OPTIMISTIC PARENTING


***

“Bi, memangnya berkeluarga semenakutkan itu ya? Kok serem-serem yang dialami peserta?” tanya Si Teteh beberapa waktu lalu. 

“Peserta apa, Teh?” Saya balik tanya. 

“Itu, di acara kemarin. Aku kan ikut masuk karena dampingi umi. Ikut foto-foto. Jadinya ikut denger,” jawabnya. 

Walaupun latar belakang dan tujuan acaranya sangat bagus, tapi rasanya memang ada yang mengganjal. Buktinya anak saya jadi punya kekhawatiran kalau nanti menikah akan mengalami hal yang sama. “Jangan-jangan suami Teteh ntar kayak gitu, Bi…?” katanya lagi. 

Saya jadi merasa bersalah sudah memintanya ikut dampingi uminya. Walaupun kemudian bisa dijelaskan duduk persoalannya. 

Semaraknya kajian dan seminar dengan tema-tema yang menyodorkan problem solving memang berhasil mendapat respon peserta yang tinggi. Majelis curhat diminati banyak orang. Tema selingkuh sepertinya yang paling menguras emosi. Potongan video curhat hilir mudik mampir di medsos. Karena fyp. Semakin ekstrim semakin viral. Misal selingkuh dengan saudara ipar. Bahkan filmnya sudah tayang dan laris maniss. 

Selain itu, tema bullying, KDRT, kecanduan game dan gadget banyak dibahas di berbagai forum. 

Apakah membantu memecahkan masalah orang itu salah? 

Tentu tidak. Tapi menyelesaikan masalah rasanya lebih tepat di ranah private. Kasus per kasus. Pembahasannya di ruang terbatas. Bukan di ranah publik apalagi untuk dikampanyekan di mana-mana. 

Masifnya pembahasan tema selingkuh dan KDRT misalnya, bisa membuat orang jadi takut menikah. 

Viralnya curhat terbuka karena jadi generasi sandwich bisa membuat cara pandang ke ortu jadi negatif. Apalagi sudah ada julukan toxic parent, toxic parenting. Padahal orang tua sudah bertaruh nyawa demi lahir anaknya. 

Kampanye berlebih tentang luka pengasuhan bisa membuat orang takut berkeluarga. Takut punya anak. Bahkan sudah muncul gerakan childfree. Secara sadar memilih gak punya anak. 

Kampanye overdosis anti bullying, bisa membuat ortu jadi takut anak mau masuk pesantren. Takut melepas berangkat sekolah sendiri. Lama-lama takut naik gunung, takut bertualang. Akhirnya takut bergaul, takut…takut…dll. 

Akhirnya over protective. 

Kalau anak dibuat berada di lingkungan steril, bagaimana ketangguhan dibangun? 

Kalau anak hanya boleh bergaul dengan anak sebaya yang homogen, bagaimana bisa berempati dengan yang ekonomi bawah, lebih sulit, dan dalam keterbatasan? 

Padahal untuk menjadi aktivis kebaikan harus dimulai dari empati. Lalu dikuatkan oleh kecakapan sosial. Barulah bisa berkhidmah dalam berbagai bentuk. Mindsetnya adalah “aku ada untuk mereka”.

Saya pun jadi punya kesimpulan awal. Di samping karena terlalaikannya pendidikan iman, penyebab gagalnya regenerasi di keluarga aktivis bukan karena minim fasilitas pendidikan, tapi justru karena empati dan kecakapan sosial tidak tumbuh di keluarga dan sekolah. 

Agar anak cakap bersosialisasi, tentu diawali dari orang tua yang rela dan bisa tega melepaskan anak ke dunia yang heterogen. Untuk bisa rela dan tega, orang tua harus yakin dan optimis. Sedangkan yakin dan optimis sumbernya tak lain iman orang tua. 

Di sekolah, agar siswa cakap bersosialisasi, maka jam di kelas mestinya tidak full dari pagi sampai sore. Karena kalau full di kelas kapan bermasyarakatnya? Kapan anak berhadapan dengan tantangan realitas hidup? Kapan anak akrab dengan alam sekitar? 

Konon ada sekolah yang ingin kembali ke half day. Karena beda hasilnya tidak signifikan antara full day dan half day. Tapi ortu malah protes. Mereka merasa tak sanggup mendidik anak sendiri dan karena waktu habis di tempat kerja. Khawatir kalau anak tidak di sekolah larinya malah ke gadget. Akhirnya tak jadi half day. 

Ke depan, sudah seharusnya orang tua dan sekolah berani melepas anak di kehidupan nyata. Idealnya masyarakat pun sudah faham dan menerima para muda dengan antusias. Masjid-masjidpun menjadi ramah anak, misalnya. 

Kenapa harus yakin dan optimis? 

Karena Allah sudah tundukkan alam ini untuk manusia. Mustahil Allah berbuat zalim kepada hamba-Nya ketika menakdirkan anak kita lahir di zaman sekarang, lalu anak kita tak mampu menghadapi tantangan zamannya. 

Juga masih ada waktu dan harapan.

Maka kampanye untuk memunculkan cara pandang yang optimis mesti dimulai. Jangan sampai ruang publik melulu diisi pesimisme dan ketakutan akan masa depan. 

Misi pertama adalah membuat orang tua berfikir optimis. Jangan sampai ruang keluarga melulu diisi pesimisme. Seolah zaman begitu buruk nan berat dan tak bisa diatasi anak-anak kita. Pun ketika orang tua harus berjauhan jarak karena tugas. Seperti penulis, misalnya. 

Maka saya sangat antusias ketika sahabat-sahabat saya para pegiat edukasi keluarga di Aqil Baligh Community berhasil merumuskan semangat optimisme di atas dan menuangkannya dalam program kerja pada Musyawarah Kerja Nasional tahun 2025 yang berlangsung secara hybrid dan dipusatkan di Bunyan School Indonesia, Bekasi. 

Kampanye Optimistic Parenting berarti segera dimulai. 

Bekasi, 27 Januari 2025











Komentar

Postingan populer dari blog ini

MUTASI PONTI

PANGAN, SAMPAH dan PENDIDIKAN KITA

KAWANKU PAHLAWAN