MULAI DARI AKHIR

Bulan Agustus lalu, pada saat Forum Pengawasan, saya melaporkan progres salah satu Wajib Pajak :

“Izin lapor, Pak. WP yang kemarin jawab SP2DK sudah setor Rp1,5 miliar plus pembetulan SPT,” kata saya.

“Cepat sekali responsnya. Mantap, Pak!” kata Pak Sen, Kepala Kantor. “Tapi dengan respon seperti itu potensi tambahannya bisa jadi jauh lebih besar. Data yang diminta apa sudah dikasih semua, Pak?” lanjutnya.

“Sudah, Pak. Banyak sekali.” jawab saya.

“Kalau begitu, jangan ditutup dulu. Kita analisis lagi yang dalam,” tegasnya.

“Siap, Pak!” jawab saya. Arahannya jelas. Perjalanan saya jadi belum bisa berakhir.

Rekan-rekan saya ada yang berkomentar ramah. “Pak Sol, itu kerjaan satu tim pemeriksaan lho, apalagi tiga tahun pajak. Kalau dikerjain sendirian, DPP lain bisa-bisa kedodoran!”

Saya hanya tersenyum kecut. “Ya bagaimana lagi. WP-nya sangat kooperatif. Semua data yang diminta diberikan lengkap. Mau tak mau harus diolah. Akhirnya jadi pengawasan rasa pemeriksaan.” jawab saya.

Data yang diberikan WP memang begitu banyak. Aplikasi Excel langsung menyerah karena row-nya tembus dua juta baris. Saya akhirnya meminta bantuan ke fungsional pemeriksa. Ada yang punya laptop spek gaming yang sanggup melahap data jumbo.

Jam kerja resmi pun menjadi formalitas belaka. Sejak pertengahan tahun, pulang jam 8 malam adalah new normal.

Setelah diskusi maraton via telepon dan dua pertemuan tambahan yang melelahkan, akhirnya tuntas menjelang akhir tahun. Hasilnya? Tanggal 5 Desember 2025, tambahan setoran Rp4,9 miliar masuk kas negara. Total dari satu WP ini: Rp6,4 miliar.

Capek? Luar biasa. Tapi manisnya tak bisa dilukiskan. Apalagi mulai masa pajak September 2025, setoran rutin bulanan WP melonjak dari Rp300 jutaan jadi Rp500 jutaan. Dengan kesadaran sendiri. Kepatuhan sukarela akhirnya tercipta. Dua misi utama pengawasan akhirnya tercapai.

Sementara itu, pushrank saya tetap nyaman di dasar klasemen. Sistem membaca saya sebagai pegawai yang lambat bekerja. Tidak kompetitif. Pelajaran dari Wilayah Sunyi

Angka dan grafik yang muncul di aplikasi pushrank memang komplit. Bahkan bisa membaca data aktivitas di kantor lain.

Tetapi, tetap saja ada wilayah sunyi yang tak pernah tergambar. Seperti gunung es yang terlihat hanya ujungnya. Sedangkan di bawahnya jauh lebih besar tak terlihat. Seperti mesin yang menggerakkan kapal, yang justru ada di bagian tak kasat mata di bawah permukaan.

Mewujudkan kepatuhan berkelanjutan dan penerimaan optimal faktanya sering membutuhkan effort yang tak terukur: malam-malam panjang, analisis mendalam, kesabaran baja. Lebih banyak, lebih keras, lebih lama daripada yang sistem bisa tangkap.

Tanpa sadar, kita memasuki ranah yang melampaui meritokrasi biasa—melampaui jam kerja, tak terkait jabatan, lebih dari karena dapat tukin, kehormatan struktural, atau peringkat kinerja. Kita menyebutnya kepahlawanan versi kantoran.

Heroisme itu ternyata bukan monopoli pejuang senjata, relawan bencana, atau ibu yang melahirkan. Ia juga hadir di meja kerja kita: saat fokus bergulat dengan data jumbo demi penerimaan negara meski tak ramah pushrank ; saat membimbing WP sampai patuh walau tak ada kolom khusus di laporan kinerja.

Banyak contoh lagi. Salah satunya kawan saya seorang ibu-seumuran, harus menempuh perjalanan dengan medan berat dan jarak yang jauh. Lokasi WP-nya di Sungai Silat antara Simpang Silat dan Badau. Di tengah-tengah kawasan hutan sawit. Untuk menindaklanjuti data pemicu yang nilainya tidak sampai 5 juta.

Untuk mendatangi Wajib Pajak di Putussibau kami kadang harus berangkat jelang malam. Pernah dalam keadaan hujan. Menembus jalur trans Kalimantan yang berkelok dan naik turun 7 jam lamanya. Di KPP Sintang cerita seperti ini sudah menjadi hal biasa.


Mengapa Perlu Kepahlawanan?

Karena mewujudkan kepatuhan WP itu sesulit mendaki gunung. Apalagi kepatuhan WP besar. Semakin tinggi gunung, oksigen semakin tipis—resistensi lebih kuat, data lebih kompleks, godaan menyerah lebih menggoda. Apalagi di tengah banjir berita korupsi dan kekecewaan publik. Mendorong orang untuk patuh pajak itu seperti menimba air dengan keranjang berlubang

Soekarno pernah bilang, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” Maknanya: bangsa besar terus melahirkan pahlawan baru yang relevan zamannya. Kini, pahlawan tak lagi angkat senjata, tapi angkat tanggung jawab ekstra—tanpa diminta, tanpa sorak-sorai. Semua Berawal Dari Niat "Begini with the end of mind", begitu kata Steven Covey. Memulai dari tujuan. Dalam keseharian kita, akrab dengan ungkapan "Semua tergantung niat".

Kalau niatnya bekerja untuk mempercantik tampilan push rank, maka jadilah push rank yang cantik. Kalau tidak ingin dimutasi regional, maka push rank akan diupayakan jangan sampai paling bawah. Di sinilah muncul kompetisi. Karena semua tak ingin kena rotasi regional. Kepentingan pribadi naik. Kolaborasi terancam.

Sejak zaman ranking menggunakan aplikasi excel hingga sekarang dengan aplikasi Mandor, memang selalu ada modus seperti itu. Legal secara administrasi. Juga terlihat sibuk banyak aktivitas.

Tahun 2019 ketika awal mulai diberlakukan sistem ranking, banyak AR yang membuat SP2DK menggunakan aplikasi robot Macros. Tiba-tiba saja satu AR menerbitkan ratusan SP2DK. Entah kapan menganalisisnya dan bagaimana menghitung potensinya. Sistem membaca : petugas ini sangat produktif. Adapun yang berniat memaksimalkan penerimaan, pastinya akan fokus dengan analisis mendalam dulu sebelum terbit SP2DK. Kuantitas biasanya tertinggal. Terbaca tidak produktif. 

Di akhir tahun, yang SP2DK terbanyak jadi AR terbaik, sedangkan yang SP2DK sedikit tapi pencairannya signifikan dipanggil ke Kanwil untuk mengikuti coaching. Dinilai tidak perform.

Di zaman pushrank, strateginya menyesuaikan : LHPt-SP32DK diupayakan selesai cepat. Untuk kualitas, yang penting realisasi PKM di atas jumlah minimal.

Dari data mandor, yang poin bagus dan realisasi PKM bagus itu karena ada faktor bahan baku DPP. Saya melihat ini muncul di KPP Pratama kota besar semisal KPP Pontianak Timur, Kota Yogyakarta, Samarinda, Balikpapan, Jakarta. Tempat WP pusat yang besar terdaftar. Lokasinya juga mudah dijangkau. Kalau di KPP remote biasanya hanya bisa memaksimalkan poin.

Jadi semua kembali ke niat.

Bagi saya dan banyak fiskus lagi di luar sana, tentu akan merasa kehilangan makna ketika bekerja hanya tentang mengejar peringkat. Sementara misi utama pengawasan adalah meningkatkan kepatuhan WP dan berkontribusi menambah penerimaan negara.

Lalu apakah salah ketika seorang AR memilih tegak lurus ke misi utama pengawasan, dengan siap menanggung risiko dinilai tidak kompetitif?

Saya merasa di sinilah kejujuran diuji. Mengedepankan penilaian manusia ataukah jujur di hadapan Tuhan.

Sekarang saya meyakini tak ada ruginya memberi lebih ke negara. Kenapa kita hitung-hitungan untuk sedekah waktu, tenaga dan pikiran ke negara. Pulang malam tanpa perintah atasan, menelusuri modus WP meski poin time management tidak dapat, mengutamakan penerimaan negara ketimbang peringkat pribadi.

Kita hanya perlu bersabar. Karena Tuhan tak pernah tidur. Dan siapa tahu, push rank di dasar jurang itu justru menjadi medali tersembunyi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MUTASI PONTI

PANGAN, SAMPAH dan PENDIDIKAN KITA

KAWANKU PAHLAWAN