NYANYI SUNYI DI BATAS NEGERI
Pajak itu ibarat sayuran hijau di menu anak-anak. Semua tahu pentingnya, tapi jarang yang mau menyantapnya. Kalau saya menulis pajak, apakah ada yang membaca? Tetapi karena gagasan besarnya tentang misteri tax ratio yang stagnan selama dua dekade terakhir, rasanya saya harus menulisnya. Karena inilah salah satu pertanyaan terbesar para insan pajak, pengamat ekonomi, dan pengambil kebijakan. Tax Ratio kita seperti terkena kutukan. Terkunci di kisaran 10% saja.
Ceritanya, ada dorongan menulis lagi sejak awal tahun 2025. Kali ini temanya bergeser dari tema parenting yang selama ini penulis angkat. Pemicunya justru berupa ide-ide ringan yang muncul ketika bergulat dengan angka, SOP, dan beragam karakter Wajib Pajak—dari yang patuh seperti prajurit hingga yang lincah seperti penari balet. Guyonan antar rekan kerja, ledekan halus, atau obrolan santai itu rupanya bisa dirangkai menjadi tulisan yang segar.
Hobi menulis itu memang ajaib. Niat menulisnya sendiri seperti jaring laba-laba. Mampu menangkap momen sehari-hari menjadi tema tulisan. Gagasan lainnya kemudian bermunculan saat jari tangan mulai mengetik di keyboard atau keypad ponsel. Dengan dituliskan, kejadian biasa bisa berubah menjadi momen "Aha!".
Walaupun berbicara tax ratio, di buku ini tidak akan dibahas konsep makro —biarlah itu porsinya para profesor, kalangan kampus dan pejabat kementerian, tetapi akan mengajak pembaca menyelam ke dasar sumur yang sunyi. Sorotan akan ditujukan pada dinamika fiskus di garda depan yang tak terlihat dari permukaan tanah. Tak terpantau dari ketinggian Gedung Mar'i Muhammad di markas pusat, atau helicopter view para pimpinan.
Kita akan menelusuri sekilas fungsi-fungsi di kantor pajak yang mengawal pajak hingga masuk kas negara. Kita coba menyingkap dengan kepala dingin dan pikiran jernih di mana mata rantai terlemahnya yang justru akan menjadi penentu kekuatan rantai besar institusi DJP. Yaitu, pada dinamika "Si Ujung Tombak NKRI" — meminjam julukan dari Pak Menteri Purbaya.
Jadi, di buku ini penulis tidak membahas kenaikan tarip cukai, stimulus pajak untuk pelaku ekonomi kreatif, atau bagaimana mempersempit ruang gerak shadow economy, misalnya. Lebih seperti kaca pembesar yang menyoroti kolom-kolom pada Laporan Hasil Penelitian (LHPt), rutinitas para Account Representative (AR) yang di situ letak kekuatan pengawasan dirajut helai demi helai.
Juga mengajak Anda ikut merasakan dilema ketika para AR berhadapan dengan pilihan ‘to be or not to be’ antara mengejar penerimaan (success-rate) atau ikut arus utama mengumpulan poin demi poin mendongkrak push rank.
Penulis juga akan menyoroti ketika penerimaan negara membutuhkan kolaborasi antar AR, sementara sistem justru menciptakan kompetisi dalam senyap, saling menjatuhkan dalam diam, dan budaya nafsi-nafsi yang sunyi.
Di tulisan lainnya penulis beranikan diri mengangkat tema monev yang kerap dianggap horor. Juga tema pinggir jurang: mutasi. Jika Anda seorang AR, pasti akan mencari tema terkait push rank, bukan? Juga tentang cara pandang yang berbeda terhadap WP yang tak kalah penting untuk diangkat.
Semua tema di atas saling berkait membangun pandangan komprehensif tentang bagaimana kekuatan fungsi pengawasan di KPP-DJP dibangun.
Buku ini diupayakan apa adanya. Karena penulisnya juga seorang Account Representative. Juga diupayakan kontekstual, dengan mengangkat tema-tema terkait tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan seorang warga biasa yang juga harus membumi, karena di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Pun tentang seorang suami yang tetap harus menjaga harmoni dengan pasangan, dan seorang ayah yang tetap harus mendidik anak dari remote. Ini yang pasti dirasakan oleh para pejuang LDM (Long Distance Marriage). Penulis tambahkan juga beberapa cerita perjalanan yang akan membuat jiwa jadi refresh. Tiga tema ini seperti kopi susu gula aren. Pahit manis gurih. Saling melengkapi.
Selamat menikmati.

Komentar
Posting Komentar