BUKAN SEKADAR ANGKA
“Pak, Sol. Kapan terbit SP2DK-nya? ini sudah mau masuk semester II”.
“Bentar lagi, Pak. Masih banyak data belum tergarap”
“Pak, SP2DK sudah lewat 90 hari, belum LHP2DK. Time Manajemen-nya nggak dapat.”
“Ini WP besar, Pak. Banyak datanya, kompleks permasalahanya. Nggak bisa dipatok 90 hari. Apalagi sambil menggarap yang lain. Belum lagi mengatur jadwal pembahasan yang ribet.”
“Pak, Sol Kapan WP-nya setor?”
“Tanggal 5 Desember, Pak. Memang kenapa, Pak?”
“Kalau lewat tanggal 5, akan dinaikkan ke Pemeriksaan”.
***
Kenapa harus segera terbit SP2DK?
Karena ada ukuran time manajemen, tidak boleh lebih lambat dari rata-rata nasional. Kalau rata-rata nasional 30 hari setelah tanggal ditetapkan DPP, maka lewat dari itu, poin berkurang. Akan dianggap lambat kerjanya. “AR yang lain bisa cepat, kenapa Kamu lambat?”
Kenapa 90 hari harus LHP2DK?
Ini standar aplikasi Mandor. Dipukul rata. Walaupun WP yang kompleks tentu akan lebih membutuhkan waktu.
Kenapa ditanya kapan setor?
Karena kualitas dihitung dari realisasi. Jika nol, sedalam apapun analisis, akan dinilai 0. Bahkan minus.
Dalam keseharian seorang Account Representative, angka telah bertahta sebagai "otoritas tertinggi" yang absolut. Ia menyusup ke setiap derap langkah, mendikte kinerja melalui dimensi kuantitas, kualitas, dan satuan waktu. Angka bukan lagi sekadar data; ia telah menjadi bahasa resmi profesionalisme yang menawarkan ilusi objektivitas, kepastian, dan keadilan. Karena semua harus terukur (measurable).
Ia ibarat kompas di tengah samudra birokrasi—memberi arah agar kapal tidak kehilangan haluan.
Walaupun kompas bukanlah laut itu sendiri. Ia adalah alat navigasi, bukan tujuan perjalanan.
Angka sejatinya sebagai pelayan makna. Bukan ukuran segalanya.
Sebagaimana peringatan Albert Einstein:
“Not everything that can be counted counts, and not everything that counts can be counted.”
Tidak semua yang terhitung itu bermakna, dan tidak semua yang bermakna mampu diringkas dalam angka.
Robot Bernyawa dalam Labirin Sistem
Saya merasa, AR perlahan telah bertransformasi menjadi "robot bernyawa" yang dikendalikan secara algoritmik. Setiap gerak direncanakan, dipantau, diukur, dan dievaluasi oleh sistem. Aplikasi Mandor telah meringkas kerja manajemen menjadi lebih ringan, real time dan presisi. Sekaligus menjadi pusat tata surya bagi 11 ribu AR mengorbit tiap hari.
Sistem yang terukur memang telah membuat para pemimpin dimudahkan. Modernisme mengagungkan fenomena ini sebagai efisiensi—sebuah turunan dari prinsip ekonomi: minimum effort, maximum result.
Namun, sistem tetap memiliki keterbatasan fundamental: ia mampu membaca input, tetapi buta terhadap niat; ia merekam durasi, tetapi gagal menangkap kedalaman analisis.
Ketika seorang AR harus berhadapan dengan entitas bisnis berskala triliunan dengan labirin laporan keuangan yang rumit, sejatinya ia sedang melakukan kerja intelektual tingkat tinggi.
Ketika menyusun LHPt yang mempertanggung-jawabkan angka-angka besar, tentu membutuhkan kontemplasi dan validasi yang bahkan setara dengan penyusunan tesis. Namun, dalam rezim time management yang kaku, kualitas sering kali dikorbankan demi kecepatan. Semakin cepat, semakin baik. Di sinilah paradoks itu menganga: AR dituntut akurasi LHPt sepresisi skripsi, namun hanya diberikan ruang waktu sekelas nota dinas.
Jika angka terus didewakan tanpa keseimbangan, harga yang harus kita bayar adalah hilangnya keberanian intelektual. Fiskus akan terdorong memilih jalan yang paling mudah diukur, bukan yang paling tepat secara substansi.
Wajib Pajak Bukan Sekadar Angka
Ini fakta yang kerap kita lewatkan. Karena tersapu pesona statistik. Bahwa Wajib Pajak itu dibentuk oleh makhluk hidup—bukan benda mati.
Ia adalah benih yang diharapkan kelak berbuah penerimaan negara. Tugas fiskus bukan memaksa berbuah lebih cepat, melainkan merawat ekosistemnya: memberi pemahaman, membangun kepercayaan, dan menjaganya dari kesalahan formal dan material.
Maka menghadapi WP bukan menghadapi benda mati. Pendekatannya adalah pendekatan humanis : manusia berhadapan dengan manusia.
Ketika cara pandang kita sudah humanis ke WP, maka WP-pun akan mengannggap petugas sebagai manusia juga.
Merawat Organisme, Mengembalikan Makna
Soepomo pernah menegaskan bahwa negara adalah sebuah organisme hidup. Maka, kerja aparatur negara seharusnya dipahami sebagai kerja merawat kehidupan (al-nihayat al-hayaat), bukan sekadar menyelesaikan target mekanis.
Kita lupa, bahwa tax ratio bukan sekedar statistik. Wajib Pajak bukan hanya kumpulan angka. Penerimaan pajak bukan hanya akumulasi rupiah.
Di awal tugas di Sintang.
Angka memang penting sebagai jangkar realitas, namun manusialah yang memberi jiwa pada setiap angka tersebut. Karena pada akhirnya, keberhasilan perpajakan yang sejati tidak hanya nampak pada grafik di dashboard, melainkan pada tumbuhnya kepercayaan dan kepatuhan sukarela yang berakar kuat dalam sanubari warga negara.
Angka adalah kerangka, tetapi manusia adalah nyawanya.
Comments
Post a Comment