TOURING PARENTING

 Serial  "Tax Ratio Bukan Kutukan" , Tulisan #15

___________________________________________


***
Baru kesampaian berkunjung ke Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Pekan kemarin. Setelah tiga tahun di Kalimantan. Selain karena jaraknya yang jauuuh, juga kesempatannya baru muncul.

Adalah Pak Puspo yang memfasilitasi. Ia kepala kantor statistik Sintang yang tinggal di Ketapang. LDR-an juga seperti penulis. Bedanya ia hampir tiap pekan pulang. Sekali berangkat sekitar 14 jam dan menempuh kurang lebih 570km. Ini lebih dari jarak Cirebon ke Surabaya via pantura. Belum baliknya. Tinggal dikalikan dua.

Di Ketapang ia mengelola Sekolah Islam Terpadu Bina Insan Mulia. Mulai TK hingga SMP. Masih baru. Lebih tepatnya belum lama. Tapi sudah menolak murid. Artinya yang daftar melebih kapasitas kelas. Permintaan sekolah Terpadu di perkotaan memang di mana-mana sedang tinggi.

Saya bertemu di Sintang saat launching fatherhood beberapa bulan lalu. Karena itulah langsung klik karena ia pun berkepentingan dengan tema parenting. Di sekolah IT, agenda parenting sudah jadi menu wajib untuk ortu siswa. Walaupun ia seorang pejabat, tapi karena usianya yang lebih muda membuat saya bisa lepas saat ngobrol. Gayanya yang blak-blakan membuat suasana sangat cair.

“Pak Sol harus ke Ketapang. Sekalian biar tahu Ketapang. Belum pernah kan?” Pintanya
“Siap, insya Allah. Kapan, Pak?” Tanya saya.
“Nanti saya jadwalkan ya. Paket komplet. Pokoknya harus bisa,“Jawabnya. Paket komplit artinya selain parenting juga untuk ibu-ibu dan ayahnya.

Untuk ke Ketapang, kalau naik pesawat kita harus ke Pontianak dulu jalur darat, baru lanjut pesawat dari Bandara Supadio. Jenis pesawatnya baling-baling. Bila dibanding perjalanan darat full, selisih waktunya sekitar 5 jam. Itupun kalau langsung terbang. Kalau harus menunggu lama di bandara karena ambil jam terbang sore, bisa sama saja sampainya.
Bulan lalu saya dikabari tanggal pastinya 19 Oktober. Berarti saya harus berangkat Kamis malam. Harus ambil cuti hari Jumat. Selain prepare waktu, juga tentang memilih moda transportasi.
Rupanya jiwa touring ini meronta. Ingin menjajal rute panjang Sintang-Ketapang itu via darat.
“Sepertinya via darat, Pak Puspo,“ Kata saya beberapa hari menjelang hari H. Menuruti hasrat touring itu.
“Oke sip, kalau begitu kita jalan bareng. Ketemunya nanti di Simpang Ampar, Pak Sol. Kamis malam itu saya pas dari acara di Pontianak.” katanya.
***
Tibalah hari H-1 keberangkatan, rupanya harus ada drama dulu. Bahkan ada bayangan gagal berangkat.
Tanggal 16 Oktober, Rabu pagi baru dapat tiket Damri jurusan Pontianak. Telat pesannya. Itupun yang berangkat dari Nanga Pinoh, Melawi. Karena yang dari Sintang sudah full.
Rabu malamnya, jalur lalu lintas utama antara Sintang-Pontianak di daerah Sosok, Sanggau dilanda banjir. Akibatnya lalu lintas macet. Tapi belum parah. Kendaraan masih bisa lewat. Walaupun tersendat.
Besok hari Kamisnya air malah semakin tinggi. Jalur Pontianak-Sanggau-Sintang-Kapuas Hulu nyaris lumpuh total. Mobil dan truk tidak bisa lewat. Medsos pun ramai dengan liputan macet di jalur Sosok. Ada mobil ambulance sampai diangkut truk ponton untuk angkut pasien ke Pontianak.
Kamis jelang ashar ada info dari Wahid – kawan sekantor yang hendak ke Jawa karena hari Ahadnya mau akad nikah – bis Damri dari Sintang yang ia pesan batal berangkat. Juga bis Damri saya yang dari Nanga Pinoh. Sebelumnya ada juga flyer himbauan bupati Sanggau agar warga menunda perjalanan yang lewat Sosok. Para pengelola travel kompak angkat tangan. “Mobil tak bisa lewat, Pak,“ kata Om Ardi, pengelola travel langganan. Bis Maju Terus bahkan tak berani menerima pesanan tiket.
Tentu Wahid cemas. Begitu juga saya. Setelah dibantu kawannya hunting sana-sini, dapat info tiket bis Perintis yang dari Putussibau jurusan Pontianak masih tersisa. Persis dua kursi. Langsung dipesan tiket sisa itu tanpa pikir panjang. Wahid dapat kursi no. 2, saya nomor 17. Bayar tiket lagi. Lebih mahal.
Pukul 16.30 barulah dapat WA resmi dari Damri cabang Nanga Pinoh kalau pemberangkatan memang ditunda. Memang tidak menyebut batal.
Pukul 16.57, masuk kabar lagi dari Nanga Pinoh kalau bis Damri ternyata jadi berangkat. Begitupun yang dari Sintang.
Saya memilih Perintis, agar tiket Damri tidak hangus. Sedangkan Wahid lebih memilih Damri karena berangkatnya lebih dulu, pukul 19.00. Ia mengejar jadwal pesawat besoknya. Tentu lebih cepat berangkat lebih baik. Walau tiket Perintis-nya hangus. Jadinya kami pisah bis.
Setelah Wahid dengan Damri-nya berangkat duluan sesuai jadwal, Perintis berangkat pukul 21.15 dari pool jl. Lintas Melawi. Saya jadinya menempati kursi Wahid. Posisinya di deretan paling depan.
Bisnya sendiri nyaman ber-AC. Karena memang kelas eksekutif. Kursinya 1-1-1 dan triple leg rest, bisa buat rebahan maksimal. Dilengkapi selimut tebal, bantal kecil, air mineral dan snack. Badan yang capek dan suhu dingin membuat saya sempat tertidur pulas.
Lewat tengah malam terbangun. Langsung buka WA. Dapat kabar dari Wahid kalau Damri tak berani menerobos banjir. Berhenti di RM Roda Minang sebelum lokasi banjir. Bareng penumpang lainnya ia dialihkan naik mobil hingga ke titik banjir. Rupanya tersedia perahu darurat untuk mengantar Wahid dkk sampai melewati Simpang Sosok. Dilanjut carter mobil patungan. Berarti ia bisa sampai Bandara Supadio tanpa harus ketinggalan pesawat. Perjuangan menghalalkan sang kekasih pasti akan dikenang indah. Selamat ya, Wahid.
Sekitar jam dua malam sampailah Perintis saya di titik banjir itu. Walaupun sopir bilang akan menerobos banjir, tapi mengingat bis Damri tadi, rasanya 50:50. Makanya jadi sedikit menahan nafas ketika bis pelan-pelan menerobos banjir. Khawatir terhenti di tengah jalan. Di sisi kiri kanan terlihat berjejer rapi truk yang parkir. Diam membisu dalam gelap. Menunggu banjir surut entah untuk berapa jam. Ban dan lampu depan bis terendam air setinggi pinggang orang dewasa. Bis terus jalan perlahan. Mengikuti satu bis lagi di depannya. Jalan beriringan memunculkan riak-riak gelombang air ke sekeliling bodi bis.
Alhamdulillah, setelah kurang lebih satu jam, bisa lolos dari banjir. Lega sekali rasanya. Bis pun langsung tancap gas hingga tiba di Simpang Ampar menjelang subuh. Salut untuk Pak Sopir. Memang sesuai namanya : Perintis.
Tak lama, mobil Terios pak Puspo juga tiba di Simpang Ampar. Dari Pontianak ia nyopir sendiri. Perjalanan menuju Ketapang pun dilanjut.
Saya belum berani menawarkan pegang setir.
Tak jauh dari Simpang Ampar rehat dulu untuk shalat subuh. Ada masjid pinggir jalan. Tak lama istirahat, lanjut jalan lagi.
Jadinya kesampaian juga menyeberang jembatan indah terpanjang kedua setelah Suramadu : Jembatan Tayan. Tapi tidak begitu jelas karena matahari timur masih belum muncul. Sedikit tertolong karena di langit sebelah barat bulan terlihat bulat sempurna. Yes, inilah bulan purnama super atau supermoon bernama Hunter's Moon. Langitpun jadinya cerah ceria. Menemani perjalanan dari balik bebukitan hingga hilang tersapu cahaya matahari pagi.
Sekitar setengah jam selepas Jembatan Tayan sempat melewati jalanan yang agak rusak. Tapi setelahnya jalanan mulus.
Pukul delapan berhenti sejenak untuk sarapan di daerah Sungai Laur. Saya memilih bubur ayam untuk menghangatkan perut.
Rupanya tangan mulai gatal ingin pegang setir.
“Pak Puspo, gantian ya,” pinta saya. Nggak enak juga disopirin terus seorang kepala kantor.
“Ok, silahkan, Pak Sol,” jawabnya.
Bismillah, setir Terios pun saya genggam. Jalanan trans Kalimantan menjadi fortofolio nyopir berikutnya setelah tahun lalu menelusuri jalur Pontianak - Singkawang. Jalannya hotmix nan panjang bergaris kuning. Ini tanda jalan nasional. Jalurnya sepi, panjang, berkelok-kelok dan naik-turun, serta mulus. Mata dimanjakan pemandangan perbukitan hutan tropis di kejauhan yang sebelumnya hanya dilihat di chanel National Geographic. Di kiri kanan hijau pepohonan diselingi hutan sawit berjejer rapi.
Bayangan jalanan tanah berlumpur yang membuat truk dan mobil terjerembab langsung hilang. Jalur Kalimantan tak seseram yang dibayangkan. Juga aman. “Di sini aman, Pak Sol. Nggak ada bajing loncat seperti di Sumatra,“ kata Pak Puspo.
Tapi jelang Kota Ketapang akhirnya ditemui jalur tanah itu. Mulai Nanga Tayap. Beruntung tidak sedang hujan. Hanya gerimis. Jalanan tidak licin. Tapi bergelombang yang menimbulkan goncangan saat dilalui. Sebelum masuk jalur ini, Pak Puspo kembali pegang setir.
Karena tahu jalur, ia belok masuk ke perkebunan sawit. Jalan lebih rata karena ada pihak perkebunan atau pabrik pengolahan sawit yang rutin memelihara untuk mobilitas truk sawit. Sebuah ekskavator yang sedang meratakan jalan sempat terlihat. Kira-kira satu jam mobil berjalan di jalur tanah.
Lepas kebun sawit, berlanjut jalanan relatif mulus hingga jembatan Pawan 3. Saya pikir itu sudah batas kota Ketapang. Ternyata masih jauh. “Tinggal tiga jam untuk sampai di kota, Pak Sol,” kata Pak Puspo.
Masih tiga jam?
Ternyata definisi dekat versi orang Kalimantan adalah jauh versi saya di pulau Jawa.
Shalat jum'atnya di Masjid Al Ihsan. Dekat persimpangan daerah Sukadana. Masuk wilayah kabupaten Kayong Utara.
Selepas jum'atan, dari persimpangan itu kami ambil jalan ke kiri. Arah selatan. Persis dua jam perjalanan, pukul 14.00 tibalah di kota Ketapang. Alhamdulillah. Akhirnya.
Wait, ini baru berangkat ya, juga jalannya siang. Nanti 14 jam pulangnya jelas akan ambil banyak waktu malam hari. Tentu lain lagi suasananya.
Saya diantar langsung menuju Hotel Nevada untuk istirahat siang. Sedang pak Puspo lanjut menuju rumah. Menemui keluarga tercinta yang sudah menunggu.
Malamnya, ada Kang Dede Mauludin, guru SMPIT BIM ketua panitia yang orang Ciamis. Perantau Sunda beristri warga Singkawang. Sambil ngobrol, menu Ikan Bakar Muara menemani malam pertama di kota Ketapang.
Besoknya alhamdulillah, sesi parenting “Mendidik bukan Mendadak” bisa ditunaikan. Bertempat di Gedung Pertemuan Bupati Ketapang. Sambutan disampaikan Pak Puspo sebagai ketua Yayasan. Lalu ada kepala Dinas Dikbud Kab. Ketapang, Pak Ucup Supriatna yang ternyata urang Purwakarta. Juga tokoh masyarakat Pak Fuadi, anggota dewan Kabupaten.
Lanjut sorenya sharing dengan ibu-ibu di ruang kelas SMPIT Bina Insan Mulia dengan tema “Menghidupkan sunnah di keluarga”. Saya belokkan ke tema “Menumbuhkan fitrah kebundaan sebagai sunatullah seorang ibu”, sebagai syarat agar mendidik anak bisa optimal. Karena kalau tentang ibadah nafilah rasanya mereka jauh lebih komitmen dibanding pemateri.
Malamnya giliran tema keayahan. Berujung dibentuk Forum Ayah. Jadi juga akhirnya paket komplit : parenting, kebundaan dan keayahan.
Ahad siang besoknya, setelah check out hotel sempat diajak jalan oleh Mas Evandri Ramadhan, salah seorang panitia, ke pantai Pecal. 10 menit dari hotel. setelah puas ambil foto, pulangnya nyeberang sungai dari titik penyeberangan dekat Istana Kesultanan. Motor ikut naik kapal. Menuju rumah kediaman Pak Puspo.
Jadinya baru bisa berangkat pulang ke Sintang jam 4 Ahad sore.
Kali ini melewati jalur kebun sawit sudah malam. Jadinya deretan pohon sawit itu terlihatnya remang-remang dalam gelap dan sepi. Lanjut rute nan panjang jalan berkelok dan naik turun trans Kalimantan. Dipayungi langit malam gelap karena tertutup awan, plus siraman gerimis di beberapa ruas jalan. Gantian nyopir lagi. Dipandu garis jalan yang tersorot lampu mobil dan doa yang etrus diucap, rasanya inilah salah satu pengalaman mengendarai mobil paling berkesan.
Persis pukul 06.00 hari Senin pagi, tiba di kota Sintang. Sejenak rehat sebelum lanjut bersiap ngantor lagi.
Alhamdulillah…
Amanah berbagi sebagai seorang yang masih terus belajar plus yang diberi stempel ketua komunitas parenting Aqil Baligh Community, tunai sudah...
Mission accomplished…
Sintang, Akhir Oktober 2024


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MUTASI PONTI

PANGAN, SAMPAH dan PENDIDIKAN KITA

KAWANKU PAHLAWAN