HEROISME
“Pak, WP sudah setor 1,5 Miliar. Juga sudah lapor pembetulan. Tinggal di-input,” ungkap saya di satu kesempatan Forum Pengawasan. Ini terkait progres penyelesaian DPP.
“Tapi, Pak Sol. Kalau respon WP seperti itu justru menandakan yang disembunyikan bisa jadi lebih besar. Apa WP ngasih data yang diminta, nggak?” tanya Pak Sen, Kepala Kantor.
“Ngasih, Pak. Banyak sekali.” jawab saya.
“Kalau begitu jangan di closed dulu. Kita pelajari dulu datanya. Kita analisis lagi.” Lanjutnya.
“Siap, Pak. Saya follow up.” Saya harus mengikuti arahan. Walaupun saya harus kehilangan poin “time manajemen”. Tampilan di push rank jadinya belum bisa membaik. Masih terpuruk di dasar jurang. Nomor buncit di KPP. Nomor dua dari bawah se-Kanwil.
Dialog di atas terjadi di bulan Agustus. Sempat dikomentari kawan : “Pak Sol, itu pekerjaan satu tim di pemeriksaan lho. Apalagi tiga tahun pajak. Ini dikerjakan sendiri. Kerja pemeriksa tapi tukin AR.” Guyon seorang kawan. Kalau lemah iman, sungguh bisikan yang bisa melemaskan seluruh otot semangat.
Karena memang begitu banyaknya data, sheet di excel bahkan tidak muat. Ada dua jutaan row yang harus dikumpulkan. Akhirnya minta bantuan fungsional pemeriksa untuk menganalisis. Ia punya laptop spek gaming yang bisa melahap data jumbo.
Setelah diskusi maraton Bandung-Sintang via telpon (karena KAP-nya berkantor di Bandung) dan dua kali pembahasan tambahan. Di akhir tahun barulah tuntas. Tanggal 5 Desember 2025 ada tambahan 4,9 Miliar masuk ke kas negara. Inilah salah satu penyelesaian DPP yang paling melelahkan. Tapi berakhir manis. Yang pahit cuma tampilan pushrank.
Terjadi perubahan perilaku juga. Karena sejak masa September, setoran bulanan pun akhirnya bertambah signifikan. Dari 300 jutaan menjadi 500 jutaan. Dengan kesadaran sendiri.
***
Jadi, pertanyaan terpenting hari ini bukanlah tentang seberapa terukur kerja kita, dan seberapa cepat dan efisien kerja pengawasan oleh AR, melainkan: apa yang mampu melampaui keterukuran itu sendiri (beyond measure)?
Di tengah grafik, indikator kinerja, dan tabel evaluasi di aplikasi Mandor yang semakin terukur begitu presisi, selalu ada sesuatu yang tak dapat diwakili oleh angka. Sesuatu yang bekerja di wilayah sunyi, tetapi menggerakkan. Saya ingin mengajukan satu tema, yang mungkin luput dari perhitungan Anda: tentang heroisme.
Tenang, bicara kepahlawanan tak selalu tentang darah dan nyawa. Kita awali dulu dengan penggalan lirik lagu Ari Lasso :
“Sentuhlah ia tepat di hatinya, maka ia akan menjadi milikmu selamanya,”
Kalimat sederhana ini sesungguhnya adalah tesis kepemimpinan yang dalam. Sentuhlah hati para pegawai pajak, maka mereka bukan sekadar bekerja. Mereka akan berkorban.
Misteri terbesarnya : masih adakah ruang untuk berbicara pengorbanan demi organisasi di zaman materialisme?
Masihkah ada ruang untuk heroisme yang melampaui keterukuran dan –bahkan– meritokrasi?
Karena heroisme tidak dibangun dari slogan, bukan jargon di spanduk, dan bukan pidato seremonial. Ia adalah ruh—yang jika hidup, membuat organisme tak hanya bekerja, tapi bertumbuh. Berinovasi. Berbudaya. Beradab. Bahkan ketika pengawasan longgar, insentif minim, kebijakan tidak adil. Bahkan di tengah wabah korupsi sekalipun.
Terperangkap Materi
Realitas menunjukkan bahwa tujuan kita bekerja sering kali direduksi hanya menjadi lintasan karier: jabatan, tunjangan kinerja, kehormatan struktural, dan kebanggaan peringkat, terpenuhinya target. Semua itu sah, manusiawi, dan tidak keliru. Namun ketika tujuan berhenti di sana, organisasi akan kehilangan ruh-nya.
Ruh memang perkara ghaib. Entitas paling misterius di dalam diri manusia. Sekaligus keajaiban penciptaan yang membuat manusia bisa melampaui malaikat. Ia hanya hanya tegas dinyatakan di kitab suci. Bukan di laboratorium. Bahkan ilmu psikologi yang sedianya ingin menguak rahasia jiwa (psyche) akhirnya bergeser ke mempelajari perilaku manusia (psikologi behaviorisme) dan psikologi kognitif (neuropsikologi). Karena begitu misteriusnya manusia. Di sana ada sesuatu yang tak bisa diukur. Sehingga keluar dari orbit science.
Seiring manusia yang semakin asing dengan ruh-nya sendiri, nilai-nilai spiritual semakin jarang diucapkan, apalagi dilembagakan. Padahal, dari sanalah lahir aksi-aksi yang memecah kebuntuan. Menembus kemustahilan. Menyalakan harapan di ujung keputusasaan.
Umumnya kita menganggap fenomena kepahlawanan ini berupa pertempuran para pejuang dulu saat merebut kemerdekaan, atau aksi relawan kemanusiaan saat terjadi bencana, ibu yang melahirkan anak, orang tua yang mengasuh anak difable, para ayah yang rela kehujanan, kepanasan, atau jauh merantau demi dapur keluarga, para perintis pelestari hutan dan sejenisnya.
Padahal ruang kepahlawanan itu begitu luas.
Di kantor pemerintah, ia berwujud pada kerja-kerja yang sunyi, tekun, sepi dari tepuk tangan, namun berdampak jauh.
Ketika heroisme mewarnai kerja para AR, ia bukan hanya berdampak ke penerimaan negara, tetapi menembus hati wajib pajak. Menumbuhkan kesadaran. Dari kesadaran itu kepatuhan meningkat. Bukan karena takut, tetapi karena paham dan percaya.
Kenapa heroisme?
Karena tantangan kekinian tidak ringan. Kita tidak hanya dituntut memenuhi IKU dan berkontribusi mencapai target penerimaan. Kita hidup dalam atmosfer yang keruh: banjir informasi tentang korupsi, kejahatan lingkungan, dan berbagai kekecewaan publik. Ini adalah fakta yang tidak bisa disangkal.
Namun sejarah selalu menunjukkan: peradaban tidak diselamatkan oleh mayoritas yang diam, melainkan oleh minoritas yang memulai.
Siapa yang memulai?
Siapa pun bisa. Kuncinya adalah ketulusan. Ki Hajar Dewantara mengingatkan,
“Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberi dorongan dari belakang. Heroisme bekerja persis seperti itu—tidak selalu memimpin dengan suara, tetapi dengan contoh.
Ketika seorang pimpinan menyampaikan narasi "merah putih", awal gaungnya mungkin terasa datar, tersebab jarak struktural dan kesejahteraan yang berbeda. Perlu keteladanan jangka panjang, barulah ia menular.
Bagi para petugas di garda depan. Pun begitu. Ketika spirit ini tumbuh, lalu menjadi aksi, ia tak akan langsung menular. Karena bekerja melebihi keharusan adalah normal di posisi ini. Barulah ketika langkah kepahlawanan terus berjalan walau di tengah himpitan KPR, sekolah anak, dua dapur, dan ongkos mahal pulang-pergi kampung halaman. Tetapi tetap ikhlas memberi lebih kepada institusi dengan:
- Bekerja hingga malam tanpa diminta, tanpa uang lembur
- Terus menelusuri modus WP, walau time manajemen terbaca buruk
- Mengedepankan penerimaan negara daripada performa pribadi
- Membimbing wajib pajak hingga patuh, walau tidak tercapture oleh push-rank
Di situlah heroisme mulai tumbuh dan akan muncul daya tularnya. Cepat atau lambat.
Ketika Api Padam
Pertanyaannya kemudian: apa dampaknya jika heroisme ini dibiarkan padam? Dampak secara nasional sudah terjadi. Anda boleh menyebut ini sebagai kutukan tax ratio 10%.
Dampak lainnya adalah hilangnya kepercayaan, membesarnya jarak emosional antara negara dan warga, serta lahirnya kepatuhan semu—yang rapuh dan mudah runtuh.
Tanpa heroisme, organisasi menjadi mesin dingin. Aktivitas terbaca sibuk, tetapi tidak bergerak ke mana-mana. Menghasilkan laporan, tetapi tidak menumbuhkan makna.
Soekarno pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” Namun barangkali makna terdalamnya adalah: bangsa besar melahirkan pahlawan baru setiap zaman, dalam bentuk yang relevan dengan tantangannya. Hari ini, pahlawan tidak selalu mengangkat senjata. Ia memikul tanggung jawab.
Ketika satu orang memulai—meski kecil—ia menciptakan resonansi. Seperti teori butterfly effect dalam sains: kepak sayap kupu-kupu di Amazon dapat memicu badai di Texas.
Ketika kepak sayap di KPP Sintang adalah kepak sayap kepahlawanan, awalnya mungkin nyaris tak terdengar, tetapi gelombangnya bisa merambat ke seluruh Kalimantan Barat, bahkan menembus hingga Ibukota, bahkan Indonesia.
Tidakkah Anda ikut merasakan getarannya?
Comments
Post a Comment