LHPt ADALAH KOENTJI

Serial  "Tax Ratio Bukan Kutukan" - tulisan #3

___________________________________________

 

“If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough.”

— Albert Einstein

 

***


Memandang layar Mandor, ada rasa kesal. warna kuning pada time manajemen terlalu banyak. Saya dianggap tidak efisien waktu.

Dokumen ini adalah rutinitas para AR. Dari proses pengawasan Wajib Pajak, ada satu tahapan yang krusial : pembuatan dokumen Laporan Hasil Penelitian (LHPt). Ia bukan sekadar dokumen administratif, melainkan fondasi argumen, jembatan dialog, dan jangkar profesionalisme.

Karena ketika LHPt kuat, proses berikutnya menjadi ringan. Ketika LHPt rapuh, seluruh tahapan setelahnya ikut goyah. Bila seluruh proses pengawasan diibaratkan terapi akupunktur, maka LHPt adalah titik tempat jarum ditusuk. Jarum yang tepat di titik ini akan mampu memulihkan keseluruhan sistem. “God is in the details.” — Ludwig Mies van der Rohe Fakta Keseharian

Tapi, karena dipicu aturan main bernama "time manajemen", para AR jadi dikejar tenggat waktu. Tidak boleh melebihi rata-rata nasional. Karena akan berwarna kuning di dashboard pushrank, dan mendapat poin yang kurang. Di titik ini fokus AR bisa bergeser. Dari kedalaman substansi menuju kecepatan penyelesaian. Karena muncul rasa ingin segera “aman”. Ada godaan untuk menyederhanakan sesuatu yang sejatinya perlu pendalaman. Tujuan awal time manajemen adalah untuk menjaga ritme kerja dan memastikan proses berjalan. Namun ketika menyusun LHPt secara komprehensif sesuai panduan SE-05 — membaca bisnis WP secara utuh, menelusuri data dengan cermat, dan merangkai analisis yang runtut— kebutuhan waktu yang cukup adalah konsekuensi yang logis. Di sisi lain, dashboard tetap menampilkan perbandingan angka yang datar. Seolah setiap Wajib Pajak memiliki kompleksitas yang sama. Padahal WP itu macam-macam. Ada yang sederhana seperti warung kopi. Ada yang rumit seperti konglomerat triliunan. Tantangan

Ketika seorang AR harus berhadapan dengan entitas bisnis ber-aset triliunan dan labirin laporan keuangan yang rumit, sejatinya ia sedang melakukan kerja intelektual tingkat tinggi. Untuk menyusun LHPt yang mempertanggung-jawabkan angka-angka besar tentu membutuhkan kontemplasi dan validasi yang bahkan setara dengan penyusunan tesis.

Dari tiga variabel penilaian berupa kuantitas, kualitas dan time managemen, ada yang akan dikorbankan ketika berlangsung kompetisi pushrank : variabel kualitas.

Penyebabnya adalah adanya nilai minimal setoran Rp250.000 untuk mendapat poin kualitas. Jadinya nilai realisasi optimal dari Pengawasan Kepatuhan Material tidak menjadi target utama AR dalam perlombaan pushrank.

Semakin cepat, semakin baik. Di sinilah paradoks itu menganga: AR dituntut akurasi LHPt yang komprehensif, peningkatan kepatuhan dan tambahan penerimaan yang optimal, tetapi dituntut sesegera mungkin.

Dampak LHPt yang dangkal

Ketika penelitian menjadi dangkal efek dijadikan kompetisi adu cepat, dampaknya bisa merugikan :
  • Argumen yang rapuh di meja pembahasan,
  • Mengedepankan otoritas
  • Kalau pun ada tambahan setoran, biasanya bukan karena koreksi omzet. Tapi karena koreksi biaya atau koreksi penghasilan lain-lain.

Bayangkan seorang AR yang harus menghadapi tim konsultan dan akuntan publik yang memahami bisnis WP hingga ke detail terdalam. Tanpa LHPt yang kuat, bahkan AR paling berintegritas pun akan kehilangan pijakan. Solusi

Untuk mengatasi ini, kita harus mengawali dengan pengakuan jujur bahwa sistem penilian kinerja AR memiliki keterbatasan fundamental. Seperti kuda memakai kacamata yang hanya mampu melihat ke depan. Bahwa sistem hanya mampu membaca input, tetapi buta terhadap niat; ia merekam durasi, tetapi gagal menangkap kedalaman analisis.

Ketika struktur, sistem, dan standar kerja yang tersedia sudah kokoh. SE-05 telah memberikan peta jalan. Approweb telah menyediakan rumah digital yang rapi. Kolaborasi Kasie, Supervisor, dan AR telah dirancang sebagai satu kesatuan. Maka yang dibutuhkan adalah peneguhan kembali makna LHPt sebagai proses kolektif, bukan beban individual. Karena LHPt yang kuat tidak lahir dari kerja sendirian, tetapi dari ruang dialog internal yang hidup—di mana arahan, pendampingan, dan pengayaan analisis menjadi budaya kerja. “Quality is never an accident; it is always the result of intelligent effort.” — John Ruskin LHPt yang Komprehensif adalah Investasi, Bukan Beban

Karena di dalam LHPt terkandung:

  • Profil dan proses bisnis Wajib Pajak
  • Pemetaan risiko
  • Data dan korelasinya
  • Analisis yang menjelaskan mengapa, bukan sekadar berapa
Dengan LHPt komprehensif, argumen tidak perlu dipaksakan. Ia muncul secara alami. Sebagaimana pernah disampaikan Kabid DIP dalam satu momen forum pengawasan Kanwil DJP Kalimantan Barat:
“Buat saja profil dan proses bisnis WP secara utuh. Kalau memang ada potensi, ia akan tampak dengan sendirinya.”
Ketika AR datang dengan LHPt yang matang, diskusi dengan Wajib Pajak dan Konsultan berubah dari debat menjadi dialog profesional. Dari adu dalil menjadi pencarian titik temu. Dengan LHPt yang kredibel, keberanian lahir dengan sendirinya—bukan karena kuasa, tetapi karena data dan logika. Maka LHPt yang komprehensif adalah koentji—bukan hanya membuka pintu pengawasan hari ini, tetapi juga keberlanjutan pengawasan di masa depan. Jadi, kalau hendak mengevaluasi fungsi pengawasan, sebenarnya tidak perlu membuat momen horor dengan meng”kompre” para AR. Cara lebih konstruktif adalah dengan membedah LHPt yang sudah dibuat. Barulah bisa dinilai seberapa bagus kualitas pengawasan AR dan aktor pengawasan terkait. Kemudian dicarikan solusi bersama. Ini akan lebih diterima dengan lapang dada.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MUTASI PONTI

PANGAN, SAMPAH dan PENDIDIKAN KITA

KAWANKU PAHLAWAN