Sunday, May 17, 2020

EASY COME EASY GO



Tulisan kali ini tentang  salah satu strategi terpenting untuk menumbuhkan karakter adalah dengan mengalami proses. Termasuk kesusahan yang menyertainya, yang semua orang cenderung menghindarinya itu. Di akhir tulisan ada pengalaman masa kecil pribadi penulis sebagai salah satu inspirasinya.


Tantangannya, orang lebih suka yang mudah-mudah. Pun anak-anak kita. 


"Mudah" dan "gampang" itu pengertiannya sama. Dalam bahasa Inggris sama-sama memakai kata "easy". Seperti judul di atas. Namun, di sini saya ingin membahasnya dalam konteks pendidikan karakter.


Ketika mudah memperolehnya, maka orang akan cenderung menggampangkan. Mudah mempelajari cenderung juga mudah melupakan. Mudah menghafal, maka biasanya gampang hilang. 


Penghargaan terhadap sesuatu biasanya seiring dengan kadar kesulitan di dalam memperolehnya.


Misalnya, apa istimewanya sebuah slayer? Yang hanya selembar kain itu?

Tetapi kalau itu diperoleh melalui perjuangan berat saat outbound atau survival di tengah hutan hingga mendaki puncak gunung, maka slayer itu memiliki nilai yang tinggi. 


Sebuah piala bisa kita beli di manapun. Tetapi mereka yang memperolehnya dengan keringat bercucuran. Berlelah dalam perjuangan. Maka ia akan merawatnya baik-baik. Disimpan di lemari kaca yang bagus. Disimpan di ruang tamu.


Selembar sertifikat atau ijazah bisa kita print dari manapun. Tetapi sertifikat atau ijazah hasil dari belajar bertahun-tahun, kemudian melalui ujian maraton, maka kita menempatkannya di tempat yang strategis. Dibingkai dengan bingkai yang bagus. Sehingga setiap saat kita bisa memandangnya atau memperlihatkan kepada keluarga, sahabat dan handai-taulan.


Saya punya koleksi buku yang diperolehnya dengan menabung, atau menyisihkan gaji. Saya rawat baik-baik. Saya bersihkan. Saya rapikan. Saya belikan lemari buku dari kaca yang besar. Dan betapa senangnya melihat buku berjejer aneka judul.


Tetapi anak-anak saya berbeda. Mereka mendapat buku paket dari sekolah tiap tahun. Yang saya bayari itu, sebagai orang tuanya. Juga yang selalu baru tiap tahun itu. Tetapi karena tidak memperolehnya dengan susah payah, disimpannya buku itu asal-asalan. Seperti nggak butuh. Seperti tak ada penghargaan terhadap buku.


Demikian juga mereka yang suka menyisakan makanan atau makan hanya yang sesuai selera. Sangat mungkin belum pernah mengalami susahnya memperoleh makanan. Tidak tahu bagaimana susahnya menanam padi. Memanen, mengolahnya hingga jadi beras dan nasi. Beternak ayam atau ikan. Membuat sambal. Atau sekedar menggoreng tempe sambil panas-panasan di dapur.


Mereka yang memperoleh makanan hanya karena punya uang dan tinggal klik tombol di gadget maka biasanya penghargaan terhadap makanan juga minimal.  Tidak enak sedikit, maka tak mau makan.


Berbeda dengan mereka yang mengalami kesulitan saat mengikuti proses menjadi makanan siap makan, penghargaan mereka relatif lebih baik. Selalu menghabiskan makanan. Juga tidak tergantung selera dalam makan. Relatif selalu mensyukuri.


Saya, kalau ditanya," apa rasa makanan yang ada di rumah makan saat wisata kuliner?" Maka saya jawab, "rasanya antara enak dan ueeeenaaak." Bagi saya tak ada yang tak enak. Karena terbiasa makan yang tanpa rasa. Juga mengalami susahnya mengikuti proses hingga jadi makanan.


Maka dalam konteks pendidikan karakter,  salah satu yang harus dikenalkan kepada anak-anak kita adalah mengalami susahnya menjalani proses. Apakah itu menanak nasi, menanam hingga memasak sayur, beternak atau menangkap ikan, memelihara ayam, membuat kandang, mencari pakan, pupuk, kandang, menggunakan perkakas dll.


Semua hal di atas akan memberikan pengalaman dan sikap kesyukuran serta menghargai proses. Menumbuhkan karakter lebih bijak dalam bersikap. Bersabar dalam menunggu hasil. Serta mengapresiasi usaha orang lain. Empati terhada kesulitan. Mudah menolong orang.


Bukan bermaksud menarik mundur waktu.Tetapi itulah kenapa project semacam urban farming perlu kita coba. Sebagai pilihan. Tentu ada banyak pilihan lain.


Dulu, di bawah didikan Abah saya. Hingga usia SMP. Saya punya pengalaman beragam. Tahu proses tumbuh kembang ayam mulai dari berbentuk telur, dieram induknya, menetas, lalu memelihara hingga besar. Lalu menyembelih sendiri. Tahu cara melepaskan bulu dari tubuh ayam. Hingga masak dan menyantapnya. Komplit.


Tahu pertukangan hingga bisa membuat kandang ayam sendiri. Membuat sangkar burung juga pernah. Apalagi sekedar kandang jangkrik. Jadinya saya tahu bagaimana menggunakan alat-alat pertukangan yang manual.


Saya juga tahu mengetam padi pake ani-ani. Melepaskan bulir padi dari batang. Hingga menggiling padi ke heuler. Dengan bonus desak halus buat pakan ayam dan ikan.


Banyak keterampilan hidup yang saya pelajari. Dalam suasana alami pedesaan.

Maka, kalau saya mengamati anak-anak saya di sekolah alam, itu saya alami dulu secara alamiah. Saya sebenarnya alumnus sekolah alam juga, hehe. Malah jauh lebih dan tidak artifisial.


Semoga di sisa waktu ini saya masih diberi kesempatan untuk merekonstruksi pengalaman-pengalaman hidup itu menjadi referensi kurikulum pendidikan yang unik untuk anak-anak saya.




 



No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...