HADIAH MUTASI

 

***

Nasi sudah jadi bubur. Takdir sudah berjalan. Waktu tidak bisa diputar ulang. Posisi sudah di Kalimantan. Bahkan sekarang sudah di pedalamannya. Ada perasaan terjebak. Ketika ditempatkan di daerah remote, aturan kepegawaian mematok minimal lima tahun. Ada rasa iri dengan yang masih di pulau Jawa. 

Tapi, saya harus tetap waras. Harus menyelamatkan diri saya, mental saya, pikiran saya. Jadinya saya rubah sekalian. Mutasi ke Sintang adalah hadiah. Seperti bunyi hadits "Anna 'inda zhanni ''abdi bii" : Aku sebagaimana prasangka hambaKu padaKu. Atau filosof Marcus Aurelius :  “The happiness of your life depends upon the quality of your thoughts.” Bahagia atau tidaknya sebuah penugasan, sering kali ditentukan bukan oleh tempatnya, melainkan oleh makna yang kita lekatkan padanya. Kalaulah ada ketidakadilan, biarkan itu urusan mereka dengan Yang Maha Adil

Ketika Pikiran saya setting ulang. Benar saja. Rupanya ada banyak hadiah yang Allah berikan. Berupa pengalaman dan hikmah.

Salah satu hikmahnya adalah pengalaman yang sebelumnya bahkan tidak pernah terlintas dalam imajinasi. Saya jadi belajar bahwa Indonesia tidak berhenti di garis pantai utara Jawa. 

Kita bisa bersentuhan dengan kearifan lokal, menyerap kebijaksanaan yang tidak tertulis di buku teks, tetapi hidup dalam keseharian masyarakatnya.

Sebelumnya tak pernah terpikir bisa menyusuri sungai di pedalaman Kalimantan. Apalagi di Kabupaten Kapuas Hulu, perbatasan Malaysia. Sungai Utik yang tenang, telah membawa saya pada cerita peradaban. Di sana, saya bisa beramah tamah dengan tokoh masyarakat Dayak Iban, Apay Janggut. Di rumah adat Bethang yang full kayu ulin. Ia memberi pelajaran sunyi tentang harmoni manusia dan alam—sesuatu yang oleh E.F. Schumacher, ekonom humanis dunia, disebut sebagai “small is beautiful, but meaningful.”

Di Sanggau, bisa merasakan Riam Pancur Aji yang menghadirkan air pegunungan nan jernih. Membasahi badan dengan air sungainya membuat badan menyatu dengan alam Kalimantan. 

Dalam satu kesempatan touring via darat dari Sintang–Ketapang, bisa memandang hamparan hutan tropis yang terbentang di kejauhan terasa seperti potongan gambar National Geographic yang tiba-tiba menjadi nyata. Indonesia, rupanya, jauh lebih luas daripada yang sering kita rasakan. Sedangkan di jalur perbatasan Indonesia–Malaysia di sekitar Badau, ada spot mirip di jalur Brastagi arah Danau Toba. Kita bisa memandang danau Sentarum nan luas di kejauhan. 

Momen akhir tahun ada keseruan yang unik. Kenikmatan unik sederhana namun berlimpah: durian. Tanpa perlu khawatir harga. Bahkan sarapan pun bisa berganti sebiji durian utuh. Durian hutan dengan rasa terbaik hadir nyaris setiap hari. Merasakan betapa enaknya durian hutan dari Tekalong, Balai Karangan, Melawi. Durian Montong pun dibuat minder. Sebuah pelajaran bahwa kesejahteraan tidak selalu identik dengan uang, melainkan dengan kedekatan pada sumber daya alam. 

Di Sintang, saya sempat membangun komunitas parenting di Sintang, khususnya pada tema keayahan. Lahir The Goodfather Sintang. Muncul sebelum komunitas keayahan Kalimantan Barat. Hingga akhirnya beresonansi pada tingkat nasional melalui munculnya Lingkar Ayah Indonesia.

Kemudian, dengan dibantu teknologi saya masih bisa mengelola komunitas parenting nasional dengan anggota yang tersebar di seluruh Nusantara—bahkan mancanegara. Jarak geografis tidak lagi identik dengan keterbatasan peran. 

Itulah beberapa hadiah penempatan di Kalimantan. Walaupun proses munculnya menyisakan stereotif, “Salah Loe apa sampai terlempar sejauh itu?” 

Tanpa disadari, kita sering terbawa cara berpikir yang dibentuk oleh kenyamanan infrastruktur pulau Jawa. Dengan segala kemudahannya. Memang memanjakan. Di sisi lain, daerah seperti Sintang membentuk karakter yang berbeda—lebih tangguh, lebih adaptif. Alam mendidik langsung, tanpa banyak kompromi. Di sinilah generasi dibesarkan oleh realitas, bukan semata fasilitas.

Jelasnya, mutasi bisa menjadi cara DJP berkontribusi merawat jiwa NKRI. Bahwa Nusantara tidak berdiri di satu pulau, tetapi ia tegak oleh keberanian warganya untuk hadir di mana pun ia dibutuhkan.  


Comments

Popular Posts