MUTASI YANG HUMANIS
Tahun 2026 adalah tahun ke lima penulis bertugas di Kalimantan. Dua tahun di Pontianak dan dua tahun di Sintang, hingga sekarang.
Di awal penempatan, sejak lulus STAN tahun 1995 hingga sebelas tahun kemudian, sempat merasakan atmosfir Jawa Timur. Di tiga kabupaten berbeda : Probolinggo, Jember dan Lumajang. Merasakan turbulensi saat reformasi DJP berubah dari "jahiliyah" menjadi modern.
Sejak 2006 hingga enam belas tahun berikutnya kembali menjadi warga Jawa Barat. Berkhidmat di beberapa kantor pelayanan pajak antara Karawang dan Bekasi. Lalu, tiba saatnya mutasi ke Pontianak tahun 2021. Menjadi awal babak baru sebagai fiskus lintas pulau.
Pimpinan sering menyampaikan bahwa penempatan di berbagai wilayah—termasuk luar Jawa—membuka pintu untuk pengalaman berharga yang memperkaya wawasan dan jiwa pengabdian.
Secara normatif mutasi selalu ditujukan untuk kebaikan organisasi dan pegawai.
Pengalaman saya pribadi, mutasi memang telah mengajarkan banyak hal : ketangguhan, kebersamaan dengan masyarakat setempat, dan keindahan keragaman Indonesia yang sesungguhnya.
Bertugas di luar Jawa —termasuk wilayah yang lebih terpencil seperti Sintang, adalah kesempatan istimewa untuk lebih dekat dengan masyarakat yang kita layani. Tempat-tempat ini penuh dengan kehangatan, kekayaan budaya, dan potensi yang luar biasa. Kita bukan hanya menjalankan tugas, tapi juga menjadi bagian dari keluarga besar Indonesia.
Di usia lima puluhan ini bertugas di wilayah remote ternyata menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman kepada rekan-rekan muda yang penuh energi. Kebersamaan antargenerasi ini memperkuat tim dan membawa semangat baru bagi organisasi.
Mutasi yang dikelola dengan baik akan selalu membawa manfaat bagi semua pihak. Untuk itu, prosesnya perlu terus disempurnakan dengan prinsip keterbukaan, keadilan, dan perhatian terhadap kesejahteraan pegawai.
Dengan komunikasi yang transparan tentang dasar penempatan—berbasis prestasi, kebutuhan organisasi, dan kesiapan individu—mutasi akan terasa sebagai langkah positif dalam karier kita bersama.
Push rank, Mutasi dan Inkonsistensi
Sayangnya, gambaran ideal mutasi di atas belakangan berubah menjadi kegelisahan. Hingga setiap isu ini muncul selalu menjadi berita horor yang membuat jantung berdegup kencang. Ini berawal ketika mutasi secara de facto telah dijadikan instrumen hukuman (punishment).
Horor itu muncul tak hanya karena dampak nyata mutasi yang material dan immaterial. Tetapi muncul inkonsistensi yang jelas terbaca.
Dampak mutasi yang dirasakan setiap individu memang berbeda. Keputusan yang diambil juga bervariasi.
Saya ambil beberapa contoh. Ada sebelas kawan-dekat saya yang resign dari DJP, sepuluh diantaranya menjadi konsultan pajak. Satu lagi pindah rumah menjadi ASN Pemda DKI.
Kawan saya yang menjadi ASN DKI namanya Frans. Ia seangkatan 'mutasi ambyar' dari Cikarang ke Pontianak tahun 2021 lalu. Efeknya membuat program keluarganya berantakan. Sulit dikompromikan.
Frans beruntung, hanya pindah kamar. Sedangkan beberapa lain diantaranya terpaksa 'keluar rumah'. Mereka say goodbye ke DJP yang sebenarnya sangat dicintai. Tidak bisa membayangkan hidup jauh dari keluarga. Juga karena take home pay yang tergerus biaya dua dapur dan ongkos pesawat. Terbanyak banting setir jadi konsultan pajak.
Kawan saya satu seksi waktu di Pontianak bahkan hanya bertahan beberapa bulan saja saat dimutasi ke Sintang. Padahal ia seorang jago akuntansi dan ALK. Sang peraih penghargaan AR terbaik kantor untuk tahun 2022 itu pun ucapkan selamat tinggal. Aset berlian ini lepas begitu saja.
Mungkin ini paling parah. Salah satu kawan yang sama-sama terjaring mutasi regional ke Sintang di awal tahun 2024 bahkan tak sempat masuk kerja. Ia langsung pergi tanpa permisi.
Penerapan mutasi regional memang membuat para AR seperti terjebak lumpur hisap. Semakin lama semakin tenggelam. Karena mutasi dari pulau Jawa ke Pontianak ternyata belum cukup. Harus mengalami mutasi lagi ke daerah remote tanpa kejelasan kapan kembali ke Jawa.
Kebijakan mutasi regional memang perlu ditinjau kembali. Karena pilihan kepegawaian di Kanwil sendiri terbatas. Ketika ada AR yang sudah waktunya pindah dari daerah remote, stok penggantinya hanya AR di Kanwil yang sama. Alih-alih mendatangkan AR baru dari pulau Jawa, AR yang sudah jatuh di Pontianak, jadi tertimpa tangga di daerah remote. Padahal AR di pulau Jawa jumlahnya melimpah.
Di mana letak inkonsistensinya?
Rasanya sudah sering mendengar pernyataan pimpinan bahwa dekat homebase adalah sebentuk reward, sedangkan menjauh dari homebase adalah punishment. Faktanya pegawai yang terkena hukuman disiplin memang ada yang kemudian dimutasi jauh. Kadang hingga ke luar pulau. Bahkan Pak Menteri Keuangan sendiri akan melempar ke pelosok para pegawai yang terbuksi masih "bermain".
Rumus ini rupanya berbelok ketika bertugas di Kalbar. Untuk memindahkan AR ke daerah remote rupanya kanwil menggunakan push rank sebagai dasar. Argumennya karena push rank memberikan informasi yang relatif komprehensif.
Tetapi pada satu kesempatan Forum Pengawasan 2025 yang penulis ikuti, salah seorang pimpinan pusat DJP memberikan pandangan bahwa push rank hanya untuk mengapresiasi prestasi. Tetapi tidak untuk punishment.
Penempatan yang semakin jauh dari home base jelas adalah punishment. Tetapi alasan kenapa mendapat hukuman mutasi jauh dari home base tidak pernah diperoleh. Juga tidak pernah diklarifikasi. Keyakinan saya itu karena pilihan kepegawaian kanwil yang terbatas. Harus membuat keputusan. Harus ada yang dikorbankan.
Di sinilah terbaca ada yang tidak akuntabel. Juga terbaca inkonsistensi. Padahal akuntabilitas dan konsistensi dalam kebijakan adalah kunci membangun kepercayaan dan semangat kerja yang tinggi.
Sekarang para AR yang tengah di pelosok Kalimantan ini nasibnya tidak beda dengan pegawai bermasalah yang tengah menjalani hukuman disiplin.
Ketika mutasi dirancang secara profesional dan humanis, ia menjadi instrumen yang indah untuk pembelajaran, pengembangan diri, dan penguatan rasa memiliki terhadap institusi.
Karena itu, argumen untuk menjaga konsistensi kebijakan menjadi semakin kuat dan mendesak: kita perlu kebijakan yang tegas dan seragam agar mutasi tetap murni sebagai tour of duty yang membangun, bukan membingungkan atau menyisakan rasa kecewa pada pegawai yang telah mengabdikan diri dengan tulus.
Mutasi Yang Humanis
Walaupun bertugas di berbagai wilayah sejatinya membawa berkah tersendiri, akan tetapi wajib ada mitigasi risiko untuk mengatasi dampaknya.
Pertama, tergerusnya Take Home Pay yang signifikan harus diimbangi dengan kompensasi yang memadai untuk biaya hidup tambahan—sehingga pegawai tetap merasa nyaman dan fokus pada tugas. Berkurangnya take home pay sekitar 25% selama empat tahun sejak penempatan di luar pulau adalah dampak yang sangat material untuk level AR. Sebuah hukuman tetapi tanpa kesalahan yang terkonfimasi.
Kedua, hubungan dengan pasangan dan keluarga dapat dijaga dengan lebih baik melalui dukungan organisasi. WFA dan cuti tambahan akan membantu kita menjaga kehangatan rumah tangga di tengah pengabdian.
Ketiga, kehadiran ayah bagi anak tetap terasa dekat meski jarak memisahkan. Ini bisa terjadi dengan program edukasi parenting yang terstruktur. Gunanya untuk memperkuat keluarga dan menumbuhkan generasi yang tangguh serta penuh cinta.
Dengan dukungan yang tepat, tahun-tahun pengabdian di manapun akan terasa ringan dan penuh makna.
Kesimpulan
Mutasi akan semakin indah jika kita kembalikan pada esensinya sebagai tour of duty yang humanis, dengan langkah-langkah berikut:
- Berlaku merata untuk semua AR, sehingga bisa saling mendukung sebagai keluarga besar.
- Diputuskan secara terpusat oleh kantor pusat DJP, demi keseragaman dan objektivitas.
- Mempertimbangkan usia, durasi penempatan (idealnya maksimal 3 tahun), dan kepastian waktu—sehingga setiap orang dapat mempersiapkan diri.
- Dilengkapi kompensasi yang wajar atas tambahan biaya hidup.
- Didukung program edukasi parenting yang masif bagi pegawai yang bertugas jauh dari keluarga.
Dengan langkah-langkah ini, mutasi akan diterima dengan hati lapang sebagai bagian dari pengabdian yang membanggakan. Tidak lagi beban, melainkan berkah bersama.
Cukuplah generasi penulis yang mengalami. Ke depan kebijakan yang humanis diharapkan akan melahirkan penerimaan yang tulus dan energi pengabdian yang luar biasa.
Komentar
Posting Komentar