HADIAH MUTASI

 

***

Nasi sudah jadi bubur. Takdir sudah berjalan. Waktu tidak bisa diputar ulang. Posisi sudah di Kalimantan. Bahkan sekarang sudah di pedalamannya. Ada perasaan terjebak. Merasa jadi terhukum tanpa melakukan kesalahan. Di institusi yang melaungkan akuntabilitas, tetapi pola mutasi pegawainya sendiri mengandung ketidakpastian, adalah sebuah paradoks yang nyata.

Ada juga rasa iri dengan yang masih nyaman dekat keluarga keluarga. Kadang bertanya dalam hati: apakah kawan-kawan saya di Jawa masih memiliki empati dengan rekan seperjuangannya yang terperangkap di daerah remote tanpa tahu kapan pastinya akan kembali? Ataukah hanya sekilas ikut prihatin lalu lalu berkata dalam hari : Sorry, itu sih derita Loe.

Apakah ini bagian dari reformasi birokrasi yang belum selesai di mana real performance dan pseudo performance masih sulit dibedakan?

Masalahnya, saya harus tetap waras. Walau raga memang sudah terkurung oleh dimensi jarak. Mental saya, pikiran saya harus tetap bebas dan waras.  

Bahagia atau tidaknya sebuah penugasan, sering kali ditentukan bukan oleh tempatnya, melainkan oleh makna yang kita lekatkan padanya. Kalaulah ada ketidakadilan di prosesnya, biarkan itu urusan mereka dengan Yang Maha Adil.

Maka, pikiran di kepala saya rubah sekalian. Secara radikal saya rubah pikiran. Bahwa mutasi ke Sintang adalah hadiah

Saya coba memaknai bunyi hadits : "Anna 'inda zhanni ''abdi bii" : Aku sebagaimana prasangka hambaKu padaKu. 

Ketika pikiran saya setting ulang. Benar saja. Rupanya ada banyak hadiah yang Allah berikan. Berupa pengalaman dan hikmah.

Salah satu hikmahnya adalah pengalaman yang sebelumnya bahkan tidak pernah terlintas dalam imajinasi. Saya jadi belajar bahwa Indonesia tidak berhenti di garis pantai utara Jawa. 

Saya bisa bersentuhan dengan kearifan lokal, menyerap kebijaksanaan yang tidak tertulis di buku teks, tetapi hidup dalam keseharian masyarakatnya.

Sebelumnya tak pernah terpikir bisa menyusuri sungai di pedalaman Kalimantan. Di Kabupaten Kapuas Hulu, perbatasan Malaysia, Sungai Utik yang tenang, telah membawa saya pada cerita peradaban. Di sana, saya bisa beramah tamah dengan tokoh masyarakat Dayak Iban, Apay Janggut. Di rumah adat Betang yang full kayu ulin. Sebuah pelajaran sunyi tentang harmoni manusia dan alam—sesuatu yang oleh E.F. Schumacher, ekonom humanis dunia, disebut sebagai “small is beautiful, but meaningful.”

Di pelosok Kabupaten Sanggau, bisa merasakan Riam Pancur Aji yang menghadirkan air pegunungan nan jernih. Juga sungai nan lebar dengan bebatuan eksotik di Batu Jato, Kabupaten Sekadau. Membasahi badan dengan air sungainya membuat badan menyatu dengan alam Kalimantan. 

Dalam satu kesempatan touring via darat dari Sintang–Ketapang, bisa memandang hamparan hutan tropis yang terbentang di kejauhan terasa seperti potongan gambar National Geographic yang tiba-tiba menjadi nyata. Sedangkan ketika melintasi jalur perbatasan Indonesia–Malaysia di sekitar Badau, ada spot mirip di jalur Brastagi arah Danau Toba. Saya bisa memandang danau Sentarum nan luas di kejauhan. 

Ada juga destinasi yang paling sering dikunjungi: Bukit Kelam. Batu tunggal terbesar di Asia Tenggara yang begitu megah terlihat dari kejauhan. Sayangnya belum sempat mendaki ke puncaknya.

Momen akhir tahun ada keseruan yang unik. Kenikmatan unik sederhana namun berlimpah: durian. Tanpa perlu khawatir harga. Bahkan sarapan nasi pun bisa berganti sebiji durian utuh. Durian hutan dengan rasa terbaik hadir nyaris setiap hari. Merasakan betapa enaknya durian hutan dari Tekalong, Balai Karangan, Melawi. Lebih legit dari durian Monthong. Sebuah pelajaran bahwa kesejahteraan tidak selalu identik dengan uang, melainkan dengan kedekatan pada sumber daya alam. 

Di Sintang, sempat juga membangun komunitas parenting, khususnya pada tema keayahan. Lahir The Goodfather Sintang. Muncul sebelum komunitas keayahan Kalimantan Barat. Hingga akhirnya beresonansi pada tingkat nasional melalui munculnya Lingkar Ayah Indonesia.

Itulah beberapa hadiah penempatan di Kalimantan. Walaupun proses munculnya menyisakan stereotif, “Salah Loe apa sampai terlempar sejauh itu?” 

Tanpa disadari, kita sering terbawa cara berpikir yang dibentuk oleh kenyamanan infrastruktur pulau Jawa. Dengan segala kemudahannya. Memang memanjakan. Di sisi lain, daerah seperti Sintang membentuk karakter yang berbeda—lebih tangguh, lebih adaptif. Alam mendidik langsung, tanpa banyak kompromi. Di sinilah generasi dibesarkan oleh realitas, bukan semata fasilitas.

Jelasnya, mutasi bisa menjadi cara DJP berkontribusi merawat jiwa NKRI. Bahwa Nusantara tidak berdiri di satu pulau, tetapi ia tegak oleh keberanian warganya untuk hadir di mana pun ia dibutuhkan.

Maka, sudah seharusnya institusi sehebat DJP  tidak lagi menjadikan mutasi sebagai hukuman. Di samping menyulitkan untuk pengambilan keputusan yang adil, juga akan terasa menyakitkan bagi petugas yang sudah ikhlas bertugas di daerah remote. 

Apalagi kawan-kawan fiskus yang masih muda, tak pantas untuk takut dimutasi ke luar Jawa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MUTASI PONTI

PANGAN, SAMPAH dan PENDIDIKAN KITA

KAWANKU PAHLAWAN