Wednesday, December 31, 2025

LHPt ADALAH KOENTJI

 

“If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough.”

— Albert Einstein

Kalau penelitian tidak kredibel, bagaimana AR bisa berdiri tegak—dan tenang—di hadapan Wajib Pajak dan Konsultan?


***


Di sepanjang mata rantai pengawasan Wajib Pajak oleh Account Representative, ada satu tahapan yang menentukan : pembuatan Laporan Hasil Penelitian (LHPt). Ia bukan sekadar dokumen administratif, melainkan fondasi argumen, jembatan dialog, dan jangkar profesionalisme.

Karena ketika LHPt kuat, proses berikutnya menjadi ringan. Ketika LHPt rapuh, seluruh tahapan setelahnya ikut goyah. Bila seluruh proses pengawasan diibaratkan terapi akupunktur, maka LHPt adalah titik tempat jarum ditusuk. Jarum yang tepat di titik ini akan mampu memulihkan keseluruhan sistem.

God is in the details.”

— Ludwig Mies van der Rohe


Fakta Keseharian 

Tapi, karena dipicu aturan main bernama "time manajemen", para AR jadi dikejar tenggat waktu. Tidak boleh melebihi rata-rata nasional. Karena akan berwarna kuning di dashboard pushrank, dan mendapat poin yang kurang. 

Tujuan awal time manajemen sebenarnya bagus, untuk menjaga ritme kerja dan memastikan proses berjalan. Namun, kalau tidak dikawal oleh manajemen, fokus AR bisa bergeser. Dari kedalaman substansi menuju kecepatan penyelesaian. Karena muncul perasaan dikejar, rasa ingin segera “aman”, dan godaan untuk menyederhanakan sesuatu yang sejatinya perlu pendalaman. Karena memang ada poin yang harus diraih.

Bagi AR yang memilih menyusun LHPt secara komprehensif sesuai panduan SE-05 — membaca bisnis WP secara utuh, menelusuri data dengan cermat, dan merangkai analisis yang runtut—waktu menjadi konsekuensi logis. Di sisi lain, dashboard tetap menampilkan perbandingan angka yang datar. Seolah setiap Wajib Pajak memiliki kompleksitas yang sama.

Budaya kerja DJP sejatinya memiliki modal besar: struktur, sistem, dan standar. SE-05 telah memberikan peta jalan. Approweb telah menyediakan rumah digital yang rapi. Kolaborasi Kasie, Supervisor, dan AR telah dirancang sebagai satu kesatuan.

Artinya, kita tidak memulai dari nol.

Yang dibutuhkan adalah peneguhan kembali makna LHPt sebagai proses kolektif, bukan beban individual. Karena LHPt yang kuat tidak lahir dari kerja sendirian, tetapi dari ruang dialog internal yang hidup—di mana arahan, pendampingan, dan pengayaan analisis menjadi budaya kerja.

Quality is never an accident; it is always the result of intelligent effort.”

— John Ruskin



LHPt yang Komprehensif adalah Investasi, Bukan Beban. 

Karena di dalam LHPt terkandung:

  • Profil dan proses bisnis Wajib Pajak
  • Pemetaan risiko
  • Data dan korelasinya
  • Analisis yang menjelaskan mengapa, bukan sekadar berapa

Dengan LHPt komprehensif, argumen tidak perlu dipaksakan. Ia muncul secara alami. Sebagaimana pernah disampaikan Pak Tangguh Dewantara dalam satu forum pengawasan Kanwil DJP Kalimantan Barat:

“Buat saja profil dan proses bisnis WP secara utuh. Kalau memang ada potensi, ia akan tampak dengan sendirinya.”

Trust is the glue of life. It’s the most essential ingredient in effective communication.”

— Stephen R. Covey


Ketika AR datang dengan LHPt yang matang, diskusi dengan Wajib Pajak dan Konsultan berubah dari debat menjadi dialog profesional. Dari adu dalil menjadi pencarian titik temu.

Sebaliknya, ketika LHPt Dianggap Sekadar trigger, dampaknya adalah:

  • Argumen yang rapuh di meja pembahasan
  • Ketergantungan pada otoritas, bukan substansi
  • Kepatuhan yang bersifat sementara

Bayangkan seorang AR yang harus berdiri sendiri menghadapi tim konsultan dan akuntan publik yang memahami bisnis WP hingga ke detail terdalam. Tanpa LHPt yang kuat, bahkan AR paling berintegritas pun akan kehilangan pijakan.

Sebaliknya, dengan LHPt yang kredibel, keberanian lahir dengan sendirinya—bukan karena kuasa, tetapi karena data dan logika.

Maka LHPt yang komprehensif adalah koentji—bukan hanya membuka pintu pengawasan hari ini, tetapi juga keberlanjutan pengawasan di masa depan. 

Jadi, kalau hendak mengevaluasi fungsi pengawasan, sebenarnya tidak perlu membuat momen horor dengan meng”kompre” para AR. Cara lebih fair dan konstruktif adalah dengan membedah LHPt yang sudah dibuat. Barulah bisa dinilai seberapa bagus kualitas pengawasan AR dan aktor pengawasan terkait. Ini akan lebih diterima dengan lapang dada. 



No comments:

Post a Comment

BUKAN SEKADAR ANGKA

  “Pak, Sol. Kapan terbit SP2DK-nya? ini sudah mau masuk semester II”. “Bentar lagi, Pak. Masih banyak data belum tergarap” “Pak, SP2DK suda...