Sebuah Kedewasaan

Ada rasa haru menyeruak tatkala buah hati kita menunjukkan tanda tanda kedewasaan. Tak sekedar saat tanda biologis, tetapi ketika kedewasaan itu muncul dalam cara berfikir dan bersikap.

Salah satu titik krusial adalah tentang pandangan terhadap lawan jenis. Bagaimana sikap anak-anak ketika masa pubertas menyapa dan kemudian ada momentum untuk mengekspresikan. Misalnya saat buah hati kita yang perempuan tiba-tiba ada yang "nembak". Tentu oleh seorang cowok. Bagaimana kira-kira respon dari Sang Buah Hati?

Bagi kebanyakan orang tua mungkin ini bukan sebuah perkara yang besar. Dianggap lumrah di zaman sekarang. Apalagi zaman Siti Nurbaya sudah terlanjur dianggap zaman baheula yang ketinggalan. Sudah kuno saat pilihan pasangan hidup ditentukan orang tua. Saat diri sendiri tidak bisa memiliki pilihan.

Tetapi penolakan terhadap drama Siti Nurbaya diekspresikan dengan gaya hidup bebas. Salah satunya bebas memilih siapa pasangan hidup dengan penekanan bebas dari intervensi pihak lain. Tetapi dalam prakteknya meluas, munculnya  budaya berupa kebebasan memiliki pacar sebelum menikah.

Kenapa harus pacaran dulu? Ya inilah akibat logis kalau memilih pasangan hidup memakai pendekatan pasar bebas. Sering menihilkan peran orang tua sekalipun. Seakan area suci yang tidak boleh disentuh. Maka lihatlah pergaulan bebas dengan alasan penjajagan mencari pasangan hidup. Pacaran pun menjadi lumrah.
Itulah sepertinya yang membuat pergaulan anak muda menjadi lepas kontrol.

Itu pula satu hal yang yang menjadi pertanyaan besar terhadap anak saya. Bagaimana ketika masa itu datang? Bagaimana pandangan dan sikapnya?

Alhamdulillah, berawal dari budaya komunikasi yang sejauh ini terbangun baik. Anak saya relatif terbuka. Apa saja masalah bisa dikomunikasikan kepada ayah ibundanya. Pun ketika mengalami peristiwa nan mendebarkan ini : saat ananda "ditembak" cowok. Apalagi ketika tahu kalau si cowok yang nembak itu cowok ganteng. "Mirip Afgan" katanya. Dia memang cowok favoritnya.

"Ananda tolak, Bi" katanya.
"Bagaimana menolak nya" kami penasaran. Sikap menolak ternyata belum menentramkan, alasan penolakan itu yang ditunggu. Kalau menolak cowok yang tidak ganteng mungkin wajar, he he. Tapi menolak cowok ganteng dan sopan, siapa tahan?

"Menolak dengan cara baik-baik. Ngobrol. Ananda sampaikan kalau motivasinya hanya karena ingin tambah semangat belajar, tidak cukupkah orang tua sebagai motivasi untuk giat belajar?"

Sungguh ingin terbang rasanya...
Cara Ananda memposisikan kami orang tuanya begitu indah. Bahkan di hadapan cowok ganteng sekalipun yang naksir padanya....

Alhamdulillah....

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah