Menikmati SALMAN ITB

Suasana di dalam masjid Salman ITB

Ternyata jadi juga bisa menikmati suasana Masjid Salman sampai puas. Itu karena saya bareng Nyonya Permaisuri menemani Si Teteh Fathia yang jadi pembicara di acara Talk Show "Sampurasun Jabar 2014" yang digelar Fornusa (Forum Rohis Nusantara) Jabar. Karena acara mengambil di Gedung Serba Guna Salman yang berdampingan dengan masjid, saya jadi leluasa. Kebetulan tiba di sana sebelum waktunya shalat Jum'at, sehingga bisa menikmati khutbah di salah satu masjid legendaris ini. Pilihan panitia Talkshow yang mengundang anak-anak SMA ke Salman memang cerdas. Karena pasti akan mengangkat moral anak-anak Rohis ketika mengasosiasikan dirinya dengan masjid Salman ITB. Pengalaman hadir di situ saja sudah memberi kesan khusus.

Ke Salman ITB ini untuk kali kedua. Namun baru kali ini bisa puas menikmati suasananya. Setahun lalu memang pernah jum’atan di sini saat pulang dari acara kantor bersama rombongan. Hanya saja karena datangnya mepet, akhirnya hanya kebagian tempat di dekat Perpustakaan Anak. Di bagian emperan belakang Gedung Serba Guna. Saya juga tidak sempat memasuki ruang utama masjid karena buru-buru harus pulang. Padahal ingin benar menelusuri detail masjid yang katanya luar biasa itu. Jadinya merasakan suasana Salman waktu itu adalah suasana emperan Gedung Serba Guna-nya.  Tapi siapa sangka kalau Gedung Serba Guna itu  ternyata jadi tempat bersejarah buat anak pertama saya, setahun kemudian.


Ya, bagi saya Salman ITB memang legendaris selain Masjid Istiqlal Jakarta, masjid Baiturahman di Aceh, atau Masjid Kudus di Demak. Salman adalah masjid kampus pertama Indonesia. Dibangun tahun 1964 di era Bung Karno. Arsiteknya adalah Achmad Noe'man. Bung Karno sendiri yang memberi nama Salman. Salah satu keunikannya adalah tanpa kubah dan tanpa tiang di ruang utamanya. 

Hari Jum'at itu untuk pertama kalinya saya bisa duduk bersimpuh di teras Masjid Salman. Walaupun hanya kebagian teras bagian luar sebelah tangga sisi selatan. Pada saat sholat sunnah ba’diyah Jum'at saya berusaha shalat di ruang utama. Sangat ingin menikmati lantai kayunya. Itu salah satu yang saya dengar tentang masjid ini. Memang benar, lantai kayunya unik. Tersusun dari lempengan-lempengan kayu kecil ukuran 25 x 5cm. Selain lantainya, dinding dan langit-langit juga dibuat dominan kayu. Kecuali dinding depan yang dominan tembok. Sedangkan atapnya dibuat  mirip sebuah buku yang terbuka kalau dilihat dari atas. Hal unik lagi, di sana saya juga tidak melihat kaligrafi yang biasanya menghiasi sekeliling dinding. Bahkan lafadz “Allah” dan “Muhammad” juga tidak terlihat. Podiumnya berbahan kayu dibuat minimalis tanpa ukiran dan ornamen. Dari keseluruhan ruangan di dalam, sedikit tempelan itu hanya berupa layar digital penunjuk waktu yang ditempel di dinding sebelah utara, serta beberapa speaker yang tampak. 

Menyaksikan lalu lalang anak muda mahasiswa dan mahasiswi ITB di Komplek Masjid Salman  itu saya jadi ingat kawan sekelas saat SMA yang kuliah di sini. Ada Kang Lukman, Kang Udin, Kang Iwan Juliano, juga Kang Adang. Mereka beruntung bisa menikmati dinamika salah satu kampus terbaik di tanah air ini. Karena di situ saya melihat perpaduan ideal antara kepintaran dan keshalihan. Arsitektur masjid Salman menambahkan satu hal lagi, keindahan. Sempurna sudah. Salman ITB adalah saripati kebaikan  Indonesia yang berkumpul jadi satu. Saya jadi ingat guyonan waktu dulu saat bujangan. Katanya para akhwat kadang mengilustrasikan gambaran ikhwan ideal itu dengan tiga I : Ikhwan, Insinyur, dan ITB.  

Itulah Salman. Masjid kampus pertama Indonesia yang legendaris. Ia hadir bersamaan dengan bangkitnya kesadaran baru gerakan Islam modern. Di sana ada divisi penerbitan, yang beberapa buku terbitannya saya baca saat ketika SMA. Membawa pencerahan luar biasa, bahwa Islam itu tak sekedar ibadah ritual. Ia adalah ruh bagi bangkitnya peradaban dunia yang rahmatan lil 'alamiin.  

Tokoh-tokoh Salman waktu itu sangat berpengaruh. Kuliah tauhidnya Ust Imadudin Abdulrahim (Bang Imad) sangat terkenal. Cara berdakwahnya progresif tapi mudah dicerna. Walaupun saya tidak pernah bertemu beliau langsung, hanya melihat lewat layar kaca, tapi inspirasinya itu membuat saya menamai anak kedua saya dengan Abdullah Imaduddin.  


Karawang, 25 Oktober 2014

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah