BUKAN SEKADAR ANGKA
Saat awal bertugas di Sintang, awal tahun 2024 lalu. Sebagaimana normalnya di tempat baru, saya harus banyak melakukan "say hello" ke wajib pajak.
Pada satu obrolan perkenalan, saya pasang mode lepas. Saya biasa tertawa terbahak. Orang menyebutnya tertawa karir. Rupanya wajib pajak merasa senang. Karena bisa ikut tertawa lepas juga. Dari situlah mulai terjalin komunikasi yang terbuka. Belakangan, ketika wajib pajak ini harus membayar kekurangan pajak setelah dikirim SP2DK, ternyata tetap bisa tertawa. Asal argumennya valid. Artinya keakraban tidak mengurangi profesionalisme.
Pada kesempatan lain ketika melakukan kunjungan ke wajib pajak di daerah Kabupaten Melawi. Menjelang akhir tahun 2024. Ada insiden kecil. Dipicu komunikasi yang menurut mereka kurang tepat. Rupanya ada diantara yang hadir tersinggung. Rupanya ia seorang Panglima Asap -- pemimpin ormas suku setempat, yang ikut terlibat dalam bisnis WP yang dikunjungi. Karena merasa punya daya tawar lebih, ia mengancam akan menuntut dengan hukum adat. Ia menilai petugas sudah memberikan tindakan ke WP berdasarkan informasi yang tidak akurat.
Setelah sempat tegang dan serasa menemukan jalan buntu --sepertinya karena penjelasan kami mengedepankan angka dan peraturan. Argumen jadi tidak mempan. Tetapi akhirnya bisa keluar dari lubang jarum. Setelah mengawali dengan kata "Maaf".
***
Ketika dinamika di dalam institusi semakin terukur, persepsi kita ke luar rasanya juga sama. Karena tersapu pesona statistik, kita lupa bahwa Wajib Pajak itu dibentuk oleh makhluk hidup—bukan benda mati.
Merawat Organisme, Mengembalikan Makna
Soepomo pernah menegaskan bahwa negara adalah sebuah organisme hidup. Maka, kerja aparatur negara seharusnya dipahami sebagai kerja merawat kehidupan (al-nihayat al-hayaat), bukan sekadar menyelesaikan target mekanis.
Saya harus memandang bahwa Wajib Pajak adalah benih yang diharapkan kelak berbuah penerimaan negara. Tugas saya bukan memaksa berbuah lebih cepat. Melainkan merawat ekosistemnya: memberi pemahaman, membangun kepercayaan, dan menjaganya dari kesalahan formal dan material.
Sehingga memandang tax ratio bukanlah sekedar statistik. Wajib Pajak bukan hanya kumpulan angka. Penerimaan pajak bukan hanya akumulasi rupiah.
Maka ketika menghadapi WP, saya tidak boleh seperti menghadapi benda mati. Karena dari pengalaman, ketika cara pandang saya sudah humanis, maka WP-pun akan menganggap saya sebagai manusia juga.
Angka memang penting sebagai ukuran realitas. Namun manusialah yang memberi jiwa. Karena pada akhirnya, keberhasilan perpajakan tidak hanya nampak pada grafik dan statistik, melainkan pada tumbuhnya kepercayaan dan kepatuhan sukarela.
Angka adalah kerangka, tetapi manusia adalah nyawanya.
Komentar
Posting Komentar