MENOLAK FATHERLESS

Serial  "Tax Ratio Bukan Kutukan" , Tulisan #18

___________________________________________ 


****
Walau baru dua pekan berselang, saya memutuskan untuk pulang lagi. Merayakan Idul Adha di rumah. Meskipun hanya untuk dua hari. Cuti saya habis. Dengan jauhnya jarak perjalanan Ponti-Karawang, jadi terasa sekali high-cost-nya.
Sepekan sebelumnya saya pesan tiket via online. Walau tertegun juga dengan harga tiketnya. Padahal kelas ekonomi. Tapi tak berpikir panjang. "Rinduku berat di ongkos…bismillah… bungkus!" Tiket berangkat Jumat sore dan balik lagi Senin paginya alhamdulillah bisa kudapat.
Jum'at sore H-2 lebaran, kembali menjalani ritual mengejar burung besi. Masih yang berlogo singa. Diawali dari chek-in on line, pilih kursi lorong biar cepat keluar. Seharusnya beli oleh-oleh dulu. Cuma kadang tidak sempat. Maklum bapak-bapak. Sering tidak detail.
"Ke Kalimantan kayak ke Loji saja Pak Sol? Perasaan cepet banget pulangnya" Komentar tetanggaku di Perumnas Karawang.
"Warga blok T memang ngangenin Pak, hehe" jawabku spontan. Tapi memang benar, tetanggaku baik-baik semua. Sayapun merasa tentram keluarga ada di tengah-tengah mereka.
Tetapi ada alasan super spesial kenapa saya keukeuh pulang.
Karena masih ada anggota keluarga yang harus dibersamai secara intens. Sedang butuh-butuhnya dan tak akan terulang. Karena momennya sebentar saja. Hanya dari lahir hingga baligh.
Aku tak ingin anak-anak mengalami fatherless. Saya menolak jadi "ayah ada tapi tiada" tersebab jarak yang memisahkan. Walau belum bisa mengasuh yatim yang lain. Setidaknya anak saya tak jadi yatim di rumah sendiri, secara psikologis.
Suasana kejiwaan ini saya faham betul. Itulah yang dialami saat kecil di Kuningan dulu. Saat bapak pulang dari Jakarta sebulan sekali itu. Jiwa tiba-tiba terisi penuh dengan kebahagiaan yang sulit dilukiskan. Merasa jadi anak paling bahagia saat itu. Tiba-tiba jadi anak ceria dan penuh percaya diri. Setelah hari-hari sebelumnya justru merasa nelangsa karena ditinggal bapak pergi.
Maka, jadi faham kenapa kepedulian Rasulullah ke anak yatim begitu besar. Bukan sekedar santunan, tapi terhadap pengasuhannya. Terhadap nutrisi jiwanya yang hilang dari sang ayah yang berpulang. Sebagaimana Muhammad-ku saat beliau kecil, saya beruntung ada sosok pengganti bapak selama pergi. Yaitu Kakek. Praktis masa kecil saya banyak terwarnai oleh kebersamaan dengan kakek.
Di sinilah masalahnya, kalau sekarang aku jarang pulang, di rumah tak ada sosok pengganti. Anak lelaki sudah sibuk dengan agenda sendiri. Pun ada fungsi dan porsiku yang tak bisa digantikan.
Alasan lain, selama enam bulan terakhir ini, aku merasa komunikasi jarak jauh via gadget itu benar-benar belum memadai. Baik gambar dan suara. Juga video. Aku tetap perlu melihat dari dekat, mendengar suara, atau mencium bau badan. Memegang tangan, mengacak rambut, mencubit kulit, atau menepuk bahu. Aku perlu ngobrol langsung. Itulah momen manusia. Bukan momen teknologi.
Visi misi keluarga memang sudah dirumuskan, sebagai pegangan. Aku juga sudah menyadari betul posisiku sebagai penanggung jawab pendidikan anak-anakku. Aku selalu update pemahamanku tentang parenting sehingga jadi konsultan pendidikan yang selalu siaga buat istriku. Tapi bagaimana dengan mendidik iman, membangun sistem berfikir, mendidik maskulinitas, menguatkan ego? Semuanya perlu penularan. Tidak sekedar dipetuahkan. Saya masih mencari bagaimana penerapan remote fahterhood itu, selain do'a tentunya. Teknologi rasanya belum bisa menggantikan sepenuhnya kehadiran fisik untuk hal-hal di atas.
Terpenting sebelum yang lainnya, kepulangan ini untuk menjaga agar permaisuri tetap sakinah jiwanya. Karena itu akan berimbas pada sikap dan perilakunya ke anak-anak. Sendirian membersamai lima anak tentu menguras energi dan emosinya. Belum lagi peran sosial yang masih harus ditunaikan.
Saya masih ingat peristiwa tragis ibu yang membunuh anaknya. Di Bandung tahun 2006, nyawa tiga anak melayang di tangan ibu yang merasa tak sanggup mendidik anak sendirian, tanpa keterlibatan suami. Di Brebes awal tahun 2022 ini tiga anak jadi korban di tangan ibunya sendiri. Satu tewas, dua kritis. Sang Bunda alami depresi dipicu "kehilangan" suami yang parah. "Aku hanya ingin disayang." Ungkapan memelas yang kemudian viral itu.
Tentu jarang yang sampai se-ekstrim begitu. Tapi kaum ibu yang mengalami kecemasan harian, kebingungan, kehilangan pegangan, kesepian, galau, tertekan, tersebab ketidakhadiran suami rasanya jauh lebih banyak. Tetapi tidak ter-ekspose karena ditelan sendiri-sendiri. Dianggap hanya ujian biasa yang harus disikapi dengan sabar.
Dari jiwa yang tidak sakinah itu, bagaimana seorang ibu bisa kita harapkan menularkan sikap lembut, harmoni, empati, cinta, kasih sayang? Apalagi ketika seorang ibu harus menjalankan peran suaminya, mau tak mau ia harus tampil sebagai sosok yang tegas, mandiri, rasional, memimpin, penuh perhitungan. Harus maskulin.
Di samping itu, dari pengalaman sendiri sudah merasakan betapa dahsyatnya efek bonding seorang bapak ke anak-anak terbesarku ketika mereka dewasa. Maka aku tak ingin adik-adiknya kehilangan itu. Inipun sudah banyak kehilangan. Tak ingin kehilangan lebih banyak lagi.
Fatherless di negeri ini bukan karena seorang anak jadi yatim, tapi ketidakhadiran peran ayah dalam tumbuh-kembang anak. Dipicu anggapan kalau seorang ayah sudah cukup dengan mencari nafkah. Maka selebihnya urusan ibu. Termasuk mendidik anak yang semakin identik dengan ibu.
Fatherless adalah cerita tentang potensi yang hilang dan peluang yang terbuang. Ketidakhadiran ayah ada di belakang munculnya genk anak jalanan, kehamilan remaja, penyalahgunaan narkoba, orientasi seks yang menyimpang, hingga bunuh diri.
Dr. John Sowers penulis buku Fatherless Generation mengungkapkan :
"Pendampingan antargenerasi yang disengaja adalah kunci untuk kisah harapan baru. Dalam hubungan itulah generasi ini telah terluka dan dalam hubungan itulah penyembuhan harus dimulai".
Itulah alasanku pulang. Aku upayakan hadir pada momen spesial semacam lebaran Idul Adha ini, walau dengan konsekuensi finansial yang lumayan.
Menjalani tugas paska mutasi model baru di institusiku, isu terpentingnya tak hanya tentang seberapa leluasa peluang untuk bisa pulang pergi ke homebase, tetapi yang jauh lebih harus diperhatikan adalah anak-anak dari 2000-an keluarga muda yang mendadak berpotensi mengalami fatherless. Ayah mereka masih ada, tapi tidak hadir karena dipisahkan jarak yang ekstrem.

***
Di malam terakhir jelang kembali balik ke Kalimantan, acara rumah dibuat seru. Ngopi, goreng ubi, soda gembira dan…nyate daging qurban. Kami bagi-bagi tugas. Si Aa beli arang dan tusuk sate ke pasar Blok R. Aku dan Si Tétéh motong dagingnya. Aku, Uki, da Aa yang bakar sate. Imad dan uminya goreng ubi dan bikin soda gembira. Sedangkan Si Naf, sibuk nonton Youtube.
Akhirnya, setelah dua hari yang hectic. Senin pukul 02.00 Bus Damri dari Grand Taruma Karawang sudah membawaku ke Bandara Soekarno-Hatta CGK. Mengejar pesawat pukul 06.00 sesuai jadwal terbang. Tak lupa aku titip pesan ke anak keduaku yang mengantar. "Titip umi, teteh,dan adik-adik ya. Mas Imad lelaki, Mas walinya."
Burung besiku kali ini tepati janji. selesai shalat shubuh langsung ada panggilan boarding. Satu setengah jam kemudian kembali melayang di angkasa. Membelah awan seberangi laut Jawa. Lalu hinggap di Bandara Supadio. Selepas naik taksi, di pagi yang hangat pukul 08.15 alhamdulillah sudah tiba di kantorku. Di kota Katulistiwa. Sistem flexi-time memang memungkinkan waktu kerjaku digeser. Jam pulangku jadi pkl 17.45.
Bismillah, setelah kutinggalkan separuh jiwaku di rumah, aku kembali bertugas tunaikan amanah.
Serasa jadi CEO Tesla saja, berangkat kantor naik pesawat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MUTASI PONTI

PANGAN, SAMPAH dan PENDIDIKAN KITA

KAWANKU PAHLAWAN