah buktinya.  Fathia juga berhasil terkoneksi dengan dari seorang akademisi Dr Sudarnoto Abdul Hakim, MA, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang di buku ini juga memberi kata pengantar yang sangat apresiatif. 

Sekarang mari kita menyimak  pengantar yang inspiratif dari Ibu Dwi Septiawati itu : 

Fathia, remaja 14 tahun, lincah menulis tentang permasalahan sosial, ekonomi dan politik dalam perspektifnya sendiri.

Cita rasanya tentang politik menunjukkan Fathia tetaplah seorang remaja yang kepo, ceriwis, blak blakan, namun penuh empati, smart, gembira dan optimis memandang masa depan.  Fathia memang tumbuh dan berkembang dalam rumah politik, bersama Ayah Bundanya yang juga melakukan aktivitas politik dalam pengertian yang luas.

Saya mengenal Fathia kecil saat kampanye tahun 2009. Waktu itu Fathia masih SD kelas 4, kalau tidak salah. Saat itu saya bersama Bunda Fathia dan kader perempuan di Karawang melakukan kunjungan door to door, pelayanan kesehatan, baksos, pelatihan kader, kunjungan Majlis Taklim, Ceramah dan beragam kegiatan lain guna menjangkau konstituen. Ya, bagi kami, semua kegiatan tersebut adalah kegiatan politik. Pemahaman yang kemudian terwariskan pada Fathia. x Apa yang ditulisnya dalam Bundaku (bukan) Politikus, benar-benar mencerminkan kegalauan seorang anak sekaligus kematangannya dalam mencoba memahami pengertian politik sebagai jalan dakwah yang penuh pengabdian.

Fathia memang sudah lincah bertutur lewat tulisan yang mengundang decak kagum. Dengan potensi dan dukungan orangtua dan lingkungan, saya yakin Fathia dapat menjadi 'orang besar' kelak.

Terus belajar ya, Nak. Asah nurani dan akalmu. Cemerlangkan jiwamu agar selincah tulisanmu, kau pun lincah berselancar menuju surga Ilahi...

Doa Amah untukmu,
>>Dwi Septiawati

Sedangkan pengantar dari Bapak Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, MA , Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, selengkapnya sebagai berikut :
Baldatun Thoyibatun Wa Robbun Ghofur….banyak diantara kita yang memimpikan atau berharap sangat terwujudnya sebuah masyarakat yang tentram menentramkan tidak ada konflik. Semua warganya akur, persaudaraannya kental seperti ketan; saling tolong menolong jika ada warga yang memang membutuhkan. Tidak ada diskriminasi semuanya sejajar. Masing-masing saling menjaga keselamatan dan kehormatan yang lain, tidak ada yang menghina dan dihinakan. Semuanya terhormat, murah senyum, santun, budi luhur, Akhkaqnya Karimah. Tak sedikit juga yang mendambakan sebuah kehidupan yang ekonominya baik, kebutuhan pokok harian tercukupi, ada keadilan ekonomi, tidak ada yang dimelaratkan karena ada orang lain yang harus menjadi kaya; tidak ada warga yang tersudutkan atau tersisih secara social dan ekonomi. Semuanya menikmati kehidupan secara wajar, tidak ada iri-irian dan tidak ada kejahatan ekonomi..korupsi misalnya dan kejahatan-kejahatan lainnya. Para pemimpin adalah orang-orang yang benar-benar berkepribadian luhur, agung tak serakah mikir perut sendiri dan perut keluarga serta kroninya. Tak sedikit juga diantara kita yang merindukan alam dan lingkungan yang segar dan sehat dengan pepohonan yang beraneka hidup berdampingan membangun ekosistem yang baik. Cacing memiliki tempatnya yang nyaman, ikan, burung, serangga dan semuanya sehat. Air juga jernih menyehatkan untuk semua. Dan..yang juga penting, masyarakat itu benar-benar diridloi, dilindungi dan diberkahi oleh Allah Sang Penguasa Mutlak. Itu dambaan, impian dan harapan banyak orang. Semuanya yang indah-indah itu didambakan oleh banyak diantara kita, yang tua maupun yang muda.

Nyatanya memang susah, tak semudah yang didamba. Ini memang terjadi di mana-mana, termasuk di Indonesia. Ada kesenjangan atau ketegangan antara apa yang diharapkan dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi memang justru di situ letak rahasianya. Pemimpin itu antara lain mengemban amanah untuk secara terus menerus berusaha, tak perlu mengeluh dan komplain, agar cita-cita atau harapan ideal masyarakat bisa terwujud. Tapi, tentu saja bukan hanya pemimpin yang memikirkan semua hal ini. Peran membangun atau memakmurkan kehidupan tidak hanya pada satu dua orang pemimpin. Masyarakat secara umum juga perlu ikut menyumbangkan apa yang bisa mereka lakukan. Terlalu besar Indonesia hanya diurus oleh beberapa orang dan kelompok saja. “Civil Society” begitu banyak ahli mengatakan memiliki posisi dan peran yang sungguh sangat penting dalam mengurusi berbagai masalah dan agenda masyarakat bangsa yang begitu kompleks.

Buku ini memiliki arti tersendiri terutama di kalangan kaum remaja yang sedang tumbuh dan mencari tahu lebih banyak tentang negeri mereka, Indonesia. Buku ini mewakili perasaan, kegelisahan dan bahkan mungkin kemarahan dan kekecewaan kaum remaja saat mereka saksikan negeri yang mereka dambakan dan cintai ini tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Dengan caranya sendiri buku ini seakan-akan sedang menggugat kepada siapa saja yang telah memperlakukan Indonesia secara tidak bertanggung jawab; menggugat kepada siapa saja yang telah merusak nilai luhur dan prinsip-prinsip kebangsaan, yang merusak Merah Putih, yang mengotori tanah dan air dengan perbuatan-perbuatan yang tidak terhormat. Tapi tidak sekedar itu. Buku ini sesungguhnya juga mengingatkan khususnya kepada kaum remaja untuk tetap bersabar, tawakal dan berserah diri kepada Allah saat mereka berjuang memperbaiki keadaan. Allah tidak boleh dilupakan karena Dia adalah sumber seluruh kekuatan dan ketaatan. Penulis buku ini, dengan gayanya yang khas, sepertinya sedang mengingatkan kepada semua pembacanya bahwa memikirkan dan memperjuangkan Indonesia adalah penting karena kita semua adalah KhalifahNya di bumi ini. Tugas Khalifah itu membangun kemaslahatan bersama. Ini missi buku yang sedang anda baca ini. Tentu mulia.

Saya senang membacanya karena penulis dengan sengaja mengajak para pembacanya untuk tidak sekedar merenung dan memikirkan bangsanya, akan tetapi sekaligus mencoba untuk melakukan sesuatu yang konstruktif. Saya yakin bahwa pencarian atau pengembaraan penulis akan terus berlanjut untuk sesuatu yang lebih bisa memberikan manfaat kepada banyak orang, kelak Insya Allah. Selamat membaca.

Kampus UIN Jakarta, 8 April 2014.

Pengantar ketiga adalah dari Bapak Gigih Supriyantoro, SE selaku Direktur Sekolah Alam Karawang.

Bismillahhirrahmanirrahiim
Assalamualaikum Wr Wb
Puji syukur kehadirat Alloh SWT atas segala limpahan rahmat-Nya. Salawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada uswah hasanah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang senantiasa istiqomah mengikutinya.

Sungguh kebahagiaan yang tiada tara mendapatkan kesempatan menyaksikan generasi masa kini yang memiliki warna berbeda dari kebanyakan. Generasi remaja yang sering kita dapati sebagai generasi yang labil, sedang mencari jati diri, sukanya hura – hura, kongkow – kongkow dan kebiasaan – kebiasaan lainnya ala remaja masakini. Namun hari ini saya menemukan seorang sosok remaja yang berbeda dari yang umumnya. Seorang remaja yang terbuka dalam wawasan, pandangan hidup dan memiliki visi dan mimpi yang jelas dalam hidupnya. Sebuah karunia yang luar biasa bagi sang ayah dan bunda, dan juga bangsa ini tentunya. Ini sebuah pencerahan bagi kita semua bahwa diantara carut marutnya pendidikan dibangsa ini, masih terdapat sosok anak bangsa yang tidak hanya mampu berkompetisi secara IQ namun juga mampu berkiprah dalam kecerdasan yang lain.

Saya sangat meyakini munculnya sosok seperti ini bukan tanpa rencana, tentunya selain ini adalah rencana dari Alloh SWT ada sosok – sosok yang mampu menselaraskan skenario Alloh SWT dengan kemampuan memdampingi dalam perjalanan hidupnya, dan saya sangat percaya bahwa pendampingan yang luar biasa ini berasal terutama dari lingkungan terdekatnya yaitu keluarganya dirumah. Dan ini lah yang seharusnya dilakukan oleh bangsa ini, untuk memunculkan generasi robbani dimasa depan, pendekatannya bukan bertumpu pada sekolah secara formal yang mengedepankan IQ tetapi seharusnya bertumpu pada lingkungan terdekat anak – anak berada yaitu keluarga. Sehingga kedepan seharusnya arah pendidikan bangsa ini bertumpu pada ketahan keluarga, dan sekolah sebagai pendukung dalam menstrukturkan pengalaman sehingga pengalaman anak menjadi sebuah portofolio hidupnya yang bisa dilihat oleh halayak sebagai sebuh potensi yang harus didorong dan dikembangkan sehingga menjadi sang maestro dibidangnya kelak.

Sebagai penutup saya mengucapkan selamat kepada ananda Fathia Asyafiqah atas tulisan-tulisannya dan tetap semangat, saya yakin engkau akan menjadi orang yang hebat. Juga saya ucapkan selamat kepada ayah dan bundanya yang telah berjuang keras mendampinginya. Tak lupa teruntuk teman-teman di Sekolah Alam Karawang yang saya yakin memiliki peran besar dalam pendampingan ananda disekolah.

Kepada seluruh orang tua, mari kita jadikan ketahanan keluarga sebagai tumpuan utama dalam mendidik anak – anak. Lingkungan masyarakat sebagai pendukung dan sekolah sebagai jembatan antara keduanya.

Wassalamualaikum WrWb
Karawang, 07 April 2014
Gigih Supriyantoro, SE

Membaca pengantar terakhir, kita akan dibawa pada suasana  yang menjadi latarbelakang terbitnya buku ini. Salah satunya terkait dengan tentang peran orang tua dalam pendidikan anak. Juga tentang budaya belajar yang memerdekakan yang tak hanya memuliakan IQ. Di lahan subur itulah anak saya Fathia tumbuh hingga menghasilkan karya ini. Melalui buku ini Sekolah Alam Karawang seperti hendak "unjuk kebolehan" tentang  proses pendidikan yang dijalankan di sekolah yang berdiri tahun 2008 itu.

Adapun di sampul belakang ada endorsement dari empat tokoh muda. Syamsa Hawa, pemred majalah remaja Annida. Ada  Erdy Nasrul  yang wartawan Republika. Motivator Abdul Hakim el Hamidy, dan Anisa Muthiah humas Garuda Keadilan ikut mendukung dan mengapresiasi buku ini. Menjadikan buku ini sangat bersemangat muda.

Sekarang kita ke bagian isi. Ketika pembaca membuka lembaran-demi lembaran buku ini mungkin akan sedikit surprise. Biasanya buku karya anak remaja itu ber-genre fiksi. Isinya seputar persahabatan, pacaran, artis idola, gadget, mode yang sedang ngetrend, dan semisalnya. Di buku ini, justru pembaca mendapatkan tema-tema serius. Semisal kontroversi UN, MOS,  hukum yang tak adil, hingga dunia pengemis. Fathia memang sama sekali  tidak menyisipkan satupun cerita fiksi. Kalaupun ada kisah, itupun tentang kisah nyata yang dialaminya sendiri.  Berikut daftar judulnya berikut nomor halaman yang tercantum  di buku :

1. Mencari Jati Diri  1
2. Bisa Karena Cinta  3
3. Tatapan Mata Sang Garuda  5
4. Perjuangan Kita Belum Berakhir  7
5. Apakah Merah Putih Tinggal Warna Saja?  11
6. Jangan Sampai Hijau Indonesiaku Hilang  13
7. Aku Rindu Indonesia Yang Dulu  16
8. Pertahankan Budaya Gotong Royong!  19
9. Generasi Penerus atau Pelurus?  22
10. Masyarakatpun Bisa Menilai  24
11. Hargailah Prestasi Anak Bangsa!  26
12. Aku Bangga Padamu, Wakil Rakyat!  28
13. Tragedi Mesir dan Kita  31
14. Orang-orang Berjasa Di Sekitar Kita  34
15. Pahlawan itu bernama Pedagang Kecil  37
16. Benarkah Umat Islam Indonesia Berubah?  40
17. Tak Cukup Sekedar Komentar  43
18. Manusia-manusia Pinggiran  47
19. Tasripin  51
20. Bullying Jadi Budaya Baru ?  55
21. Berani Jujur itu Langka!  58
22. Tajam Ke Bawah Tumpul Ke Atas  61
23. KPK itu  64
24. Kenapa Tidak Dihipnotis?  69
25. Perempuan-perempuan Tangguh  73
26. Keadilan Itu Membutuhkan Cinta  77
27. Mari Bicara Pendidikan  79
28. Hukuman Vs Konsekuensi  82
29. Apa Yang Kamu Berikan?  85
30. Pentingkah MOS?  87
31. Pendidikan Karakter Itu Butuh Contoh Nyata  89
32. Kenapa Harus Sekolah Favorit Yang Menjadi Tujuan?  93
33. Ujian Itu Perlu Nggak Sih?  96
34. Inspirasi itu Bernama GURU  99
35. Setiap Manusia Itu Spesial  102
36. Mau Menuntut Ilmu Kok di-Test Dulu?  106
37. Sepenggal Kisah dari STUDENT CAMP  109
38. Ketika Remaja Indonesia Berbicara Politik  126
39. Pendidikan, Politik dan Masa Depan  131
40. Memilih Pemimpin Itu Mengasyikan  135
41. Tiga Pelajar dan Politik  138
42. Remaja Anti Politik? Think Again!  142
43. Elit Saling Ramah, Yang Di bawah Kok Suka Marah?  147
44. Inilah Ciri-ciri Partai Pilihan Anak Muda !  150
45. Politik Hijau Menjadi Solusi Politik Mahal  154
46. Ibuku (Bukan) Politisi!  158
47. The History Starts Now!  164
48. Kisah dari Kayuhan Kaki  167
49. The Young Trainer  170
50. O D O J  172


Keberanian menuliskan hal-hal serius itulah  yang mungkin menjadikan buku ini berbeda. Seakan memaksa kita yang sudah banyak menghabiskan jatah usia mendudukan kembali masalah-masalah yang terlanjur pelik itu ke tempat asalnya. Untuk dilihat kembali dengan cara pandang yang sederhana.Protes Fathia terhadap UN, misalnya. Ia berfikir logis dan sederhana saja :  “Bagaimana mungkin mengerjakan beberapa soal pilihan bisa menjadi ukuran keberhasilan seseorang menempuh pendidikan selama bertahun-tahun. Kenapa keputusan meluluskan itu tidak diserahkan saja sepenuhnya ke guru? Yang lebih tahu keseharian siswa-siswinya?” Nah, sederhana namun to the point,  bukan?

Di buku ini, Fathia juga berupaya merekam pemikiran diri dan teman-temannya tentang banyak hal. Pada bab “Bullying Jadi Budaya Baru” dan “Pentingkah MOS?” Fathia mencermati fenomena bullying dan sisi negative MOS yang banyak merugikan remaja. Ketika kunjungan sekolah ke lapas Karawang, ada seorang narapidana yang dipenjara karena membunuh dan memutilasi orang yang sering mem-bully dia. Miris memang.

Fathia yang kini bisa narsis di rumah maya www.fathiasyafiqah.com ini juga bersama teman-temannya pernah terjun langsung ke jalan untuk mewawancarai pengemis dan pengamen. Apakah benar ada mafia di belakang mereka dan bagaimana perasaan para pengamen dan pengemis itu saat diremehkan orang lain?

Di buku ini juga dimuat tulisan yang sempat membuat sedikit kehebohan di media sosial "Ketika Remaja Indonesia Berbicara Politik". Membuat follower twitternya melonjak drastis dalam beberapa hari saja.  Inilah tulisan yang membuatnya banyak terkoneksi dengan orang-orang hebat via twitter. Merekalah yang kemudian saya sadari telah menjadi partner-maya saya dalam mendampingi pendewasaan berfikir Fathia. Sehingga ia pede menyebut dirinya penulis. Proses ini ternyata ada yang mengamati juga. Oleh seorang reporter Majalah UMMI ternyata ini dijadikan salah satu contoh bagaimana memanfaatkan teknologi internet dalam kaitannya dengan parenting. Terbukti, Majalah UMMI edisi spesial Maret 2014 memuatnya dalam salah satu tema "Parenting di Era Digital".
Fathia bareng Abi-Umi di Majalah UMMI

Bila di Majalah UMMI dimuat bagaimana memanfaatkan teknologi untuk menjadi partner dalam mendampingi anak, di Majalah Annida bahkan dimuat ulasan buku ini secara cukup lengkap, satu halaman penuh. Fathia pun bisa narsis di situ :D


Fathia di Majalah ANNIDA, narsis :D
Bagi Pembaca yang sudah dewasa,  kunci menikmati buku ini adalah : putar mesin waktu Anda ke saat masih  agebe usia SMP.  Kemudian,  bacalah buku ini. Maka Anda dapat merasakan kelincahan Fathia dalam bermain kata.  Ini juga yang membuat saya selalu menantikan tulisan terbarunya. Bahkan kadang suka agak memaksa untuk segera buat tulisan baru. Sedangkan bagi pembaca remaja, kumpulan artikel serius yang ditulis kawan sebaya adalah koleksi unik yang akan memperkaya khasanah, sumber motivasi dan inspirasi. Sekaligus untuk bahan perbandingan.

Keberhasilan Fathia menembus batas melalui aktivitas menulisnya adalah contoh lain tentang peluang tak terbatas untuk berkontribusi dan berkarya bagi siapa saja, apalagi di zaman internet sekarang. Ada banyak contoh lain tentang anak muda yang kiprahnya mendunia lewat internet.

Akhirnya selamat menikmati suguhan menarik dari buku ini!

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...