AYAH, BAKAT DAN IMAN

Serial  "Tax Ratio Bukan Kutukan" , Tulisan #16

***
Seorang siswa tampil bercerita dengan sangat memukau. Hafalan cerita dan ekspresi tubuhnya saat memainkan karakter tokoh begitu hidup. Pantaslah kalau Zulfan, nama siswa tersebut, menjadi juara 1 lomba bercerita tingkat Kalbar. Penampilannya sontak membuat acara pembukaan Parenting SDIT Al Karima, kabupaten Kubu Raya itu menjadi meriah. Ruangan aula gedung Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar pun bergemuruh oleh tepuk tangan peserta.
Setelah rangkaian acara pembukaan, saat pemaparan parenting keayahan, saya sempat sampaikan bahwa fenomena Zulfan adalah tentang sosok ayah yang sensitif dengan keunikan anak. Itulah ayah sebagai pendidik individualitas. Ayahanda Zulfan berhasil melihat keunikan anak dan mengarahkannya. Memfasilitasi dengan mendatangkan pelatih dari luar dan latihan yang disiplin.
Bahwa pertemuan yg relatif jarang antara ayah dan anak tersebab tanggung jawab sosial dan pekerjaan, bukanlah sesuatu yang negatif. Justru hal ini akan membangun sensitivitas pada keunikan anak.
Itu juga yang pernah penulis alami. Ketika menghantarkan anak pertama jadi penulis hingga terbit buku di usia SMP. “Umi nggak kepikiran Si Teteh bisa jadi penulis sampai sejauh itu pencapaiannya, Bi,” kata nyonya. “Mungkin itu porsi abi. Setelah umi paripurna melimpahi kasih sayang dan mengasuhnya. Biar bagi-bagi peran,“ kataku.
Jarak ruang dan waktu juga membuat seorang ayah memiliki pandangan yang lebih obyektif, serta lebih mungkin bersikap tega. Berkebalikan dengan bunda yang karena lebih lekat dan intens kedekatan dengan anak, membuat hubungan terjalin lebih secara emosional, sehingga wajar kalau sering kehilangan objektivitas, dan membuatnya sulit bersikap tega.
Sisi lain yang bisa jadi tidak kita sadari. Penjiwaan Zulfan terhadap kisah yang dibawakan adalah contoh konkret betapa seorang anak begitu imaginatif. Mudah menerima sesuatu yang tidak logis. Ia begitu meresapi kisah awal mula Bukit Wangka, tentang seorang lelaki yang menikah dengan perempuan cantik jelmaan ikan mujair sungai Kapuas.
Cerita mitos begini ternyata sangat mempengaruhi cara berfikir anak. Saya pun pernah mengalami. Saat kecil dulu. Begitu terpengaruhnya saya oleh cerita-cerita petualangan dari tatar Pasundan yang biasa dituturkan dalam dongeng enteng di radio. Oleh seorang lelaki yang kemudian menjadi legenda hidup masyarakat Sunda. Sampai- sampai ketika main ke hutan pinggiran desa, yang terbayang adalah di situ ada gua atau padepokan tempat pendekar sakti yang sedang mendalami ilmu kanuragan, yang kebal senjata, bisa terbang atau menghilang.
Sebab kenapa kita takut lewat kuburan, plus imaginasi tentang hantu, tempat angker dll juga dibangun dari cerita masa kecil, bukan?
Sekarang, bisa dibayangkan apa dampaknya kalau yang diceritakan oleh para lelaki kepada anaknya itu kisah perjuangan para nabi dan orang-orang bijak di kitab suci. Banyak diantaranya kisah yang di luar logika tapi memang nyata dan bukan mitos. Tentang kelahiran dan kisah hidup para nabi, kisah malaikat, surga, hari akhir, turunnya kitab, serta mukjizat.
Itulah mengapa masa emas mendidik iman itu ada di usia imaginatif, di usia 0-7 tahun. Ketika otak imaginatif lebih awal berkembang sebelum otak logika yang mulai berkembang sejak usia 7 tahun.
Menariknya lagi, di Al Quran, para petutur iman kepada anaknya itu juga adalah para ayah. Ada Ayah Lukman, Ibrahim, Ya'kub, juga Zakaria.
Bagaimana pendapat Anda?
***
Pontianak, 4 Agustus 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MUTASI PONTI

PANGAN, SAMPAH dan PENDIDIKAN KITA

KAWANKU PAHLAWAN