Long Distance Parenting




Ahad sore 4 Januari 2015. Menjelang ujung jalan tol Jakarta-Serpong. Tepatnya menjelang keluar tol BSD Pamulang, Si Teteh tiba-tiba bersuara memelas "Bi, jalannya pelan-pelan dong, please...."
"Memangnya kenapa Teh, koq suaranya jadi  aneh begitu?" Sambil pegang setir Phanter tua saya lirik dari  kaca spion atas.
"Gak pingin cepet-cepet nyampe... masih kepingin libur....tuh kan udah kelihatan gerbangnya...Abi sih  cepet cepet jalannya", masih dengan nada memelas.

Rupanya Si Teteh masih belum puas menikmati dua pekan libur semesterannya. Harus segera kembali ke asramanya di ICM Serpong. Hal berbeda justru ditunjukkan oleh Imad, anak kedua saya, yang justru ingin segera kembali ke pondoknya, sebuah boarding school di Jatisari, Cikampek. Kalau bagi Imad yang sekarang kelas VIII itu, libur sepekan sepertinya sudah cukup.

Ya, kalau ada hubungan suami isteri jarak jauh kita menyebutnya dengan istilah LDR (Long Distance Relationship).Ternyata untuk mengasuh anakpun saya mengalami hubungan jarak jauh tersebut. Wabil khusus setelah anak saya pertama dan kedua mondok di dua sekolah berasrama yang berbeda. Maka mulailah pengasuhan jarak jauh itu. Tidak salah kan kalau saya menamai Long Distance Parenting?

Biasanya setiap hari bertemu, sekarang menjadi terjadwal. Biasanya setiap hari saat tidur, makan, persiapan sekolah bareng-bareng dalam satu rumah. Sekarang harus menunggu dalam hitungan pekan. Efek langsungnya adalah kerinduan untuk bertemu anak. Selalu menunggu saat bertemu. Selalu menanti saat anak-anak berceloteh tentang sekolahnya. Tentang kawan-kawannya. Tentang belajarnya. Tentang suka-dukanya.

Memang terasanya ikatan itu kadang ketika menjauh. Ada rasa rindu membuncah. Ada juga khawatir kalau ada apa-apa di tempatnya yang baru. Mengingat jarak yang jauh sehingga kalau ada apa-apa orang tua tidak bisa langsung menangani.  Salah satu aspek pembelajaran anak pondok memang aspek kemandirian.Hanya saja kadang orang tua yang tidak siap. Merasa belum waktunya. Ada rasa kasihan. Cemas. Harap. Beraduk jadi satu. Mirip es campur.

Kondisi berjauhan itu juga memunculkan beberapa keunikan. Pertama, rumah ternyata tetap tempat terindah bagi anak-anak. Walaupun Si Teteh, anak pertama saya berkesempatan menikmati salah satu sekolah ternyaman di negeri ini, tetap saja ia menganggap rumah adalah surga. Walaupun kondisi rumah jauh lebih sederhana dibanding sekolahnya.

Keunikan lainnya, masa libur adalah masa "balas dendam". Karena dalam pandangan anak-anak saat di asrama adalah sama dengan "penjara". Karena segalanya terjadwal. Banyak aturan ini itu yang harus dipatuhi. Makanan tidak suka-suka dikonsumsi. Facebook dan sosial media adalah barang tabu di asrama. Maka saat-saat di rumah adalah saatnya tidur sepuasnya. Nge-twit sepuasnya, chatting sepuasnya. Makan sepuasnya. Main sepuasnya. Pokoknya bebas merdeka. Saya sempat khawatir dengan situasi aneh ini. Tapi begitu bertanya ke kawan-kawan yang anaknya juga mondok, ternyata sama situasinya. Bahkan anaknya para ustadz yang saya kenal juga begitu, hehe

Hikmahnya adalah, sekarang anak-anak mulai mengerti arti kemandirian. Mereka juga mulai memahami betapa keluarga adalah tempat kasih sayang yang melimpah ruah. Mereka juga mulai  merasakan bahwa keindahan itu ternyata tidak tergantung tempat dan bagusnya barang, tapi tergantung  suasana hati.

Kondisi yang berjauhan itu juga memunculkan ikatan spiritual yang lebih kuat. Di mana do'a sebagai jembatan penghubung yang menyatukan hati ternyata dirasakan lebih kuat dan terasa lebih sungguh-sungguh. Rupanya do'a memang lebih dari sebuah permohonan. Tapi ia adalah salah satu cara  dalam mendidik anak.

Salah satu contoh sukses Ayah yang mendidik anak dari jauh adalah Nabi Ibrahim as. Ia di Palestina sedang Ismail dan ibunda ada di Makkah. Sejarahpun mencatat beberapa anak keturunan beliau diamanahi jadi nabi. Sehingga dijuluki Bapak Para Nabi. Dari sudut pandang parenting,  ini adalah contoh sukses sebagai ayah.

Ternyata, capaian pendidikan anak seorang Nabi Ibrahim as sesuai dengan satu do'a beliau yang diabadikan di Al Quran. Salah satunya do'a ini yang biasa kita lantunkan:

Robbana hablana min azwaajina wa dzurriyyatinaa qurrota a'yunin 
waja'alna lil muttaqiina imaama

Tak salah kalau menurut seorang motivator dari Malang, dr Arif Alamsyah, menuturkan bahwa setelah berputar-putar membahas cara terbaik bagaimana mendidik anak, ternyata metode tercanggih dalam mendidik anak adalah do'a.

Semoga bermanfaat

Karawang, 7 Januari 2015





Comments

  1. Keteladanan sempurna yang dijadikan permisalan oleh Allah pada diri nabi Ibrahim 'alaihi salam adalah satu-satunya, saya rasa setelah beliau baru bisa disebut sebagai salah satunya :D. Hanya saja untuk analogi long distance parenting yang anda coba sandarkan pada kisah nabi Ibrahim 'alaihi salam, sedikit kurang tepat.
    Salam blogger karawang :)

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah, saya suka komentar cerdas dari Mas Madar seperti di atas...
    oiya ttg keteladanan, ada dua person yang ALLah nyatakan pada diri mereka tauladan yg baik (uswatun hasanah) yaitu Nabi Muhammad saw dan Nabi Ibrahim as.
    Tentang sandaran analogi Long Distance Parenting (pengasuhan anak ketika berjauhan) dengan kisah Ibrahim yg dipertanyakan di atas, memang saya tidak hendak menyamakan. Tetapi saya mengambil inspirasi dari kisah Ibrahim yang harus meninggalkan keluarganya di Makkah (Ismail dan Bunda Hajar) ke Palestina padahal Ismail masih bayi, karena jalankan perintah Allah.
    Saat masa pengasuhan anak oleh Ayah dan Bundanya, keadaan dimana sang Ayah harus berjauhan dengan keluarga kerap terjadi. Lantas bagaimana penyikapan seorang Ayah saat menjumpai keadaan seperti itu? Nah di situlah Nabi Ibrahim beri contoh pada kita, salah satunya tentang Do'a yang luar biasa yang beliau lantunkan. Di tulisan atas saya belum membahas tentang isi do'a, baru mengulas tentang do'a secara umum.
    Kondisi di atas banyak dijumpai di sekitar kita, misalnya Ayah yang bekerja mulai pagi hingga larut malam sehingga pertemuan yang leluasa dengan anak menjadi sulit terjadi.

    ReplyDelete
  3. Wah kosakata baru nih ttg long distance parenting hehe. Btw, ant pernah ketemu sama dr arief alamsyah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini mah, ane aja yang ngarang, hehe
      dr Arief Alamsyah pernah ketemu dua kali. Di Bekasi sama di Karawang

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Hari Pertama Di Sekolah Alam

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah