Sunday, May 3, 2020

SOSOK INSPIRASI

sumber :internet


Saat mengobrol dengan anak-anak, berdiskusi atau bercerita tentang masa depan. Tentang bagaimana menghadapinya, biasanya saya cerita sosok-sosok inspiratif.  Baik dari zaman baheula maupun dari zaman kiwari 

Dari sosok zaman kiwari muncul Mark Zuckerberg, Jack Ma, Steve Jobs, Bill Gates,  Nadiem Makarim, Belva atau Ahmad Zaki. Mereka yang sukses dengan berselancar di atas arus besar internet. Salah satu karya canggih manusia.

Mereka memang sukses besar. Tentu dengan ukuran subjektif duniawi. Lalu membuat orang terobsesi. Ingin meniru. Menjadi yang terhebat, terpopuler atau terkaya di dunia.

Sosok-sosok ini memang banyak diulas di berbagai forum. Mulai dari pelatihan marketing, motivasi bisnis, maupun di dunia pendidikan.

Dalam lingkup lokal muncul juga nama-nama pemuda sukses seperti pendiri Ruangguru, Kitabisa.com,  Traveloka, Bukalapak dan sebagainya. Mereka sosok millenial sukses dengan memanfaatkan teknologi informasi terkini.

Sedangkan dari zaman baheula yang biasanya di munculkan adalah sosok tauladan Rasulullah dan para sahabatnya. Lalu ada Muhammad Al-fatih atau Salahudin Al Ayubi.  Juga nama-nama lokal populer misalnya Bung Karno, Natsir, Hamka, hingga Pak Habibie.

Namun tetiba ada yang interupsi. Rasanya menghentak kesadaran. Berupa kasus stafsus milenial RI-1 yang dihujat dan dikritik. Karena memanfaatkan posisinya. Lantas dituding mengambil keuntungan materi di saat krisis Corona begini. Sebuah atraksi yang tidak bermoral.

Lalu muncullah diskusi yang seru. 

Mereka memang sukses muda. Juga sangat cepat. Ruangguru misalnya. Startup yang baru seumur jagung itu bisa melampaui capaian dari lembaga bimbel konvensional semacam Primagama, NF, GO dan sebagainya.

Di sektor filantropi, ada Kitabisa.com melampaui pencapaian lembaga formal-konvensional seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, juga PKPU. 

Kekuatan internet memang membuat banyak pihak melejit, sementara yang lainnya berjatuhan. Memporak-porandakan rumus baku yang selama ini berlaku. Membuat terperangah orang-orang tua, tetapi sebaliknya dijadikan acuan dari anak-anak muda milenial.

Tetapi, dengan adanya kasus stafsus presiden di atas, sebagai orangtua saya merasa perlu meninjau ulang siapa sosok yang dijadikan inspirasi untuk anak-anak kita.

Anak-anak kita memang anak zamannya, tetapi ada yang tidak boleh untuk dilepaskan yaitu basis aqidah, dan basis akhkak.

Karena itu sosok inspiratif yang di diceritakan sebaiknya beragam. Karena anak-anak kita pun beragam potensinya unik. Setiap anak special edition. Tidak ada anak yang sama. Bahkan dengan kita orang tuanya.

Maka kita perlu menyampaikan beragam profil kesuksesan dari berbagai dimensi kehidupan. Juga tak sekedar sukses di dunia. Sukses di akhirat justru harus lebih kuat pesannya.

Termasuk ketika memang harus bersabar saat di dunia. Karena tidak semua ditakdirkan kelimpahan harta. Bisa karena Allah takdirkan begitu. Bisa  karena tengah berproses yang masih butuh jatuh bangun. 

Tetapi ukuran akhiratnya yang kudu kita pegang.

Saya jadi teringat saat pamitan ke seorang sesepuh waktu mau hijrah ke Karawang Jawa Barat dari Lumajang, Jwa Timur. Waktu itu saya silaturahim untuk pamitan dan minta doa. Beliaulah satu-satunya  orang tua yang menangisi kepergian saya ke Karawang. (Catt: beliau sekarang sudah wafat, lahul fatihah)

Nasihat yang saya ingat betul adalah "hati-hati dengan kekayaan".  Padahal saya juga tidak hijrah untuk meningkatkan kekayaan. Hanya pindah kerja. 

Lalu beliau mengatakan, kalau disuruh memilih antara jadi orang kaya atau orang miskin. Beliau lebih memilih jadi orang miskin. "Orang miskin lebih mudah masuk surga," katanya. 

Beliau memang dikenal sebagai sosok yang alim tapi sangat bersahaja. Karena itu dicintai oleh jamaahnya. Penghasilan sehari-hari adalah sebagai petani.

Ungkapan beliau setidaknya menjadi penyeimbang. Dari kebanyakan obsesi kita para orang tua tentang ukuran kesuksesan.

Setidaknya saya punya banyak tema cerita untuk anak-anak. Tak sekedar seorang Zuckenberg.

Maka saya tak menyesal saat menjadikan kakak kelas anak pertama saya, seorang putri kawan saya yang berjualan bubur, untuk dijadikan panutan. Karena ia sangat baik akhlak pada orang tua. Juga seorang aktivis kebaikan di lingkungannya.

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...