TAX RATIO BUKAN KUTUKAN

Menulis tentang seputar pajak dari sudut seorang petugas pajak kira-kira akan dibaca orang tidak, ya?

Kalau tentang teori dan aturan rasanya sudah berjejalan orang menulis di internet,buku,majalah dll. 

Kalau tentang jumlah pajak yang terkumpul juga mudah dicari di internet. Bisa googling, atau tnya langsung ke AI. 

ilasi di akhir tahun menjadi serial “Tax Ratio Bukan Kutukan”. Tentang perspektif reformasi pajak 'dari dasar lumpur'. Sudut pandang yang mungkin tidak ter-capture ketika dilihat dari ketinggian Gedung MarΓ­e Muhammad. Tidak terbaca di layar Mandor. Luput ketika pimpinan memandang dari kursi 'helikopter'. 

Awalnya posisi sebagai Account Representative di KPP pedalaman membuat kepercayaan diri untuk menulis sempat menciut. Seperti balon kehabisan gas. Apalagi retorika canggih pimpinan tentang reformasi DJP rasanya tidak menyisakan celah bagi awak ini untuk berkontribusi gagasan. Tapi Tax Ratio yang stagnan di 10% selama dua dekade terakhir, terlalu kuat memicu tanda-tanya. Rasanya DJP seperti kena kutukan. Pertanyaannya : adakah keping puzzle yang belum terpasang? atau adakah kelemahan yang perlu dilakukan akupunktur di titik kecil yang langsung menusuk sumber masalah? karena biasanya the devils always in the details. 

Untungnya lilin optimisme masih menyala. Niat untuk membuat tulisan rupanya memicu banyak insight bermunculan. Momen biasa ternyata menjadi momen “A ha!”. Satu per satu keping puzzle bermunculan. Saling berkaitan dan menguatkan.  

Diawali dari support atasan langsung yang memberi ruang untuk mengambil 'tafsir jalan lain'. Ketika kawan-kawan memacu pushrank, saya lebih memilih menyusun LHPt selengkap mungkin. Hasilnya jadi unik : komprehensif, tapi berwarna kuning di layar Mandor. 

Ada unsur nekad juga ketika tetap mengejar penerimaan dan succes rate. Padahal sudah berkali-kali berakhir ranking tersungkur. Tapi karena arahan Pak Dirjen yang baru agar lebih mementingkan succes rate daripada capaian kuantitatif-administratif, hati saya jadi lebih mantap. 

Di akhir tahun muncullah paradoks. Realisasi PKM saya 10M. Terbesar ke-tiga di Kanwil Kalbar. Tapi peringkat pushrank-paling bawah di KPP. Pertanyaan iseng saya : kira-kira saya dapat reward atau punishment

Momen lainnya ketika satu WP setor 6,4M atas SP2DK yang dikirim. Untuk KPP pedalaman, pencairan segitu adalah wow. Tak hanya tambahan setoran pajak, upaya pengawasan yang holistik juga berhasil merubah perilaku grup usahanya.

Momen penting lainnya ketika sinergi cantik terjalin saat menggarap WP grup, Quick Win, dan Bedah WP. Ketika para AR dipaksa bersinergi dan keluar dari kubikel yang selama ini menjadi tempat nyaman mengejar pushrank

Semakin menarik ketika membandingkan capaian AR antar kantor, antar kanwil dan antar pulau. Saya melihat A-ha yang lain : peluang mengΓ©rΓ©k tax ratio dari bawah itu ada. 

Momen-momen di atas baru terlihat di tahun kedua bertugas di Sintang. Tahun pertama memang selalu harus adaptasi.  

Kumpulan tulisan ini tak melulu tentang seorang fiskus, ada dua tema lainnya : sebagai seorang ayah, dan tentang perjalanan. Tiga rasa yang saling melengkapi. Selezat kopi susu gula aren. 

Saya jamin ceritanya seru! 

Selamat menikmati… 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

MUTASI PONTI

PANGAN, SAMPAH dan PENDIDIKAN KITA